Anda di halaman 1dari 8

Tugas Pemastian Mutu Sediaan

Obat Tradisional

Dosen Pengampu : Amalia Eka Putri M.Farm.,Apt

Nama : Luqyana Salsabila


Nim : 1913206023
1.
Pendahuluan
 Bioassay atau analisis hayati (merupakan analisis baik
secara kualitatif maupun kuantitatif suatu bahan obat,
sediaan obat maupun wadah obat dengan melibatkan
sistem hayati).
 Bioassay atau uji hayati diklasifikasikan dalam uji hayati
kualitatif dan kuantitatif. Uji hayati kualitatif diantaranya
meliputi uji pirogen, uji sterilitas, uji mikrobia, uji toksisitas
dan penetapan angka antigen, sedangkan uji hayati
kuantitatif mempelajari hubungan dosis respon, baik dan
efek quantal maupun efek gradual.
 Tujuan dari bioassay ini adalah untuk dengan cepat
menyaring aktivitas biologis yang menarik, yang kemudian
dapat diikuti oleh studi berbasis mekanisme yang lebih rinci.
2.
Bioassay Kualitatif
• Bioassay kualitatif merupakan cara pemeriksaan
kualitatif obat/sediaan obat atau wadah obat (alat-
alat infuse, injeksi) dengan memanfaatkan fenomena
biologis yang timbul.
– Termasuk dalam bioassay kualitatif diantaranya:
• 1. Uji pirogen : uji yang dilakukan untuk mengetahui apakah suatu
sediaan uji steril bebas pirogen atau tidak.
• 2. Uji sterilitas : untuk menetapkan ada tidaknya bakteri yang
hidup dalam sediaan zat yang diperiksa.
• 3. Uji mikrobia : menetapkan banyaknya mikroba (jasad renik)
aerob hidup yang terdapat dalam zat atau untuk menyatakan zat
bebas cemaran jasad renik tertentu.
• 4. Uji toksisitas
• 5. Penetapan angka antigen :
Antigen : senyawa asing yang masuk/dimasukkan ke dalam tubuh dan
menyebabkan timbulnya respon.
3.
Bioassay Kuantitatif
• Bioassay kuantitatif merupakan cara penetapan potensi obat
dengan mengamati efek biologis. Efek bIogis mi digolongkan
dalam dua bagian besar yaitu respon farmakotogis (respon
yang terjadi atau mempengaruhi satu system tertentu pada
tubuh organisme) dan respon biologis (respon terjadi atau
mempengaruhi pada seluruh tubuh organisme). Contoh
respon farmakotogis misalnya: efek hipoglikemik insulin, efek
isoproterenol pada denyut jantung, efek norepinefrin pada
tekanan darah dan efek oksitosin pada kontraksi otot uterus.
Contoh untuk respon biologis adalah stimutasi pertumbuhan
mikro-organisme karena pemberian vitamin.
– Pada Bioassay Kuantitatif akan dijelaskan tentang:
• 1. Hubungan dosis - respon secara kuantitatif
• 2. Efek quantal
• 3. Efek gradual
4. Strategi pemilihan “calon obat
herbal”
Proses pemilihan jenis bahan alam yang akan diteliti sebagai calon
obat herbal sesuai dengan skala prioritas sebagai berikut :
• Obat alami calon obat herbal yang diperkirakan dapat sebagai
alternative pengobatan untuk penyakit-penyakit yang belum ada
atau masih belum jelas pengobatannya.
• Obat alami calon obat herbal yang berdasar pengalaman
pemakaian empiris sebelumnya dapat berkhasiat dan bermanfaat
• Obat alami calon obat herbal yang sangat diharapakan
berkhasiat untuk penyakit-penyakit utama
• Ada/ tidaknya efek keracunan akut (single dose), spectrum
toksisitas jika ada, dan sistem organ yang mana yang paling peka
terhadap efek keracunan tersebut (pra klinik, in vivo)
• Ada/ tidaknya efek farmakologi calon obat herbal yang
mengarah ke khasiat terapeutik (pra klinik in vivo)
5. Pengujian bioassay obat bahan
alam secara skrining in vitro
• in vitro (di luar sel). Seperti misalnya
uji antioksidan dapat dilakukan
secara in vitro dengan mengukur
persen peredaman (%IC50) dari
senyawa aktif dengan radikal bebas
DPPH. Kalau persen peredamannya
>50% maka senyawa tersebut
mempunyai aktivitas sebagai
antioksidan.
Pengujian bioassay obat bahan alam
6.dengan metode skrining in vivo untuk
gangguan SSP
• in vivo (di dalam sel). Uji Antiokaidan
secara in vivo dapat dilakukan
dengan hewan coba dengan
menganalisis marker antioksidan
yaitu aktivitas enzim Super Oksida
Dismutase (SOD), Katalase, ,
Glutation Peroksidase (GPx),kadar
Malondialdehid (MDA) dan 8-hidroksi-
deoksi-guanosin (8-OHdG).
7.Pengujian bioassay terhadap obat bahan alam
dengan metode high throughput screening
• High Throughput Screening (HTS) Technique merupakan teknik interaksi
biomolekuler antara protein target/reseptor suatu penyakit dengan
senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak tanaman obat (SDA). Protein
target suatu penyakit dapat dibuat/disintesis dengan menggunakan teknik
rekayasa genetik atau mengisolasi pada penyakit tertentu dan
dikembangkan dalamkultur jaringan berdasarkan informasi genetik yang
diperoleh dari aktivitas penelitian analisis genom, sedangkan ekstrak SDA
dapat diekstraksi terhadap keanekaragaman hayati yang ada.
• Adapun kunci atau langkah-langkah dari HTS ini adalah
– (1). Aktivitas Analisis genom (protein target) 58
– (2) Keanakaragaman hayati (ekstrak)
– (3) HTS.
• Teknologi HTS merupakan perkembangan dalam teknik instrumentasi
Biomolecule Interaction Analisys (BIA), dimana dalam teknik ini akan
terjadi interaksi fisiko kimia maupun imunokimia. Interaksi molekul yang
terjadi antara suatu bahan aktif dalam suatu ekstrak dengan molekul
target melalui teknik HTS disebut dengan Hit. Uji yang sangat sensitif ini
memungkinkan dilakukan throughhput dengan microtiter plate
menggunakan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay) atau SPA
(Scintillation Proximity Assay).
• Apabila dengan teknik HTS ini telah terjadi hit, maka dilanjutkan dengan