Anda di halaman 1dari 15

Modul 4

Partai Politik di Indonesia

Mata Kuliah Sistem Politik Indonesia (IPEM


4213)

Evida Kartini, S.Sos., M.Si


Definisi Partai Politik
(1)
Carl J Frieddrich
“Partai Politik adalah sekelompok manusia
yang terorganisir secara stabil dengan tujuan
merebut atau mempertahankan kekuasaan
dan berdasarkan pengawasan terhadap
pemerintahan bagi pimpinan partainya dan
berdasarkan pengawasan ini memberikan
kepada anggota partainya manfaat ideal dan
material.” 

Miriam Budiardjo
“Partai Politik adalah sekelompok orang yang
terorganisir, yang anggota-anggotanya
mempunyai orientasi, nilai dan cita-cita yang
sama.”
Definisi Partai Politik
(2)
R.H Soltau
“Partai politik adalah sekelompok warga negara yang sedikit
banyak terorganisir, yang bertindak sebagai suatu kesatuan
politik dan yang dengan memanfaatkan kekuasaannya untuk
memilih dan bertujuan menguasai pemerintahan dan
melaksanakan kebijakan umum mereka.”

Sigmund Neumann
“Partai politik adalah organisasi artikulatif yang terdiri dari
pelaku-pelaku politik yang aktif dalam masyarakat yaitu mereka
yang memusatkan perhatiannya pada menguasai kekuasaan
pemerintahan dan bersaing untuk memperoleh dukungan rakyat
dengan beberapa kelompok lain yang berbeda pandangan.
Partai politik merupakan perantara besar yang menghubungkan
kekuatan-kekuatan dan ideologi sosial dengan lembaga-lembaga
pemerintahan yang resmi dan yang mengaitkannya dengan aksi
politik di dalam masyarakat politik yang lebih luas.
Partai Politik dan
Demokrasi
Partai politik merupakan bagian penting dari
demokrasi perwakilan karena:
• Demokrasi mewajibkan pemberian kebebasan kepada
warganegara untuk berserikat, termasuk mendirikan
partai politik
• Partai politik menjalankan berbagai fungsi yang penting
di dalam sistem demokrasi
1)Fungsi agregasi dan artikulasi kepentingan
2)Fungsi rekrutmen politik
3)Fungsi partisipasi politik
4)Fungsi komunikasi politik
5)Fungsi sosialisasi politik
Masa Sebelum Orde Baru
(1)
•Masa Kolonialisme Belanda (1917 – 1945)
o Kebijakan untuk memberikan kesempatan wakil
rakyat pribumi untuk duduk di Volksraad
o Pertumbuhan partai-partai politik yang berasaskan
nasionalisme, agama, dan komunisme.
•1949)
Masa Perjuangan Kemerdekaan (1945 –

o Maklumat Wakil Presiden No. X tahun 1945


mengijinkan pembentukan partai-partai politik.
o Kemerdekaan Indonesia masih belum mendapat
pengakuan internasional, sehingga kestabilan politik
rendah, fokus pemerintahan adalah diplomasi dan
menahan agresi militer Belanda.
o Partai politik tumbuh, namun peran di dalam
pemerintahan masih minimal.
Masa Sebelum Orde
Baru (2)
•Masa Demokrasi Parlementer
• Pemilu 1955 diikuti oleh 172 kontestan Partai Politik
• Ada 4 (empat) Partai Politik terbesar PNI (22.3%),
Masyumi (20.9%), Nahdlatul Ulama (18.4%), dan PKI
(15.4%).
• Ideologi Partai Politik (Herbert Feith):
o Nasionalisme Radikal
o Tradisionalisme Jawa
o Sosialisme Demokrasi
o Komunisme
o Islam
Masa Sebelum Orde
Baru (3)
•Masa Demokrasi Terpimpin (1959 –
1965)

• Sejumlah partai politik dibubarkan oleh


Sukarno, termasuk Masyumi.

• Partai politik yang berperan besar di dalam


sistem politik adalah PKI.
Era Orde Baru (1)
• PKI dibubarkan pada tahun 1966
• Pada Pemilu 1971, diikuti oleh 10 partai
politik, yaitu:
1. Golongan Karya  menang 68% suara
2. Partai Nasionalis Indonesia
3. Partai Katolik
4. Partai Syarikat Islam Indonesia
5. Partai Nahdlatul Ulama
6. Partai Muslimin Indonesia
7. Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia
8. Partai Musyawarah Rakyat Banyak
9. Partai Islam PERTI
10.Partai Kristen Indonesia
Era Orde Baru (2)
• Deparpolisasi. Partai Politik mengerucut menjadi 3 kontestan,
yaitu (1973-1998)
1.Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
2.Golongan Karya (GOLKAR)
3.Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
• Golkar selalu menjadi pemenang pemilu secara mencolok &
konsisten
• Kemenangan Golkar disebabkan oleh
oCitra partai politik yang memburuk sejak masa Demokrasi
Parlementer.
oStrategi kampanye Golkar
-
Tidak menggunakan identitas sebagai parpol.
-
Organisasi sosial politik yang dibentuk oleh pemerintah
• Masyarakat mendukung pemerintahan Orde Baru, termasuk
partai yang dibentuknya
• Golkar membawa ekspektasi masyarakat yang besar untuk
melaksanakan perubahan sosial dan politik.
Era Orde Baru (3)
Faktor-Faktor Kemenangan Golkar:
• Golkar diidentikkan sebagai partai politik
pemerintah
• Asas tunggal
• Pembatasan jumlah parpol
• Fusi parpol
• Kooptasi elit masyarakat
• Korporatisasi negara
• Represi dan koersi terhadap oposisi
• Kecurangan-kecurangan dalam pemilu.
Era Reformasi (1)
• Euforia Demokrasi
• Dibukanya keran politik  Partai politik
banyak bermunculan.
o 48 Partai Politik yang lolos verifikasi untuk
ikut Pemilu 1999
o 24 Partai Politik yang lolos verifikasi untuk
ikut Pemilu 2004
o 38 Partai Politik Nasional dan 6 Partai Politik
Lokal Aceh yang ikut Pemilu 2009
Era Reformasi (2)
Partai Politik Pemenang Pemilu bervariasi.
• Pemilu 1999: PDIP 33%, Golkar 22%, PKB 12%, PPP 11%,
PAN 7%, PBB 1.9%, PK 1.4%, PKP 1%.
• Pemilu 2004: Golkar 21%, PDIP 18.5%, PKB 10.6%, PPP
8.2%, PD 7.5%, PKS 7.3%, PAN 6.4%, PBB 2.6%, PBR
2.4%, PDS 2.1%, PKPB 2.1%
• Pemilu 2009: PD 21%, P. Golkar 14%, PDIP 14%, PKS 8%,
PAN 6%, PPP 5.3%, PKB 5%, Partai Gerindra 4.5%, dan
Partai Hanura 3.77%.
• Pemilu 2014: PDIP 18.95%, P.Golkar 14.75%, Gerindra
11.81%, PD 10.19%, PKB 9.04%, PAN 7.59%, PKS 6.79%,
PPP 6.53%, Nasdem 6.72%
Era Reformasi (3)
•Ideologi Partai kembali seperti era
parlementer minus komunisme namun
sifatnya sentripetal
• Diberlakukannya electoral threshold dan
parliamentary threshold untuk mengurangi
jumlah partai politik dan memperkuat
parlemen secara alamiah.
• Scott P. Mainwaring  resiko penerapan
demokrasi, sistem presidensial langsung,
dan sistem multi-partai
• Partai Politik banyak mengalami
perpecahan dan muncul partai-partai baru.
Era Reformasi (4)
Kecenderungan membentuk Partai Politik masih
tinggi. Ini disebabkan karena:
1. Reformasi sistem kepartaian
• Kebebasan asas  politik aliran/identitas.
• Kebebasan membentuk parpol  sistem multipartai.
• Tidak ada kontrol pemerintah terhadap parpol.
- Penghapusan mekanisme litsus
- Penghapusan mekanisme koordinasi oleh Depdagri.
• Konflik internal dan antar partai politik diselesaikan
oleh lembaga yudikatif.
2.Reformasi sistem pemilu
• Mendukung praktik politik kepartaian yang lebih
kompetitif.
Era Reformasi (5)
Fenomena Kemunculan Partai-Partai
Baru
1. Gary W. Cox (1997)
• Cost of entry
• Benefits of Office
• Probably of receiving electoral support
2. Margit Tavits (2006)
• Public funding
• Lenturnya lembaga-lembaga pemilihan (cost of
entry)
• Tingkat korporatisme
• Tingkat demokrasi suatu negara
• The possibility of electoral support

Anda mungkin juga menyukai