Anda di halaman 1dari 33

Kerusakan Wool

C═O O ═C

NH NH

C═O ikatan garam O ═ C

CH – CH2 – CH2 – COO- +NH2 – CH2 – CH2 –CH

HN NH
C═O O ═C
 

NH NH

O═C ikatan disulfida C═O

CH –CH2 – S –– S – CH2 –CH

HN NH

O═C C ═O
ikatan garam  memberikan sifat elastis
 
Ikatan disulfida  memberikan sifat keriting  sifat bulky
 
Wol rusak berat dalam alkali dan oksidator (larut)
 
Ikatan garam pada wol sangat dipengaruhi oleh pH, ion H + atau ion OH-  dapat
memutuskan ikatan
 
pH < 4  RCOO- +NH3R’ + H+  RNH3+ + HOOCR’
 
pH > 8  RCOO- +NH3R’ + OH-  RNH3(OH) + -OOCR’
 
 
  RNH2 + H2O
 
Kelembaban tinggi  terjadi lapisan dielektrik antara muatan (+) dan ( - )
 
sehingga ikatan pada jembatan garam berkurang  penurunan kekuatan
PENYEBAB KERUSAKAN WOL

1. Alkali
2. Oksidator
3. Asam
4. Air
5. Reduktor
6. Serangga
 
1. Alkali
Wol tidak tahan terhadap Alkali

1. Alkali kuat (NaOH & KOH)  larut


2. Alkali lemah (Na2CO3, NH4OH)  larut / rusak dengan waktu lebih lama

 Mekanisme terjadinya kerusakan :


Adanya alkali menyebabkan sisik pada serat wol akan terbuka sehingga wol
larut menjadi garam asam amino karboksilat

Contoh : wol + NaOH 5% suhu mendidih 5’


 
RNH3OOCR’ + NaOH  RNH3OH NaOOC-R’ 

RNH2 NaOOCR’ + H2O


Garam natrium dari
amino karboksilat (larut)
2. Oksidator
Oksidator dapat menyerang jembatan sistin wol dengan
mengoksidasi semua gugus disulfida sehingga terhidrolisa
membentuk asam sisteat
 (asam per-asetat, Cl aktif dan halogen)
 
H2O2  oksidasi wol  gugus sulfida membentuk H2SO4

NH HN
O═C C═O
CH–CH2–S – S–CH2 –CH oksidasi R–C═O
NH NH OH

O═C C═O asam per-asetat


3. Asam
Wol tahan terhadap asam (lar. asam 5% mendidih selama 2 jam
belum terhidrolisa)  akan rusak dalam waktu yang lama 
terjadi hidrolisa pada keratin membentuk campuran asam- asam
amino
 Dalam HNO3  wol berwarna kekuningan  teroksidasi
NH

O═C SO2 hidrolisa COOH

CH – CH2 C – C – SO3H

NH asam NH2

O═C asam siskat


 
4. Air
– Air dapat menghidrolisa jembatan disulfida wol, terutama bila air
berupa uap panas
– Dalam air mendidih + tekanan  wol rusak permanen  terurai
menjadi asam sulfenik

R – C – S – S – C – R’ + H2O  R – C – SOH + R’– C – S – H

H2 H2 H2
asam sulfenik as. sulfidril

H2 H2

R – C – SOH + –NH2R’  R – C – S – NH – R’ + H2O

Bagian dari wol  ikatan silang permanen


Air
•Jika dalam keadaan tersebut terdapat alkali 
asam sulfenik atau asam sulfidril  membentuk
sulfida anorganic

R – C – S – OH + NaOH  R – C – S – ONa

H2 H2
atau

 
R– C–S–H + NaOH  R – C – S – Na

H2 H2
 
Air

• Ikatan silang baru yang terbentuk misalnya:


Canthionine
H2N
NH2
CH – CH2 – S – CH2 – CH

HOOC COOH
5. REDUKTOR
• Reduktor
• Wol tahan terhadap reduktor
• Reduktor seperti (NaHSO4) dapat menyerang jembatan sistin
 dengan oksidasi  terbentuk sistin kembali

 R – S – S – R’ + NaHSO4  R – S – Na + R’ – S – SO3H
atau R – SH + R’ – S – SO3Na

Umum :
R – S – S – R’ + 2 H+ reduksi RSH + R’SH On

R – S – S – R’ + H2O
6. Serangga
• Wol tidak tahan serangga karena sebagian
besar wol terdiri atas keratin yang dapat
digunakan sebagai sumber makanan.
• Kerusakan  lubang-lubang kecil  kadang-
kadang menembus pada
setiap lipatan bahan
• Untuk menghindari kerusakan akibat serangga
 ikatan disulfida dirubah menjadi bis tioeter
Serangga

• Reaksi bis tioeter


reduksi

R – S –S – R H+ R–S-H
oksidasi

R–S–H R – S – (CH2)n - S – R
Halogen Bromida
JAMUR DAN HAMA

• Wol agar tahan terhadap jamur dan hama


• Wol direaksikan dengan as tioglikolat dan alkil
bromida
R–S–S–R + HSCH2 COOH 
as tioglikolat

R – S – H + H00C – CH2 – S – S – CH2 – COOH


 
2R – S – H + ( CH2 )n Br2  R – S – ( CH2 )n – S – R + 2HBr
alkyl bromida
 
TEST –Wol I
1. Apakah komponen/Struktur pembentuk serat wol
2. Ada 2 jembatan pada serat wol, apakah fungsi
dari jembatan2 tersebut
3. Apakah yang terjadi apabila wol diperlakukan
pada pH yang sangat asam
4. Mengapa kelembaban dapat menurunkan
kekuatan serat wol
5. Wol tidak tahan alkali, wol larut dalam alkali
mengapa demikian
6. Wol tidak tahan oksidator peroksida. Untuk
pengelantangan maka zat pengelantang apakah
yang dapat digunakan.
Test Wol 2
1. Mengapa pencucian wol tidak boleh menggunakan
air dan sabun.
2. Wol adalah serat protein yang tidak tahan serangga
dan jamur. Serangga akan membuat lubang lubang
pada wol. Mengapa hal ini dapat terjadi
3. Berdasarkan hal tersebut tindakan apakah yang
harus dilakukan
4. Bagaimankah mekanisme penambahan
alkilbromida dan halogen bromida pada wol untuk
tahan jamur dan serangga
UJI KERUSAKAN WOL
IDENTIFIKASI KERUSAKAN WOL
 
• Reaksi Diazo ( alkali) / mekanik
• Pewarnaan :
– Laktofenol (alkali)
– AgNO3 amoniakal
– CI Acid Red 1
– Methylene Blue
– Indigo Carmin
• Penggelembungan :
– NaOH 0,1 N
– KOH amoniakal  asam dikombinasi dengan Methylene Blue + Indigo
Carmin  uji KORNREICH
• Reaksi Allworden  mekanika
Uji Reaksi Diazo – Mekanik
• Prinsip :
• Pewarnaan Tirosin – CH2 – –OH pada wol dengan

Larutan Asam diazo benzen sulfonat dalam larutan alkali (NaCO 3)


• Prosedur :
– Rendam contuh uji dalam larutan asam diazo benzen sulfonat
pada suhu dingin dan dicuci
– Pengamatan di bawah Microskop  memberikan warna
merah.
– Wol rusak  tampak sisik rusak atau terpotong.

• Catatan :
• Fibril serat yang mengadung tirosin  Keratin C
• Sisik / Keratin A tidak mengandung tirosin
Uji Reaksi Diazo
• Diazo bensen pada umumnya tidak stabil untuk itu
biasa digunakan CI Azoic Diazo Component 44 atau
Fast Yellow Salt 6C yang lebih stabil
• Prosedur :
- Fast Yellow Salt 6C + air + Na2CO3
- contoh uji dalam pereaksi tersebut  diamkan
- Amati di bawah Microskop
Merah  wol rusak
Beige  wol baik
• Pengujian dengan diazo sangat peka
2. Uji Pewarnaan – alkali atau asam
a. Laktofenol
Prinsip :
Pewarnaan wol rusak akibat alkali atau asam mineral
dan jamur dalam laktofenol + CI Acid Blue 93

 diamati di bawah Mikroskopik


 Timbul warna biru  wol rusak
-OH
+ CH3—CH(OH)—C═O  CH3—CH(OH)—C═O + H2O
OH O
Uji Pewarnaan – Cahaya /cuaca
b. AgNO3 – amoniakal
• Prinsip : Pewarnaan wol rusak oleh cahaya
atau cuaca dengan AgNO3-amoniakal 
terbentuk endapan perak amoniakal (coklat
– hitam)

AgNO3 + NH4OH  AgOH + NH4NO3


+ NH4OH  [Ag (NH3)2 ] NO3 + 2H20
Wol rusak + Ag+  Ag (endapan hitam)
Uji Pewarnaan – rusak dan chlorinasi
c. CI Acid Red 1
• Prinsip : pewarnaan wol rusak (sisik lepas-lepas dan wol
yang dikloronasi)  membentuk warna merah

HO NHCOCH3 NH
–N═N– + C – C – SO 3H

SO3Na SO3Na COOH


merah bergantung tingkat
kerusakan
 
Uji Pewarnaan (alkali, asam dan oksidator)

d. Methylene Blue ( CI Basic Blue 9)


Prinsip : pewarnaan wol rusak oleh alkali dan
oksidator
 menunjukkan warna biru tua
e. CI Acid Blue 74
Prinsip : pewarnaan wol rusak oleh asam,
alkali, hipoklorit dan peroksida
 menunjukkan warna biru
3. Uji Penggelembungan
a. Natrium Hidroksida 0,1 N

• Prinsip : Penggelembungan wol oleh NaOH 0,1 N pada suhu (45 – 60)oC

• Catatan : Alkali (NaOH, KOH) dapat merusak lensa Mikroskop, oleh


karena itu harus hati-hati, jangan sampai pereaksi mengenai lensa, setiap
selesai menggunakan lensa Mikroskup harus dibersihkan

• Cara Kerja :
- Serat wol dipotong kecil-kecil sepanjang (1–2) mm
- Letakan di atas kaca obyek + air tutup dengan „cover glass panaskan
dalam oven (2-3)’ pada suhu (45-60)oC
- Teteskan larutan NaOH 0,1 N dari ujung sudut „cover glass“
(hati-hati jangan sampai kena pada permukaan atas „cover
glass“ / bersihkan)
- Amati dibawah mikroskop
Uji Penggelembungan
 dibawah mikroskop
  Wol rusak akan menggelembung
 
Rusak karena cuaca

• Wol akan menggelembung dalam alkali 


larut
• Wol yang rusak volume penggelembungan
menjadi lebih besar
Uji Penggelembungan
b. KOH - amoniakal
• Pereaksi : Krais – Viertel
KOH 20 g dilarutkan dalam amonia pekat 50 ml
Prinsip : Penggelembungan wol dengan larutan KOH-
amoniakal
Pengamatan : di bawah Mikroskop
Prosedur
– contoh uji dipotong-potong, letakkan di atas kaca obyek.
– Teteskan KOH-amoniakal biarkan (2 – 5)’ (reaksi berjalan
sempurna) Bila perlu panaskan dalam oven suhu 40oC selama
(2-3)’
– Amati dibawah mikroskop (hati-hati dengan kaca lensa jangan
sampai kena alkali)
Penggelembungan dengan KOH – amoniakal

WOL YANG TIDAK RUSAK (NORMAL)


• Setelah 5’
- Menggelembung
- Tampak garis-garis memanjang dari lapisan
fibril
• Setelah 10’
- Penggelembungan bertambah
• Setelah 20’
- Penggelembungan bertambah
- Muncul blister
Penggelembungan dengan KOH – amoniakal

• WOL RUSAK OLEH ASAM


- Menggelembung dengan cepat dan besar
- Penggelembungan timbul sepanjang serat
- Timbul retakan-retakan
- Timbul blister  dan terurai
 
• WOL RUSAK ALKALI - PANAS
- Serat tidak berubah
- Terlihat seperti kaca
- Sisik terlihat lebih jelas
4. Uji Kornreich
• Uji Kornreich ini modifikasi dari cara Krais – Vertel yang
dimodifikasi dengan penambahan perwarnaan (Indigo Carmine
dan Methylene Blue) dengan pemanasan pada suhu 40oC selama
3’ – 5’

• Cara uji (lihat bagan)


- Wol ditetesi oleh KOH-amoniakal suhu 40oC selama 2’ – 3’
- Amati
- Dilanjutkan atau tidak (bergantung pada hasil pengamatan)
- Tetesi Methylene Blue 40oC, 3’
- Cuci, dikeringkan
- Amati
- Terwarnai  Uji Indigo Carmine 40oC, 5’
- Amati
Bagan Uji KORNREICH
Uji Krais – Vertl (KOH – amoniakal) 40o C  2’-3’

Terjadi penggelembungan Terjadi geris-garis membujur Serat seperti kaca


 blister terurai (seperi wol tdk rusak) dan sisik tampak jelas

Asam Uji Methylene Blue Uji Indigo Carmin


40o C, 3’ 40o C, 5’

Terwarnai Tidak terwarnai


Terwarnai Tidak terwarnai

Uji Indigo Carmin Bukan kerusakan Rusak oleh alkali Rusak oleh panas
kimia

Terwarnai Tidak terwarnai

Rusak oleh Rusak oleh


H2O2, NaOCl - Asam NaOCL biasa
5. Reaksi ALLWORDEN

• Prinsip : Penggelembungan serat rusak karena mekanik (bukan


karena kimia) dengan menggunakan larutan jenuh Bromida atau
Khlorida.
• Prosedur :
1. Ekstrasi contoh uji dengan eter untuk menghilangkan lemak
dan zat penyempurnaan.
2. Sipakan pereakasi (larutan jenuh bromida atau khlorida v/v
dengan air 1:1)
3. Contoh uji diletakkan di atas slide glass, kemudian tetesi
dengan pereaksi
4. Amati
Kerusakan bukan karena kimia (kerusakan karena mekanik) 
membentuk blister dalam waktu 2 menit.
Test 3
1. Pada analisis wol menggunakan uji Kornreich, hasil menujukkan kapas
tersebut rusak oleh asam yang berdampak timbulnya blister. Bagaimanakah
blister tersebut dapat terjadi, jelaskan
2. Bila serat kapas rusak karena mekanik, diuji dengan Methylene Blue.Apa
yang akan terjadi ? Jelaskan.
3. Apabila dibawah mikroskop dengan cara uji Korn reich, serat terlihat garis-
garis membujur seperti wol tidak rusak , kemudian perlakuan dengan metilen
blue terwarnai dan perlakukan dengan indigo carmin tidak terwarnai. Menurut
sdr apakah penyebab kerusakan tersebut dan pengujian apa yang harus
dilakukan untuk menghasilkan analisis tersebut
4. Dua buah sampel uji wol di uji dengan cara Kornreich. Sampel pertama
dibawah mikroskop menunjukkan adanya blister sedangkan sampel kedua
menunjukkan serat seperti kaca dan sisik terlihat jelas serta terwarnai biru
oleh indigo carmin. Menurut sdr kerusakan apa saja yang dialami serat wol
tersebut
5. Pada saat pengujian waktu akan sangat mempengaruhi pada Uji kerusakan
dengan KOH amoniakal karena akan merubah penampakan wol dibawah
mikroskop. Pada wol yang tidak rusak, penampakan apa yang terjadi dan
mengapa hal itu dapat terjadi
Khusus dosen yn
• Penjelasan apakah ikatan garam, disulfida
• Penjelasan dengan pengaruh alkali dan asam
• Penjelaskan mengapa pH,air dan kelembaban
• Penjelasan tentang pengaruh oksidator dan
reduktor. Zat pengelantang yang dapst untuk
wol
• Penjelasan pengujian serat wol yang rusak
karena mekanik digunakan garam diazo
• Penjelasan Untuk apakah reaksi Alworden
dilakukan