Anda di halaman 1dari 10

KONSEP DASAR

INFEKSI
NOSOKOMIAL
Afifah Zery Afrilia
P27820118039
DEFINISI
Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama
tingginya angka kesakitan, dan kematian di dunia. Salah
satu jenis infeksi adalah infeksi nosokomial. Infeksi ini
menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh
dunia.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat di
rumah sakit atau di fasilitas kesehatan lainnya.
Nosokomial berasal dari bahasa Yunani, nosos yang
artinya “penyakit”, dan komeo artinya “merawat”.
Infeksi nosokomial didapatkan selama pengobatan
medis. Meskipun banyak nfeksi yang terjadi pada
pasien, infeksi didapatkan pada saat bekerja oleh
pelayan kesehatan juga termasuk infeksi nosokomial
(Black, 2012).
PERKEMBANGAN PENANGANAN
INFEKSI NOSOKOMIAL
Infeksi nosokomial dikenal pertama kali pada tahun 1847
oleh Semmelweis, dan hingga saat ini tetap menjadi
masalah yang cukup menyita perhatian. Sejak tahun 1950
infeksi nosokomial mulai diteliti dengan sungguh-sungguh di
berbagai Negara, terutama di Amerika Serikat, dan Eropa.
Insiden infeksi nosokomial berlainan antara satu rumah sakit
dengan rumah sakit lainnya. Angka infeksi nosokomial yang
tercatat di beberapa negara berkisar antara 3,3% - 9,2% .
RSUD Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 1983 – 1984
mulai aktif meneliti dan menangani infeksi nosokomial. Saat
ini hampir dipastikan semua rumah sakit besar di Indonesia
telah membentuk dan memiliki panitia medik pengendalian
infeksi, dengan tugas utamanya mencegah dan
mengendalikan infeksi nosokomial.
BATASAN INFEKSI NOSOKOMIAL
Suatu infeksi pada penderita baru bisa dinyatakan sebagai
infeksi nosokomial apabila memenuhi beberapa kriteria / batasan
tertentu diantaranya :
1. Pada waktu penderita dirawat di rumah sakit tidak didapatkan
tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut.
2. Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit, tidak
sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3. Tanda-tanda klinik infeksi tersebut timbul sekurang-kurangnya
setelah 3x24 jam sejak mulai perawatan.
4. Infeksi tersebut bukan merupakan sisa dari infeksi sebelumnya.
5. Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda
infeksi, dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika
dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu, serta
belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial (Siregar,
2004).
TAHAPAN INFEKSI NOSOKOMIAL
1. Tahap pertama : Mikroba patogen bergerak menuju ke
penjamu/penderita dengan mekanisme penyebaran
(mode of transmision) terdiri dari penularan langsung
dan tidak langsung (Darmadi, 2008).
2. Tahap kedua : Upaya dari mikroba patogen untuk
menginvasi ke jaringan / organ penjamu (pasien)
dengan cara mencari akses masuk (port d’entree)
seperti adanya kerusakan / lesi kulit atau mukosa dari
rongga mulut, hidung, orifisium uretra dan sebagainya.
3. Tahap Ketiga : Mikroba patogen berkembang biak
(melakukan multiplikasi) disertai dengan tindakan
destruktif terhadap jaringan, walaupun ada
mengakibatkan perubahan morfologis dan gangguan
fisiologis jaringan.
CARA PENULARAN INFEKSI
NOSOKOMIAL
1. Penularan secara kontak : Penularan ini dapat terjadi
secara kontak langsung, kontak tidak langsung dan
droplet.
2. Penularan melalui common vehicle : Penularan ini
melalui benda mati yang telah terkontaminasi oleh
kuman, dan dapat menyebabkan penyakit pada lebih
dari satu pejamu.
3. Penularan melalui udara dan inhalasi : Penularan
terjadi apabila mikroorganisme mempunyai ukuran
yang sangat kecil sehingga dapat mengenai penjamu
dalam jarak yang cukup jauh, dan melalui saluran
pernafasan.
4. Penularan dengan perantara vector : Penularan ini
dapat terjadi secara eksternal maupun internal.
DAMPAK INFEKSI NOSOKOMIAL
1. Menyebabkan cacat fungsional, serta stress
emosional dan dapat menyebabkan cacat yang
permanen serta kematian.
2. Dampak tertinggi pada negara berkembang dengan
prevalensi HIV/AIDS yang tinggi.
3. Meningkatkan biaya kesehatan di berbagai negara
yang tidak mampu, dengan meningkatkan lama
perawatan di rumah sakit, pengobatan dengan obat-
obat mahal dan penggunaan pelayanan lainnya.
4. Morbiditas dan mortalitas semakin tinggi.
5. Adanya tuntutan secara hukum
6. Penurunan citra rumah sakit.
PENGELOLAAN TERJADINYA
INFEKSI NOSOKOMIAL
Terjadinya infeksi nosokomial dipengaruhi oleh :
1. Banyaknya pasien yang dirawat dapat menjadi sumber infeksi
bagi lingkungan dan pasien lainnya.
2. Kontak langsung antara pasien yang menjadi sumber infeksi
dengan pasien lainnya.
3. Kontak langsung antara petugas rumah sakit yang tercemar
kuman dengan pasien.
4. Penggunaan alat / peralatan medis yang tercemar oleh kuman.
5. Kondisi pasien yang lemah akibat penyakit yang dideritanya.
Seperti yang diketahui, penderita yang terindikasi harus
menjalani proses asuhan keperawatan yaitu penderita harus
menjalani observasi, tindakan medis akut, atau pengobatan yang
berkesinambungan. Daya tahan tubuh yang lemah atau transmisi
mikroba ke penderita tentunya berasal dari sekitar penderita,
dimana penderita menjalani proses asuhan keperawatan
PENGENDALIAN INFEKSI
NOSOKOMIAL
Dalam mengendalikan infeksi nosokomial di
rumah sakit, ada 3 hal yang perlu ada dalam
program pengendalian infeksi nosokomial di
rumah sakit, diantaranya :
1. Adanya sistem surveilan yang mantap.
2. Adanya peraturan yang jelas, dan tegas serta
dapat dilaksanakan dengan tujuan untuk
mengurangi risiko terjadinya infeksi.
3. Adanya program pendidikan yang terus-
menerus bagi semua petugas rumah sakit
dengan tujuan mengembalikan sikap mental
yang benar dalam merawat penderita.
PENCEGAHAN INFEKSI
NOSOKOMIAL
Pencegahan dari infeksi nosokomial ini diperlukan
suatu rencana yang terintergrasi, monitoring dan
program (merupakan seperangkat tindakan yang
didesain untuk membantu meminimalkan resiko
terpapar material infeksius seperti darah dan cairan
tubuh lain dari pasien kepada tenaga kesehatan atau
sebaliknya).
Pencegahan infeksi nosokomial terdiri atas :
1. Kewaspadaan universal
2. Tindakan invasif
3. Tindakan non invasif
4. Tindakan terhadap anak, dan neonatus
5. Sterilisasi dan desinfeksi