Anda di halaman 1dari 67

Lukmanul Khakim

1913206022
BATANG
FORMULASI
R/ Alstoniae Cortex (Kulit Pule ) 1g
Alyxiae Cortex (Kulit Pulasari) 1g
Tinosphorae Caulis (Kulit Batang Brotowali) 1g
Cichonae Calisaya Cortex (Kulit Kina Kalisaya) 1g
Cichonae Ledgerianae Cortex (Kulit Kina Ledgerian)
1g
Cichonae Ledgerianae Cortex
(kulit batang kina ledgeriana)
• Uji Organoleptik
Bau khas, terutama kulit bahan, pada penyimpanan lama bau
hilang, rasa pahit dan kelat.
• Uji Makroskopik
Potongan kulit : bentuk pipa , berlengkuk atau pipih, tebal sampai 8
mm dapat juga dalam bentuk serpih. Pelukaan luar kasar tidak
beraturan, mempunyai kerutan halus mememanjang; kulit yang
tidak bergabus berwarna coklat merah,yang bergabus berwarna
coklat kelabu dengan bintikn kelabu muada yang letaknya tidak
beraturan ; di beberapa tempat terdapat lumut kulit permukaan
dalam mempunyai beberapa kerutan halus memanjang dan celah
memanjang,warna coklat sampai coklat merah.bekas patahan
melintang berserat pendek , terutama pada bagian dalam , warna
coklat muda
• Uji Mikroskopik
Jaringan gabus terdiri dari beberapa lapis sel gabus. Sel gabus
: Berdinding tipis berwarna coklat : pada penampang
melintang dan membujur sel berbentuk segi empat panjang,
pada pengamatan tangensial berbentuk poligonal .korteks :
parenkimatik dengan diding sel berwarna coklat , sebagian
besar sel berisi butir butir pati kecil tunggal, bentuk bulat;
tersebar diantar parenkim terdapat sel idioblas berisi hablur
kalsium oksalat bentuk pasir: dikorteks bagian dalam terdapat
saluran sekresi yang berbentuk bulat atau lonjong , dinding
agak tebal , garis tegah sampai lebih kurang 150 µm ,saluran
sekresi tersusun dalam deretan tangensial . floem sekunder
:tersusun redial, sel jaringan floem lebih kecil dari pararenkim
korteks ; parenkim floem terdiri dari sel berdinding tipis
berwarna kecoklatan , berisi butir pati ; sel idioblas berisi
hablur kalsium oksalat bentuk pasir. Serabut floem : warna
kuning muda,bentuk gelendong ,tebal 25 µm – 90 µm Panjang
sampai 1200 µm ,dinding sangat tebal berlapis lapis
,berliknin , saluran noktah jelas ,lumen sempit jari jari empulur
terdiri dari 1 – 3 deret sel, umumnya 2 deret sel .
• Uji Histokimia
Identifikasi alkaloida terdiri dari alkaloida kinina, kinidina,
sinkonina, sinkonidina : asam kinat :asam kinatanat : zat
merah kina. Penggunaan simplisia: anti malaria, anti
piretik , stomakik.

• Kadar abu tidak lebih dari 4 %


• Kadar abu yang tidak larut dalam asam. Tidak lebih dari
1%
• Kadar sari yang larut dalam air. Tidak kurang dari 5%
• Kadar sari yang larut dalam etanol. Tidak kurang dari 8%
• Bahan organic asing. Tidak lebih dari 2%
• Penetapan kadar. Lakukan penetapan kadar menurut cara
yang tertera pada Cinchanoae Calisayae Cortex
Alyxiae Cortex (Kulit Pulasari)
• Uji Makroskopik
Potongan : panjang sampai 10 cm, lebar
sampai 2,5 cm, tebal sampai 4mm, berlekuk
membujur atau agak datar, rapuh ;
permukaan luar halus, rata, warna putih
jernih, kadang-kadang terdapat sisa lapisan
luar yang tipis dan berwarna coklat tua
kehitaman; permukaan dalam tidak rata,
kasar dengan garis-garis membiji; bekas
patahan tidak rata, berserat, agak berdebu.
• Uji Mikroskopik :
Lapisan luar (bila masih ada) terdiri dari lebih kurang 40 lapisan sel gabus
yang tidak berlignin; pada kulit yang tebal, diantara lapisan sel gabus
terdapat kelompok-kelompok sel batu berbentuk segi empat sampai segi
panjang, dinding tebal, berlignin, lumen sempit. Felogen terdiri dari 2
sampai 5 lapis sel berdinding tipis, didalam lumen kadang-kadang terdapat
hablur kalsium oksalat berbentuk kubus, segi empat atau berbentuk
prisma berukuran 10µm sampai 15 µm.
Korteks : jaringan luar terdiri dari 1 sampai 5 lapis sel batu berbentuk segi
panjang sampai bulat panjang, dinding tebal berlapis-lapis, berlignin,
lumen umumnya agak sempit, kadang-kadang mengandung hablur prisma
kalsium oksalat, saluran noktah jelas bercabang; panjang sel batu 15 µm
sampai 50 µm, lebar 10 µm sampai 30 µm. Dibawah lapisan skelrenkim
terdapat parenkim korteks, bentuk sel poligonal, dinding sel tipis,
mengandung butir pati tunggal atau hablur kalsium oksalat berbentuk
prisma atau roset, berukuran 15 µm sampai 35 µm; diantara sel parenkim
terdapat sel batu berkelompok atau tunggal, berbentuk isodiametrik
sampai segi panjang tidak beraturan, dinding sel tebal, jernih, berlapis-
lapis, berlignin, lumen agak sempit, saluran noktah jelas bercabang,
panjang sel batu 50 µm sampai 175 µm, lebar 10 µm sampai 40 µm.
• Kadar abu tidak lebih dari 5,5 %
• Kadar abu yang tidak larut dalam
asam tidak lebih dari 16%.
• Kadar sari yang larut dalam air tidak
kurang dari 8,5 %
• Kadar sari yang larut dalam etanol
tidak kurang dari 2%
• Bahan organik asing tidak lebih dari
2 %.
Chincna calisayae cortex (kulit kina
kaliyasa)
• Uji Organoleptik
Bau khas rasa oahit dan kelat.
• Uji Makroskopik
Potongan kulit berbentuk pipa, berlekuk atau berupa lempeng,
tebal 2mm sampai 5 mm. Permukaan luar kasar, berkerut
sehingga membentuk rusuk rusuk membujur, beralur melintang
terputus putus; warna permukaan coklat tua atau coklat
kelabu;dibeberapa tempat terdapat lumut berkerak berwarna
kelabu putih atau kelabu kehijauan ; pada daerah tertentu tidak
bergabus , permukaan luar rata atau berkerut halus, berwarna
coklat muda sampai coklat.permukaan dalam umumnya berkerut
halus memanjang ,ada yang kasar , warna coklat sampai coklat
kemerahan .mudah patah , bekas patahan melintang berserat
terutama dibagian dalam, bekass pertahanan membujur rata.
• Uji Mikroskopik
Jaringan gabus terdiri dari banyak lapisan sel gabus bentuk persegi empat
memanjang atau agak pipih ,dinding tipis berwarna kuning kecoklatan
sebagian dari sel jaringan gabus berisi zat berwarna coklat terutama sel
yang terletak lebih dekat dengan permukaan.korteks : sel parenkimatik ,
bentuk poligonal memanjang :bagian luar terdiri dari banyak lapisan sel
,kadang kadang agak termampat , dinding agak tebal, tidak berlignin ,
warna coklat kemerahan ; sel berisi butir pati tunggal bentuk bulat atau
bulat memanjang ; pada jaringan ini berisisel idioblas berisi hablur
kalsium oksalat bentuk pasir ; jaringan kortek bagian dalam terdiri dari
banyak lapisan sel berdinding tipis , warna kuning kecoklatan , sel berisi
butir peti tunggal berbentuk bulat atau bulat panjang berukuran sampai
30um : pada jaringan ini terdapat sel idioblas berisi hablur kalsium oksalat
bentuk pasir juga terdapat saluran sekresi bentuk bulat atau bulat
panjang dan berisi tanin.floem : parenkim floem terdiri dari sel sel kecil
berdinnding tipis warena kuning kecoklatan sampai coklat, sel idio blas
berisi hablur kalasium oksalat bentuk pasir ; serabut floem banyak ,
warna kuning muda , dinding sangat tebal , berlapis lapis , berlignin ,
saluran noktah bercabang cabang atautidak , lumen sempit atau lebar ,
tunggal atau berkelompok , lebar 20 um sampai 75 um panjang sampai
1500um : jari jari empulur terdiri dari satu sampai tiga deret sel .
• Uji Histokimia
Pada serbuk kulit ditetesi asam sulfat P terjadi
warna coklat
Pada serbuk kulit ditetesi asam klorida pekat P
terjadi warna kuning
Pada serbuk kulit ditetesi hidroksida P 5% b/v
terjadi warna coklat tua
Tinosphorae caulis (Kulit Batang
Brotowali)
• Uji organoleptik
Tidak berbau, rasa sangat pahit.
• Uji makroskopik
Potongan batang, warna hijau
keclokatan, permukaan tidak rata,
bertonjolan, beralur alur membujur,
lapisan luar mukdah terkupas.
• Uji mikroskopik
Epidermis terdiri dari 1 lapis sel berbentuk segiempat memanjang,
dinding tipis dengan kutikula agak tebal. Dibawah epidermis terdapat
beberapa lapis sel gabus, bentuk segiempat memanjang, dinding
agak tebal. Kambium gabus terdiri dari beberapa lapis sel berdinding
tipis. Korteks parenkimatik dengan sel sel berbentuk membulat titik.
Mengandung butir butir pati. Minyak atau hablur kalsium oksalat
berbentuk prisma. Disebelah luar tiap berkas pengangkut terdapat
serabut sklerenkim berbentuk lengkungan; pada batang yang tua
lengkungan lengkungan tersebut bersambung satu dengan yang lain,
sehingga merupakan seludang sklerenkim yangt tidak terputus yang
pada lapis terluarnya disertai serabut haplur yang berisi haaablur
kalsium oksalat berbentuk prisma. Empulur parenkimatik berisi butir
pati, sel getah dan berkas empuluh kolateral. Parenkim diantara floem
dan serabut sklerenkim kadang kadang termampat atau terkoyok.
Butir pati di korteks dan empulur berbentuk hampir bulat, panjang
atau lonjong, umumnya lonjong. Sel sel getah terdapat dalam deretan
membujur diantara sel parenkim. Berkas empuluh kolateral, terpisah
satu dengan yang lain oleh jaringan parenkim.
• Uji histokimia
A.serbuk batang ditetesi asam sulfat P terjadi warna coklat hitam
B.serbuk batang ditetesi larutan natrium hidroksida P 5% b/V
terjadi warna coklat
C.serbuk batang ditetessi larutan kalium hidroksida P 5% b/v
terjadi warna coklat
D.serbuk battang ditetesi amonia 25 P terjadi warna coklat
Identifikasi kimia : pati, glikosida pikroretosida, alkoloida, berberin,
dan palamatin, zat pahit pikroretin, harsa.
• Kadar abu tidak lebih dari 7,2%
• Kadar abu yang tidak larut dalam asam tidak lebih dari
0,9%
• Kadar sari yang larut dalam etanol tidak lebih dari 15,4%
• Kadar sari yang larut dalam etanol tidak lebih dari 4,4%
• Bahan organik asing tidak lebih dari 2%
Alstoniae Cortex (kulit pule)
• Uji Organoleptic
Tidak berbau; rasa pahit yang tidak mudah hilang
• Uji Makroskopik
Kulit batang dan cabang terdiri dari potongan potongan
mengulang atau kadang kadang berbentuk pipa, tebal
sampai kurleb 3mm. Permukaan luas sangat kasar, tidak
rata. Mudah mengelupas, banyak retak retak membujur dan
melintang; warna permukaan hijau kelabu, coklat muda atau
coklat kehitaman; lentisel berbentuk lonjong, warna putih
kelabu. Terletak melintang. Permukaan dalam bergaris halus.
Juga terdapat retak retak melintang; warna permukaan
kuning kecoklatan sampai coklat kelabu tua. Mudah
dipatahkan, berkas patahan kasar dan agak berserat.
• Uji Mikroskopik

Jaringan gabus terdiri dari banyak jalur sel gabus berdinding tipis
yang berseling dengan jalur sel yang berdinding agak tebal,
berlignin dan bernoktah, sebagian sel mempunyai dindding yang
bewarna kecoklatan; pada penampang melintang dan membujur sel
gabus umumnya berbentuk segipanjang. Pada pengamatan
tangensial berbentuk poligonal. Kambium gabus terdiri dari
beberapa lapis sel berdinding tipis, didalam lumen kadangb kadang
terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk prisma. Korteks sekunder:
lebar, parenkimatik, dinding lapis. Sel parenkim korteks
mengandung butir pati hablur kalsium oksalat berbentuk prisma;
butir pati berbentuk bulat, umumnya butir pati tunggal, kadang
kadang butir pati majemuk; hablur kalsium oksalat terutama banyak
terdapat dalam sel parenkim dibagian luar; dalam jaringan parenkim
terdapat banyak saluran getah. Sel batu: tersebar, jaringan tunggal,
umunya berkelompok atau berupa jalur jalur sel batu yang terputus
putus, sel batu yang terdapat dikorteks bagian luar berebntuk
persegi panjang sampi membulat tidak beraturan, dinding tebal
berlignin, lumen agak lebar, kadang kadanf mengandung hablur
kalsium oksalat berbentuk prisma. Saluran noktah jelas
• Uji histokimia :
Serbuk kulit ditetesi asam sulfat terjadi warna coklat ungu
Serbuk kulit ditetesi asam sulfat 10N terjadi warna kuning
Serbuk kulit ditetesi asam klorida pekat terjadi warna coklat
Serbuk kulit ditetesi larutan natrium hidroksida P 5% b/v terjadi
warna coklat kekuningan
Serbuk kulit ditetesi amonia 25 % terjadi warna kuning
Serbuk kulit ditetesi besi (III ) klorida LP terjadi warna hijau muda
Identifikasi kimia : alkoloida ekitamina, ekitenina, alsonina,
akiserina, ekitina, ekiretina ditamina, ekitamidina, ekiteina.
 
• Kadar abu tidak lebih dari 6,5%
• Kadar abu yang tidak larut dalm asam tidak lebih dari 3%
• Kadar sari yang larut dalm air tidak kurang dari 11%
• Kadar sari yang larut dalam etanol tidak kurang dari 5,5%
• Bahan organik asing tidak lebih dari 2%
FOLIUM
BATU GINJAL

• Batu ginjal merupakan keadaan yang tidak normal di dalam


ginjal dan mengandung komponen kristal serta matriks
organik
• Batu ginjal sebagian besar mengandung batu kalsium berupa
kalsium oksalat atau kalsium fosfat, secara bersama dapat
dijumpai sampai 65 – 85% dari jumlah keseluruhan batu
ginjal (Maryati dkk, 2009).
• Batu ginjal bisa menyebabkan infeksi saluran kemih. Jika batu
menyumbat aliran kemih, bakteri akan terperangkap di
dalam air kemih sehingga terjadilah infeksi. Jika
penyumbatan ini berlangsung lama, air kemih akan mengalir
balik ke saluran di dalam ginjal, menyebabkan penekanan
yang akan menggelembungkan ginjal (hidronefrosis) dan
pada akhirnya bisa terjadi kerusakan ginjal.
FORMULASI

R/ Strobilanthes crispa 1 kg
Sonchus arvensis Linn 1
kg
Persea americana 1kg
 
Nb: Bahan masih dalam
bentuk daun
Daun Kejibeling
(Sericocalycis Folium)

• Pemerian : Bau lemah, rasa agak


sepat dan agak pahit.
• Makroskopik Daun : tunggal,
derhadapan, tangkai daun pendek,
helai daun berbentuk jorong sampai
bundar memanjang, ujung daun dan
pangkal daun meruncing, pinggir daun
bergerigi.
• Uji Mikroskopik

– Epidermis Atas: Sel agak besar, bentuk segi empat atau bersudut
lima sampai enam, dinding samping lurus; kutikula berbintik; pada
lapisan epidermis atas adalah sel-sel litosis dan hiasan rambut.
– Stomata: Tipe bidiasitik, terletak sangat besar pada epidemis
bawah dan sangat sedikit pada epidermis.
– Sel Litosis : Berukuran lebih besar dari sel epidermis dan bentuk
oval memanjang, di dalamnya terdapat sistolit bentuk ganda yang
bertonjolan kecil, terletak sel litosis
– Sel Litosis : Berukuran lebih besar dari sel epidermis dan bentuk
oval memanjang, di dalamnya terdapat sistolit bentuk ganda yang
bertonjolan kecil, terletak sel litosis
– Rambut Kelenjar: Tipe Lamiaceac sel kepala berjumlah 2 sampai
4 sel, tangkai terdiri dari 1 sel; ranbut kelenjar terdapat pada
epiderinis atas dan epidermis bawah
– Rambut Penutup: bentuk kerucut, terdiri 1 sel sampai 3 sel,
ujung rambut runcing, pangkal lebar, dinding tebal, pada epidermis
atas hanya dapat dilihat pada sayatan permukaan atas helai daun.
• Uji Histokimia

– Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Kejibeling diambil di daerah Muaro


Paiti, Kec. Kapur Sembilan, Kab. Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. 1 kg
daun segar dimaserasi dengan etanol 96% selama 3x5 hari.
– Hasil maserasi disaring dan diuapkan pelarut filtrat dengan rotary
evaporator hingga diperoleh ekstrak kental
– Larutan Penginduksi Untuk mnginduksi pembentukan batu ginjal,
hewan percobaan diberi 0,75 % etilen glikol dan ammonium klorida 2
% secara peroral selama 14 hari.
– Perlakuan Pada Hewan Percobaan Hewan percobaan yang digunakan
pada penelitian ini adalah tikus putih jantan yang berumur 2-3 bulan
dengan berat badan antara 200 gram sampai 250 gram.
• Kadar abu Tidak lebih dari 16%
• Kadar sari Tidak kurang dari 16%
• Bahan organik Asing Tidak lebih dari 2%
Daun Tempuyung
(Sonchus arvensis L.)
• Pemerian : Bau lemah; rasa agak
kelat
• Uji Makroskopik
Daun: Tunggal, tidak bertangkai; helai
daun berbentuk lonjong atau berbentuk
lanset, daun bergerigi tidak teratur;
panjang daun 6 cm sampai 48 cm, lebar
daun 2 cm sampai 10 cm; permukaan
daun sebelah atas agak kasar dan
berwama lebih pucat.
• Uji Mikroskopik
– Epidermis Atas: 1 lapis sel berbentuk pipil,
pada penampang tangensial berbentuk poligonal
dan berdinding samping lurus; kutikula tebal, jelas
berbintik
– Stomata : Sedikit, tipe anisositik.
– Mesofil: Jaringan palisade. terdiri dari 1 lapis
sampai 2 lapis sel, sel palisade lapisan pertama
jelas berbentuk tabung yang besar dan panjahg
– Rambut Kelenjar: Sedikit, terdiri dai 1 sel tangkai
pendek dan 1 sel kepala berbentuk bulat panjang.
– Rambut Penutup:Bentuk ramping, jarang ada.
– Jaringan Bunga Karang : bersel lebih kecil dan
berbentuk tidak beraturan; disekitar berkas
pembuluh terdapat beberapa saluran getah.
• Uji Histokimia
– Sampel yang telah dirajang tipis dimaserasi dengan
etanol 70% sampai terendam. Biarkan di tempat gelap
selama 5 hari dengan sekali-kali diaduk. Dipisahkan
hasil maserasi dengan penyaringan menggunakan
corong yang lubangnya ditutup dengan kapas. Hasil
saringan disimpan dalam botol berwarna gelap terhindar
dari cahaya. Ulangi maserasi ini selama 3 kali. Hasil
maserasi dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga
didapat ekstrak etanol daun tempuyung.

• Kadar abu Tidak lebih dari 17%


• Kadar sari Tidak kurang dari 24%
• Bahan organik Asing Tidak lebih dari 2%
Daun Alpukat
(Persea americana)

• Pemerian : Bau aromatik lemah; rasa


pahit dan kelat
• Uji Makroskopik
Daun tunggal, bentuk jorong sampai bundar telur
memanjang, panjang helai daun 10 cm sampai
20 cm, lebar 3 cm sampai 10 cm, pangkal daun
dan ujung daun meruncing; pinggir daun rata
• Uji Mikroskopik
– Epidermis Atas: 1 lapis sel berbentuk pipil, pada
penampang tangensial berbentuk poligonal dan berdinding
samping lurus; kutikula tebal, jelas berbintik.
– Stomata: tipe anomositik, hanya terdapat pada epidermis
bawah.
– Epidermis bawah : terdiri dari 1 lapis sel, pada penampang
tangensial tampak dinding samping agak bergelombang;
kutikula tebal berbintik.
– Mesofil terdiri dari jaringan palisade dan jaringan bunga
karang. Jaringan bunga karang terdiri dari 5 sampai 7 lapis
sel.
– Rambut Penutup:berbentuk kerucut berujung runcing,
dinding tebal, lunien berwarna agak kecoklatan, panjang 40
m sampai 80 m, terdiri dari 1 atau 2 sel, umumnya terdiri
dari 1 sel; terdapat pada epidermis bawah.
– Epidermis bawah: 1 lapis sel, pada penampang tangensial
tampak dinding samping agak bergelombang; kutikula tebal
berbintik.
• Uji Histokimia
– 1. Uji Flavonoid

0,1 gram ekstrak daun alpukat ditambah metanol sampai


terendam lalu dipanaskan. Filtrat ditambah dengan H2SO4 pekat.
Terbentuknya warna merah menunjukkan adanya flavonoid
– 2. Uji Tanin

0,1 gram ekstrak etanol daun alpukat ditambah 5 ml aquadest lalu


didihkan selama 5 menit dan disaring. Setelah itu, filtratnya ditambah
dengan 5 tetes FeCl31% (b/v). Adanya tanin ditunjukkan dengan
terbentuknya warna biru tua atau hitam kehijauan.
• Kadar abu Tidak lebih dari 4,9%
• Kadar sari Tidak kurang dari 19%
• Bahan organik Asing Tidak lebih dari 2%
PROSES PEMBUATAN SIMPLISIA
1.Panen ketiga daun yang akan digunakan sebagai formulasi masing masing
seberat 1 kg. Pemanenan dilakukan dengan cara memotong pangkal daun.
2.Kumpulkan masing masing bahan pada wadah lakukan sortasi basah dan lakukan
pencucian.
3.Keringkan pada wadah yang berbeda untuk mengurangi air pada pencucian tadi.
4.Tidak perlu melakukan proses perajangan sebab simplisia bentuk daun mudah
kering saat pengeringan dikhawatirkan bila dikakukan kadar minyak atsiri dalam
simplisia daun akan menguap maka tidak perlu dilakukannya perajangan.
5.Timbang seluruh sediaan simplisia dan catat.
6.Lakukan pengeringan dengan cara diangin-anginkan. Hitung susut
pengeringannya hingga mencapai kurang dari 10%.
7.Setelah bahan simplisia telah mencapai susut pengeringan yang diinginkan,
lakukan sortasi kering untuk memisahkan benda asing saat dilakukannya
pengeringan simplisia daun.
8.Pembuatan serbuk simplisia dengan metode penumbukan bahan atau bahan
diblender agar menjadi simplisia serbuk kemudian ayak.
9.Timbang hasil berat bobot simplia serbuk lalu kemas.
RADIX
Demam
Demam adalah kondisi meningkatnya suhu
tubuh hingga lebih dari 38◦C. Demam
menandakan adanya penyakit atau kondisi
lain di dalam tubuh.
Demam umumnya terjadi sebagai reaksi
dari sistem imun dalam melawan infeksi
virus, bakteri, jamur, atau parasit penyebab
penyakit. Beberapa penyakit yang sering
menyebabkan demam adalah flu, radang
tenggorokan, dan infeksi saluran kemih.
Formulasi
R/ Agerati Radix 1,5 kg
Raphani Radix 1,5 kg
Abelmoschi Radix 1,5 kg
(NB: Dalam Bentuk Akar)
AGERATI RADIX
• PEMERIAN : Bau agak langu, Rasa agak
kelat
• Uji Makroskopik :
Akar sebagai besar terdiri dari cabang akar,dan
serabut akar,permukaan luar berwarna coklat
kelabu sampai coklat kehijauan,akar tunggal
berbentuk silindri,lurus agak terpilin,serabut
akar berbentuk senar halus agak berkelok kelok
panjang sampai lebih kurang 8cm,garis tengah
3ml-5ml,bekas patahan tidak rata warna
keputih-putihan.
• Uji Mikroskopik
Pada sayatan akar tanpak jaringan gabus terdiri dari
beberapa lapis sel berbentuk poli gonal,dinding tebal
berlapis-lapis. Parenkim korteks terdiri dari beberapa lapis
sel besar,dinding tipis berisi butir pati,diantaranya terdapat
sel sekresi besar dan sel batu kecil dinding tebal bernoktah.
Parenkim floem terdiri dari lapis sel,bentuk bundar,dinding
tipis. Dibawah parenkim terdapat floem. Xilem terdiri dari
trakea dan parenkim silem,dinding tebal
berlignin,diantaranya terdapat serabut silem.Jari-jari teras
terdiri dari beberapa lapis sel serbuk berwarna coklat
kelabu-coklat kehujauan. Fragmen pengenal adalah jaringan
gabus fragmen parenkim floem,untuk memanjang,dinding
tipis,berisi butir pati, fragmen jari-jari empulur dengan sel
slerenkim, panajang dinding tebal,fragmen trakea dengan
penebalan nokhtah seperti jala.
• Uji Histokimia :
Sebanyak 470g simplisia akar bandotan di maserasi dengan
methanol teknik dengan pergantian pelarut setiap 3-5 hari.
Larutan ekstrak dengan pelarut methanol yang diperoleh segera
diuapkan pelarutnya dengan menggunakan protary evaporator,
hingga mendapatkan ekstrak akar bandotan sebanyak 28,6g.
Sebagian ekstrak kasar methanol tersebut (10g) di fraksinasi dengan
etil asetat yang diduga pada fraksi tersebut mengandung sejumlah
senyawa senyawa kumarin.
Hasil akhir ekstraksi kasar methanol 28,6g dan ekstrak fraksi etil
asetat 3,48g.
• Kadar abu Tidak lebih dari 6%.
• Kadar abu yang tidak larut dalam asam Tidak lebih dari
1,5%.
• Kadar sari yang larut dalam udara Tidak kurang dari 10%.
• Kadar sari yang larut dalam etanol Tidak kurang dari 1%.
• Bahan organik asing Tidak lebih dari 2%.
RAPHANI RADIX
• Pemerian : Bau tajam,Khas : rasa peda,
agak menggigit
• Uji Makroskopik : Makroskopik. Akar
tunggang, warna putih kchiljauan, berbc-
tuk tombak, lurus alau agak bcngkok,
garis tengah di baglan tengah sampal
lebih kurang 3,5 cm, permukaan luar licin
dengan slsa akar pada celalh-celah
nelintang yang dangkal. Bila dibelah
melintang, baglan dalam berwarna putih.
• Uji Mikroskopik
Mikroskopik. Pada penampang melintang akar lampak
lapisan gabus terdiri dari beberapa lapisan sel, bentuk
pipilh, berdin- ding tipis. Parenkim kortcks terdiri dari
beberapa lapis sel, benluk isodlametris, dinding tipls, di
antaranya terdapat hablur kalsium oksalat berbentuk pasir.
Pada korteks terdapat floem. Kambium terdiri dari
beberapa lapis sel, bentuk pipili, dinding tipis. Pada teras
terdapat xilem, terdiri dari trakca dan trekeida. Pada
parenkim teras terdapat hablur kalsium oksalat bentuk
pasir. Jari-Jari cmpulur terdiri dari beberapa lapis sel.
Scrbuk berwarna coklat muda. Fragmen pengenal adalah
(ragmen gabus tcrdiri dari beberapa lapis sel, bentuk segi
pan- Jang: fragmen scrabut dinding tipis mengandung
hablur kalsium oksalat bentuk pasir; fragmen pembuluh
kayu dengan penebalan jala.
• Uji Histokimia
Timbang 300 mg serbuk akar campur dengan 5 ml metanol P dan
panaskan di atas tangas udara selama 2 menit, dinginkan dan saring.
Cuci endapan dengan metanol P sccukupnya schingn diperolch 5 m!
filtrat. Pada titik pertama, kedua dan ketiga lempeng KLT masing-masing
berjumlah 40 pl filtrat. Pada titik Ganda tutulkan 5 ul zat warna I LP.
Eluasi dengan dikloroetana P dengan Jarak rambat 15 cın. Setelah itu
lcmpeng di udara sclama 10 menit, klik lagi dengan tolucna P dengan
Arah eluasi dan jarak yang sama. Amati dengan sinar biasa dan dengan
sinar ultraviolet 366 nm. Selanjutnya diskmprol dengan pereaksi
anisaldehida-asam sulfat LP, panaskan pada suhu 110 ° C sclama 10
menit. Amati lagi dengan sinar biasa dan sinar ultraviolet 366 nm.
Dengan bantuan yang sama seperti cara kerja di atas dilakukan juga
penyemprolan dengan pereaksi AICI, LP.
• Kadar abu Tidak lebih dari 13,5%.
• Kadar abu yang tidak larut dalam asam Tidak lebih dari 25%
• Kadar sari yang larut dalam air Tidak kurang dari 34,5%
• Kadar sari yang larut dalam etanol Tidak kurang dari 7,5%
• Bahan organik asing tidak lebih dari 2%.
Albelmoschi Radix
• Pemerian : Warna coklat
kekuningan,tidak berbau, tidak berasa.
• Uji Makroskopik : Akar berbentuk
potongan tidak beraturan, bentuk
silindrik, berkelok-kelok. Kulit luar
berwarma coklat, beralur memanjang,
tersedia tonjolan seperti duri pendek.
Bagian kayu jelas, bagian dalam
berwarma putih, liat, patahan bagian
dalam berserat membujur.
• Uji Mikroskopik
Pada penampang melintang akar tampak jaringan gabus terdiri dari
beberapa lapis sel bentuk segi empat agak beraturan. Parenkim
korteks dengan selapis dinding tipis, di atas berisi butir-butir tunggal
atau majemuk bentuk bundar telur atau bundar, hilus cksentris, dan
kristal kalsium oksalat berbentuk roset. Pada parenkim korteks
tersedia kelompok serabut berdinding tebal dan berlignin dengan
lumen padat atau lebar dan saluran sekresi. File Kapal terdiri dari
trakea dan serabut sklerenkim. Jari-jan empulur tersusun 1 sampai 3
lapis di diambilfada yang bernoktah. Serbuk. Warna putih
kecoklatan Fragmen pengenal adalah fragmen jaringan gabus
terpotong paradermal bentuk poligonal, dengan dinding tebal,
fragmen jaringan gabus dengan sel bentuk empat persegi panjang,
fragmen parenkim korteks bentuk lonjong atau bundar berdinding,
dengan kristal cksalat bentuk roset, fragmen parenkim xilem
Alternatif isodiametris, dinding bernoktah, fragmen serabut
sklerenkim, fragmen trakea dengan penebalan jala, fragmen jari-jari
teras; dan pati kristal oksalat bentuk roset lepas.
• Uji Histokimia
Timbang 500 mg serbuk akar, maserasi dengan 10 ml eter selama 2 jam,
saring. uapkan Filtrat dalam cawan penguap, pada residu iambahkan 2
tetes asetat anhidrat P dan 1 tetes asam sulfat pekat P; terjadi warna
ungu hijau.
Timbang 50 mg serbuk akar dimasukkan ke dalam tabung mikrodestilasi
yang telah diisi wol kaca di ujung dekat bagian kapiler. Masukkan tabung
mikrodestilasi ke dalam tanur TAS yang sudah dipanaskan pada suhu 50
"C selama 30 menit dan dipasang lempeng KLT. Atur suhu hingga 220 ° C.
Pada titik pertama dari lempeng KLT pralapis akan tampak tutulan yang
dihasilkan dari tanur TAS, pada titik saat tutulkan I0plikasi pembanding
eugenol dalam toluen P. Elusi dengan benzena P dengan jarak rambat 15
cm. Amati dengan sinar biasa dan dengan sinar ultraviolet 366 nm. Pada
kromatogram tampak bercak dengan warna dan hRx.
• Kadar abu Tidak Iebih dari 4,5%.
• Kadar abu yang tidak larut dalam asam Tidak lebih dari 0,5%.
• Kadar abu yang larut dalam udara Tidak kurang dari 0,5%.
• Kadar sari yang larut udara dalarm Tidak kurang dari 3%.
• Kadar sari yang larut dalam etanol Tidak kurang dari 1%.
Proses pembuatan simplisia
1. Panen ke 3 akar yang akan di gunakan sebagai formulasi masing masing
seberat 1,5 kg. pemanenan di lakukan dengan cara memotong bagian
tertentu akar.
2. Kumpulkan masing masing bahan pada wadah lakukan sortasi basah dan
lakukan pencucian.
3. Keringkan pada wadah yang berbeda untuk mengurangi air pada pencucian.
4. Lakukan perajangan, timbang seluruh sediaan simplisia dan catat.
5. Lakukan pengeringan dengan cara di oven, hitung susut pengeringannya
hingga kurang dari 10%.
6. Setelah bahan simplisia telah mencapai susut pengeringan yang di inginkan
lakukan sortasi kering untuk memisahkan benda asing saat dilakukannya
pengeringan simplisia.
7. Pembuatan serbuk simplisia dengan metode penumbukan bahan atau bahan
di blender agar bahan menjdi simplisia serbuk kemudian di ayak.
8. Timbang hasil bobot simplisia.
9. kemaas
FRUCTUS
Diare
• Diare merupakan masalah kesehatan
yang dapat menyebabkan mortalitas
dan mordibilitas. Penyebab
utamanya adalah infeksi bakteri
Eschericha coli, bakteri ini masuk ke
tubuh manusia salah satunya melalui
tangan yang kotor.
Formulasi
R/ Ekstrak kental buah mengkudu 1
gram
Ekstrak kental buah parijoto 1 gram
Ekstrak kental buah blimbing wuluh 1
gram
CMC Na 2 gram
Propilen Glikol 15 ml
Metil Paraben 100 mg
Aquadest ad 100 ml
Mengkudu (Morinda
Citrifolia)
• Pemerian : Rasa dan bau tajam
• Uji Makroskopik :
- Bentuknya bulat telur atau lonjong
- Bau tajam dan spesifik, rasa asam, pahit, agak pedas
- Berwarna kuning kehijauan sampai kuning
- Panjang 6-10 cm, diameter 4-6 cm
- Bobot 90-110 gram
- Ujung buah tumpul
- Pangkal buah terdapat suatu lingkaran kecil
- Permukaan buah tidak rata, terdapat tonjolan-
tonjolan
• Uji Histokimia
Pembuatan Ekstrak Mengkudu Bubuk buah
mengkudu dimasukkan dalam kertas saring
dan diikat kedua ujungnya, direndam dalam
gelas ekstraksi sokhlet 250 ml sampai pekat
dan dilakukan ekstraksi. Hasil ekstraksi
kemudian dievaporasi (memisahkan antara
pelarut etanol dan ekstrak kasar mengkudu).
• Kadar abu tidak lebih dari 3,00%
• Kadar abu yang tidak larut dalam asam
tidak lebih dari 0,20%
Parijoto (Medinilla Speciosa Blunie)

• Uji Makroskopik
– Memiliki diameter 8 cm
– Berwarna miselium putih tebal
– Mempunyai lingkaran konsentris yang tidak jelas, tepi
tidak rata
– Warna pada pusat hijau kehitaman yang sekelilingnya
berwarna putih
• Uji Mikroskopik
Isolate RD26 memiliki diameter 9 cm. Miseliumnya tipis dan
warnanya putih kekuningan dengan pusat warna kecoklatan.
Tepinya rata. Warna sebaliknya pada pusatnya coklat dan
sekitarnya kuning. Isolate RD26 hifanya memiliki sekat dan
bercabang.
• Uji Histokimia
Pembuatan ekstrak kasar Buah Parijoto (Medinilla speciosa B.) dilakukan
dengan metode maserasi. Simplisia buah parijoto masing-masing sebanyak
200 gram dimaserasi menggunakan pelarut (1:10), dimaserasi selama 2
hari dan dilanjutkan dengan remaserasi. Maserat diuapkan menggunakan
rotary evaporator dengan suhu 80°C. Berat total serbuk yang dimaserasi
sebanyak 600 gram dengan tiga kali proses ekstraksi.

• Uji Antibakteri
Uji bakteri berdasarkan diameter zona hambat dilakukan
menggunakan kultur mikrobia uji. Sebanyak 100µl bakteri
diinokulasi ke dalam cawan petri dengan metode pour plate,
kemudian ditambahkan Nutrien Agar ke dalam cawan petri dan
dihomogenkan.
Setelah memadat dibuat sumuran dengan menggunakan alat
sumuran.
Larutan uji berupa sediaan gel handsanitazer diambil sebanyak
100 µl dan dimasukkan pada masing-masing sumuran. Sebagai
kontrol (-) digunakan DMSO dan basis gel handsanitizer, sedangkan
kontrol (+) digunakan handanitaizer komersil dengan zat aktif
Etanol 70%, kemudian diinkubasi pada suhu 37°C.
Belimbing wuluh (Averrhoa Bilimbi)

• Uji Makroskopik
- Berbentuk elips, lonjong atau hampir silinder
- Panjangnya 4-10 cm dan lebar 2-3 cm
- Warna buah ketika muda hijau, dengan sisa
kelopak bunga menempel di ujungnya. Jika buah
masak berwarna kuning. Dalam struktur buah
memiliki 4-5 pegunungan.
• Uji Mikroskopik
– Sel rambut biasa
– Parenkim berisi Kristal kalsium oksalat berbentuk
druise 
• Uji Histokimia
Ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi
Sebanyak 10 g simplisia dari buah belimbing wuluh
dimasukkan ke dalam erlenmeyer kemudian
direndam dengan air sebanyak 60 ml. Erlenmeyer
ditutup dengan alumunium foil dan didiamkan
selama 3 hari dengan sesekali dikocok. Selanjutnya,
hasil ekstrak disaring untuk memperoleh filtrat I dan
simplisia yang telah diekstrak (debris). Debris
diekstrak kembali dengan methanol sebanyak 40 ml
dan didiamkan selama 2 hari dengan sesekali
dikocok. Hasil ekstrak (filtrat II) dicampurkan
dengan filtrat I, sehingga diperoleh ekstrak cair.
Ekstrak cair kemudian dimasukkan ke dalam
mangkuk dan dievaporasi di almari maserasi hingga
diperoleh ekstrak kental.
Pembuatan Hand Sanitizer
1. Pembuatan hand sanitizer dimulai dengan
menaburkan CMC-Na dalam aquadest lalu
didiamkan selama sehari.
2. Setelah CMC-Na mengembang, tambahkan
tambahkan extrak buah parijoto dan
extrak buah blimbing wuluh yang telah
dilarutkan dengan aquadest sambil diaduk.
3. Setelah homogen, tambahkan campuran
metil paraben, dan propilen glikol, lalu
diaduk hingga homogen.
CORTEX
Ulkus Traumatik
• Ulkus traumatik adalah bentuk lesi
ulseratif yang disebabkan oleh adanya
trauma, dapat terjadi pada semua usia
dan kedua jenis kelamin.
• Ulkus traumatik dapat terjadi dibeberapa
lokasi seperti : mukosa pipi, bibir, palatum
dan tepi lidah, serta dipengaruhi oleh
beberapa faktor lain yaitu bahan-bahan
kimia,panas, listrik atau gaya mekanik.
Formulasi
R/ Symploci cortex 10g
Garciniae mangostanae fructus
cortex 10g
Burmani cortex 10g
Kulit Sariawan
(Symplocicortex)
• Pemerian : Bau agak wangi, tidak berasa
• UJI MAKROSKOPIS
Potongan kulit, Panjang 2,5 cm sampai lebih
kurang 75 cm, lebar 1 cm sampai 5 cm, tebal
1mm sampai 8 mm pipih, berlekuk atau agak
menggulung. Permukaan luar kasar, bergaris-
garis melintang, warna kuning coklat sampai
kuning kecoklatan, kulit yang bergabus
berwarna kelabu kehijauan sampai kelabu tua;
permukaan dalam lebih rata, bergaris halus
membujur, warna kuning pucat.
• UJI MIKROSKOPIS
a) Pada kulit yang lapisan gabusnya belum dibuang terlihat beberapa lapis
sel felem dengan dinding berwarna coklat,
b) Feloderm terdiri sel-sel yang umumnya membantu, bentuk
c) persegipanjang.
d) Korteks parenkimatik dengan sebagian sel-selnya membatu, pada
e) parenkim terdapat hablur kalsium oksalat.
f) Sel parenkim yang membatu berbentuk persegi empat atau bulat
g) panjang sampai persegi panjang tidak beraturan, dinding sel agak
tebal, berlignin, lumenlebar dan saluran noktah tidak bercabang, hablur
kalsium oksalat terdapat dalam dua bentu; bentuk roset berukuran
15μm sampai 65 μm; dan bentuk prisma dengan dengan ukuran 15μm
sampai 50μm.
h) Sel batu tersebar di antara sel-sel parenkim tunggal atau berkelompok,
Panjang 50μmsampai 180μm, lebar 30μm sampai 85μm, bentuk mirip
serabut pendek dengan ujung runcing, dinding sangat tebal,berlignin,
lumen sempit, saluran noktah jelas bercabang-cabang.
i) Kalsium oksalat berbentuk seperti hablur di korteks; serabut floem
tunggal atau berkelompok, tersusun kearah tangensial, dinding sangat
tebal, berlignin, lumen sempit dan saluran noktah tidak bercabang.
• UJI HISTOKIMIA
Ekstak kulit sariawan diperoleh dengan cara maserasi selama
3 hari menggunakan pelarut eanol 95% kemudian di
remaserasi dan disaring untuk memperoleh ekstrak cair.
Selanjutnya dipekatkan menggunakan rotary evaporator
hingga diperoleh ekstrak kental. Hasilnya menunjukkan
ekstrak kental kullit sariawa positif mengandung glikosida,
symplokisim, metal
salisilat, alluminium sulfat

• Kadar Abu Tidak lebih dari 14,9%


• Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam Tidak lebih dari 1,4 %
• Kadar Sari yang Larut dalam Air Tidak kurang dari 19,3%
• Kadar Sari yang Larut dalam Etanol Tidak kurang dari
3,1%
• Bahan Organik Asing Tidak lebih dari 2%
Kulit Manggis (Garciniae
mangostanae fructus cortex)
• Pemerian : Bagian luar berwarna coklat tua, bagian
dalam coklat, warna kecoklatan sampai coklat
kehitaman, tidak berbau, rasa pahit.
• UJI MAKROSKOPIS
Kulit buah manggis berwarna merah coklat, permukaan
dalam licin, berbau khas, berasa sepat dan pahit.
• UJI MIKROSKOPIS
Kristal kalsium oksalat berbentuk druse, berkas
pebuluh xilem berbentuk spiral, adanya sel batu,
parenkim mesokarp dan parenkin endokarp terlihat
jelas.
• UJI HISTOKIMIA
Ekstak kulit buah manggis diperoleh dengan cara maserasi
selama 3 hari menggunakan pelarut eanol 70% kemudian di
remaserasi dan disaring untuk memperoleh ekstrak cair.
Selanjutnya dipekatkan menggunakan rotary evaporator
hingga diperoleh ekstrak kental. Hasilnya menunjukkan
ekstrak kental kullit buah manggis positif mengandung
sapponiin, glikosida, terpenoid, flavonoid, alkaloid, dan fenol.

• Kadar Abu Tidak lebih dari 49%


• Kadar Abu yang Tidak Larut dalam Asam Tidak lebih dari
0,1%
•  Kadar Sari yang Larut dalam Air Tidak kurang dari 12%
• Kadar Sari yang Larut dalam Etanol Tidak kurang dari 26%
• Bahan OrganikAsing Tidak lebih dari 2% 
Kulit Kayu Manis (Cinnamomi
cortex)
• Pemerian: Bau khas aromatic,rasa agak manis,agak
pedas dan kelat
• Uji Makroskopis :
Potongan kulit Bentuk gelondong ,agak menggulung
membujur, agak pipih atau berupa berkas yang terdiri dari
tumpukan beberapa potongan kulit yang tergulung
membujur, Panjang sampai 1 m tebal kulit 1 mm sampai 3
mm atau lebih.
Permukaan luar yang tidak bergabung berwarna coklat
kemerahan,bergaris garis pucat bergelombang memanjang
dan bergaris garis pendek melintang yang menonjol agak
berlekuk, Permukaan dalam Berwarna coklat kemerahan
tua sampai coklat kehitaman,bekas patahan tidak rata.
• UJI MIKROSKOPIS
– Pada kulit yang lapisan luarnya belum dibuang
akan tampak : Lapisan epidermis dengan kurtikula
berwarna kuning.
– Lapisan gabus terdiri dari beberapa sel berwarna
coklat, dinding tangensial dan dinding radial lebih
tebal dan berligenin, Kambium gabus jernih tanpa
penebalan dinding.
– Korteks terdiri dari beberapa lapis sel parenkim
dengan dinding berwarna coklat, diantaranya
terdapat kelompol sel batu . sel lender dan sel
minyak.
– Sel Parenkim didalamnya banyak terdapat butir
pati atau hablur kalsium oksalat berbentuk prisma.
• Kadar Abu Tidak lebih dari 3,5%
• Kadar Abu yang Tidak Larut dalam
Asam Tidak lebih dari 0,4%
• Kadar Sari yang Larut dalam Etanol
Tidak kurang dari 10%
• Bahan Organik Asing Tidak lebih dari
2%
PROSES PEMBUATAN SIMPLISIA
• KULIT MANGGIS
Buah manggis yang digunakan adalah buah yang
sudah tua atau matang siap konsumsi, ditandai
dengan warna kulit buah manggis unggu, buahnya
sudah wangi dan rasanya manis. Buah manggis
yang sudah matang dibelah pisahkan antara kulit
dalam dan luarnya, kulit dalam dan luar masing-
masing diiris tipis-tipis, kemudian dioven sesuai suhu
yaitu 700C, 800C, 900C, 1000C selama 48 jam.
• KULIT SARIAWAN
Kulit sariawan dikeringkan
• KULIT KAYU MANIS
1. Tahap pertama pengolahan kayu manis, kulit pada batang pohon yang
masih hidup dibersihkan dari lumut dan kotoran. Kulit pada posisi 5~10
cm di atas leher akar dikerat melingkar disekeliling batang sampai
menyentuh bagian kayu dari batang. Masing-masing keratan dikelipaskan
dengan mencungkilnya melalui garis keratan vertikal, kemudian
menariknya dari atas ke bawah secara vertikal. Dengan demikian akan
diperoleh lembara-lembaran kulit dengan panjang 100 cm dan lebar
5~10 cm. Pengelupasan tersebut dilakukan sampai semua kulit batang
habis dikelupaskan.
2. Pemeraman. Setelah kulit kayu manis selesai dikelupas, tahap
selanjutnya kulit batang yang baru dikelupas diperam selamasemalaman
dengan cara menumpuk kulit pada tempat yang terlindung dari cahaya
matahari langsung.
3. Pengikisan. Untuk mendapatkan mutu kayu manis yang baik, kulit yang
berukuran lebar, yaitu kulit dari batang dan kulit dari dahanyang cukup
besar sebaiknya dikikis bagian luarnya, sehingga kulit menjadi bersih.
Pengikisan dilakukan dengan pisau yang tajam. Pengikisan dapat juga
dengan alat mekanis yang bekerja seperi mesin serut papan (ketam).
4. Pengeringan. Umumnya tahap pengeringan ini masih dilakukan secara
tradisional yaitu menggunakan sinar matahari selama kurang lebih 3~4
hari hingga kadar air turun sampai 16%, atau berat bahan-bahan susut
sampai 50%. Selama penjemuran bahan harus sering dibolak-balik.
Kendalanya penjemuran sering menghasilkan bahan yang jelek mutunya
karena berkapang. Hal inidisebabkan hujan sering turun, atau sinar