Anda di halaman 1dari 21

UROGENITAL:

BATU
ANGGOTA KELOMPOK 3 SALURAN
• Muhammad Hafizh P07134119033 KEMIH DAN


Muhammad Sidqi P07134119037
Noor Latifah P07134119039 BPH (Benign


Nurul Firdaus P07134119041
Pingky Rindiani P07134119043 Prostatic


Putri Khusnul K P07134119045
Rahma Auliyanti P07134119047 Hyperplasia)
• Sandrina Syahrul P07134119049

PATOFISIOLOGI
Fajar Apriansyah, S.Kep
D3 TLM
2020
PENGERTIAN BATU SALURAN
KEMIH
Batu kandung kemih atau yang dikenal
juga dengan bladder calculi merupakan
batu yang terbentuk dari endapan
mineral yang ada dalam kandung kemih.
Semua orang sebenarnya berisiko
memiliki satu batu kandung kemih, tapi
pria berusia lebih dari 50 tahun berisiko
lebih tinggi mengalaminya, terutama
bagi pria yang mengalami pembesaran
prostat
ETIOLOG 3
I
Batu kandung kemih terjadi saat kandung
kemih tidak bisa mengeluarkan semua urine
yang tertampung di dalamnya.
Hal ini menyebabkan mineral dalam urine akan
mengendap, mengeras, mengkristal, dan
menjadiyang
Kondisi-kondisi batu dapat
di kandung kemih.
memicu
terbentuknya batu kandung kemih adalah:
 Peradangan akibat infeksi kandung kemih
 Peradangan akibat terapi radiasi
(radioterapi) di area panggul
 Pembesaran prostat
 Penggunaan kateter (selang kencing)
 Riwayat batu ginjal atau operasi pada
kandung kemih
 Divertikel (kantong yang terbentuk di
dinding kandung kemih)
Batu kandung kemih bisa tidak Gejala yang bisa timbul saat kondisi
ini terjadi antara lain:
menimbulkan keluhan atau
 Nyeri dan rasa seperti terbakar
gejala apa pun. Gejala baru saat buang air kecil
muncul saat batu yang  Urine berdarah (hematuria)
terbentuk menyumbat saluran  Urine lebih pekat dan gelap
urine atau melukai dinding  Sulit buang air kecil
kandung kemih.  Tidak lancar atau tersendat-sendat
saat buang air kecil
 Tidak nyaman atau sakit pada
penis, jika terjadi pada pria
 Nyeri pada perut bagian bawah
 Terus-menerus merasa ingin
buang air kecil, terutama di
malam hari
 Lebih sering mengompol, jika
terjadi pada anak-anak
PATOFISIOLOG
I Mekanisme terbentuknya batu pada saluran kemih atau
dikenal dengan urolitiasis belum diketahui secara pasti. Namun
ada beberapa faktor predisposisi terjadinya batu antara lain :
Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan
yang kurang dan juga peningkatan bahan-bahan organik akibat
infeksi saluran kemih atau stasis urin menyajikan sarang untuk
pembentukan batu.
Supersaturasi elemen urin seperti kalsium, fosfat, oxalat, dan
faktor lain mendukung pembentukan batu meliputi : pH urin yang
berubah menjadi asam, jumlah solute dalam urin dan jumlah
cairan urin.
Imobilisasi yang lama akan menyebabkan pergerakan kalsium
menuju tulang akan terhambat. Peningkatan serum kalsium akan
menambah cairan yang akan diekskresikan. Jika cairan masuk 5
MENIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus


urinarius bergantung pada adanya obstruksi,
infeksi dan edema.

 Ketika batu menghambat aliran urin,


terjadi obstruksi, menyebabkan
peningkatan tekanan hidrostatik dan
distensi piala ginjal serta ureter proksimal.
 Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang
disertai menggigil, demam dan disuria)
dapat terjadi dari iritasi batu yang terus
menerus. Beberapa batu menyebabkan
KOMPLIKASI

Batu kandung kemih dapat


menyebabkan komplikasi serius bila
tidak segera ditangani. Beberapa
komplikasi yang bisa terjadi adalah:
 Tersumbatnya aliran urine akibat
batu kandung kemih tersangkut di
saluran kencing (uretra)
 Infeksi saluran kemih
TES DIAGNOSIS

Dalam mendiagnosis batu kandung kemih,


dokter akan menanyakan gejala yang dialami
pasien dan menanyakan riwayat kesehatan
pasien. Selanjutnya, dokter akan melakukan
pemeriksaan fisik, terutama di perut bagian
bawah untuk melihat apakah kandung kemih
penuh atau tidak.
Untuk membantu mendiagnosis batu
kandung kemih, dokter akan
melakukan pemeriksaan penunjang di
bawah ini:
• Pemeriksaan urine, untuk menilai
kandungan dan komponen urine,
termasuk untuk melihat adanya
darah, kristal, dan leukosit (sel
darah putih)
• Pemeriksaan Rontgen, untuk
mendeteksi keberadaan batu
kandung kemih
• Pemeriksaan USG panggul, untuk
menemukan batu kandung kemih
• Pemeriksaan CT scan, untuk
menemukan batu kandung kemih
yang ukurannya lebih kecil
• Pemeriksaan sistoskopi, untuk
PENATALAKSANAAN (POLA
DIET)
1. Tujuannya
3. Terapi :
:
 Menghilangkan obstruksi  Analgesik untuk mengatasi
 Mengobati infeksi nyeri.
 Mencegah terjadinya gagal  Allopurinol untuk batu asam
ginjal urat.
 Mengurangi kemungkinan  Renisillin untuk batu systin.
terjadinya rekurensi (terulang  Antibiotika untuk mengatasi
2. Operasi Dilakukan
kembali). infeksi.
Jika :

 Sudah terjadi stasis,


bendungan.
PENATALAKSANAAN (POLA
DIET)

4. Diet
Diet atau pengaturan makanan  Batu Asam Urat
sesuai jenis batu yang Makanan yang dikurangi : daging,
ditemukan : kerang, gandum, kentang, tepung-
 Batu Kalsium Oksalat tepungan, saus dan lain-lain.
Makanan yang harus dikurangi  Batu Struvite
adalah jenis makanan yang Makanan yang dikurangi : keju,
mengandung kalsium oksalat telur, buah murbai, susu dan
seperti bayam, daun seledri, daging.
kacang-kacangan, kopi, teh, dan  Batu Cystin
coklat. Sedangkan baut kalsium
fosfat : mengurangi makanan
yang mengandung kalsium tinggi
BPH (Benign Prostatic
Hyperplasia)

BPH (benign prostatic hyperplasia) adalah suatu


penyakit yang disebabkan oleh faktor penuaan,
dimana prostat mengalami pembesaran
memanjang keatas kedalam kandung kemih
dan menyumbat aliran urin dengan cara
menutupi orifisium uretra.
ETIOLOGI

Hingga sekarang masih belum diketahui secara


pasti etiologi/penyebab terjadinya BPH, namun
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat
kaitanya dengan peningkatan
kadar dehidrotestosteron (DHT) dan proses menua.
Terdapat perubahan mikroskopik pada prostat telah
terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bilaperubahan
mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan
patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun,
dan angka kejadiannya sekitar 50%, untuk usia 80
tahun angka kejadianya sekitar 80%, dan usia 90
tahun sekitar 100% .
PATOFISIOL
OGI

Hiperplasia prostat adalah


pertumbuhan nodul-nodul
fibroadenomatosa majemuk dalam
prostat, pertumbuhan tersebut
dimulai dari bagian periuretral
sebagai proliferasi yang terbatas
dan tumbuh dengan menekan
kelenjar normal yang tersisa.
Jaringan hiperplastik terutama
terdiri dari kelenjar dengan stroma
fibrosa dan otot polos yang
jumlahnya berbeda-beda.
Proses pembesaran prostad
terjadi secara perlahan-lahan
MANIFESTASI
KLINIS
2. Gejala pada Saluran Kemih
1. Keluhan pada Saluran Kemih Bagian Atas
Bagian Bawah
• Gejala obstruksi meliputi : Keluhan akibat hiperplasia prostat
Retensi urin (urin tertahan pada saluran kemih bagian atas
dikandung  kemih sehingga urin berupa adanya gejala obstruksi,
tidak bisa keluar), hesitansi (sulit seperti nyeri pinggang, benjolan
memulai miksi), pancaran, miksi dipinggang (merupakan tanda dari
lemah. Intermiten (kencing hidronefrosis), atau demam yang
terputus-putus), dan miksi  tidak merupakan tanda infeksi atau
puas (menetes setelah miksi) urosepsis.
• Gejala iritasi meliputi : Frekuensi,
nokturia, urgensi (perasaan
ingin  miksi yang sangat
mendesak) dan disuria (nyeri
pada saat miksi).
MANIFESTASI
KLINIS

3. Gejala Diluar Saluran Kemih

Pasien datang diawali dengan keluhan penyakit


hernia inguinalis atau hemoroid. Timbulnya
penyakit ini dikarenakan sering mengejan
pada  saan miksi sehingga mengakibatkan
tekanan intra abdominal. Adapun gejala dan tanda
lain yang tampak pada pasien BPH, pada
pemeriksaan  prostat didapati membesar,
kemerahan, dan tidak nyeri tekan, keletihan,
anoreksia, mual dan muntah, rasa tidak nyaman
pada epigastrik, dan gagal ginjal dapat terjadi
dengan retensi kronis dan volume residual yang
besar.
Menurut Sjamsuhidjat
penatalaksanaan pasien
(2005)
dengan
dalam
BPH PENATALAKASANAAN
tergantung pada stadium-stadium dari
gambaran klinis

a.  Stadium I
Pada stadium ini biasanya belum
memerlukan tindakan bedah, diberikan
pengobatan konservatif, misalnya
menghambat adrenoresptor alfa seperti
alfazosin dan terazosin. Keuntungan
obat ini adalah efek positif segera
terhadap keluhan, tetapi tidak
mempengaruhi proses hiperplasia
prostat. Sedikitpun kekurangannya
adalah obat ini tidak dianjurkan untuk
pemakaian lama.

b.  Stadium II
Pada stadium II merupakan indikasi
untuk melakukan pembedahan
biasanya dianjurkan reseksi endoskopi
melalui uretra (trans uretra).
PENATALAKASANAAN
c.  Stadium III
Pada stadium II reseksi endoskopi dapat
dikerjakan dan apabila diperkirakan prostat sudah
cukup besar, sehinga reseksi tidak akan selesai
dalam 1 jam. Sebaiknya dilakukan pembedahan
terbuka. Pembedahan terbuka dapat dilakukan
melalui trans vesika, retropubik dan perineal.

d.   Stadium IV
Pada stadium IV yang harus dilakukan
adalah membebaskan penderita dari
retensi urin total dengan memasang
kateter atau sistotomi. Setelah itu,
dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut untuk melengkapi diagnosis,
kemudian terapi definitive dengan TUR
atau pembedahan terbuka.
KOMPLIKASI

6. Gagal ginjal bisa dipercepat jika


terjadi infeksi
7. Hematuri, terjadi karena selalu
terdapat sisa urin, sehingga dapat
terbentuk batu endapan dalam buli-
Menurut Sjamsuhidajat dan De Jong (2005) buli, batu ini akan menambah keluhan
komplikasi BPH adalah : iritasi. Batu tersebut dapat pula
1. Retensi urin akut, terjadi apabila buli-buli menibulkan sistitis, dan bila terjadi
menjadi dekompensasi refluks dapat mengakibatkan
2. Infeksi saluran kemih pielonefritis.
3. Involusi kontraksi kandung kemih 8. Hernia atau hemoroid lama-kelamaan
4. Refluk kandung kemih. dapat terjadi dikarenakan pada
5. Hidroureter dan hidronefrosis dapat terjadi waktu miksi pasien harus mengedan.
karena produksi urin terus berlanjut maka 9.  WOC
pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi
menampung urin yang akan
mengakibatkan tekanan intravesika
meningkat.
TES DIAGNOSIS
Pemeriksaan Penunjang Menurut Purnomo (2011) dan
Baradero dkk (2007) pemeriksaan penunjang yang dapat
dilakukan pada penderita BPH meliputi:
1.  Laboratorium
a) Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin penting
dilakukan untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan
infeksi.
b) Pemeriksaan faal ginjal, untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyulit yang menegenai saluran kemih bagian
atas.
c) Pemeriksaan prostate specific antigen (PSA)
2.  Radiologis/Pencitraan
a) Foto polos abdomen, untuk mengetahui kemungkinan
adanya batu opak di saluran kemih
b) Pemeriksaan Pielografi intravena ( IVP ), untuk
mengetahui kemungkinan adanya kelainan pada ginjal
maupun ureter
c) Pemeriksaan USG transektal, untuk mengetahui besar
kelenjar prostat, memeriksa masa ginjal,
TERIMA KASIH
#dirumahaja

21