Anda di halaman 1dari 45

UJI KEPEKAAN ANTIBIOTIK GOLONGAN SEFALOSPORIN

GENERASI KETIGA (CEFTRIAXONE, CEFOTAXIME DAN CEFTAZIDIME)


TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus PADA NASAL KANUL
DI RUANG ICU RSUD UNDATA PALU PERIODE TAHUN 2015

PROPOSAL PENELITIAN
SAHAR
N 101  12 149

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN


 
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
  TADULAKO
UNIVERSITAS
 
AGUSTUS 2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang 

NEGARA
BERKEMBANG

ANTIBIOTIK

PENYAKIT
INFEKSI 1
A. Latar belakang 

PEMILIHAN ANTIBIOTIK
1 YANG KURANG TEPAT RESISTENSI
BAKTERI

ANTIBIOTIK GOLONGAN

2 SEFALOSPORIN GENERASI
KETIGA
EFEKTIFITAS
ANTIBIOTIK
RENDAH
ceftriaxone TERHADAP
BAKTERI

cefotaxime TERTENTU

ceftazidime.
A. Latar belakang 

Bakteri penyebab
penting penyakit
sering disebabkan Staphylococcus
oleh FLORA aureus
NORMAL

30 – 50 %
manusia dewasa
sehat terkolonisasi
bakteri ini
A. Latar belakang 

Methicillin-
resistant WHO (2001) UJI
STRATEGI
Staphyloco KEPEKAAN
UNTUK
ccus aureus MENGATASI ANTIBIOTIK
(MRSA)
B. Rumusan Masalah

1. Apakah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga


(ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime) peka terhadap
bakteri Staphylococcus aureus pada nasal kanul di ruang
ICU RSUD Undata Palu periode tahun 2015?

2. Bagaimana pola kepekaan antibiotik golongan sefalosporin


generasi ketiga (ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime)
terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada nasal kanul
di ruang ICU RSUD Undata Palu periode tahun 2015?
C. Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

untuk mengetahui apakah antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga


(ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime) peka terhadap bakteri
Staphylococcus aureus pada nasal kanul di ruang ICU RSUD Undata Palu
periode tahun 2015.

Tujuan Khusus

untuk mengetahui bagaimana pola kepekaan antibiotik golongan sefalosporin


generasi ketiga (ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime) terhadap bakteri
Staphylococcus aureus pada nasal kanul di ruang ICU RSUD Undata Palu
periode tahun 2015.
D. Manfaat Penelitian

Bagi pendidikan

Bagi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan


(FKIK) Universitas Tadulako

Bagi peneliti
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka
1. Staphylococcus aureus
2. Nasal kanul
3. Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga ceftriaxone,
cefotaxime dan ceftazidime
4. Uji kepekaan terhadap antibakteri in vitro
5. Mekanisme resistensi antibiotik
6. Kerangka teori
7. Kerangka konsep
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

Staphylococcus aureus

Gambar 1. Staphylococcus aureus (Dennis, 2009)


A. Telaah Pustaka
Staphylococcus aureus

1. Taksonomi
2. Morfologi dan identifikasi
3. Biakan
4. Metabolit kuman
5. Patogenesis
6. Temuan klinis
7. Terapi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Nasal Kanul

Gambar 1. Nasal Kanul (Yu & Fang, 2009)


A. Telaah Pustaka
Nasal Kanul

1. Pengertian

2. Indikasi

3. Kontraindikasi

4. Efek samping
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka
Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga
ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime

1. Struktur kimia
2. Aktivitas antimikroba
3. Farmakokinetik

4. Dosis
5. Penggunaan klinis
6. Efek samping
Struktur kimia ceftriaxone

Gambar 1. Ceftriaxone (Istiantoro & Gan, 2012)


Struktur kimia cefotaxime

Gambar 2. Cefotaxime (Weng, 2011)


Struktur kimia ceftazidime

Gambar 3. Ceftazidime (Weng, 2011)


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Uji kepekaan terhadap antibakteri in vitro

1. Metode dilusi

2. Metode difusi

A. Metode difusi dengan silinder pipih

B. Metode difusi dengan mangkuk pipih

C. Metode difusi dengan kertas saring


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Mekanisme resistensi antibiotik

KEMAMPUAN
RESISTENSI MIKROORGANISME UNTUK
ANTIBIOTIK BERTAHAN DARI PENGARUH
SUATU ANTIBIOTIK
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka
Mekanisme resistensi antibiotik

a. Sulfonation, phospholiration,
Antibiotic degrading and esterification
Enzymes b. Extendend Spectrum Beta
Lactamase

Decreased permeability
a. DNA gyrase
Efflux pump b. Protein binding protein
c. Gram positive cell wall
Target alteration d. Ribosome
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Kerangka Teori
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Kerangka Teori
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
A. Telaah Pustaka

Kerangka Konsep
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
B. Landasan Teori

Summarize from theory


frame
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Nasal kanul
C. Hipotesis
1. H0 :

Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (ceftriaxone, cefotaxime dan


ceftazidime) tidak peka terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada nasal kanul di
ruang ICU RSUD Undata Palu periode tahun 2015.

2. H1 :

Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (ceftriaxone, cefotaxime dan


ceftazidime) peka terhadap bakteri Staphylococcus aureus pada nasal kanul di ruang
ICU RSUD Undata Palu periode tahun 2015.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Nasal kanul
A. Rancangan Penelitian

JENIS
PENELITIAN
JENIS PENELITIAN KUANTITATIF

DESAIN
PENELITIAN EKSPERIMENTAL LABORATORIUM
PENELITIAN
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Nasal kanul
A. Rancangan Penelitian
Hasil mengukur besarnya diameter zona hambat antibiotik
penelitian dari pertumbuhan bakteri uji pada media agar Muller
Hinton.
Staphylococcus
diperoleh dari hasil penelitian
aureus yang
sebelumnya oleh Pertiwi tahun
diisolasi di
Sampel Laboratorium
2015 dengan judul “Identifikasi
Variasi Bakteri pada Nasal Kanul
Kesehatan
di Ruang ICU RSUD
Daerah Kota
UndataTahun 2015”.
Palu

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah Kota


Palu Periode Juni Tahun 2015
B. Populasi dan Subjek Penelitian
seluruh bakteri yang diisolasi di Labratorium Kesehatan
POPULASI Daerah Kota Palu. Subjek atau sampel penelitian ini
PENELITIA adalah bakteri yang diisolasi di Laboratorium
N
Kesehatan Daerah Kota Palu yang telah teridentifikasi
pada penelitian sebelumnya.
ditentukan dengan asumsi bahwa jenis bakteri
yang teridentifikasi pada peneitian sebelumnya
berjumlah 9 sehingga sampel yang
PENELITIAN
SAMPEL

teridentifikasi itu dijadikan sampel penelitian


seluruhnya.
Namun, karena terbatasnya medium agar yang dapat
menumbuhkan seluruh bakteri itu, maka jenis bakteri
yang menjadi sampel adalah berjumlah 1 jenis bakteri
yakni Staphylococcus aureus.
B. Populasi dan Subjek Penelitian
Kriteria inklusi

seluruh bakteri Staphylococcus aureus yang diisolasi


di Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Palu yang
TELAH teridentifikasi pada penelitian sebelumnya.

Kriteria eksklusi

bakteri Staphylococcus aureus yang diisolasi di


Laboratorium Kesehatan Daerah Kota Palu yang
TIDAK teridentifikasi pada penelitian sebelumnya.
C. Alat dan Bahan Penelitian
Alat Penelitian:
1. Inkubator
2. Mikropipet
3. Penggaris
4. Pinset
5. Cawan petri.

Bahan Penelitian:
6. Isolat bakteri Staphylococcus aureus di Laboratorium Kesehatan Daerah
Kota Palu yang didapatkan dari nasal kanul pasien yang dirawat di
Ruang ICU RSUD Undata Palu Tahun 2015 pada penelitian sebelumnya
7. Disk / Cakram Antibiotika: ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime
8. Media agar Muller Hinton, larutan Standar Mc Farland, Nutrient Broth,
aquades.
D. Prosedur Penelitian
 
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

Variabel penelitian

a. Variabel bebas
Variabel bebas
Variabel bebas dari penelitian ini adalah uji kepekaan antibiotik g
olongan sefalosporin generasi ketiga (ceftriaxone, cefotaxime dan
ceftazidime).
b. Varaibel terikat
Variabel terikat
Variabel terikat dari penelitian ini adalah bakteri Staphylococcus
aureus pada nasal kanul di ruang ICU RSUD Undata Palu
periode tahun 2015.
 
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
2Definisi
. operasional
A.Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga (Ceftriaxone,
Cefotaxime dan Ceftazidime)
Antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga dalam penelitian
ini adalah ceftriaxone, cefotaxime dan ceftazidime (Chamber,
2007).
B. Jenis Bakteri
Jenis Bakteri dalam penelitian ini adalah jenis bakteri
Staphylococcus aureus yang terisolasi di Laboratorium Kesehatan
Daerah Kota Palu yang diperoleh dari identifikasi pada nasal kanul
di ruang ICU RSUD Undata Palu Periode tahun 2015 oleh penelitian
 
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
C. Uji Kepekaan Antibiotik
Uji kepekaan antibiotik dalam penelitian ini adalah uji yang dilakukan
untuk mengetahui daya hambat minimal suatu antibiotik terhadap
suatu jenis bakteri (Dzen et al., 2004).

D. Resisten
Resisten dalam penelitian ini adalah keadaan dimana bakteri telah
menjadi kebal terhadap obat, dimana obat tidak bekerja lagi terhadap
kuman-kuman tertentu yang memiliki daya tahan lebih kuat.

E. Intermediet
Intermediet dalam penelitian ini adalah keadaan dimana obat hanya
dapat menghambat bakteri, tetapi tidak dapat membunuhnya (Samuel,
2013).
 
E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional
F. Sensitif
Sensitif dalam penelitian ini adalah keadaan dimana obat dapat
membunuh bakteri (Samuel, 2013).

G. Alat ukur
Alat ukur dalam penelitian ini adalah mistar (satuan mm).

H. Hasil ukur
Hasil ukur dalam penelitian ini adalah diameter zona hambat yang
terbentuk (satuan mm). Sangat kuat (zona hambat > 20 mm), kuat
(zona hambat 10-20 mm), sedang (zona hambat 5-10 mm) dan lemah
(zona hambat < 5 mm) (Kumesan et al., 2013).

I. Skala ukur
Skala ukur dalam penelitian ini adalah skala ukur numerik.
F. Analisa Data

(p>0.05)>>> One way ANOVA


ANALISI
S HASIL Saphiro
PENELIT
-Wilk
IAN
(p<0.05)>>> Kruskal-Wallis
G. Jadwal Penelitian
DAFTAR PUSTAKA

 
Abubakar, 2009. Perbedaan Pertumbuhan Bakteri di Humidifier dan Non Humidifier
pada Pasien yang Mendapat Terapi Oksigen di RSU Dr. Soetomo Surabaya (Tesis).
Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia, Depok.
 
Akhyar, 2010. Uji Daya Hambat dan Analisis Klt Bioautografi Ekstrak Akar dan Buah
Bakau (Rhizophora Stylosa Griff.) terhadap Vibrio Harveyi. Fakultas Farmasi,
Universitas Hasanuddin, Makassar
 
APUA (Alliance for prudent use of antibiotics) (2011) What is antibiotic resistance and
why is it problem?. Diakses pada 15 Juni 2015 dari <www.apua.org>
 
Baron, E.J., Peterson, Firegold, S.M., 2004. Bailey And Scott’s Diagnostic Microbiology
9th Edition. New York. Mosby-Year Book. Inc, hal: 182-3
 
Biantoro, 2008. Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). Bagian/SMF Ilmu
Penyakit Dalam FK UGM/RS Dr. Sardjito, Yogyakarta
DAFTAR PUSTAKA
Brooks, G.F., Janet, S.B., Stephen, A.M., 2008. Jawets, Melnick, and Adelberg’s
Mikrobiologi Kedokteran Edisi 23. EGC, Jakarta, hal: 225-230
 
Budiarti, F., 2014. Sop Terapi Oksigen. Diakses pada 18 Mei 2015 dari <
http://fitria-budiarti-fkp13.web.unair.ac.id/artikel_detail-94746 maretSOP%20TERAPI%2
0OKSIGEN.html
>
 
Chambers, H.F. eds. (2007) Basic & Clinical Pharmacology - 10th Edition, Beta-Lactam &
Other Cell Wall- & Membrane-Active Antibiotics. The McGraw-Hill Companies, Inc,
United States of America
 
Dennis, K., 2009. Microscopy Staphylococcus aureus. Copyright Dennis Kunkel
Microscopy. New York. Di akses dari <
http://www.ciriscience.org/ph_106-Staphylococcus_aureus_Copyright_Dennis_Kunkel_M
icroscopy
>
 
Diklat Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS), 2013. Materi Pendidikan – Pelatihan
DAFTAR PUSTAKA
Dzen, S.J., Roekistiningsih, S.S., Winarsih, S., 2004. Bakteriologik Medik : Edisi Pertama. Bayumedia
Publishing, Malang, hal: 216-23
 
Farmer III, J.J., Boatwright, K.D., Janda, J.M., 2007. Enterbacteriaceae: introduction and identification. In:
Murray, P.R., Baron, E.J.,Jorgensen, J.H., Landry, M.L., Pfaller, M.A., (Ed). Manual of Clinical
Microbiology, 9th ed. Washington DC, American Society for Microbiology Press, hal: 649-69
 
Firizki, F., 2013. Pattern Sensitivity of Escherichia coli and Klebsiella sp. to Antibiotic Sefalosporin Period
of Year 2008-2013 in Bandar Lampung. Medical Faculty, Lampung University, hal: 65-72, diakses pada
17 Mei 2015 dari<http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/download/290/288>
 
Jawetz, E., Melnick, J., Aldenberg, E., 2007. Mikrobiologi Kedokteran. EGC Jakarta, hal: 357-9
 
Koda-Kimble, M.A., Young, L.Y., Alldredge, B.K., Corelli, R.L., Guglielmo, B.J., Kradjan, W.A.,
Williams, B.R., 2009. Applied Therapeutics: The Clinical Use Of Drugs, 9th Edition, dalam Thirion,
D.J.G., Guglielmo, B.J. (Ed.): Antimicrobial Prophylaxis for Surgical Procedures. Lippincott Williams &
Wilkins, Philadelphia, United States of America, hal: 57p5
DAFTAR PUSTAKA
Khosravi, A.D., Parhizgari, N., Abbasi Montazeri, E., Mozaffari, A., Abbasi, F., 2013. The Prevalence
of Bacteria Isolated From Endotracheal Tubes of Patients in Golestan Hospital, Ahvaz, Iran, and
Determination of Their Antibiotic Susceptibility Patterns. Jundishapur J Microbiol, Vol.6, No.1,
hal:67-71, diakses pada 16 Juni 2015 dari <http://jjmicrobiol.com/12089.pdf>
 
Kumesan, Y.A.N., Yamlean, P.V.Y., Supriati, H.S., 2013. Formulasi Dan Uji Aktivitas Gel
Antijerawat Ekstrak Umbi Bakung (Crinum Asiaticum L.) Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus
Secara In Vitro, PHARMACON, Jurnal Ilmiah Farmasi – Universitas Sam Ratulangi, Manado
Vol.2, No.2, hal: 1-10, diakses pada 16 Juni 2015 dari <
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=108221&val=1015>
 
Nurhani, 2010. Perbedaan Prevalensi dan Pola Resistensi Staphylococcus aureus Pada Tiga Sekolah
Dasar SDN Pandean Lamper 02 Semarang. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro.
Semarang. di akses dari < http://eprints.undip.ac.id/23632/1/Nurhani.pdf>
 
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi 2. Penerbit
Salemba Medika, Jakarta
 
Pertiwi, B.P., 2015. Identifikasi Variasi Bakteri pada Nasal Kanul di Ruang ICU RSUD Undata
Tahun 2015 (Skripsi). Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, Universitas Tadulako, Palu
DAFTAR PUSTAKA
Pratiwi, S.T., 2012. Mikrobiologi Farmasi. Erlangga. Jakarta
 
Razak, A., Djamal, A., Revilla, G., 2013. Uji Daya Hambat Air Perasan Buah Jeruk Nipis
(Citrus aurantifolia s.) terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus secara In
Vitro. Jurnal Kesehatan Andalas. Padang. Di akses dari <http://jurnal.fk.unand.ac.id>
 
Richards, D., Aronson, J., 2005. Oxford Handbook of Practical Drug Therapy, 1st Edition,
Chapter 5, Infections. Oxford University Press, United Kingdom, hal: 328
 
Samuel, A., 2013. Pola Resistensi Antibiotik terhadap Isolat Bakteri Aerob Penyebab
Infeksi Luka Operasi di Ruang Rawat Inap Bagian Bedah dan Kebidanan Rsud Dr. H.
Abdul moeloek Bandar Lampung (Skripsi). Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan,
Universitas Lampung. Diakses pada 20 Mei 2015 dari <
http://digilib.unila.ac.id/1370/8/BAB%20III.pdf>
 
Staf Pengajar FK UI, 2009. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi. Binarupa
Aksara, Jakarta, hal: 125-33
DAFTAR PUSTAKA
Tanu, I., 2012. Farmakologi dan Terapi, Edisi 5, dalam: Istiantoro, Y.H., Gan, V.H.S (Ed.):
Penisilin, Sefalosporin, Antibiotik Betalaktam Lainnya. Departemen Farmakologi dan
Terapeutik, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jakarta, hal: 678-82
 
Tarwoto, W., 2010. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Edisi 4. Penerbit
Salemba Medika, Jakarta
 
Tortora, Gerard, J., Berdell, R.F., Christine, L.C., 2007. Microbiology An Introduction 9th
Edition. Pearson Education / Pearson Benjamin Cummings. San Francisco
 
Tumbarello, M., 2010. Bloodstream Infections caused by Extended-Spectrum-Beta-
Lactamase-Producing Klebsiella pneumoniae: Risk Factors, Molecular Epidemiology, and
ClinicalOutcome; diakses pada 15 Juni 2015 dari <http://aac.asm.org/cgi/reprint/50/2/498 >
 
Utami, E.R., 2012. Antibiotika, Resistensi dan Rasionalitas Terapi. Saintis. Vol.1, No.1, hal:
125, diakses pada 17 Mei 2015 dari <
http://download.portalgaruda.org/article.php?article=115570&val=5285 >
 
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuni, H., 2014. Efek Antibakteri Ekstrak Daun Sambiloto


(Andrographis paniculata Nees.) terhadap Bakteri Staphylococcus
aureus (Skripsi). Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Tadulako, Palu
 
Weng, A., 2011. Industri Sefalosporin. Institut Teknologi Bandung.
Diakses pada 19 Mei 2015 dari http://
www.slideshare.net/antonyweng/industri-sefalosporin

Yu, Fang, 2009. Chinese Goods Wholesale Market, Medical Gas


Equiments. Sarake Now New Bagram Road Industries Park Kabul,
Afghanistan, diakses pada 18 Mei 2015 dari <
http://www.ab1c.com/en/classhow.asp?id=681>
 
THANK YOU FOR YOUR
KIND ATTENTION