Anda di halaman 1dari 10

Ch 3 Normative Perspectives on

Accounting Ethics
Delivered by:
Tujuan pembelajaran
 Menjelaskan dan mengevaluasi secara kritis etika
deontologis.
 Menggambarkan dan mengevaluasi unsur-unsur
utama dari etika konsekuensialis.
 Menjelaskan perbedaan antara peraturan dan tindakan
utilitarianisme.
 Menjelaskan argumen utama yang terkait dengan
etika kebijakan.
 Menjelaskan perbedaan antara pendekatan rasional
dan moral terhadap dilema etika.
Pendahuluan
 Setelah mengidentifikasi bagaimana perilaku akuntan dalam praktik,
kita kemudian mendapat pertanyaan normatif yang lebih kompleks
tentang apakah perilaku mereka baik atau buruk? Atau bagaimana
praktik akuntan individu dapat dibenarkan secara etis dan tidak
dijelaskan secara etis?
 Dalam cahpter ini akan dibahas tentang bagaimana akuntan harus
bersikap?

 Tujuan utama dari bab ini ada dua.


1. mengeksplorasi cara akuntan secara implisit diajarkan untuk
menjawab pertanyaan ini di hampir semua pendidikan akuntansi;
2. Membandigkan persfektif mendasar dan yang berlaku dengan
sejumlah cara alternatif lainnya untuk menentukan bagaimana
seseorang dapat menanggapi dilema etika tertentu.
Dua perspektif yang menonjol telah berkembang
sebagai respons terhadap pertanyaan normatif
ini:
1. Didasarkan pada gagasan tugas dan disebut
etika deontologis.
2. Berfokus pada konsekuensi dan umumnya
disebut sebagai posisi teleologis.
Deontological Ethics
 Pendukung pandangan ini adalah Immanuel kant, Posisinya
didasarkan pada dua prinsip dasar: alasan dan rasa hormat. dia
berpendapat bahwa jawaban dari pertanyaan ditas adalah dengan kita
mengikuti peraturan yang ada dan berlaku universal serta diterima,
meskipun ada konsekuensi yang diterima, lalu kemudian kita harus
memperlakukan oranglain seperti diri mereka sendiri sebagaimana
mereka memilih untuk bertindak, dan ada dua pilihan, bertindak
menlanggar kewajiban dan bertindak mengikuti etika yang ada.

 Bagaimanapun perspektif ini telah dikritik karna terlalu umum untuk


membantu dan juga tersirat untuk menolak situasi spesifik individual.
Lalu munculah teori jhon rawl yang menyatakan sebagai individual
kita harus melihat bentuk perintah yang ada dan menyetujui bahwa
manusia harus diperlakukan secara hormat dan kita pasti
membutuhkan bantuan dalam tata cara pelaksanaan perintah.
Teleological Ethics

Sisi ini lebih mengacu pada tindakan moralitas dari


tindakan secara umum yang mengacu pada konsekuensi
dari tindakan tersebut. Namun teleological ethics masih
dikritik karna mengidentifikasi kemungkinan setiap
kemungkinan konsekuensi dari sebuah tindakan adalah
tidak mungkin, dan yang lainnya karna sisi ini dapat
digunakan untuk suatu tindakan yang keji sekali.
Aturan dan Tindakan Utiliarism
• Utiliarism adalah bentuk dari argumen consequentalist. Perbedaan
terletak pada aturan dan tindakan utiliarism dimana perbedaanya
terletak pada konsekuensi untuk waktu terjadinya.
• Profesor Hooker menyarankan bahwa begitu harapan publik
ditetapkan, tidak ada banyak yang dapat dilakukan oleh para
profesional selain melakukannya dan ini tidak melibatkan etika.
Lembaga profesional melayani fungsi sosial dan ketika
masyarakat telah memutuskan apa fungsi itu, kita berkewajiban
untuk melakukannya. Kesimpulan dari argumen ini adalah bahwa
etika profesional adalah tentang menjalankan peran ini dengan
baik dan karenanya bukan tentang etika yang benar.
Virtue-Based Approaches to Individual Action

Selain dua sisi diatas yang menawarkan pandangan yang


berbeda, ada sisi lainnya yang dapat menawarkan
alternative lain yaitu virtue theorists dimana vitue
menyatakan penting bagi kita untuk bisa dalam
menyuarakan prinsip moral yang ada. Fokus utamanya
adalah ketika individual mau melekat pada sekumpulan
prinsip hal ini tidak mengimplikasikan semestinya
bahwa prinsip-prinsip ini merupakan bagian yang utuh
dari individual.
Reason and Moral Sense Theories

Reason and moral sense theorists juga menawarkan hal


sama dimana pandangan moral sense dikaitkan dengan
istilah inner eye dimana artinya individu akan dapat
membedakan yang salah maupun yang benar. Bahwa
ada alasan lain dalam peraturan melebihi alasan yang
ada yaitu masalah alasan moral. Hal ini juga dikaitkan
dengan psikologikal seperti rasa empati dan emosional
bahwa berdasarkan itu peraturan atau prinsip dapat
dibentuk.
TERIMAKASIH