Anda di halaman 1dari 35

PERLAWANA

N
IPS Kelas 8 – Bab
TERHADAP PENJAJAHAN 4
PORTUGIS & VOC
www.upilkeren.blogspot.com
Faktor pendorong Perlawanan

1. Faktor politik
a. tindakan bangsa Barat yang cenderung mencampuri
urusan kerajaan setempat dengan mengganti penguasa
setempat demi menjaga kepentingan/kekuasaan atas
wilayah tertentu.
contoh :
 Portugis yang menganti sultan Tabaraji dengan sultan
Khairun
 VOC yang mengganti Sultan Ageng Tirtayasa dengan
sultan Haji
Faktor pendorong Perlawanan

1. Faktor politik
b. tindakan bangsa Barat yang mengadakan
perjanjian yang merugikan kepentingan
suatu kerajaan.
contoh :
 Hak ooktroi VOC untuk mengadakan perjanjian
mengakibatkan mereka mengadakan berbagai
perjanjian yang merugikan kerajaan setempat.
(lihat perjanjian Bongaya antara VOC dengan
Makasar)
Faktor pendorong Perlawanan

2. Faktor ekonomi
a. tindakan bangsa Barat yang menerapkan
kebijakan monopoli yang merugikan
kepentingan ekonomi kerajaan setempat.
b. Kebijakan bangsa barat yang merugikan
kegiatan perekonomian, sebagai contoh
VOC memberlakukan Pelayaran Hongi dan
Ekstirpasi
Faktor pendorong Perlawanan

3. Faktor budaya
a. tindakan bangsa barat dalam
menyebarkan agama kristen sebagai
salah satu tujuan imperialisme
mengakibatkan terjadinya perlawanan
dari penguasa setempat yang mayoritas
beragama islam
b. perbedaan persepsi budaya antara budaya
Barat dengan budaya Timur
Perlawanan terhadap
Portugis
1. Perlawanan Katir
 Latar belakang perlawanan :
 Dikuasainya Malaka oleh Portugis
mengakibatkan kerugian terhadap para
pengusaha setempat dalam mengadakan
perdagangan
 Upaya perlawanan :
 mengadakan perlawanan bersenjata dengan
bantuan Demak, tetapi gagal.
Perlawanan terhadap
Portugis
2. Perlawanan Demak (Raden Patah)
 Latar belakang perlawanan :
 Dikuasainya Malaka oleh Portugis
 Upaya perlawanan :
 Mengirimkan pasukan ke Malaka dipimpin
Dipati Unus (Pangeran Sabrang Lor) untuk
mengusir Portugis. Upaya ini gagal karena
Demak kalah persenjataan
Perlawanan terhadap
Portugis
3. Perlawanan Sultan Iskandar Muda (Aceh)
 Latar belakang perlawanan :
 Dikuasainya Malaka oleh Portugis menjadi ancaman
bagi Aceh
 Keinginan membebaskan sesama kerajaan Muslim
dari pengaruh Barat sehingga Aceh bisa
menyebarkan agama Islam di Sumatera
 Upaya perlawanan :
 mengadakan perlawanan bersenjata dengan
bersekutu dengan Johor & Demak, sehingga terjadi
beberapa kali peperangan, tetapi Aceh tidak bisa
mengusir Portugis, namun dilain pihak Portugis juga
tidak bisa meluaskan pengaruhnya di luar Malaka.
Perlawanan terhadap
Portugis
4. Perlawanan Ternate
 Sudah lama dilakukan sejak Sultan Dajalo, tapi
akhirnya dapat dibujuk Antonio Galvao. Perlawanan
dilanjutkan oleh Sultan Khairun.
 Latar belakang perlawanan :
 Monopoli perdagangan yang membuat petani menderita
 Campur tangan Portugis di Ternate, khususnya dalam
penangkapan raja Tabariji
 Upaya perlawanan :
 mengadakan perundingan, namun Portugis membunuh
Sultan Khairun 27 Februari 1570.
 perlawanan dilanjutkan Baabullah dan berhasil mengusir
Portugis dari Ternate tahun 1575
Perlawanan terhadap VOC

1. Perlawanan Maluku
 Latar belakang perlawanan :
 Penerapan sistem monopoli perdagangan yang
bertentangan dengan perdagangan terbuka
 Upaya perlawanan :
 Tahun 1635 – 1646 terjadi perlawanan Kaikali dan
Talukabesi tapi gagal
 Tahun 1650 terjadi perlawanan Saidi, juga gagal.
 Tahun 1675 perlawanan Jailolo, juga gagal
Perlawanan terhadap VOC

2. Perlawanan Mataram
 Latar belakang perlawanan :
 Keinginan VOC untuk memonopoli jalur
perdagangan di Jepara.
 Mataram menganggap VOC sebagai saingan yang
membahayakan kedudukan Mataram di Jawa.
 Upaya perlawanan :
 Tumenggung Bahurekso menyerang kantor VOC di
Jepara sebagai aksi menolak VOC. Akibatnya Japara
diserang VOC.
Perlawanan terhadap VOC

2. Perlawanan Mataram
 Upaya perlawanan :
 Tahun 1628, Sultan Agung menyerang VOC di
Batavia dibawah pimpinan Tumenggung Bahurekso
untuk pertama kalinya. Sultan Agung membagi
pasukannya dalam beberapa bagian (lihat hal 72).
Usaha ini gagal karena kurang persediaan
perbekalan sehingga pasukan Mataram kelaparan.
Tumenggung Bahurekso gugur & Mataram menarik
pasukannya.
Perlawanan terhadap VOC

2. Perlawanan Mataram
 Upaya perlawanan :
 Tahun 1629, Sultan Agung menyerang VOC
keduakalinya di Batavia. Persiapan kedua lebih
lengkap dengan membangun gudang perbekalan di
Tegal dan Cirebon.
 Upaya ini gagal karena VOC membakar gudang-
gudang makanan akibatnya pasukan Mataram
kelaparan.
 Kegagalan kedua mengakibatkan Sultan Agung
berencana menyerang ketigakalinya, namun karena
wafat, maka perlawanan Mataram terhenti.
Perlawanan terhadap VOC

3. Perlawanan Banten
 Latar belakang perlawanan :
 Tindakan pedagang Belanda yang cenderung kasar terhadap
pedagang lain.
 Tindakan VOC yang merebut Jayakarta dari kekuasaan Banten
dn dijadikannya sebagai kota Batavia
 Upaya perlawanan Banten :
 Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Banten berhasil merebut
berapa kapal VOC dan merusak perkebunan milik VOC, tapi
Sultan Ageng tidak berniat menyerang VOC di Batavia.
 Setelah sultan ditangkap, perlawanan diteruskan Pangeran
Purbaya, Kyai Tapa dan Nyi Mas Melati, namun gagal.
Perlawanan terhadap VOC

3. Perlawanan Banten
 Tindakan VOC untuk menanamkan kekuasaan
di Banten :
 Menjalin hubungan persahabatan dan bahkan
bersekutu menyingkirkan Pangeran Jayakarta.
 Mengadakan politik adu domba antara Sultan
Ageng Tirtayasa dengan anaknya, Pangeran Hadji,
dan berhasil menyingkirkan sultan Ageng
 Mengadakan perjanjian yang merugikan dengan
Sultan Hadji (lihat hal 74)
Perlawanan terhadap VOC

4. Perlawanan Makasar
 Latar belakang perlawanan :
 Keinginan VOC untuk mendapatkan hak monopoli
 Tindakan VOC yang mengganggu kegiatan kapal-
kapal Makasar.
 Tindakan VOC yang menduduki benteng
Pa’Nakukkang
 Tuntutan VOC atas ganti rugi terhadap penyerangan
kapal VOC, de Walvis dan Leuvin.
 Upaya perlawanan :
 Dilakukan oleh Sultan Hasanuddin, Kraeng Tallo,
Kraeng Popo & Kraeng Karunrung
Perlawanan terhadap VOC

4. Perlawanan Makasar
 Upaya VOC :
 Mengadakan persahabatan dengan Aru Palaka
dari Bone untuk menyerang Makasar
 Menyerang Makasar dari dua jurusan. Dari laut
melalui kapal VOC dan dari daratan melalui
pasukan Bone. Tahun 1667 VOC dibawah
Cornelis Speelman berhasir menguasai makasar
dan memaksa diadakan perjanjian Bongaya.
Perlawanan terhadap VOC

4. Perlawanan Makasar
• Isi perjanjian Bongaya :
 Makasar mengijinkan VOC memberlakukan
monopoli perdagangan di sekitar Makasar
 Makasar harus membayar hutang perang VOC
 Makasar mengijinkan kerajaan Bone melepaskan
diri dari Makasar
 Makasar menyerahkan sebagian wilayahnya
kepada VOC dan Bone
 Makasar harus menyerahkan 1.000 budak kepada
VOC untuk bekerja pada VOC
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
1. Perlawanan Saparua (Thomas Matulesi /
Patimura, dkk)
 Latar belakang:
 Pemerintah kolonial menurunkan tarif hasil bumi
sementara pembayaran cenderung ditunda-tunda.
 Diberlakukannya kembali penyerahan wajib & wajib
kerja.
 Pemberlakukan uang kertas
 Para pemuda dipaksa untuk menjadi tentara
Belanda
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
1. Perlawanan Saparua (Thomas Matulesi /
Patimura, dkk)
 Upaya perlawanan :
 Awalnya mengajukan keluhan atas tindakan
semena-mena Belanda
 Menyerbu markas belanda setelah keluhan tidak
diperhatikan Belanda, setelah itu mengadakan
perlawanan secara gerilya
 Perlawanan berakhir dengan menyerahnya
tokoh perlawanan dan dihukum gantung
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
2. Perlawanan Paderi (Imam Bonjol, dkk)
 Latar belakang:
 Awalnya merupakan gerakan Wahabi yang
didukung kelompok Paderi berupaya memurnikan
ajaran Islam di Sumbar.
 Gerakan ini mendapatkan tentangan dari kaum adat
(bangsawan dan masyarakat golongan menengah)
yang didukung oleh pemerintah kolonial melalui
perjanjian 10 Februari 1821 (de Puy & Tuanku
Suruaso) yang mengijinkan Belanda menduduki
beberapa daerah di Sumbar untuk melawan Paderi
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
2. Perlawanan Paderi (Imam Bonjol, dkk)
 Proses Perlawanan :
 Perang paderi terdiri atas 2 tahap :
 Tahap I (1821 – 1825), ditandai dengan serangan
Paderi pada pos-pos Belanda yang berhasil
memukul Belanda. Untuk itu Belanda
mengadakan perjanjian Bonjol, 22 Januari 1824
tapi dilanggar oleh Belanda sendiri. Tanggal 15
November 1825 diadakan perdamaian Padang
karena Belanda sibuk menghadapi perang
Diponegoro di Jawa Tengah.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
2. Perlawanan Paderi (Imam Bonjol, dkk)
 Proses Perlawanan :
 Perang paderi terdiri atas 2 tahap :
 Tahap II (1830 – 1837), setelah perang Diponegoro selesai,
Belanda menyerang kembali markas Paderi, bahkan
Belanda menggunakan Sentot Ali Basyah (pembantu
Diponegoro) untuk membujuk & berperang melawan
Paderi. 21 September perlawanan paderi berkurang setelah
benteng bonjol jatuh dan imam bonjol ditangkap. Namun
perlawanan paderi masih dilakukan secara gerilya oleh
Tuanku Tambusai, Tuanku nan cerdik dan Tuanku nan
alahan sampai akhirnya menyerah.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
3. Perlawanan Pangeran Diponegoro
 Latar belakang:
 Penderitaan rakyat akibat pungutan pajak yang
tinggi.
 Campur tangan Belanda dalam urusan keraton,
seperti penggantian HB II dengan HB III.
 Gaya hidup keraton yang mewah dan bertentangan
dengan kebiasaan adat dan agama.
 Tersingkirnya Diponegoro dari kekuasaan di keraton
karena HB III cenderung berkompromi dengan
Belanda.
 Pembangunan jalan yang menerobos makam
keluarga Diponegoro
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
3. Perlawanan Diponegoro
 Proses Perlawanan :
 Pada awalnya Diponegoro memilih menyingkir
di Tlogoredjo dari urusan keraton dengan
mempelajari keagamaan. Namun setelah kasus
pembongkaran makan keluarga, ia memilih
mengangkat senjata dengan membongkar
patok jalan dan menyerang pembangunan jalan.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
3. Perlawanan Diponegoro
 Proses Perlawanan :
 Kediaman Diponegoro di Tlogoredjo diserang Belanda,
sehingga ia pindahkan ke gua Selarong dan melakukan perang
secara gerilya.
 Untuk melawan Diponegoro, Belanda menugaskan HM de
Kock untuk menjalankan Taktik Benteng Stelsel, yaitu
mendirikan markas Belanda untuk setiap daerah P.
Diponegoro yang telah dikuasai Belanda.
 Perlawanan Diponegoro melemah setelah Kyai Maja & Sentot
Ali Basyah menyerah.
 28 Maret 1828, Diponegoro bersedia berunding, tapi malah
ditangkap Belanda dan di buang di Makasar.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
4. Perlawanan Aceh
 Latar belakang:
 Pembajakan kapal-kapal Eropa menjadi alasan
Belanda untuk menyerang Aceh (yang sebenarnya
juga ingin menguasai Aceh yang letaknya strategis
dalam jalur pelayaran dan perdagangan). Belanda
mengultimatum Aceh untuk menghentikan
pembajakan dan mengakui kedaulatan pemerintah
kolonial atas Aceh. Padahal berdasarkan Traktat
London, 1824, kemerdekaan & kedaulatan Aceh
dijamin oleh bangsa-bangsa Eropa.
 Belanda & Inggris bersepakat dalam Traktat
Sumatera untuk berbagi kekuasan di Aceh dan Siak
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
4. Perlawanan Aceh
 Proses Perlawanan :
 Aceh mempersiapkan perang dengan minta dukungan dari
Turki, Italia dan Amerika Serikat.
 Pusat perlawanan Aceh berada di Masjid Baiturrahman dengan
mendapatkan dukungan secara fanatik dari segenap
masyarakat Aceh (bangsawan, ulama dan rakyat), karena
perang Aceh dijadikan sebagai perang agama.
 Perlawanan rakyat Aceh dilakukan secara perang frontal dan
perang gerilya.
 Tahun 1882, Teuku Umar dan pasukannya menyerahkan diri
sehingga diterima oleh Belanda bahkan diberi persenjataan
untuk berperang melawan bangsa Aceh. Namun, setelah
mendapat senjata, Teuku Umar kembali bergabung dengan
perlawanan Aceh.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
4. Perlawanan Aceh
 Upaya Belanda :
 Setelah berperang secara frontal dan dapat
menguasai sebagian Aceh, Belanda menerapkan
strategi Benteng Stelsel tapi gagal. Demikian juga
dengan strategi Concentratie Stelsel.
 Belanda mengutus Dr. Snouck Hugronje, seorang
Belanda keturunan Turki yang fasih berbahasa Arab,
untuk meneliti budaya masyarakat Aceh di Mekah
dan Aceh
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
4. Perlawanan Aceh
 Upaya Belanda :
 Atas usulan Hugronje, Belanda memberlakukan dua
tindakan, yaitu :
 Memberlakukan politik pecah belah dengan memberikan
jabatan kepada kaum uleebalang (bangsawan) dalam
pemerintahan Belanda, sehingga terjadi perpecahan antara
ulama dengan uleebalang.
 Membentuk pasukan Marechaussee (marsose) yang
terdiri atas orang Belanda dan orang pribumi yang paham
budaya Aceh dan fasih berbicara bahasa Aceh dibawah
pimpinan Jendral van Heutz.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
4. Perlawanan Aceh
 Upaya Belanda :
 Upaya Belanda cukup efektif, sebagai hasilnya
adalah perlawanan Aceh mulai terdesak.
Bahkan, Teuku Umar berhasil terbunuh dan Cut
Nyak Dien dapat ditangkap. Penangkapan Cut
Nyak Dien pada tahun 1909 mengakhiri
perlawanan Aceh.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
5. Perlawanan Banjar
 Latar belakang:
 Belanda mencampuri urusan kerajaan Banjar
dengan mengangkat Pangeran Tamjid Ullah
sebagai raja Banjar. Karena tidak disukai rakyat,
maka Pangeran Tamjid Ullah turun tahta.
Namun, Belanda kemudian menghapuskan
kerajaan Banjar dan menggantinya dengan
pemerintahan kolonial Belanda
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
5. Perlawanan Banjar
 Proses perlawanan :
 Dibawah pimpinan Pangeran Prabu Anom,
Pangeran Hidayat dan Pangeran Antasari, rakyat
Banjar berperang melawan Belanda dan Pangeran
Tamjid Ullah. Namun, perlawanan tersebut secara
bertahap dapat dikalahkan oleh Belanda, bahkan
Pangeran Prabu Anom dan Pangeran Hidayat
tertangkap. Sementara Pangeran Antasari tewas
dalam peperangan.
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
6. Perlawanan Bali (Perang Jagaraga /
Puputan)
 Latar belakang:
 Belanda dan kerajan Buleleng bersengketa atas
Hak Tawan Karang yang diberlakukan Buleleng
terhadap kapal Belanda yang karam / kandas di
perairan Bali
Perlawanan terhadap
Pemerintah Kolonial Belanda
6. Perlawanan Bali (Perang Jagaraga / Puputan)
 Proses Perlawanan :
 Belanda menyerbu Buleleng dan dapat menduduki
kerajaan tersebu yang memindahkan perlawanannya ke
Jagaraga.
 Belanda berupaya menyerbu Jagaraga, tapi gagal.
Setelah mengirimkan pasukan dalam jumlah besar,
Belanda dapat menguasai Jagaraga.
 Raja Buleleng dan Gusti Gde Jelantik memberlakukan
perang Puputan (frontal / sampai mati) dalam suatu
perang yang diikuti hampir semua rakyat (laki-
perempuan / tua-anak-anak) yang berakhir dengan
tewasnya mereka semua dan Jagaraga dapat dikuasai
Belanda