Anda di halaman 1dari 10

1

PENERAPAN SENAM AEROBIC


LOW IMPACT PADA PASIEN
DENGAN GANGGUAN
PERSEPSI SENSORI :
HALUSINASI PENDENGARAN
DI RUANG BANGSAL RUMAH
SAKIT KHUSUS JIWA
SOEPRAPTO PROVINSI
BENGKULU TAHUN 2020

Presented By:
NOFITA SARI
P05120217016
WWW.SLIDEFOREST.COM
BAB IV
HASIL STUDI KASUS DAN 2
PEMBAHASAN

A. Hasil studi kasus

1. Gambaran karakteristik pasien

Karakteristik Pasien 1 Pasien 2


pasien

Identitas pasien Seorang pasien laki-laki Tn. R berusia Seorang pasien laki-laki Tn. D
36 tahun beragama islam, berusia 35 tahun beragama islam,
berpendidikan sekolah menengah berpendidikan tidak sekolah,
pertama (SMP), bekerja sebagai bekerja sebagai tukang cuci mobil,
tukang kebun, bersuku rejang dan bersuku rejang, dan tinggal di
tinggal di argamakmur. curup.

WWW.SLIDEFOREST.COM
3
2. Gambaran fase pra interaksi

Tabel 4.2 Gambaran pengkajian riwayat kesehatan pasien


Fase pra Pasien 1 Pasien 2
interaksi

Alasan masuk Pasien masuk RSKJ Soeprapto Bengkulu hari selasa tanggal 28 januari Pasien masuk RSKJ Soeprapto Bengkulu hari kamis tanggal 02 januari 2020 jam 10.00
2020 jam 11.00 WIB diantar oleh keluarga dengan keluhan sebelum WIB diantar oleh waknya dengan keluhan sebelum masuk rumah sakit telah mukul
masuk rumah sakit pasien sering mengamuk, sering mengejar orang, istri kakak iparnya, karena kesal ditegur tidak membuang sampah pada tempatnya.
mukul orang, mau membakar rumah sendiri, mengganggu lingkungan
dan sering menstop mobil dijalan.

Keluhan Pada saat dilakukan pengkajian hari senin 10 februari 2020 jam 11.00 Pada saat dilakukan pengkajian hari senin 10 februari 2020 jam 12.00 WIB Tn. D
sekarang WIB pasien tampak hanya duduk ditempat tidur dan tidak marah lagi, Tn. tampak gelisah dan mondar-mandir, tatapan mata tampak kosong. Tn. D mengatakan
R mengatakan mendengar suara anak kecil yang memanggil namanya, mendengar suara perempuan yang mengajak pasien berbicara dan ketika Tn. D
terkadang suara anak kecil itu menyuruh Tn. R untuk menciderai diri berbicara suara tersebut ikut berbicara. Tn. D mengatakan sangat terganggu dengan
sendiri. Tn. R mengatakan sangat terganggu dengan suara anak kecil yang suara perempuan yang didengarnya.
didengarnya.

Faktor Keluarga mengatakan bahwa Tn. R baru pertama kali masuk ke rumah Keluarga mengatakan bahwa Tn. D pernah dirawat di RSKJ Soeprapto Bengkulu tetapi
predisposisi sakit kusus jiwa (RSKJ) Soeprapto Bengkulu. Tidak ada anggota keluarga pasien tidak rutin minum obat dirumah. Keluarga pasien mengatakan ada anggota
yang mengalami gangguan jiwa sebelumnya, pengalaman masa lalu yang keluarga yang mengalami gangguan jiwa yaitu ibu kandung pasien sendiri. Keluarga
tidak menyenangkan bagi pasien yaitu mengalami aniaya fisik pernah mengatakan Tn. D mulai mengalami gangguan jiwa ± 7 tahun yang lalu karena sering
dipasung dirumah karena kambuh ± 5 tahun yg lalu. menghisap lem untuk menenangkan pikirannya setelah kedua orang tuanya bercerai.

WWW.SLIDEFOREST.COM
Tabel 4.3 Gambaran pengkajian kebutuhan psikososial pasien
4
Kebutuhan; Pasien 1 Pasien 2
Persepsi

Isi Pasien mengatakan mendengar suara anak kecil yang memanggil namanya, Pasien mengatakan mendengar suara perempuan yang mengajak pasien
suara anak kecil itu menyuruh Tn. R untuk menciderai diri sendiri. berbicara dan ketika Tn. D berbicara suara tersebut ikut berbicara.

Waktu Suara anak kecil itu terdengar pada waktu siang dan sore hari, Suara perempuan itu terdengar pada waktu istirahat,
frekuensi dengan frekuensi 4x sehari, dengan durasi 1 jam, dengan frekuensi 5x sehari, dengan durasi 1 jam.
Situasi dalam keadaan pasien sedang menyendiri dan melamun. dalam keadaan pasien sedang menyendiri dan melamun
Respon Sebelum mengetahui cara menghardik respon pasien saat suara itu muncul Sebelum pasien mengetahui cara menghardik respon pasien saat suara itu
adalah berbicara dan tertawa sendiri . muncul adalah pasien tampak gelisah dan mondar-mandir.

Tabel 4.4 Gambaran hasil kolaborasi/terapi medik pasien

Nama pasien Hasil kolaborasi atau terapi medic


Tn. R Terapi medik : Risperidon ( 2x2 mg)
Nomor rekam medik : 1) Indikasi : menangani skizofrenia dan gangguan bipolar
071220
2) Kontraindikasi : Wanita hamil dan menyusui
3) Fungsi : obat penenang fikiran

Tn.D Terapi medik : THP (triheksifenidil) 1x2 mg.


Nomor rekam medik : 1) Indikasi : mengatasi gejala ekstrapiramidal, baik akibat penyakit Parkinson atau efek samping obat seperti antipsikotik.
032864 2) Kontraindikasi : retensi urin, glaucoma dan obstruksi saluran cerna.
3) Fungsi obat : mengurangi efek samping obat antipsikotik pada pasien skizofrenia

WWW.SLIDEFOREST.COM
5
Gambaran persiapan alat dan bahan utk penerapan senam aerobic
low impact 3. Gambaran fase orientasi
Fase orientasi Pasien 1 Pasien 2
Bahan dan alat yang digunakan : Salam terapeutik Pada fase orientasi perawat memberi salam dan Pada fase orientasi perawat memberi salam dan
1. perawat sendiri sebagai instruktur,
memperkenalkan diri terlebih dahulu. memperkenalkan diri terlebih dahulu.
2. serta gerakan-gerakan senam aerobic low
impact yang dilihat melalui SOP senam. Evaluasi validasi Setelah itu perawat mengidentifikasi pasien dengan Setelah itu perawat mengidentifikasi pasien dengan
3. menyiapkan speaker, laptop, music, menanyakan nama pasien, umur dan keluhan menanyakan nama pasien, umur dan keluhan pasien.
persediaan minum, dan kondisi pasien. Kemudian perawat menanyakan kabar Kemudian perawat menanyakan kabar pasien dan
lingkungan. pasien dan menanyakan frekuensi serta durasi menanyakan frekuensi serta durasi halusinasi yang
halusinasi yang dirasakan. Tn. R mengatakan dirasakan. Tn. D mengatakan frekuensi halusinasi
frekuensi halusinasi muncul 4x sehari dengan durasi muncul 5x sehari dengan durasi satu jam.
satu jam.

Informed consent Dari hasil yang didapatkan perawat melakukan Dari hasil yang didapatkan perawat melakukan
informed consent dengan menjelaskan tindakan informed consent dengan menjelaskan tindakan
pemberian senam aerobic low impact yang pemberian senam aerobic low impact yang
bertujuan untuk mengontrol halusiansi pasien, bertujuan untuk mengontrol halusinasi pasien,
sehingga halusinasi pasien dapat berkurang. Senam sehingga halusinasi pasien dapat berkurang. Senam
aerobic low impact akan dilakukan 4 kali selama aerobic low impact akan dilakukan 4 kali selama
seminggu. Setelah perawat menjelaskan tentang seminggu. Setelah perawat menjelaskan tentang
penerapan senam aerobic low impact pasien penerapan senam aerobic low impact pasien
bersedia menjadi responden selama seminggu. bersedia menjadi responden selama seminggu.
 
WWW.SLIDEFOREST.COM
4. Gambaran fase interaksi
6

Fase interaksi Pasien 1 Pasien 2


Persiapan alat Pada fase interaksi perawat mempersiapkan alat terlebih dahulu Pada fase interaksi perawat mempersiapkan alat terlebih dahulu berupa
berupa speaker, laptop, music, persediaan minum dan handuk yang speaker, laptop, music, persediaan minum dan handuk yang akan digunakan.
akan digunakan.

Persiapan pasien Sebelum senam aerobic low impact diberikan, perawat mengatur Sebelum senam aerobic low impact diberikan, perawat mengatur posisi yang
posisi yang nyaman bagi pasien, dimana pasien lebih nyaman berada nyaman bagi pasien, dimana pasien lebih nyaman berada dibelakang perawat.
dibelakang perawat.

Persiapan lingkungan Perawat menciptakan lingkungan yang nyaman untuk melakukan Perawat menciptakan lingkungan yang nyaman untuk melakukan senam
senam aerobic low impact seperti kondisi lantai dalam keadaan bersih, aerobic low impact seperti kondisi lantai dalam keadaan bersih, kering, tidak
kering, tidak licin dan sirkulasi udara yang memadai jendela terbuka licin dan sirkulasi udara yang memadai jendela terbuka sehingga membantu
sehingga membantu keringat cepat menguap, dan menurunkan suhu keringat cepat menguap, dan menurunkan suhu tubuh.
tubuh.

Persiapan petugas Persiapan perawat sebelum melakukan senam aerobic low impact Persiapan perawat sebelum melakukan senam aerobic low impact perawat
perawat sudah hapal gerakan senam, dan kondisi tubuh dalam sudah hapal gerakan senam, dan kondisi tubuh dalam keadaan fit.
keadaan fit.

Nofita sari\BAB IV HASIL STUDI KASUS & PEMBAHASAN.docx

WWW.SLIDEFOREST.COM
5. Gambaran fase terminasi
Fase terminasi Pasien 1 Pasien 2 7
Evaluasi subjektif dan Pada fase terminasi perawat menanyakan perasaan pasien pada hari keempat Pada fase terminasi perawat menanyakan perasaan pasien pada hari keempat setelah
objektif setelah dilakukan senam aerobic low impact, dimana Tn. R mengatakan senang dilakukan senam aerobic low impact, dimana Tn. D mengatakan halusinasi masih
dan lebih rileks dari biasanya. muncul pada pasien sedang istirahat, Tn. D tampak putus asa.
Rencana tindak lanjut  Menganjurkan Tn. R melakukan aktivitas senam aerobic low impact setiap  Menganjurkan Tn. D melakukan aktivitas senam aerobic low impact setiap pukul
pukul 14.00 WIB 14.00 WIB
 Memasukkan jadwal senam kegiatan aktivitas terjadwal pasien.  Memasukkan jadwal senam kegiatan aktivitas terjadwal pasien.
 Selanjutnya perawat mengontrak waktu untuk mengkaji frekuensi dan durasi  Selanjutnya perawat mengontrak waktu untuk mengkaji frekuensi dan durasi
halusinasi pasien setelah diberikan senam aerobic low impact dan rencana halusinasi pasien setelah diberikan senam aerobic low impact dan rencana tindak
tindak lanjut pada hari selanjutnya. lanjut pada hari selanjutnya.
Berpamitan Perawat memberitahu jika hari ini minggu 16 februari 2020 adalah hari terakhir Perawat memberitahu jika hari ini minggu 16 februari 2020 adalah hari terakhir
melakukan penelitian terhadap Tn. R diruangan camar RSKJ Soeprapto Bengkulu melakukan penelitian terhadap Tn. D diruangan camar RSKJ Soeprapto Bengkulu dan
dan memberitahu jika setelah rutin melakukan senam aerobic selama 7 hari memberitahu jika setelah rutin melakukan senam aerobic selama 7 hari didapatkan
didapatkan perubahan pasien : perubahan pasien :
 Pasien mengatakan suasana hatinya menjadi baik setelah rutin melakukan  Pasien tampak harus dipantau terus untuk melakukan senam aerobic low impact.
senam aerobic low impact.  Pasien mengatakan halusinasi masih muncul pada waktu istirahat.
 pasien mengatakan tidak mendengar suara-suara itu lagi  Pasien tampak sedikit tenang
 Raut muka pasien tampak senang  Pasien tidak mondar-mandir lagi
 Pasien tampak lebih rileks dari biasanya. Setelah selesai penelitian hari minggu, tanggal 16 februari 2020 pengobatan akan
Pada hari sabtu tanggal 22 februari 2020 pasien dinyatakan oleh dokter sudah dilanjutkan oleh perawat ruangan. Untuk perencanaan pulang belum ada karena
boleh pulang, karena kondisi pasien sudah membaik. Untuk pengobatan pasien belum dinyatakan membaik oleh dokter dan perlu dilakukan perawatan lebih
dilakukan rawat jalan, jika obat pasien telah habis pasien dapat menebusnya lama di RSKJ Soeprapto Bengkulu.
kembali di apotek RSKJ Soeprapto Bengkulu.

WWW.SLIDEFOREST.COM
B. Pembahasan 8

Nofita sari\BAB IV HASIL STUDI KASUS & PEMBAHASAN.docx C. Keterbatasan

Pada penelitian ini terdapat kelemahan yang menjadi keterbatasan penelitian. Keterbatasan
ini dapat berasal dari perawat sendiri maupun pasien. Beberapa keterbatasan yang ada pada
perawat yaitu, secara teoritis banyak sekali masalah yang harus diteliti dengan Gangguan
persepsi sensori : halusinasi pendengaran, tetapi karena keterbatasan waktu, interaksi
dengan pasien. Maka penelitian ini hanya meneliti beberapa variabel yang terkait dengan
Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran yaitu ; penyebab Gangguan persepsi
sensori : halusinasi pendengaran, tanda dan gejala Gangguan persepsi sensori : halusinasi
pendengaran serta frekuensi dan durasi halusinasi yang dirasakan pasien . Keterbatasan dari
pasien sendiri yaitu, terkhusus untuk Tn. D didapatkan bahwa setelah dilakukan senam
aerobic low impact pada waktu istirahat halusinasi masih muncul, interaksi yang dilakukan
pada Tn. D harus cukup lama karena Tn. D merupakan pasien ulangan yang pernah masuk
RSKJ Soeprapto sebelumnya jadi susah untuk melakukan penerapan saat interaksi tatapan
juga masih tampak kosong.
 

WWW.SLIDEFOREST.COM
Kesimpulan Saran 9

1. Bagi pasien dan keluarga


dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
Pasien hendaknya lebih memahami tentang apa penyebab
1. Pada kasus Tn. R dengan Gangguan persepsi sensori : Halusinasi
halusinasi terjadi, keluarga seharusnya berperan penting
pendengaran terdapat tanda dan gejala dimana tanda dan gejala
dalam mendukung kesembuhan pasien dengan Gangguan
yang dialami oleh Tn. R seperti ; mendengar suara anak kecil yang
persepsi sensori : Halusinasi pendengaran. Karena orang
memanggil , berbicara dan tertawa sendiri, menyuruh melakukan hal
terdekatlah faktor utama dalam kesembuhan seseorang.
yang berbahaya. Kemudian pada pasien Tn. D dengan Gangguan
persepsi sensori : Halusinasi pendengaran tanda dan gejala yang
2. Bagi perawat
dialami oleh Tn. D seperti mendengar suara perempuan yang
Karya tulis ilmiah ini sebaiknya dapat digunakan oleh
mengajak berbicara, ketika Tn. D berbicara suara tersebut ikut
perawat sebagai wawasan tambahan dan acuan intervensi
berbicara, serta gelisah dan mondar-mandir.
yang dapat diberikan pada pasien yang mengalami
2. Pengkajian kebutuhan persepsi pasien fokus pada pengkajian
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran.
frekuensi dan durasi halusinasi , sebagai alat ukur untuk membantu
Perawat sebaiknya dapat memberikan inspirasi lebih banyak
keberhasilan mengontrol halusinasi yang dirasakan pasien.
lagi dalam memberikan intervensi keperawatan pada
3. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran dapat diatasi
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran.
dengan penerapan senam aerobic low impact sebanyak 4 kali dalam
seminggu yang dilaksanakan setiap pukul 14.00 WIB selama 30 menit.
3. Bagi akademik
Dapat memberikan tambahan dan referensi untuk
meningkatkan kualitas pendidikan keperawatan pada
Gangguan persepsi sensori : Halusinasi pendengaran.

WWW.SLIDEFOREST.COM
10

THAN FOR ATTENT


KS ION

WWW.SLIDEFOREST.COM