Anda di halaman 1dari 33

TEKNIK KOMPUTASI

V. PENYELESAIAN PERSAMAAN Ax = b
Dengan A adalah MBS (I)
MATERI
 Menggunakan Invers Matrix
 Menggunakan metode Cramer

 Menggunakan metode eliminasi dengan


Matrix Gauss
 Implementasi
6.1. METODE INVERSI MATRIX (1)
 Dengan invers atau balikan matriks koefisien,
jawaban sistem persamaan linear dapat dicari.
Jika kedua ruas persamaan matrix dikalikirikan
oleh balikan matriks A akan didapat :
A-1Ax = A-1b
x = A-1b
 Terlihat vektor x yang terdiri atas bilangan
dapat diperoleh dengan memperkalikirikan
vektor b dengan invers A.
 Dari persamaan itu ada hubungan yang erat
antara invers matrix koefisien denagan solusi
sistem persamaan.
6.1. METODE INVERSI MATRIX (1)
 Persamaan itu akan mempunyai jawaban
tunggal hanya jika invers matrix koefisien itu
ada, yang berarti A suatu matrix non singular.
 Jika matrix A singular, persamaan tersebut
tidak mempunya jawaban atau bahkan
mempunyai tak hingga banyaknya jawaban.
 Contoh :
2 x1  4 x2  x3  11
 x1  3x2  2 x3  16
2 x1  3x2  5 x3  21
Matrix koefisien A dan vektor b dari persamaan
di atas adalah :
2 4 1   11  x1 
A   1 3  2 b   16 x   x 2 
 2  3 5   21   x3 
6.1. METODE INVERSI MATRIX (2)
Disini det A = |A| = 19
 9 1  3  9  23  11
Ac   23 8 14  Aa   1 8 3 
  11 3 10   3 14 10 
9  23  11
1
A1   1 8 3 
19
 3 14 10 

Dengan menghitung A-1B, maka vektor x


diperoleh :
 x1   9  23  11   11  x1   2 
1
x   x2    1 8 3   16  x     4
 2  
19
 x3   3 14 10   21   x3   1 
6.2. METODE CRAMER (1)

Aa Aa
A  1
A B=
xA  adjoint
1a
B matrix A
A A

 Jika matrix adjoint ditulis dalam bentuk


kofaktor dari determinan |A|, persamaan di
atas menjadi :
 A11c c
A21 . . . Anc1   b1 
 c c c  
 A12 A22 . . . A21  b2

1  . . . . . .  . 
x   
A . . . . . .  . 
 . . . . . .  . 
 c  
 A1n A2cn . . . Ann  bn 
c
6.2. METODE CRAMER (2)
 Dalam hal ini matrix adjointnya berorde nxn,
determinan |A| berorde nxn, sedang x dan b
vektor kolom berorde n.
 Jika perkalian matrix adjoint dan b dihitung,
maka :

 x1   b1 A11c  b2 A21
c
 ...  bn Anc1 
x   c 
 2 b A
 1 12
c
 b A
2 22
c
 ...  b A
n n2 
. 1  . 
x   
.
  A . 
.  . 
   
 x n  bn A1n  b2 A2 n  ...  bn Ann 
c c c
6.2. METODE CRAMER (3)
 Sehingga dengan menyamakan elemen-
elemen ruas kiri dan ruas kanan didapat
himpunan hubungan bagi n buah besaran
yang belum diketahui x :
b1 A11c  b2 A21
c
 ...  bn Anc1
x1 
A
b1 A12c  b2 A22
c
 ...  bn Anc2
x2 
A
b1 A1cn  b2 A2cn  ...  bn Ann
c
xn 
A
 Jika pembilang dalam setiap hubungan di
atas diperhatikan, mudah terlihat bahwa
pembilang-pembilang itu merupakan
penjabaran dengan kofaktor suatu
determinan.
6.2. METODE CRAMER (4)
 Sebagai contoh, misalkan pembilang dari x1
adalah penjabaran determinan di bawah ini
dengan kofaktor atas kolom pertama :
b1 A12 A13 . . . A1n
b2 A22 A23 . . . A2 n
. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .
bn An 2 An 3 . . . Ann

 Demikian pula dengan pembilang yang lain


dapat ditulis sebagai suatu determinan,
dengan perbedaan bahwa elemen-elemen b
terletak pada kolom-kolom yang berbeda
sehingga persamaan di atas dapat ditulis :
6.2. METODE CRAMER (5)

b1 A12 A13 . . . A1n A11 b1 A13 . . . A1n


b2 A22 A23 . . . A2 n A21 b2 A23 . . . A2 n
. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
. . . . . . . . . . . . . .
bn An 2 An 3 . . . Ann An1 bn An 3 . . . Ann
x1  x2 
A A
A11 A12 A13 . . . b1
A21 A22 A23 . . . b2
. . . . . . .
. . . . . . .
. . . . . . .
An1 An 2 An 3 . . . bn
xn 
A
6.2. METODE CRAMER (6)
 Jika metode Cramer digunakan untuk
mencari penyelesaian persamaan contoh di
atas,
 2 maka
4 1:  2 4 1   11
A   1 3  2 dan A  19 A   1 3  2 b   16
 2  3 5   2  3 5   21 

 11 4 1 2  11 1
 16 3  2  1  16  2
21  3 5 38 2 21 5 76
x1   2 x2    4
A 19 A 19
2 4  11
 1 3  16
2  3 21 19
x3   1
A 19
6.2. METODE CRAMER (7)
 Aturan Cramer digunakan jika determinan-
determinan itu mudah dihitung. Jika
persamaan itu berorder tinggi, lebih baik
menggunakan metode lain.
 Contoh model jaringan listrik :
4 Volt

I1


1Ω I3
0,5
Ω

2Ω I2
8 Volt
6.2. METODE CRAMER (8)
Carilah besar arus dalam jaringan di atas!
Penyelesaian :
Dengan berpegang pada hukum Kirchhoff diperoleh
persamaan : 4 Volt
I1 + I2 = I3
(1 + 1 + 0,5)I1 + 0,5 I2 = 4 I1
0,5I1 + (2 + 0,5)I2 = 8
atau : 1Ω

I1 + I2 - I3 = 0 0,5Ω I3

2,5I1 + 0,5 I2 = 4
0,5I1 + 2,5I2 = 8
2Ω I2
 
8 Volt
6.2. METODE CRAMER (9)
Matrix A :
I1 + I2 - I3 =0
1 1  1 0  2,5I1 + 0,5 I2 =4
A  2,5 0,5 0  A  6 b  4 0,5I1 + 2,5I2 = 8
 
0,5 2,5 0  8

0 1 1 1 0 1
4 0,5 0 2,5 4 0
8 2,5 0 6 0,5 8 0  18
I1    1A I2    3A
A 6 A 6
1 1 0
2,5 0,5 4
0,5 2,5 8  24
I3    4A
A 6
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(1)
 Apabila matrix Gauss G1, G2, G3,..........Gn-1
berturut-turut dioperasikan atas ruas kiri dan
ruas kanan atas persamaan Ax = b,
diperoleh:
Gn-1 Gn-2 .......... G2 G1 Ax = Gn-1 Gn-2 .......... G2
G1 b
Atau
Ux = Gn-1 Gn-2 .......... G2 G1 b
 Tipe persamaan di atas dapat dipecahkan
dengan mudah.
 Vektor x dapat diperoleh dengan cara
substitusi mundur.
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(2)
 Contoh (1)
Selesaikan persamaan berikut :
4 8 4 0   x1   8 
1
 5 4  3  x 2   4

1 4 7 2   x3   10 
    
1 3 0  2   x 4    4

Jawab :
4 8 4 0 
1 5 4  3
A
1 4 7 2
 
1 3 0  2
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(3)
Matrix G1 adalah :
1 0 0 0  1 0 0 0
m  1 1 0 0
 2 1 0 0  4
 m3 0 1 0  1 0 1 0
   4 
m4 0 0 1  1 0 0 1
 4 

dengan pilihan : m2 = -1/4; m3 = -1/4; m4 =


-1/4
 1 0 0 0  4 8 4 0  4 8 4 0
 1 1 0 0 1
 4  5 4  3 0 3 3  3
G1 A   1  
0 1 0 1 4 7 2  0 2 6 2
 4    
 1 0 0 1  1 3 0  2  0 1  1  2
 4 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(4)
Matrix G2 :
1 0 0 0 1 0 0 0
0 1 0 0
 0 0  1 0
0 m3 1 0 0  2 1 0
 3 
 
0 m4 0 1 0  13 0 1

Dengan pilihan m3 = -2/3; m4 = -1/3


1 0 0 0  4 8 4 0  4 8 4 0
0 0 0
 1 0
 3 3  3 0 3 3  3
G 2 G1 A    2 
0 1 0 0 2 6 2  0 0 4 4
 3    
0  13 0 1 0
 1  1  2 0 0  2  1
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(5)
Matrix G3 :
1 0 0 0 1 0 0 0
0 0 0
 1 0 0  1 0
0 0 1 0 0 0 1 0
   1 1
0 0 m4 1 0 0
2 

Dengan pilihan m4 = 2/4 = 1/2

1 0 0 0  4 8 4 0  4 8 4 0
0 0 0
1 0 3 3  3 0 3 3  3
G3G2 G1 A    
0 0 1 0 0 0 4 4  0 0 4 4
 
0 0 1 1 0  
0  2  1 0 0 0 1

2 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(6)

4 8 4 0  1 0 0 0  1 0 0 0  8   8 
  1 0 0  4  6
0 3 3  3 0 1 0 0  1 4
G3G 2 G1 b     
0 0 4 4  0 0 1 0   1 
0 1 0  10   12 
  1  4    
0 0 0 1  0 0 1  1 0 0 1    4  2 
2  4 

 Persamaan setelah triangulasi adalah :


4 8 4 0   x1   8   x1   3 
0
 3 3  3  x 2   6  x   1
 2   

0 0 4 4  x3    12   x3   1 
        
0 0 0 1   x4   2   x4   2 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(7)
 Contoh(2)
Selesaikan persamaan berikut :
 1  10 2 4   x1   2 
3
 1 4 12  x 2  12 

9 2 
3 4 x3    21
    
 1 2 7 3   x 4  37 

Jawab :
1 0 0 0  1  10 2 4  1  10 2 4 
 3 1 0 0  3 1 4 12 0 31  2 0 
G1 A   
 9 0 1 0  9 2 3 4  0 92  15  32
    
1 0 0 1  1 2 7 3  0  8 9 7 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(8)
1 0 0 0  2   2 
 3 1 0 0 12   6 
G1 b   
 9 0 1 0  21  3 
    
1 0 0 1 37  39

1 0 0 0 1  10 2 4  1  10 2 4 
0 1 0 0 0 31  2 0  0 31 2 0 
G2G1 A   
0  2.968 1 0 0 92  15  32 0 0  9.065  32
    
0 0.258 0 1  0  8 9 7  0 0 8.484 7 

1 0 0 0  2   2 
0 1 0 0  6   6 
G2 G1 b   
0  2.968 1 0  3   14.808
    
0 0.258 0 1 39  40.548 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(9)
1 0 0 0 1  10 2 4  1  10 2 4 
0 1 0 0 0 31 2 0  0 31 2 0 
G3G2G1 A    
0 0 1 0 0 0  9.065  32 0 0  9.065  32 
    
0 0 0.936 1 0 0 8.484 7  0 0 0  22.949 

1 0 0  2   2 
0
0 1 0 0  6   6 
G3G2 G1 b   
0 0 1 0  14.808  14.808
    
0 0 0.936 1  40.548   26.688 

Sehingga persamaan A x= B bisa ditulis


menjadi :
G G2G1A 2= G3G42G1bx   2 
1 3  10 1
0 31 2 0 x   6 
  2    
0 0  9.065  32   x3   14.808
    
0 0 0  22.949  x 4   26.688 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(10)
Berdasarkan substitusi mundur diperoleh :
 x1   0.812 
 x   0.564 
 2   
 x3   5.739 
   
x
 4   1. 163
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(11)
 Contoh (3)
2 1 0 1 3   x1   -1 
8 6
 6 2 8   x 2  10 
 0 - 4 - 5 1 - 6  x 3    1 
     
 16 24 24 13 33   x 4  33
 0 0 6 26 -17  x 5  87
1 0 0 0 0  2 1 0 1 3   x1   -1 
- 4
 1 0 0 0 0 2 6  2  4   x 2  14 
0 0 1 0 0 0  4  5 1  6  x 3    1 
       
- 8 0 0 1 0 0 16 24 5 9   x 4   41
 0 0 0 0 1 0 0 6 26 17  x 5  87
1 0 0 0 0  2 1 0 1 3   x1   -1 
0 1
 0 0 0 0 2 6  2  4   x 2   14 
0 2 1 0 0 0 0 7  3 14  x 3    29 
       
0  8 0 1 0 0 0  24 21 41   x 4  - 71
0 0 0 0 1  0 0 6 26 17  x 5   87 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(12)

1 0 0 0 0 2 1 0 1 3   x1   -1 
0 1 0 0 0 0 2 6 -2  4   x   14 
   2  
0 0 1 0 0 0 0 7 -3 14  x 3    29 
       
0 0 24 7 1 0 0 0 0 75 7 7   x 4  199 7 
0 0 - 6 7 0 1 0 0 0 200 7  5   x 5  435 7
1 0 0 0 0 2 1 0 1 3   x1   -1 
0 1 0 0 0 0 2 6 2  4   x   14 
   2  
0 0 1 0 0 0 0 7 3 14   x 3    29 
       
0 0 0 1 0 0 0 0 75 7  7  x
  4 199 7 
0 0 0  8 3 1  0 0 0 0 41 3  x 5   41 3

Hasil proses eliminasi


Gauss
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(13)
2 1 0 13   x1   -1 
0 2 6  2  4   x   14 
  2  
0 0 7  3  14   x 3    29 
     
0 0 0 75 7  7  x
  4 199 7 
0 0 0 0 41 3  x 5  - 41 3

Dengan substitusi mundur diperoleh :


 x1   1 
x  - 2
 2  
x 3    3 
   
x 4   2 
 x 5   1
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(14)
 Contoh (4) :
 1 1 2 5  7  8  x1   12
 3  9 1 1 8 1 x   8 
  2   
 1 1 9 9 2 3   x3   22 
     
 1 7 2  3  1 4 x
   4 41 
7 1 2 4 1  1  x5   15 
    
 2 3  9 12  2 7   x6   50 

1 0 0 0 0 0
 3 1 0 0 0 0

1 0 1 0 0 0
G1   
 1 0 0 1 0 0
 7 0 0 0 1 0
 
 2 0 0 0 0 1
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(15)
1  1 2 5  7  8  12 1 0 0 0 0 0
0  6  5  16 0 1 0 0 0
 29 25   44 
   0
0 0 11 4  5  5  10  0 0 1 0 0 0
G1 b    dan G1 b    G2 0 8 
0 8 0 8 6 12   53  0 1 0 0
 6
0 8  12  31 50 55   99  0 8
    0 0 1 0
 6 
0 5  13 2 12 23   74  0 5 0 0 0 1
 6 

1  1 2 5 7 8    12 
0  6  5  16 29 25   44 
   
0 0 11 4 5 5   10 
G2G1 A  0 0  20  88 134 136  dan G2G1 b  335 
 3 3 3 3  3
0 0  56  157 266 265  475 
 3 3 3 3  3
0 0  103  34 217 263  332 
 6 3 6 6  3
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(16)

1 0 0 0 0
0 1  1 2 5 7 8 
0 0  6  5 25 
 1 0 0 0
0   16 29
0 0 1 0 0
0 0 0 11 4 5 5 
G 3  0 0 20 1 0
0
 G3 G2 G1 A  0 0 0  1048 458 1396 
 33  33 11 33
0 0 0 2635 
0 56 0 1 0 
0  1951
33
882
11 33
 33 
0 0 103 0 0 1 0 0 0  580 312 1189 
 66   33 11 33

  12 
 44 
 
 10 
G3 G2 G1 b  1295 
 11
1921 
 11
1389 
 11
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(17)

1 0 0 0 0 0 1  1 2 5 7 8 
0 1 0 0 0 0 0  6  5  16 29 25 
  
0 0 1 0 0 0 0 0 11 4 5 5 
G4    
G4 G3 G2 G1 A  0 0  1048 458 1396 
0 0 0 1 0 0  0
33 11 33 
0 0 0  1951 1 0 0 0 1399 287 
 1048  0 0
 524 265 
0 0 0  580 0 1 0 0 697 1653 
 1048  0 0
 131 131

  12  1 0 0 0 0 0
  0
 44   1 0 0 0 0
 10  0 0 1 0 0 0
G4 G3 G 2 G1 b   1295  G5   
 11  0 0 0 1 0 0
 46667  0 0 0 0 1 0
 1048  
 16013   365228
 262  0 0 0 0 1
183269 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(18)
1  1 2 5 7 8 
0  6  5  16 29 25 
 
0 0 11 4 5 5 
G5 G4 G3 G2 G1 A  0 0 0  1048 458 1396 
 33 11 33 
0 0 0 0 1399 287 
 524 265 
0 0 0 0 0 14599 
 1399 

  12 
 44 
 
 10 
G5 G4 G3G2 G1 b   1295 
 11 
 46667 
 1048 
 209653 
 1399 
6.3. METODE ELIMINASI GAUSS
(19)
Diperoleh bentuk persamaan :
1  1 2 5 7 8  x    12 
0  6  5  16 29 25   1
44 
 x
 2   
0 0 11 4 5 5   x3   10 
      1295 
0 0 0  1048 458 1396
 
33 11 x
33  4  11 
0 0 0 0 1399 287     46667 
 524 x
265   5   1048
0 0 0 0 0 14599   x   209653 
 1399  6   1399 

Dengan substitusi mundur diperoleh :


 x1   19.53 
 x    12.15 
 2  
 x3    7.97 
  
x
 4   14. 16 
 x5   22.57
   
 x 6   14.36 