Anda di halaman 1dari 19

ISU-ISU SEPUTAR

PSIKOLOGI KLINIS
ISU-ISU SEPUTAR PSIKOLOGI
KLINIS
 Scientist-Practitioner (Peneliti-Praktisi)
 Doctor of Psychology (Psy.D) Degree (vs Ph.D)
 Sekolah Profesional
 Regulasi Profesional
 Private practice
 The Health Care Revolution
 Culturally “Sensitive” Mental-Health Service
 Ethical Standard
 Prescription Privilege
Isu: scientist-practitioner
 1949: Boulder conference di Colorado: scientist-
practitioner model utk pendidikan menggabungkan
sains dan praktik klinik
 Skilled practitioners who could produce their own
research as well as consume the research of others
 Practice the art with sensitivity, but would also contribute
to the body of clinical knowledge by understanding how
to translate experience into testable hypotheses, and
subsequently test the hypotheses penyatuan sistematis
antara ketrampilan klinis dan empiris logis sains
 The art of clinical intuition and the logical empiricism of
science
Isu: Ph.D vs Psy.D
• Psy.D: the emphasis on the development of
clinical skills, and de-emphasize on research
competency  advantage in competing for
clinical positions
• Disertasi biasanya berupa laporan ttg subjek
bukan kontribusi penelitian
• Ph.D engaged in more scholarly activities
Isu: sekolah profesional
• Sekolah profesional (Professional schools):
seringkali berdiri sendiri (otonom), terlepas dari
universitas, sulit mencari profesornya yang
major employmentnya ada pada institusi lain
• Sangat sedikit berorientasi pada riset,
menekankan fungsi klinis
• Hanya beberapa yang diakreditasi oleh American
Psychological Associationkendala mendpatkan
penerimaan profesional
Clinical Scientist Model
• Kekhawatiran bahwa Psikolog klinis tidak
didasarkan pada sains
• Beberapa kasus studi empiris belum selesai,
kasus lain penelitian yang ada tidak mendukung,
penggunaan teknik assessment blm terbukti
valid dan reliabel model ilmuwan klinis
• Membantu membangun ilmu psi klinnis dengan
mengintegrasikan prinsip2 ilmiah ke dl pekerjaan
klinis, membedakan teknik yang valid scr ilmiah
dan teknik yang pseudosains
Combined Professional-
Scientific Training
Programs
• Spesialisasi sejumlah bidang inti dan praktik
psikologi
• Fokus pada bidang inti dalam psi dan
memaparkan sub-spesialisasi konseling, klinis
dan psi sekolah
• Kelemahan: menekankan luasnya, bukan
kedalaman pengetahuan psikologis
• Cocok untuk praktisi daripada akademisi atau
ilmuwan klinis
Graduate Programs: Past
and Future
• Pergeseran dari pekerjaan akademik berbasis
universitas ke pekerjaan dalam praktik pribadi
• Keluhan keterbatasan scientist practinioner
model  ketidakmampuan model pelatihan
Boulder yaitu keterampilan klinis kurang
• Alternatif Psy. D dan model pelatihan sekolah
semakin berpengaruh  fokus pada praktik
• Tren yang memengaruhi kelayakan dan
keberhasilan model pelatihan:
a. Kelebihan pasokan psikolog
Memengaruhi jumlah siswa dalam menyelesaikan
program  bberapa mhsw blm dapat posisi magang
 Siswa dari program doktor yang berorientasi praktik
(PSY.D & sekolah profesional) mengalami lebih banyak
kesulitan mendapatkan magang daripada yang dari
ilmuwan-praktisi dan program ilmuwan klinis
• Revolusi perawatan kesehatan yang dikelola di negara
mempengaruhi permintaan psikolog klinis di masa
depan serta kurikulum dlm program pelatihan 
psikolog klinis berorientasi penelitian mampu
mengembangkan & mengevaluasi perawatan
kesehatan dan mengelola perawatan yang didukung
scr empiris
Isu: Regulasi Profesional
 American Board of Professional Psychology (ABPP):
 Memberi sertifikasi utk kompetensi profesional dlm bidang psi
klinis, psi konseling, PIO, psi sekolah, psi kognitif, psi forensik, dll.
 Pengalaman postdoktoral 5 tahun
 Sertifikasi
 Usaha untuk melindungi publik
 Gelar psikolog baru boleh dipakai kalau sudah disertifikasi oleh
“board of examiners”
 Lisensi
 Aktifitas profesional yang lebih spesifik, mis behavior analyst
 Register Nasional: daftar nama praktisi yang mendapat sertifikasi
atau lisensi, dan mendaftarkan namanya.
Isu: Private Practice
• Trend banyak siswa yang mengikuti clinical
training  karena klinisi menjadi role model
• Kritik utk profesi medis: kehilangan image “good
samaritan” karena lebih mementingkan aspek
ekonomi – psikolog klinis juga ke arah ini?
• Apakah melatih Ph.D utk praktik adl ekonomis
dan memenuhi kebutuhan kesehatan mental
bangsa?
Isu: Revolusi Health Care
• Biaya health care meningkat tajam
• Health care menjadi industri besar
• Terapi untuk waktu lama tidak lagi dianjurkan
• Pelayanan kesehatan berubah
• Ada 2 model utama: consumer-directed health
care plans and pay-for performance disease
management models.
• Consumer-directed health care plans 
cenderung untuk menemukan layanan berkualitas
tinggi dengan harga terbaik
• Pay-for performance disease management
models diberikan layanan berkualitas tinggi dan
efektif. Klinisi akan berbagi dalam penghematan
perawatan kesehatan dengan perawatan yang
kurang intensif (Less session)
• Self Help
Isu:Culturally sensitive Mental
Health service
 Sue (1998) mengidentifikasi 3 karakteristik utama dlm
hal kompetensi kultural:
 Scientific Mindedness. Klinikus harus memformulasi
dan menguji hipotesis mengenai klien-kliennya yang
beda secara kultural. Tidak ada lagi “myth of
sameness”
 Dynamic sizing. Klinikus harus terampil memahami
kapan menggeneralisasi dan inklusif dan kapan
individualisasi dan eksklusif.
 Cultural specific expertise. Klinikus harus menyadari
budaya dan perspektifnya sendiri dan menyadari
kelompok kultur di mana dia bekerja.
Isu: Standar Etis
 APA: standar etis:
 Beneficence and maleficence: Menguntungkan yang dilayani
dan tidak merugikan
 Fidelity and responsibility: Mempunyai tanggung jawab
profesional dan ilmiah kepada masyarakat dan menegakkan
hubungan trust
 Integrity: Dalam semua aktivitasnya, harus accurate, honest
dan truthful
 Justice: Semua orang mempunyai kesempatan utk mendpt
layanan psikologis; psikolog hrs tahu bias dirinya dan batas-
batas kompetensinya
 Respect for people’s rights and dignity: Menghargai hak dan
martabat semua orang dan melakukan penjagaan untuk
melindungi hak-hak mereka
Isu: Key area of the ethical standards

• Competence:
• Harus merepresentasikan pendidikannya.
Jangan mengaku Ph.D kalau hanya master.
• Kalau meragukan sesuatu yang spesifik  cari
supervisi dari klinikus lain yang lebih
berwenang
• Sensitif untuk isu gender, latar belakang etnik,
agama, disabilitas, status sosial ekonomi.
• Menyadari masalah pribadi atau titik sensitif
yang dapat mengganggu performa
Isu: Key area …
 Privacy and Confidentiality:
 Menghargai dan melindungi konfidensialitas
informasi
 Apakah semua informasi bersifat
konfidensial? Kapan boleh dilanggar?
 Komplikasi konfidensialitas sangat banyak.
Bagaimana dengan klien anak? HIV?
 Umumnya ada kesepakatan untuk broken
confidentiality pada suspected child abuse,
potensi untuk bunuh diri atau membunuh,
dan situasi lain yang mengancam hidup.
Isu: key area ….
 Human relations:
 Dual relationship? Sexual relation, employing a client,
selling a product, becoming friends
 Yang paling parah: sexual harrassment dan sexual
intimacies
 Menurut penelitian dilema etis yang paling sering
dihadapi adl:
 Breaching confidentiality because of actual or
potential risks to third parties (suspected child abuse)
 Blurred, dual, conflicting relationships (maintaining
therapeutic boundaries, personal vs professional)
 Involving payment, settings
Isu: prescription privilege
 Boleh menulis resep?
 Pro:
 Memungkinkan psikolog klinis untuk memberi
tritmen yang lebih bervariasi dengan jenis klien yang
lebih beragam
 Potensi peningkatan efisiensi dan efektivitas biaya
perawatan
 Competitive advantage in the health care market
(diinginkan dari sudut pandang praktis dan ekonomi)
 Con:
 “deemphasize” psychological forms of treatment
 Merusak hubungan dengan psikiater dan dokter
umum

Anda mungkin juga menyukai