Anda di halaman 1dari 38

ANALISIS FITOKIMIA ,

ANTIOKSIDAN DAN
LOGAM PENGKELAT
KAPASITAS
TETRAPLEURA
TETRAPTERA
Nama 1. Andan diyah w (18650117)
kelompo 2.
3.
Desna tallia s
Erik sulistiani
(18650121)
(18650124)

k: 4.
5.
Fitri rofi’ah
Ayu rindi antika
(18650127)
(18650135)
Fitokimia adalah ilmu yang
mempelajari berbagai senyawa

Definisi organik yang dibentuk dan disimpan


oleh tumbuhan, yaitu tentang
Fitokimi struktur kimia, biosintesis,
a perubahan dan metabolism,
penyebaran secara alami dan fungsi
biologis dari senyawa organic
T. Tetraptera merupakan tanaman kacang yang
Latar Belakang
banyak ditemukan di Afrika Barat dan Ghana.

 Menurut Aladesanmi, 2007 : T. Tetraptera


banyak dijumpai di Ghana digunakan untuk
membuat parfum, minyak rambut , minuman
beralkohol, dan campuran biskuit yang berasal
dari buah, biji, dan bunga.

Tetrapleura  Menurut Osei- Tutu et al., 2010 : Di Afrika


tetraptera Barat T. Tetraptera digunakan untuk bumbu,
obat – obatan, dan sebagai suplemen makanan
kaya vitamin.
 Menurut Ozaslan et al, 2010 : T. Tetraptera
Latar Belakang banyak digunakan untuk pengolahan kejang,
kusta, rematik, asma, malaria, nyeri, dan
hipertensi.

 Menurut Edogo et al, 2005 : Tanaman obat


yang mengandung beberapa senyawa organik
Tetrapleura yang memberikan tindakan fisiologi yang pasti
tetraptera
pada tubuh manusia dan bioaktif ini terdapat
zat seperti tanin, alkaloid, karbohidrat,
triterpenoid, steroid, dan flavonoid.
Tujuan

Tetrapleura Tetraptera dapat di identifikasi dan di


analisis fitokimia dalam ekstrak air dan etanol,
menentukan aktivitas antioksidan serta kapasitas logam
dari pulp, biji dan seluruh buah (campuran bubur dan
biji).
Alat : • Wadah kedap udara
• Tabung reaksi • Penyaring
• Pipet tetes • Termometer
• Pipet ukur • Kertas saring whatman
• Wadah tertutup No.1 (125)
• Mortir dan stemper • Plastik
• Spektrofotometer UV-
VIS
Bahan : • Asam klorida • Natrium
• Tetrapleura 1% encer hidroksida
tetraptera • FeCl3 • Natrium
• Air • Asam sulfat karbonat
• Etanol pekat • Natrium fosfat
• Air suling • Natrium nitrat • FeSO4
5%
• Aluminium
klorida
 Preparasi sampel
Sampel yang digunakan adalah Polong T. Tetraptera yang
dikumpulkan pada tanggal 8 Februari 2018 dari Ghana dan di
identifikasikan secara botani dan dikonfirmasikan oleh ahli taksonomi
tanaman di Departemen Pertanian, Universitas Cape Coast.
Polong T. tetraptera

Dicuci dengan air keran ( mengalir )


Bilas dengan aquades ( air suling )
Dikeringkan dengan diangin-anginkan
Dihancurkan / haluskan ad bubuk kasar dg mortir dan alu

Hasil ( serbuk kasar )


TetrapleuraTetraptera
Tetrapleura Tetraptera
 Ekstraksi sampel

50 g serbuk kasar sampel

Dimasukkan wadah / botol

Direndam (kotak) dg 250 ml (Campuran etanol dan aquades)

Tutup wadah / botol dg rapat

Diletakkan ditempat bersuhu ruangan selama 72 jam


 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kualitatif
a. Deteksi flavonoid ( Alkaline Reagen Test )

0,2 gram ekstrak kering , lalu masuk dalam tabung reaksi

Ditambahkan dengan 6 gtt 2% larutan Nacl

Terbentuk warna kuning

Ditambahkan asam encer

Larutan tidak berwarna


b. Deteksi alkaloid ( Uji Mayer )

0,5 gram ekstrak kering

Dimasukkan tabung reaksi

Dilarutkan dalam 5ml asam


klorida 1% encer

Residu Filtrat

Ditambah reagen potassiummercuric


Terbentuknya endapan kuning
iodida
c. Deteksi terpenoid ( Uji Salkowski )

0,1 gram
ekstrak kering

Dimasukkan
tabung reaksi

Ditambah 0,5 ml
kloroform

Ditambah 1 ml asam
sulfat pekat

Endapan coklat
kemerahan (indikasi
adanya terpenoid)
d. Deteksi tanin ( Uji Ferri Klorida )

0,2 gram ekstrak kering

Dimasukkan tabung reaksi

Ditambah air suling ukuran sama dengan ekstrak

Ditambah 3gtt FeCl₃ encer

Pembentukan warna biru / gelap (indikasi adanya


tanin)
e. Deteksi steroid ( Uji Liebermann-Burchard)

0,5 gram Dimasukkan Ditambah 2


ekstrak kering tabung reaksi ml kloroform

Ditambah 2
Muncul
ml asam
warna merah
sulfat pekat
f. Deteksi saponin ( Uji Foam )

0,2 gram ekstrak kering

Dimasukkan tabung reaksi

Ditambah 6 ml air suling

Dikocok

Terbentuk busa terus – menerus selama + 10 menit


g. Deteksi fenol ( Uji Ferri Klorida )

• 0,2 gram ekstrak kering


1

• Dimasukkan tabung reaksi


2

• Ditambah 2 ml chloridewas besi


3

• Terbentuk warna kebiruan


4
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
a. Penentuan total konten flavonoid

Menggunakan metode kolorimetri aluminium klorida

Flavonoid ditentukan sbg quersetin setara

Dari quercetin standar dg konsentrasi (10, 25, 50, 75 dan


100 µ g/ml) disiapkan dengan metanol
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
a. Penentuan total konten flavonoid

Ambil masing – masing 100 µl pengenceran quersetin


dicampur dg 500 µl air suling

Ditambah 100 µl natrium nitrat 5%, lalu didiamkan


selama 6 menit

Ditambahkan 150 µl larutan aluminium klorida 10%, lalu


didiamkan selama 5 menit
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
a. Penentuan total konten flavonoid

Ditambahkan 200 µl larutan 1 M natrium hidroksida

Dihitung absorbansi campuran dg panjang gelombang 510 nm dengan


sinar tunggal UV-VIS spectrofotometer (UV mini- 1240)

Dilakukan kembali dengan prosedur yang sama untuk kedua dari


ekstrak air dan etanol dari pulp, biji dan seluruh buah T. tetraptera

Pengukuran dilakukan rangkap tiga (3) untuk masing – masing analisis


 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
b. Penentuan total konten fenol

• Volume 0,5 aliquot ml 10, 20, 40, 80 dan 100 µ g / ml gallic larutan asam
1 • Dicampur dg 2 ml Folin-Ciocalteu reagen (diencerkan 1 : 10 dengan air de-terionisasi)

• Dinetralkan dengan 4 ml larutan natrium karbonat (7,5%, w/v)


2 • Diinkubasi pada suhu kamar slma 30 menit dg intermiten gemetar u/ pembangun warna

• Absorbansi warna biru diukur pada 765 nm dg UV-VIS spectrophotometer (UV mini-
3 1240)

• Prosedur dilakukan berulang untuk ekstrak etanol dari pilp, biji, dan seluruh buah dari
4 T. tetraptera dan semua pengukuran dilakukan rangkap 3 u/ setiap analisis
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif 5000µl air + 100 µl diosgenin
c. Penentuan total konten saponin = larutan blanko
500 µl reagen vanillin
Abrosbansi diulang untuk ekstrak
Ditambah 5 ml asam sulfat 72% etanol sampel seluruh buah dari
T.tetrapter dilakukan sebanyak
Disimpan dibak air 60 cc, 10 3x
menit

dinginkan Total saponin ditentukkan dari


standar larutan blanko dan
dinyatakan sebagai mg/g
Dilakukan absorbansi sebanyak diosgenin setara dengan
3x, pada panjang gelombang 544 dioegenin dari ekstrak kring
nm
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
d. Penentuan total konten alkaloid

• 1 gram ekstrak kasar pulp, biji, dan seluruh buah T. tetraptera


• Ditambahkan 50 ml 10% asam klorida dalam etanol
1.

• Ditutup dan didiamkan selama 4 jam


• Disaring
2.

• Filtrat diuapkan dengan rotary evaporator sampai volume seperempat


(¼) dari volume asli dg konsentrasi 78ºC
3.
 Analisa fitokimia
Test Fitokimia Kuantitatif
d. Penentuan total konten alkaloid
• Diambil 15 tetes amonium hidroksida lalu ditambahkan tetes
demi tetes
4.

• Setelah 3 jam , larutan yang tercampur diambil endapan dan


dicuci dengan 20 ml 0,1 M amonium hidroksida lalu disaring lagi
5.

• Terdapat filtrat dan residu. Residu adalah alkaloid, yang


dikeringkan dan ditimbang
6.
Aktivitas
AktivitasOksidan
Oksidan

a. Pembuatan reagen molibdat

1 ml asam sulfat 0,6 M , lalu dimasukkan ke beaker glass

Ditambah 28 ml natrium fosfat

Ditambahkan 4 ml ammoniumbybdae

Ditambah 20 ml aquadest, dimasukkan labu ukur

Ditambah aquadest ad 50 ml, lalu kocok


Aktivitas
AktivitasOksidan
Oksidan

b. Penentuan aktivitas oksidan

Diambil 0,3 ml ekstrak, lalu masuk 3 tabung reaksi

Ditambahkan 0,3 ml larutan pereaksi molibdat

Setiap tabung diinkubasi pada 95º C selama 90 menit

Dinormalisasi pada suhu kamar 30 menit, lalu dicari


absorbansinya dg panjang gelombang 695 nm

terhadap kosong yg berisi 100µ L metanol dicampur dengan


900µ L larutan reagen
Penentuan kapasitas pengkelat logam

0,1 Mm FeSO₄ dan 0,25 ferrozine


Fe₂ Ferrrozine kompleks

ditambahkan ke dalam 0,2 ml


ekstrak

Inkubasi pada suhu kamar, 10


menit

Menghitung absorbansi
A. TES FITOKIMIA KUALITATIF

HASIL
DAN
PEMBAHASAN
Menurut tabel 1. diungkapkan tentang efek dari dua pelarut (air suling dan etanol)
pada ekstraksi fitokimia dari T. tetraptera. Dimana dalam dua bentuk ekstrak, jumlah
yang lebih besar dari fitokimia yang hadir dalam ekstrak etanol dibandingkan ekstrak
air. Demikian 18 tes fitokimia yang positif dan 3 negatif dalam ekstrak etanol
sedangkan 16 fitokimia diuji positif dan 5 negatif dalam ekstrak air dari pulp, biji, dan
seluruh buah dari T. tetraptera. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol lebih
besar dari pada ekstrak air, karena etanol memiliki potensi yang lebih besar untuk
menembus membran sel dan promosi penyerapan fisiologi cepat ekstrak dari bahan
tanaman atau fitokimia lebih larut dalam etanol dari air, sehingga pelarut yang cocok
digunakan untuk ekstrak fitokimia pada T.Tetraptera adalah etanol.
B. Pemulihan (%) dari analit dalam ekstrak air dan
etanol T. Tetraptera

HASIL
DAN

PEMBAH
ASAN
Menurut tablel 2. merupakan hasil penentuan akurasi dari metode yang
digunakan dan pemulihan analit (senyawa dari bunga) yang menggunakan tes
pemulihan logam. Dimana tes ini dilakukan dengan pemisahan sampel menjadi
dua (2) bagian dan jumlah yang diketahui dari larutan standar analit
ditambahkan ke dalam satu bagian. Konsentrasi analit ditentukan untuk bagian
berduri, F, dan tidak berbintik, I, dan persen pemulihan. % R dapat dihitung
sebagai berikut : %R = F – I/A * 100. Dimana A adalah konsentrasi analit
ditambahkan ke bagian berduri. Penggunaan etanol sebagai ekstraksi pelarut
memberikan pemulihan yang sangat tinggi berkisar antara 92% dan 108% dari
air suling (90% dan 102%), karena etanol memberikan hasil yang lebih tinggi
daripada air suling untuk semua analit.
C. TES FITOKIMIA KUANTITATIF

1. Fitokimia, antioksidan dan kelat logam kapasitas dalam ekstrak air T. Tetraptera.
2. Fitokimia, antioksidan dan kelat logam kapasitas dalam ekstrak etanol T. tetraptera.
Pada uji kuantitatif dilakukan untuk fitokimia (fenol, flavonoid, saponin,
alkaloid), antioksidan dan logam chelating kapasitas baik pada ekstrak air dan
etanol menggunakan spektrofotometer UV-Vis dengan prosedur standar.
Dimana sudah dijelaskan konsentrasi fenol, flavonoid, saponin dan alkaloid
baik dalam ekstrak air dan etanol dari pulp, biji dan seluruh buah dari T.
tetraptera pada tabel 3 dan 4. Jumlah fenol, flavonoid, saponin dan alkaloid
dikedua ekstrak semua menunjukkan bahwa yang lebih tinggi terdapat pada
pulp dari buah utuhatau biji. Dimana senyawa bioaktif sebagian besar telah
diperkaya dalam pulp dari bagian – bagian lain dari buah.
Selain itu pada tabel 3 dan 4 juga dijelaskan penentuan aktivitas antioksidan
yang dilakukan pada kedua ekstrak air dan etanol dari pulp, biji dan seluruh
buah dari T. tetraptera. Dalam kedua ekstrak , pulp dinyatakan bahwa banyak
antioksidan pada seluruh buah atau biji T. tetraptera. Dengan hasil diperoleh
lebih rendah dari 0,94 + 0,01 mg AAE / g. Selain itu pada tabel 3 dan 4 juga
dijelaskan tentang kapasitas logam pengkelat (PKS) demgan menggunakan
standar EDTA pada kedua ekstrak air dan etanol T. tetraptera. Dimana kapasitas
loga, pengkelat ditentukan lebih tinggi pada pulp dari buah utuh atau biji
dibandingkan dengan seluruh buah dan biji.
KESIMPULAN
KESIMPULAN

Pada studi ini menyatakan bahwa paada ekstrak T. tetraptera


mengandung senyawa bioaktif dan juga memiliki kapasitas antioksidan
dan logam berat. Pada tes skrining fitokimia mengandung flavonoid,
alkaloid , tanin, terpenoid, steroid dan saponin dalam salah satu atau
kedua ekstrak (air dan etanol) dari biji, pulp dan seluruh buah T.
tetraptera.