Anda di halaman 1dari 23

Manajemen

obat SAAT
BENCANA
Naila mafaza
17930070
definisi
✘ Undang-undang No.24 tahun 2007 mendefinisikan bencana
sebagai peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang
disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. (Faradilla, 2018)
✘ Indonesia adalah negara yang memiliki potensi tinggi mengalami
bencana, baik bencana alam maupun bencana yang diakibatkan
oleh manusia

2
bencana
Manajemen penanggulangan bencana adalah segala upaya atau kegiatan yang
dilaksanakan dalam rangka upaya pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan,
tanggap darurat dan pemulihan berkaitan dengan bencana yang dilakukan
pada tahapan sebelum, saat, dan setelah bencana. (Faradilla, 2018)

3
Landasan …
✘ Keputusan Menteri Kesehatan No.59 tahun 2011 mengamanatkan adanya buffer
stok obat dan perbekalan kesehatan pada kondisi bencana yang tersedia mulai
dari tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat.
✘ Pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan dalam kondisi krisis atau bencana di
Indonesia merujuk pada Buku Peta Bencana di Indonesia yang diterbitkan oleh
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
✘ Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan pedoman teknis penanggulangan
krisis kesehatan akibat bencana yang memuat alur koordinasi di instansi
pemerintah pada kondisi bencana dan daftar obat yang harus disediakan sesuai
dengan jenis bencana yang terjadi
✘ Prinsip dasar dari manajemen obat dan perbekkes saat bencana adalah cepat,
tepat dan sesuai kebutuhan

4
✘ Obat dan perbekalan kesehatan yang wajib tersedia di lokasi bencana
mengikuti tren penyakit yang sering muncul pada keadaan bencana dan di
tempat pengungsian, seperti diare, ISPA, campak, tifoid, stress, hipertensi,
penyakit mata, asma, kurang gizi, penyakit kulit, DBD, dan tetanus
✘ Pendekatan yang dapat dilakukan untuk menghitung kebutuhan obat dalam
situasi bencana, yaitu (Kemenkes, 2008) :
a. melihat jenis bencana yang terjadi dan melakukan penghitungan relatif sesuai
kebutuhan obat
b. mendata jumlah pengungsi berikut usia dan jenis kelaminnya
c. menggunakan pedoman pengobatan umum

5
Pra-
bencana/
kesiapsiaga
an
✘ Perencanaan kebutuhan obat dan perbekkes (buffer)
✘ Pembuatan paket-paket obat dan perbekkes sesuai dengan
potensi bencana di daerah tersebut
✘ Pembentukan tim bencana/ TRC di setiap level baik kabupaten/
kota, provinsi dan pusat
✘ Peningkatan kapasitas SDM farmasi tentang manajemen obat
saat bencana
✘ Melakukan koordinasi lintas program dan sektor

7
✘ Prinsip buffer stok obat adalah keberadaan stok obat nasional yang
ditujukan untuk disalurkan pada daerahdaerah yang terkena dampak
bencana. (Faradilla, 2018)
✘ Pengelolaan buffer stok obat dan perbekalan kesehatan yang ditujukan
sebagai persiapan pada kondisi bencana diatur mulai dari tingkat
nasional hingga tingkat terendah seperti instansi yang berada di daerah.
(Faradilla, 2018)
✘ Stok obat nasional tersebut berfungsi sebagai tambahan terhadap stok
obat yang tersedia di lokasi terdampak atau terdekat dari lokasi
terdampak. Sebagai contoh, Amerika Serikat memiliki stok obat yang
disebut “12-hour Push Package” yang harus didistribusikan dalam kurun
waktu 12 jam setelah terjadi bencana (Bell et.al., 2014)

8
Saat
bencana
Perencanaan
Diperlukan Rapid Health Assesment untuk mendapatkan data tentang :
✘ Ketersediaan obat dan perbekalan farmasi
✘ Sumber daya manusia
✘ Kondisi gudang penyimpanan
✘ Fasilitas dan Infrastruktur
✘ Pendanaan

10
Pengadaan/ penyediaan
Pengadaan obat bertujuan untuk menjamin penyampaian obat secara cepat dan tepat
waktu serta untuk mengoptimalkan pengelolaan persediaan obat.
Sumber obat dan perbekalan kesehatan meliputi :
a. Persediaan pribadi
b. Permintaan kepada institusi yang lebih tinggi (Buffer stock Kabupaten/Kota,
Provinsi, Nasional)
c. Donasi/ bantuan (Organisasi Internasional, Ormas dll)
Bahan pertimbangan dalam penyediaan obat dan perbekalan kesehatan meliputi :
d. Jenis bencana
e. Luas bencana dan jumlah korban
f. Stock obat yang dimiliki
g. Pengungsi/ korban bencana
11
Penerimaan
Hal-hal yang perlu diperhatikan/ diperiksa :
✘ Fisik barang
✘ Kemasan/ label (terdapat nama generik dan dosis penggunaan secara
jelas)
✘ Tanggal kadaluarsa
✘ Jumlah dan nilai barang/ faktur

12
distribusi
✘ Pendistribusian obat bertujuan untuk menjaga keberlangsungannya terpenuhinya
kebutuhan obat bagi masyarakat.
✘ Pendistribusian obat dan perbekalan kesehatan ke daerah bencana dilakukan
dengan :
✘ Adanya permintaan dari daerah bencana
✘ Obat dan perbekalan kesehatan tidak tersedia di provinsi yang mengalami
bencana, maka dapat diusahakan dari Pusat (Kemenkes) atau provinsi terdekat
✘ Provinsi terdekat wajib membantu daerah bencana
✘ Perlu dianggarkan biaya distribusi
✘ Kerjasama lintas sektor dan lintas program (BNPB, TNI, Basarnas dll)

13
Penyimpanan
✘ Penyimpanan obat adalah suatu kegiatan pengamanan dengan cara
menempatkan obat-obatan yang diterima pada tempat yang dinilai aman
✘ Fungsi dari penyimpanan obat antara lain pemeliharaan mutu obat,
menjamin ketersediaan obat, serta memudahkan pencarian dan
pengawasan
Penyimpanan obat dan perbekalan kesehatan di daerah bencana :
✘ Perlu adanya penyediaan tempat yang memenuhi persyaratan
penyimpanan obat dan perbekalan farmasi
✘ SDM kefarmasian dan tenaga kesehatan yang kompeten

14
Penggunaan dan
pengendalian
✘ Penggunaan obat bertujuan agar pasien menggunakan obat
dengan baik dan benar.
✘ Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan meliputi :
✘ Adanya permintaan dari posko (dokter, perawat, atau tenaga
kesehatan yang bertanggung jawab)
✘ Pengendalian kartu stock
✘ Setiap pengeluaran atau penerimaaan harus disertai bukti/
tanda terima

15
Pencatatan dan
pelaporan
✘ Pencatatan di lokasi bencana
a. pencatatan pemasukan obat
b. pencatatan pengeluaran obat
✘ Pencatatan di lokasi Posko Bencana Kabupaten/ Kota/ Provinsi
✘ Adanya format pencatatan dan pelaporan
✘ Waktu pelaporan sesuai kebutuhan (harian, mingguan atau
bulanan)

16
Pasca
bencana/
rehabilitasi
rekontruksi
Inventarisasi dan
penarika kembali
Mekanisme inventarisasi dilakukan sebagai berikut :
✘ Setiap faskes di kab/kota melakukan inventarisasi dan melaporkan ke dinkes
kab/kota
✘ Dinkes kab/kota menunjuk instalasi farmasi untuk rekapitulasi hasil inventarisasi
✘ Hasil rekapitulasi dilaporkan ke dinkes provinsi
✘ Dinkes provinsi menindaklanjuti dengan cara memfasilitasi
✘ Instrumen yang digunakan utk inventarisasi adalah formulir 10 utk tiap faskes dan
formulir 11 utk rekapitulasi
Hasil inventarisasi ditindaklanjuti dengan cara :
a. Semua obat dan perbekkes di pos kesehatan ditarik ke puskesmas
b. Kelebihan obat dan perbekkes di puskesmas ditarik ke dinkes kab/kota

18
evaluasi
✘ Kesesuaian jenis obatdan perbekalan kesehatan yang
dibutuhkan dengan obat dan perbekalan kesehatan yang
diterima
✘ Tingkat ketersediaan obat dan perbekalan kesehatan
✘ Persentase obat dan perbekalan kesehatan yang kadularsa
✘ Persentase dan nilai obat dan perbekalan kesehatan yang rusak

19
pemusnahan
✘ Merupakan kegiatan atau usaha pembebasan barang dari
pertanggung jawaban sesuai peraturan dan perundang-undangan
yang berlaku
✘ Mengacu pada Teknis Pemusnahan Sediaan Farmasi
✘ Mempertimbangka dampak lingkungan dan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku

20
✘ Secara garis besar, proses pemusnahan obat dan perbekalan
kesehatan terdiri dari :
 Memilah, memisahkan, dan menyusun daftar obat dan
perbekalan kesehatan yang akan dimusnahkan
 Menentukan cara pemusnahan
 Menyiapkan pelaksanaan pemusnahan
 Pelaksanaan pemusnahan
 Menetapkan lokasi pemusnahan
 Membuat berita acara pemusnahan
 Melaporkan kepada Gubernur/ Bupati/ Wali Kota

21
Daftar Pustaka
✘ Faradilla M, 2018. Peran Tenaga Kefarmasian dalam
Penanggulangan Bencana Role of Pharmacist in Disaster
Management. Pharmaceutical Sciences and Research, 5(1)
✘ Bell, dkk. 2014. Director’s forum: Pharmacy leader’s role in hospital
emergency preparedness planning. Hosp Pharm, 49(4)
✘ Kemenkes, 2008. Pedoman pengelolaan rumah sakit lapangan untuk bencana .
Jakarta.
✘ Kemenkes, 2011. Pedoman teknis penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana (edisi revisi). Jakarta.

22
terimakasih

Anda mungkin juga menyukai