Anda di halaman 1dari 34

Dr. Acep Edison.,SE.,MM.

,AK
PENENTUAN Definisi :
HARGA JUAL Penentuan harga jual harus berpedoman
PRODUK ATAU untuk menghasilkan produk atau jasa
JASA yang bermutu dengan harga jual yang
relatif rendah dan mampu bersaing
dengan produk sejenis di pasar.
FAKTOR PENENTU HARGA JUAL
PRODUK
FAKTOR PERTAMA : Laba yang diinginkan meliputi :
1. Pengembalian modal (Return On Capital).
2. Laba yang dibutuhkan untuk membayar dividen
3. Laba yang dibutuhkan untuk perluasan
4. Trend penjualan yang diinginkan.

FAKTOR KEDUA : Faktor produk atau penjualan meliputi :


1) Volume penjualan yang dapat direalisasi
2) Adanya diskriminasi harga
3) Adanya kapasitas mengganggur atau kapasitas produksi tidak
maksimal
4) Harga produk yang dapat diasumsikan sesuai dengan harga yang
berlaku di pasar.
FAKTOR PENENTU HARGA JUAL PRODUK

 FAKTOR KE TIGA : Faktor Biaya


1. Biaya variabel dan biaya tetap yang tinggi
2. Harga jual merupakan harga perdana
3. Penggunaan modal yang masimal yang berkaitan dengan
pengembalian
4. Terdapat biaya bersama (joint cost pada saat proses
produksi)

 FAKTOR KE EMPAT : Adanya faktor eksternal perusahaan


1. Elastisitas permintaan produksi
2. Segmentasi pasar yang akan dicapai
3. Homogen dan heterogen dari produk dipasar
4. Tingkat Persaingan yang terjadi.
SITUASI HARGA TERHADAP
HARGA JUAL

Situasi harga yang terjadi berpengaruh


terhadap harga jual
1) Situasi biaya produk dan operasional
2) Situasi harga dipasar
3) Faktor-faktor internal dan eksternal
yang berpengaruh pada proses
produksi dan operasional
perusahaan
4) Regulasi Pemerintah
SITUASI HARGA
BIAYA PRODUK SITUASI
DAN HARGA DI
OPERASIONAL PASAR

HARGA
JUAL

PENGARUH
INTERNAL DAN REGULASI
EKSTERNAL PEMERINTAH
PERUSAHAAN
1) SITUASI PERSAINGAN
2) ELASTISITAS
PERMINTAAN
3) SIFAT PRODUK
 Persaingan harga ; Persaingan harga terjadi untuk setiap
produk, konsumen cenderung akan membeli produk
dengan harga yang terendah dari berbagai jenis produk
yang sama dengan spesifikasi produk yang sama.
 Persaingan produk ; Persaingan produk berkaitan
dengan kualitas dari produk, kesesuaian produk dengan
kebutuhan konsumen, semakin tinggi kualitas produk
dengan tingkat kesesuaian yang tinggi akan mendorong
produk mempunyai keunggulan terhadap produk-produk
yang sejenis
 Persaingan pelayanan ; Persaingan terkait dengan
pelayanan yang diinginkan oleh konsumen, seperti ;
pengiriman, garansi, pemeliharaan purna jual, dll,
semakin baik sistem pelayanan pada konsumen akan
meningkatkan keunggulan persaingan terhadap
perusahaan lainnya
 INELASTIS :
Penurunan harga tidak
mengakibatkan terjadainya
penambahan permintaan barang
dipasar,
 ELASTIS :

Penurunan harga mengakibatkan


terjadinya peningkatan
permintaan.
 Barang-barang yang dijual dipasar
bersifat homogen
 Barang-barang yang dijual dipasar
bersifat heterogen
 Barang-barang yang dijual dipasar
bersifat langka
 Barang-barang yang dijual dipasar
bersifat musiman
 Barang-barang yang dijual dipasar
bersifat kebutuhan sesaat saja
 GROSS MARGIN
PRICING
 DIRECT COST PRICING
 FULL COST PRICING
 VARIABEL COSTING
PRICING
 TRANSFER PRICING
1. GROSS MARGIN PRICING

 Digunakan oleh perusahaan dagang yang tidak memproduksi tetapi


mendistribusikan barang
 Menetapkan Mark UP
 Mark UP adalah persentase keuntungan yang diinginkan

B. pembelian produk  B.Tetap dan Variabel


Mark Up  X 100 %
Biaya pembelian produk

B. Penjualan produk  B.Tetap dan Variabel


Mark Up  X 100 %
B. Penjualan produk
 Siklis
 Biaya operasi yang tinggi

 Jumlah modal yang digunakan

 Persaingan pasar

 Biaya pemasaran yang besar


Contoh perhitungan
Harga Jumlah unit Pendapatan Total biaya Jumlah Laba
(Rp) terjual (Rp) Tetap dan Var
A B C =axb D = d/b E=c - d

25.- 200.000 5.000.000 4.000.000 1.000.000

22,- 400.000 8.800.000 7.200.000 1.600.000


18,- 500.000 9.000.000 7.000.000 2.000.000
15,- 750.000 11.250.000 9.500.000 1.750.000
13,- 1.000.000 13.000.000 12.000.000 1.000.000

Harga jual :
Laba tertinggi dengan harga jual Rp.18,-/Unit
Biaya tetap dan variabel Rp. 14,- / unit

18 - 14
Mark Up  x 100 %  22 %
18
2. DIRECT COST PRICING

 Direct Cost pricing digunakan untuk harga jual produk-


produk yang menghadapi persaingan yang sangat tajam
 Penggunaan metode variabel costing lebih baik , karena
menggunakan metode full costing sangat kaku dan
mengakibatkan biaya operasionalnya terlalu tinggi
 Dasar penentuan harga disini adalah berasal dari semua
biaya variabel.
 Rumus : harga jual

(Biaya Produksi variabel + biaya Variabel lainnya) + % laba yang


diinginkan X dasar penentuan harga
Contoh perhitungan
Jenis Biaya Produk A Produk B
(Rp) (Rp)

Bahan Baku 100 150

Upah Langsung Variabel 75 125


Overhead Pabrik Variabel 125 125
Biaya Operasi Variabel 50 100
Jumlah 350 500

Marginal Income yang 20 % 15 %


diinginkan

Harga Jual Produk A = Rp.350 + (20 % X Rp 350) = Rp.420,-


Atau (laba) = Rp. 420 – Rp. 350 = Rp. 70  20 %
Harga Jual Produk B = Rp.500 + (15 % X Rp 500) = Rp.575,-
Atau (laba) = Rp. 575 – Rp.500 = Rp. 75,-  15 %
3. FULL COST PRICING
1) Normal Pricing
2) Cost Plus Pricing
3) Time and material Pricing
4) Cost-type Contract
5) Special order Pricing
Rumus :
Harga jual = Biaya produksi + Mark Up
1) Normal Pricing

 Harga jual produk dan jasa dalam keadaan normal


ditetapkan berdasarkan formulasi sebagai berikut :

Harga Jual = Taksiran Biaya Penuh + Laba yang diharapkan


2). Cost Plus Pricing

Harga jual produk dengan cara : Biaya penuh untuk produk dimasa
yang akan datang ditambahkan laba yang diharapkan berdasarkan
formulasi sebagai berikut :

Harga Jual = Taksiran Biaya Penuh + Laba yang diharapkan (Mark Up)

Biaya Non Produksi  Laba yang diharapkan


Mark Up 
Biaya Produksi

Biaya Nonproduksi  (% x Aktiva Tetap)


Mark Up 
Biaya produksi
CONTOH :
ORDER PRICING FOR MARKET
Subject : From Marketing Dept
Object : Cost Plus Pricing
Goods : Sugar
Quantity : 1200 Kg
Forecast : Next year
Taksiran biaya penuh (cost full ) untuk tahun yang akan datang
sebagai berikut :
Biaya Produk Rp. 5. 000.000,-
Biaya Administrasi dan Umum Rp. 4.00.000,-
Biaya Pemasaran Rp. 6.00.000,-
TOTAL Biaya penuh Rp. 6.000.000,-
Total aktiva yang diperkirakan pada awal tahun anggaran Rp.
3.000.000,-
Pengembalian aktiva diharapkan sebesar 20 %
Perhitungan :
Biaya Non Produksi  Laba yang diharapkan
Mark Up 
Biaya Produksi
1.000.000  (20 % X 3.000.000.)
Mark Up 
5.000.000

Mark Up = 0,32 atau 32 %

Harga Jual = Taksiran Biaya Penuh + Laba yang diharapkan (Mark Up)

Harga Jual = 6.000.000 + (32 % x 6.000.000) : 1.200 = Rp. 6.600,- /kg


Contoh perhitungan : Kapasitas produksi : 5000 unit, Aktiva
Penuh Rp. 4.800.000 (Investasi), Laba yang diharapkan 25 %
Jenis Biaya Per Unit Jumlah
Biaya Produksi :
Biaya Bahan Baku Rp.300 Rp. 1.500.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp.150 Rp. 750.000
Biaya Overhead Variabel Rp.200 Rp. 1.000.000
Biaya overhead Tetap Rp.250 Rp. 1.250.000
Total Biaya Produksi Rp.900 Rp.4.500.000
Biaya Non Produksi
Biaya Adm & umum variabel Rp.75 Rp. 375.000

Biaya Pemasaran Variabel Rp.60 Rp. 300.000

Biaya Adm & umum Tetap Rp.25 Rp. 125.000

Biaya Pemasaran Tetap Rp.30 Rp. 150.000

Jumlah Biaya Non Produksi Rp.190. Rp.950.000


950.000  ( 25 % X 4.800.000)
Mark Up   47,77 %
4.500.000

Harga Jual = Biaya produksi per unit x Mark Up


= Rp.900 + (47,77 % x Rp. 900)
= Rp. 1.330.- per unit
4. VARIBEL COSTING

Harga jual = Biaya Variabel + Mark Up

Biaya Tetap  Laba yang diharapkan


Mark Up 
Biaya Variabel
Contoh :
Penjualan 1.000. unit-

Biaya langsung

Jenis Biaya Biaya Tetap B. Var


Biaya Produksi 2.240.000,- 4.160.000,- 6.400.000,-

Biaya Adminstrasi dan Umum 700.000 2.800.000,- 3.500.000,-

Biaya Pemasaran 1.325.000,- 3.975.000,- 5.300.000,-

Jumlah biaya langsung Divisi 4.265.000,- 10.935.000,- 15.200.000,-

Biaya Kantor Pusat 1.640.000,- 2.460.000,- 4.100.000,-

Laba Yang diharfkan 25 %

Investasi 15.000.000,-

Hitung harga jual per unit.


CONTOH :

Biaya Tetap  Laba yang diharapkan


Mark Up 
Biaya Variabel

6.265.000  (25 % x 15.000.000)


Mark Up 
13.395.000

Mark UP = 74,7 %
Harga Jual = Biaya Variabel + Mark Up/ Jumlah unit
= 6.265.000 + (74,7 % x 6.265.000 )/1000 unit
= Rp.10.944.955/1000
= Rp.10.945,-
5. TRANSFER PRICING
 Harga transfer adalah harga transfer
produksi dari satu departemen atau dari
satu devisi ke devisi lainnya
 Metode harga jual transfer :
1. Harga transfer berdasarkan harga pokok
ditambah laba
2. Metode harga pasar
3. Metode harga transfer kompromi
4. Metode harga transfer sembarang
HARGA TRANSFER BERDASARKAN
HARGA POKOK DITAMBAH LABA
(untuk harga ditentukan pemerintah)

B.adm & um  Laba yg Diharapkan


Presentase Markup 
B. Produksi/unit  volume produk (unit)

Contoh : PDAM
Investasi sebesar Rp. 2.000.000.000,-
Taksiran biaya produk/liter Rp 300/liter
pada volume 50.000.000 liter air/tahun
Biaya non produksi (adm dan umum, pemasaran)
diperkirakan Rp. 1.100.000.000,-
Laba yang diharapkan 20 % dari investasi
Rp.1.100.0 00.000  (20 % x Rp. 2.000.000. 000)
Perentase Markup 
Rp. 300 x 50.000.000 unit
 Rp. 30

Harga jual per liter = Rp. 300,-


Markup 10 % rp.300 = Rp. 30,-
Target harga jual air/ltr = Rp. 330,-
PDAM
Laporan Rugi-laba 200x
Target Penjualan Rp.330 x 50.000.000 Rp. 16.500.000.000,-

Target Biaya Rp.300 x 50.000.000 Rp. 15.000.000.000,-


Produksi
Laba bruto Rp. 1.500.000.000,-

Biaya Non Produksi (adm & umum, Rp.1.100.000.000,-


Pemasaran)
Laba Bersih Rp. 400.000.000,-

Aktiva Penuh Rp. 2.000.000.000,-

Pengembalian Investasi = Rp. 4.00.000.000 : Rp.2.000.000.000,-


= 20 %
METODE HARGA PASAR
 Penatapan harga jual didasarkan pada harga yang
berlaku dipasar
 Penetapan harga jual divisi dengan menggunakan
harga dasar pasar.
 Contoh : Produk Divisi A harga pasar Rp. 1000 / unit,
maka harga produk yang ditransfer ke divisi B adalah
harga dasar pasar
 Kendala :
Divisi B dapat membandingkan barang dari divisi A
dengan barang dipasar, jika mutunya rendah dapat
mengakibatkan divisi B membeli dari luar.
Jika mutu barang divisi A sangat baik harga sesuai
dengan harga pasar, divisi A dapat menjual kepada
pembeli dari fihak luar
METODE HARGA TRANSFER
KOMPROMI
 Harga ditetapkan berdasarkan kompromi yakni
kesesuaian antara pembeli dan penjualan, harga jual
tidak ada dan tidak jelas.
 Penentuan Harga jual ditetapkan sesuai dengan
persetujuan.
 Kelemahan dan kebaikan :
 Perusahaan dapat memaksimalkan penjualannya
dengan kapisitas produk teoritis, sehingga tidak ada
kapasitas nganggur.
 Kompromi harga tidak dapat dilakukan dalam internal
perusahaan, karena akan menyebabkan tidak
menentunya harga jual perusahaan.
METODE HARGA TRANSFER
SEMBARANG
 Harga jual ditentukan oleh pimpinan
perusahaan
 Harga jual mengikuti trend yang terjadi
harga dipasar
 Harga jual dikaitkan dengan perubahan
siklis, seperti, saat kenaikan kelas,
lebaran, dll.