Anda di halaman 1dari 15

TERAPI OKSIGEN (O2)

Oleh:
Elv. Feedia Mona Saragih,M.Tr.Keb
DEFINISI TERAPI OKSIGEN
Terapi oksigen (O2) merupakan suatu intervensi
medis berupa upaya pengobatan dengan
pemberian oksigen (O2) untuk mencegah atau
memerbaiki hipoksia jaringan dan
mempertahankan oksigenasi jaringan agar tetap
adekuat dengan cara meningkatkan masukan
oksigen (O2) ke dalam sistem respirasi,
meningkatkan daya angkut oksigen (O2) ke dalam
sirkulasi dan meningkatkan pelepasan atau
ekstraksi oksigen (O2) ke jaringan.
Dalam penggunaannya sebagai modalitas terapi,
oksigen (O2) dikemas dalam tabung bertekanan tinggi
dalam bentuk gas, tidak berwarna, tidak berbau, tidak
berasa dan tidak mudah terbakar. Oksigen (O2) sebagai
modalitas terapi dilengkapi dengan beberapa aksesoris
sehingga pemberian terapi oksigen (O2) dapat
dilakukan dengan efektif, di antaranya pengatur
tekanan (regulator), sistem perpipaan oksigen (O2)
sentral, meter aliran, alat humidifikasi, alat terapi
aerosol dan pipa, kanul, kateter atau alat pemberian
lainnya.
INDIKASI TERAPI OKSIGEN (O2)
Terapi oksigen (O2) dianjurkan pada pasien dewasa,
anak-anak dan bayi (usia di atas satu bulan) ketika nilai
tekanan parsial oksigen (O2) kurang dari 60 mmHg atau
nilai saturasi oksigen (O2) kurang dari 90% saat pasien
beristirahat dan bernapas dengan udara ruangan. Pada
neonatus, terapi oksigen (O2) dianjurkan jika nilai
tekanan parsial oksigen (O2) kurang dari 50 mmHg atau
nilai saturasi oksigen (O2) kurang dari 88%. Terapi
oksigen (O2) dianjurkan pada pasien dengan kecurigaan
klinik hipoksia berdasarkan pada riwayat medis dan
pemeriksaan fisik. Pasien-pasien dengan infark miokard,
edema paru, cidera paru akut, sindrom gangguan
pernapasan akut (ARDS), fibrosis paru, keracunan sianida
atau inhalasi gas karbon monoksida (CO) semuanya
memerlukan terapi oksigen (O2).
Terapi oksigen (O2) juga diberikan selama periode
perioperatif karena anestesi umum seringkali
menyebabkan terjadinya penurunan tekanan parsial
oksigen (O2) sekunder akibat peningkatan ketidaksesuaian
ventilasi dan perfusi paru dan penurunan kapasitas residu
fungsional (FRC). Terapi oksigen (O2) juga diberikan
sebelum dilakukannya beberapa prosedur, seperti
pengisapan trakea atau bronkoskopi di mana seringkali
menyebabkan terjadinya desaturasi arteri. Terapi oksigen
(O2) juga diberikan pada kondisi-kondisi yang
menyebabkan peningkatan kebutuhan jaringan terhadap
oksigen (O2), seperti pada luka bakar, trauma, infeksi
berat, penyakit keganasan, kejang demam dan lainnya.
Dalam pemberian terapi oksigen (O2) harus
dipertimbangkan apakah pasien benar-benar
membutuhkan oksigen (O2), apakah dibutuhkan terapi
oksigen (O2) jangka pendek (short-term oxygen
therapy) atau panjang (long-term oxygen therapy).
Oksigen (O2) yang diberikan harus diatur dalam
jumlah yang tepat dan harus dievaluasi agar mendapat
manfaat terapi dan menghindari toksisitas.
TUJUAN TERAPI OKSIGEN (O2)
Tujuan dari pemberian oksigen/terapi oksigen adalah
sebagai berikut:
1) Mengoreksi hipoksemia
Pada keadaan gagal nafas akut, tujuan dari
pemberian oksigen disini adalah upaya
penyelamatan nyawa. Pada kasus lain, terapi
oksigen bertujuan untuk membayar “hulang"
oksigen jaringan.
2) Mencegah hipoksemia
Pemberian oksigen juga bisa bertujuan untuk
pencegahan, dimana untuk menyediakan oksigen
dalam darah, seperti contohnya pada tindakan
bronkoskopi, atau pada kondisi yang menyebabkan
konsumsi oksigen meningkat (infeksi berat, kejang,
dll).
3) Mengobati keracunan karbon monooksid (CO)
Terapi oksigen dapat untuk meningkatkan
tekanan parsial oksigen (PO2) dalam darah dan
untuk mengurangi ikatan CO dengan
hemoglobin.
4) Fasilitas Absorpsi dan rongga-rongga dalam
tubuh.
Saat menggunakan obat anesthesia inhalasi
pasca anesthesia, terapi oksigen dapal
digunakan untuk mempercepat proses eliminasi
obat tersebut.
TEHNIK DAN ALAT TERAPI
OKSIGEN (O2)
Tehnik dan alat yang dapat digunakan dalam
terapi oksigen sangat beragam, dimana masing-
masing memiliki kelebihan dan kekurangan
tersendiri. Tehnik dan alat yang akan digunakan
hendaknya memenuhi kriteria sebagai berikut:
1) Mampu mengatur konsentrasi atau fraksi
oksigen udara inspirasi (FiO2)
2) Tidak menyebabkan akumulasi CO2
3) Tahanan terhadap pemafasan minimal
4) Irit dan efisien dalam penggunaan oksigen
5) Diterima dan nyaman digunakan oleh pasien
Berdasarkan kriteria tersebut, alat-alat yang
digunakan digolongkan menjadi:
1) Sistem fixed performance

Fraksi oksigen pada alat ini tidak tergantung


pada kondisi pasien. Berdasarkan aliran gasnya
dibagi menjadi:
a. Aliran tinggi (misalnya: sungkup venturi)

b. Aliran rendah (misalnya: mesin anesthesia)

2) Sistem variable performance

Fraksi oksigen pada alat ini tergantung pada


aliran oksigen, faktor alat, dan kondisi pasien.
Terdapat 3 jenis yaitu:
a. sistem no capacity (misalnya: nasal kanul,
nasal kateter)
b. sistem small capacity (misalnya: nasal
kanul atau nasal kateter aliran tinggi,
sungkup “semi~rigid”)
c. sistem large capacity (misalnya: pneumask,
polymask)
KEMBALI UDARA EKSPIRASI PASIEN SELAMA
TERAPI OKSIGEN, SISTEM PEMBERIAN GAS DALAM
TERAPI OKSIGEN DAPAT DIKLASIFIKASIKAN
MENJAD:
1. Sistem nonrebreathing
Pada sistem nonrebreathing, kontak antara udara
inspirasi dan ekspirasi sangat minimal. Udara ekspirasi
langsung keluar ke atmosfer melalui katup searah yang
dipasang pada hubungan antara pengalir gas dengan
mulut atau hidung pasien. Untuk itu harus diberikan
aliran gas yang cukup agar volume semenit dan laju
aliran puncak yang dibutuhkan terpenuhi atau memasang
kantong penampung udara inspirasi yang memungkinkan
penambahan sejumlah gas bila diperlukan. Katup searah
yang dipasang tersebut memberikan kesempatan
masuknya udara atmosfir ke dalam alat ini sehingga
menambah julmah aliran gas untuk memenuhi kebutuhan
gas, terutama pada sistem aliran gas tinggi.
2. Sistem rcbreathing
Pada sistem ini, udara ekspirasi yang
ditampung pada kantong penampung yang
terletak pada pipa jalur ekspirasi, dihirup
kembali setelah CO2 nya diserap oleh
penyerap CO2 selanjutnya dialirkan
kembali ke pipa jalur inspirasi.
ALAT YANG UMUM DIGUNAKAN
UNTUK TERAPI OKSIGEN
1. Nasal Kanul
Termasuk dalam sistem “non rebreathing”, “no
capacity”, dan aliran rendah. Merupakan alat
sederhana, murah dan mudah dalam pemakaiannya.
Tergantung dari aliran oksigen/menit, mampu
memberikan FiO2 sebagai berikut:
Kecepatan aliran FiO2nya
1 liter/menit 24%
2 liter/menit 28%
3 liter/menit 32%
4 liter/menit 36%
5 liter/menit 40%
6 liter/menit 44%
2. Kateter nasal
Alat ini mirip nasal kanul, sed\erhana, murah dan
mudah dalam pemakaiannya. Tersedia dalam
berbagai ukuran sesuai usia dan jenis kelarnin
pasien. Untuk anak-anak digunakan nomor 8-10 F,
untuk lakilaki nomor 12-l4 F, dan untuk perempuan
digunakan nomor 10-12 F. Fraksi oksigen yang
dihasilkan sama seperti nasal kanul.
3. Sungkup muku tanpa kantong penampung
Alat ini sederhana, murah dan mudah dalam
pemakaiannya. Tersedia dalam berbagai ukuran
sesuai dengan usia. Sering kali ditolak pasien oleh
karena menimbulkan perasaan tidak enak.