Anda di halaman 1dari 12

Sakit dan Penyakit dalam Agama

Disusun oleh :
1. Khoirena Shonia
2. Noor Qonita Ramadani
3. Khoirul AzisFirmansyah
4. Rarastiti
Konsep Sakit dan Penyakit Menurut Agama
• Mukadimah
Sakit dan penyakit merupakan suatu peristiwa yang selalu menyertai hidup
manusia sejak jaman Nabi Adam a.s. Kita memahami apapun yang menimpa
manusia adalah takdir, sakit pun merupakan takdir. Lantas kalau sakit merupakan
takdir, kalau kita sakit kenapa harus mencari sehat/kesembuhan? Lantas buat apa
dan apa manfaat berobat? Dari sinilah landasan kita berpijak dalam memahami
sehat, sakit, obat dan upaya pengobatan
• Sehat dan Sakit Pandangan Al-Quran
Allah SWT berfirman (yang artinya),“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia
menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit
dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua Penyayang”.
Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit
yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat
gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk
menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”(QS. Al-Anbiyâ’, 21: 83-
84).
LANJUTAN.....
Ayat di atas mengisahkan bahwa Nabi Ayyub a.s. yang ditimpa penyakit, kehilangan
harta dan anak-anaknya. Dari seluruh tubuhnya hanya hati dan lidahnya yang tidak
tertimpa penyakit, karena dua organ inilah yang dibiarkan Allah tetap baik dan
digunakan oleh Nabi Ayyub a.s. untuk berdzikir dan memohon keridhaan Allah, dan
Allah pun mengabulkan doanya, hingga akhirnya Nabi Ayyub a.s. sembuh dan
dikembalikan harta dan keluarganya.
• Konsep Sehat
Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad SAW) melalui ayat-ayat al-Quran dan
sunnah Rasulullah SAW memberi perhatian yang serius terhadap kesehatan
manusia. Nabi Muhammad s.a.w. bahkan  menganggap keselamatan dan kesehatan
sebagai nikmat Allah yang terbesar yang harus diterima dengan rasa syukur. Firman
Allah dalam QS Ibrahim, 14: 7 yang berbunyi:
َ َ
ٌ ‫ن عَذ َابِي لَشَ دِيد‬ ْ ُ ‫م َولَئِن كَف َْرت‬
َّ ِ ‫م إ‬ ْ ُ ‫م لَئِن شَ ك َ ْرت‬
ْ ُ ‫م ألزِيدَنَّك‬ ْ ُ ‫ن َربُّك‬
َ َّ ‫وَإِذ ْ تَأذ‬
Artinya:“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “sesungguhnya
jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika
kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”(QS.
Ibrahim, 14:7).
Kesehatan dalam Perspektif Islam
• Islam memiliki perbedaan yang nyata dengan agama-agama lain di muka bumi ini.
Islam sebagai agama yang sempurna tidak hanya mengatur hubungan manusia
dengan Sang Khalik-nya dan alam syurga, namun Islam memiliki aturan dan
tuntunan yang bersifat komprehensif1, harmonis, jelas dan logis. Salah satu
kelebihan Islam yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah perihal perspektif Islam
dalam mengajarkan kesehatan bagi individu maupun masyarakat. “Kesehatan
merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia'' demikian sabda Nabi Muhammad
SAW. Karena kesehatan merupakan hak asasi manusia, sesuatu yang sesuai dengan
fitrah manusia, maka Islam menegaskan perlunya istiqomah memantapkan dirinya
dengan menegakkan agama Islam. Satu-satunya jalan dengan melaksanakan
perintah perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Allah berfirman: ''Hai
manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh-penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan
petunjuk dan rahmat bagi orang-orangnya yang beriman'' (QS. Yunus 57).
Konsep Sakit
• Di hadapan Allah, orang sakit bukanlah orang yang hina. Mereka justru memiliki
kedudukan yang sangat mulia.
َ
‫حتَّى‬ َ ‫م‬ٍّ َ ‫ن َواَل أذ ًى وَاَل غ‬ ٍ ‫ح ْز‬ ُ ‫م وَاَل‬ ٍّ َ‫ب وَاَل ه‬
ٍ ‫ص‬َ َ‫ب وَاَل و‬
ٍ ‫ص‬
َ َ‫ن ن‬
ْ ‫م‬
ِ ‫م‬
َ ِ ‫سل‬ ُ ْ ‫يب ال‬
ْ ‫م‬ ُ ‫ص‬ِ ُ ‫ما ي‬
َ
 ُ ‫ن خَطَايَاه‬ ْ ‫م‬ ِ ‫ه ب ِ َها‬ُ َّ ‫الشَّ وْكَةِ يُشَ اك ُ َها إِاَّل كَف ََّر الل‬
Artinya:“Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu penyakit dan keletihan,
kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri
yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-
kesalahannya”(HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah).
Bahkan Allah menjanjikan kepada orang yang sakit apabila ia bersabar dan
berikhtiar dalam sakitnya, Allah akan menghapus dosa-dosanya.
• Dalam pandangan Islam, penyakit merupakan cobaan yang diberikan Allah SWT

kepada hamba-Nya untuk menguji keimanannya. Ketika seseorang sakit disana

terkandung pahala, ampunan dan akan mengingatkan orang sakit kepada Allah

SWT. Aisyah pernah meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada

musibah yang menimpa diri seorang muslim, kecuali Allah mengampuni dosa-

dosanya, sampai-sampai sakitnya karena tertusuk duri sekalipun" (HR.

Bukhari). Allah SWT menciptakan cobaan antara lain untuk mengingatkan manusia

terhadap rahmat-rahmat yang telah diberikan-Nya. Allah SWT memberikan

penyakit agar setiap insan dapat menyadari bahwa selama ini dia telah diberi

rahmat sehat yang begitu banyak. Namun kesehatan yang dimilikinya itu sering kali

di abaikan, bahkan mungkin disia-siakan. Padahal ia mempunyai harga yang sangat

bernilai tiada tolak ukur dan bandingannya. Disamping itu, sakit juga digunakan

oleh Allah SWT untuk memperingatkan manusia atas segala dosa-dosa dan
Manajemen Menghadapi Respon Sakit dan Penyakit

• Simpati
Simpati adalah kecenderungan untuk merasakan perasaan, pikiran dan
keinginan orang lain. Simpati merupakan salah satu proses kejiwaan yang
pada intinya adalah adanya keinginan untuk memahami pihak lain.
• Empati
Empati dapat diartikan sebagai suatu keadaan jiwa yang merasa iba melihat
penderitaan orang lain dan terdorong dengan kemauan sendiri untuk
menolongnya tanpa mempersoalkan perbedaan  latar belakang agama,
budaya, bahasa, kebangsaan, etnik, golongan dan sebagainya. Jika pada
proses simpati hanya adanya keinginan untuk memahami pasien, namun
dalam empati turut merasakan emosional orang lain.
• Penguatan
Penguatan dipandang sebagai pemberian sumber kebijakan, pengetahuan,
dan keberanian bagi penerima, termasuk memberi suatu pengetahuan
tentang agama yang tertuang dalam kitab suci tertentu mengenai konteks
terkait yang dideritanya, serta memberi motivasi-motivasi yang
 
Konsistensi Beribadah dalam berbagai Kondisi Sakit

• Sebagai muslim, kita tidakboleh meninggalkan


ibadah, terutama shalat fardhu yang lima waktu.
Ketika sakitpun, kita tidak boleh meninggalkan
kewajiban tersebut. Islam telah memberikan
keringanan kepada orang sakit untuk
melaksanakan rukun shalat dan syarat-
syaratnya seperti bersuci dan lain sebagainya.
Beberapa Ibadah yang Bisa Tetap dilakukan Ketika Sakit

• Membaca Al Qur’an
Satu nasehat yang ditekankan ulama adalah mengisi dan “mencuri waktu”
ketika sakit untuk membaca Al Qur’an. Karena Al Qur’an memang bisa
mengobati kesedihan, kegelisahan hati, serta bisa mengobati penyakit fisik. Ini
berlaku untuk semua ayat dalam Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman (yang
artinya),  “Dan Kami turunkan dari Al Qur`an suatu yang menjadi penawar
kesembuhan dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al Israa : 82).
• Berdzikir kepada Allah
Waktu luang sangat banyak ketika sakit. Mungkin anggota badan lemah dan
tidak bisa bergerak tetapi kebanyakan orang sakit lisan mereka masih mudah
untuk digerakkan berdzikir kepada Allah. Berdzikir akan menenangkan hati dan
melawan kegelisahan bagi si sakit. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), 
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan
mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi
tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28).
• Berdoa kesembuhan kepada Allah
Berdoalah kepada Allah SWT dengan lemah lembut dan penuh pengharapan.
• Tetap shalat dan melakukan ibadah yang lain
Jika tidak bisa menggunakan air, ia bisa melakukan
tayammum yaitu dengan menggunakan debu
dipermukaan. Gerakan tayammum juga mudah dan
sederhana bagi orang sakit. Cukup tiga gerakan,
yaitu:
1. Menepuk permukan bumi (misalnya dinding yang
mengandung debu) dengan kedua telapak tangan
sekali tepuk kemudian meniupnya.
2. Niatkan secara ikhlas karena Allah diawali dengan
basmalah, kemudian mengusap wajah dengan
kedua tangan sekali usap.
3. Mengusap punggung telapak tangan kanan dan kiri
bergantian sampai telapak tangan dengan sekali
usap.
• Orang yang sakit terkadang berbaring lemah, dia tidak mampu shalat duduk apalagi
berdiri. Tuntunan cara shalat dengan berbaring yaitu:
1. Wajib bagi orang sakit shalat fardhu dengan cara berdiri, walaupun bersandar ke tembok,
tiang, atau tongkat (jika mampu).
2. Jika tidak mampu shalat berdiri, maka shalat dengan cara duduk. Yang lebih afdhal,
duduk bersila ketika posisi berdiri dan rukuknya. Dan duduk iftirasy seperti biasa ketika
duduk antara dua sujud.
3. Jika tidak mampu shalat duduk, shalat dengan cara berbaring (miring) menghadap
kiblat. Miring kanan lebih baik daripada miring kiri. Jika tidak memungkinkan
menghadap kiblat, shalat menghadap mana saja dan tidak perlu mengulang.
4. Jika tidak mampu shalat dengan berbaring (miring), maka shalat dengan cara terlentang.
Kaki menghadap kiblat dan yang lebih afdhal kepalanya sedikit diangkat mengarah ke
kiblat (bisa di sanggah dengan bantal-pen). Jika tidak mampu, maka bisa menghadap ke
mana saja dan tidak perlu mengulang.
5. Wajib bagi orang sakit melakukan rukuk dan sujud (secara normal meskipun shalat
dilakukan dengan cara duduk-red). Jika tidak mampu maka berisyarat dengan
kepalanya. Berisyarat dengan menundukkan kepala lebih rendah ketika sujud dibanding
rukuk. Jika tidak mampu sujud, maka ia rukuk ketika sujud dan berisyarat saja untuk
rukuk dan sebaliknya.
6. Jika tidak mampu berisyarat dengan kepalanya ketika rukuk dan sujud, maka berisyarat
dengan pandangannya yaitu matanya. Ia pejamkan matanya sebentar ketika rukuk dan
memejamkan mata lebih lama ketika sujud. Adapun berisyarat dengan telunjuk yang
dilakukan sebagian orang yang sakit maka tidak diketahui memiliki dalil dari Al Quran,
sunnah dan perkataan para ulama.
7. Jika dengan anggukan dan isyarat mata juga sudah tidak mampu maka hendaknya ia
shalat dengan hatinya. Jadi ia takbir, membaca surat, niat ruku, sujud, berdiri dan duduk
dengan hatinya Dan setiap orang mendapatkan sesuai yang diniatkannya. (Fatawa
Arkaanil Islam Syaikh Ibnu ‘Utsaimin.
Kesimpulan....
• Sehat dan penyakit adalah nikmat yang Allah SWT berikan kepada kita.
Dengan sehat, kita bisa melakukan kewajiban sebagai seorang muslim
sejati, melakukan aktfitas sehari hari dan hal-hal yang lainnya. Sakit bukan
menjadi penghalang untuk melakukan semua itu. Kita perlu bersyukur
karena Allah SWT masih memberikan rasa sakit kepada diri kita. Dengan
adanya nikmat sakit, itu berarti Allah SWT mengampuni atas dosa-dosa
yang pernah kita lakukan di dunia. Sakit tidaklah sebuah cobaan,
melainkan cara agar kita lebih mendekatkan diri kepada Yang Maha
Pencipta. Sebagai seorang muslim, kita tidak dianjurkan untuk menjadi
hamba yang selalu mengeluh, pasrah, dan tidak mau berikhtiar. Dalam
kondisi sakit, tidak menjadi penghalang bagi kita untuk tetap beribadah
kepada Allah SWT. Diantaranya dengan membaca Al Qur’an, berdzikir
kepada Allah SWT, berdoa untuk kesembuhan kepada Allah SWT, dan
tetap shalat dan melakukan ibadah yang lain yang memungkinkan untuk
dilakukan.