Anda di halaman 1dari 16

PATOFISIOLOGI NEUROGENIK

INFLAMASI

Oleh :
Rahmat Hidayat
Pembimbing :
Dr. Aminuddin Aziz, Sp.THT-KL (K)
PENDAHULUAN
Istilah 'Inflamasi Neurogenik' digunakan untuk menjelaskan
konsep adanya peran saraf sensorik dalam proses inflamasi
Stricker (1876) membuktikan bagaimana saraf sensorik dapat
berkontribusi dalam inflamasi dimana ganglion dorsalis pada
anjing ketika di stimulasi secara antidromik akan
menyebabkan peningkatan vasodilatasi pada kulit.
Bayliss pada tahun 1901 dan Langley (1923) menyatakan
bahwa istilah antidromik vasodilatasi dimana ganglion dosrsalis
hanya mempunyai serabut aferen vasodilatasi
Sir Thomas Lewis mempelajari mekanisme inflamasi neurogenik
terhadap respon pada kulit yang cedera sebagai tripel respon
yaitu wheal (edema), flare (rasa panas), reddening
(kemerahan).
Pada tahun 1960an ilmuwan hungaria Nicholas Jansco yang
membuat beberapa penemuan penting dan inovasi secara
tehnik. Dia menciptakan istilah Neurogenik Inflamasi untuk
menggambarkan istilah respon inflamasi pada kulit
pembahasan
Inflamasi Neurogenik meliputi serangkaian respons inflamasi
vaskular
vaskular dan
dan non-vaskular,
non-vaskular, yang
yang dipicu
dipicu oleh
oleh aktivasi
aktivasi neuron
neuron
sensorik dengan pelepasan neuromediator inflamasi

menyebabkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas


vaskular. Efek lain dari pelepasan neuropeptida adalah
aktivasi dari glandula, recruitmen leukosit, aktifitas dari sel
imun

Yang
Yang termasuk
termasuk neuromediator
neuromediator adalah
adalah neurotrofin
neurotrofin dan
dan
neuropeptide.
neuropeptide.
Mediator Inflamasi neurogenik
Secara anatomi serabut saraf yang
memediasi inflamasi neurogenik berfungsi
sebagai nosiseptor yang berdiameter kecil
terdiri dari

serabut saraf A delta yang bermielin


mendeteksi bahaya ( kimia, suhu, dan
panas) mempunyai konduksi cepat

serabut saraf C yang tidak bermielin


mempunyai konduksi lebih lambat
Proses inflamasi neurogenik dalam menimbulkan rasa gatal dan
bersin dimana aktivasi affren serat C trigeminal dari beberapa
stimulus termasuk kontak alergen yang menghasilkan efferen
subtansi P (SP ) dan kalsitonin gene related peptide (CGRP)
melalui reflek axon menyebabkan vasodilatasi, oedem, dan
migrasi dari sel sel inflamasi
Mekanisme terjadinya simptom sinonasal dimana harus ada
kesimbangan antara saraf parasimpatis dan saraf simpatis.
Hubungan antara saraf dan sel imun pada inflamasi alergi
pada saluran pernapasan
hubungan antara Inflamasi neurogenik, peradangan alergi dan keterlibatan
sistem saraf pusat.
Bahan bahan chemical yang dapat menyebabkan
neurogenic inflamasi
Aplikasi Terapi
•• Pemblokiran
Pemblokiran langsung
langsung neurotropin
neurotropin
oleh
oleh antibodi
antibodi
Antagonisme
•• Memblokir
Memblokir reseptor
reseptor afinitas
afinitas tinggi
tinggi
Trks
Trks oleh
oleh umpan
umpan atau
atau antibodi
antibodi
neurotropin

•• .. Menipisnya
Menipisnya neuropeptida
neuropeptida di
di dalam
dalam
saraf (mis. oleh neurotoxin
Antagonisme saraf (mis. oleh neurotoxin
capsaicin)
capsaicin)
neuropeptid
•• Penghambatan
Penghambatan pelepasan
pelepasan
neuropeptida
neuropeptida sensorik
sensorik [mis.
[mis. oleh
oleh β2-
β2-
a adrenoceptor agonist, theophilin,
adrenoceptor agonist, theophilin,
cromoglycate
cromoglycate atau
atau
phosphodiesterase
phosphodiesterase (PDE4)
(PDE4) inhibitor].
inhibitor].
Difference between Allergic Rhinitis
and Migraine

Migraine
RA/Sinus Headache
 Dull pain  Throbbing pain from mild to
 Bilateral/ Unilateral severe
 Unilateral
 The location related to the
 Temporal/Retroorbital
affected sinus and worsen in
the morning  Aura (photophobia,

 No Aura phonophobia, smell)


 Nausea, vomiting
 No nausea and vomitus
 Often occur together with
 Age < 20 years old
menstruation
 No gender related  25-55 years old
 Serous  Often in Female
 Sign in face  Serous
 Respond to RA/SH theraphy  Respond to migraine therapy
TERIMA KASIH