Anda di halaman 1dari 38

PPAK – Universitas

Trisakti
Auditing & Assurance
Sesi 3
SA 200 – Tujuan Keseluruhan Auditor Independen
dan Pelaksanaan Audit Berdasarkan Standar audit
Ruang Lingkup
Standar Audit ("SA') ini mengatur tanggung jawab keseluruhan auditor
independen ketika melaksanakan audit alas laporan keuangan berdasarkan
SA secara khusus, SA ini menetapkan tujuan keseluruhan auditor
independen, serta menjelaskan tentang sifat dan ruang lingkup suatu
audit yang dirancang untuk memungkinkan auditor independen
mencapai tujuan tersebut SA ini juqa menjelaskan ruang lingkup,
wewenang, dan struktur SA, serta mengatur ketentuan untuk
menetapkan tanggung jawab umum auditor independen yang berlaku untuk
semua audit, termasuk kewajiban untuk mematuhi SA. Untuk selanjutnya
auditor independen disebut sebaqai 'auditor‘.
• SA ditulis dalam konteks audit atas laporan keuangan yang dilakukan
oleh auditor. Bila dipandanq perlu, SA dapat diadaptasi ketika
diterapkan dalam audit atas informasi keuangan historis
lainnya. SA tidak mengatur tanggung jawab auditor yang
mungkin ada dalam legislasi, peraturan, atau dalam hub
dengan, sebaqai contoh, penawaran efek kepada public.
Tanggung jawab tersebut dapat berbeda dari tanggung jawab
yang ditetapkan dalam SA. Oleh karena itu, maskipun auditor
mungkin menemukan aspek dalam SA bermanfaat dalam kondisi
tersebut, auditor tetap bertanggung jawab untuk memastikan
kewajban hukum,regulasi, atau profesi yang
relevan
Audit Atas Laporan Keuangan
• Tujuan audit adalah untuk meningkatkan tingkat keyakinan pengguna laporan
keuangan yang dituju.
• Laporan keuangan yang diaudit adalah milik entitas, yang disusun oleh
manajemen dengan pengawasan dari pihak yang bertanggung jawab atas tata
kelola.
• Sebagai basis untuk opini auditor; SA mengharuskan auditor untuk
memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan secara
keseluruhan bebas dari kesalahan material, naik yang disebabkan oleh
kecurangan atau kesalahan.
• Konsep materialitas diterapkan oleh auditor dalam perencanaan dan
pelaksanaan audit. Pada umumnya, kesalahan penyajian, termasuk
penghilangan penyajian, dipandang material jika, baik secara individu maupun
kolektif, kesalahan penyajian tersebut diperkirakan secara wajar dapat
mempengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan.
Isi dari SA 200 ini adalah Tujuan, ketentuan, serta materi penerapan
dan penjelasan yang dirancang untuk mendukung dalam memperoleh
keyakinan memadai. SA mengharuskan auditor menggunakan
pertimbangan professional selama perencanaan dan pelaksanaan audit,
antara lain mencakup :
a. Mengidentifikasi dan menilai risiko kesalahan penyajian material
baik disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan.
b. Memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, apakah terdapat
kesalahan penyajian material, melalui perancangan dan penerapan
respon yang tepat terhadap risiko yang dinilai.
c. Merumuskan opini atas laporan keuangan berdasarkan kesimpulan
dari bukti hasil audit yang diperoleh.
SA 210 - PERSETUJUAN ATAS KETENTUAN PERIKATAN AUDIT
Ruang Lingkup
SA ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor dalam menyepakati
syarat perikatan audit dengan manajemen dan jika relevan, dengan
pihak yang bertanggung jawab alas tata kelola entitas. SA ini juqa
menetapkan bahwa terdapat prakondisi tertentu untuk suatu audit,
tanggung jawab manejemen, dan jika relevan, pihak yang
bertanggung jawab alas tata kelola entitas.
Tanggal Efektif
Berlaku sejak 1 Januari 2013 untuk emiten dan 1 Januari 2014 untuk
non emiten.
Tujuan
Tujuan Auditor adalah untuk menerima atau melanjutkan perikatan audit
hanya ketikabasis yang melandasi pelaksanaan audit telah disepakati,
melalui :
a. Penetapan apakah terdapat prakondisi untuk suatu audit.
b. Penegasan bahwa ada pemahaman yang sama antara auditor, manajemen
dan jika relevan dengan pihak yang bertanggung jawab tentang tata
kelola.
Definisi
Prakondisi untuk suatu audit : Penggunaan suatu kerangka pelaporan
keuangan yang dapat diterima dalam penyusunan laporan keuangan oleh
manajemen dan persetujuan manajemen dan , jika relevan pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola.
Ketentuan
Prakondisi untuk suatu audit
Dalam rangka penentuan apakah terdapat prakondisi suatu audit, auditor harus :
a. Apakah kerangka pelaporan keuangan yang akan diterapkan dalam penyusunan
laporan keuangan dapat diterima.
b. Memperoleh persetujuan Manajemen, bahwa manajemen mengakui dan
memahami tanggung jawabnya:
• Untuk menyusun laporan keuangan sesuai kerangka pelaporan keuangan yang
berlaku.
• Menetapkan pengendalian internal tertentu, yang menurut manajemen diperlukan
dalam penyusunan laporan keuangan yang bebas dari kesalahan material baik
karena kecurangan maupun kesalahan.
• Memberikan kepada auditor : akses kesemua informasi yang dianggap relevan,
akses tidak terbatas ke personel dalam entitasyang dipamdang perlu oleh auditor
sebagai sumber untuk memperoleh bukti audit.
Pembatasan atas Ruang Lingkup Sebelum Penerimaan Perikatan
Audit.
Jika manajemen atau pihak yang bertanggung Jawab atas tata
kelola menetapkan suatu pembatasan terhadap ruang lingkup
pekerjaan auditor yang harus dicantumkan dalam surat perikatan audit
dan pembatasan tersebut akan menyebabkan auditor tidak dapat
memberikan opini atas laporan keuangan, maka auditor tidak boleh
menerima perikatan tersebut sebagai perikatan audit, kecuali jika
diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan.
Faktor-factor lain yang mempengaruhi perikatan audit
Jika prakondisi suatu audit tidak ada, auditor harus membahas hal
tersebut dengan manajemen. Kecuali jika suatu audit diwajibkan oleh
peraturan perundang-undangan, auditor tidak boleh menerima
perikatan audit :
a. Jika auditor telah menentukan bahwa kerangka pelaporan keuangan
yang diterapkan dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat
diterima.
b. Jika persetujuan yang mengacu pada ketuntuan pra kondisi diatas
belum diperoleh.
Persetujuan atas perikatan audit
Auditor harus menyepakati ketentuan perikatan audit dengan manajemen atau
pihak yang beranggung jawab terhadap tata kelola Entitas, jika relevan.

Perikatan audit mencakup antara lain :


a. Tujuan dan ruang lingkup audit atas laporan keuangan.
b. Tanggung jawab auditor
c. Tanggung jawab manajemen
d. Identifikasi kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan dalam
penyusunan laporan keuangan.
e. Pengacuan ke bentuk dan isi laporan keuangan yang akan dikeluarkan oleh
auditor dan suatu pernyataan bahwa dalam kondisi tertentu terdapat
kemungkinan laporan yang dikeluarkan berbeda bentuk dan isinya dengan
yang diharapkan.
Jika peraturan perundang undangan telah menentukan secara rinci ketentuan perikatan
audit yang mengacu pada perikatan diatas, auditor tidak perlu mencantumkan dalam
kesepakatan tertulis, kecuali untuk fakta bahwa peraturan perundang-undangan tersebut
berlaku dan manajemen mengakui dan memahami tanggung jawab sebagaimana
diterapkan dalam paragraph diatas (Point 11).

Jika peraturan perundang-undangan menetapkan tanggung jawab manajemen mirip


dengan tanggung jawab yang dijelaskan dalam paragraf diatas, auditor dapat
menentukan apakah peraturan perundang-undangan yang bersangkutan, menurut
pertimbangan auditor, sama dampaknya dengan yang ditetapkan dalam paragraf diatas.
Ketika dianggap sama, auditor diperkenankan untuk menggunakan pernyataan yang
tercantum dalam peraturan perundang-undangan tersebut di surat perikatan. Untuk
beberapa tanggung jawab yang tidak ditentukan oleh peraturan perundang-undangan,
kesepakatan tertulis harus menggunakan penjelasan dalam diatas ( point 11)
Audit Berulang
Dalam audit berulang, auditor harus menilai apakah terdapat
kondisi yang memerlukan suatu revisi terhadap ketentuan
perikatan audit dan apakah perlu mengingatkan entitas yang
bersangkutan tentang ketentuan perikatan audit yang masih
berlaku.
Penerimaan Perubahan dalam Ketentuan Perikatan Audit
• Auditor tidak boleh menyepakati perubahan dalam ketentuan
perikatan audit jika tidak ada alasan yang memadai untuk
melakukan perubahan tersebut.
• Jika, sebelum penyelesaian perikatan audit, auditor diminta untuk
mengubah perikatan audit tersebut ke perikatan yang menyebabkan
auditor memperoleh tingkat asurans yang lebih rendah, auditor
harus mempertimbangkan apakah terdapat dasar yang wajar
untuk melakukan perubahan tersebut.
• Jika ketentuan perikatan audit diubah, auditor dan manajemen harus
sepakat atas ketentuan baru tersebut dan menuangkan ke dalam
suatu surat perikatan baru atau bentuk perjanjian tertulis lainnya yang
tepat.
• Jika auditor tidak dapat menyepakati perubahan dalam ketentuan
perikatan audit dan manajemen tidak mengijinkan auditor untuk
meneruskan perikatan audit semula, auditor harus :
a. Menarik diri dari perikatan audit (jika dimungkinkan) sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Menentukan apakah ada kewajiban, baik secara kontrak maupun
dalam bentuk lainnya, untuk melaporkan kondisi tersebut kepada
pihak lain, seperti kepada pihak yang bertanggung jawab terhdap
tata kelola.
Pertimbangan Lain dalam Penerimaan Perikatan
• Standar Pelaporan Keuangan Yang ditambahkan oleh Peraturan Perundang-Undangan

Jika standar pelaporan keuangan yang ditetapkan oleh suatu organisasi penyusun
standar yang berwenang atau diakui diberi ketentuan tambahan oleh peraturan
perundang-undangan, auditor harus mempertimbangkan apakah ada benturan antara
standar pelaporan keuangan dan ketentuan tambahan tersebut. Jika timbul suatu
benturan, auditor harus membahas dengan manajemen sifat ketentuan tambahan
tersebut dan harus menyepakati apakah:
a. Ketentuan tambahan tersebut dapat dipenuhi dengan menambahkan pengungkapan
dalam laporan keuangan; atau
b. Deskripsi kerangka pelaporan keuangan yang berlaku dalam laporan keuangan dapat
diubah sesuai dengan ketentuan tambahan tersebut.
Jika tidak ada satu pun tindakan di atas yang dapat dilakukan, auditor harus
mempertimbangkan apakah diperlukan modifikasian opini auditor berdasarkan SA 705.
• Kerangka Pelaporan keuangan yang Ditentukan oleh Peraturan
Perundang-Undangan – Hal Lain yang Mempengaruhi Penerimaan.
Jika auditor telah menentukan bahwa kerangka pelaporan keuangan yang
diatur oleh peraturan perundang-undangan tidak dapat diterima namun
faktanya hal tersebut telah diatur oleh peraturan perundang-undangan,
auditor harus menerima perikatan audit hanya jika terdapat kondisi-
kondisi berikut ini:
(a) Manajemen setuju untuk memberikan pengungkapan tambahan
dalam laporan keuangan untuk menghindari laporan keuangan yang
menyesatkan; dan
(b) Adanya pencantuman dalam ketentuan perikatan audit bahwa
Laporan auditor atas laporan keuangan akan menambahkan
paragraph penekanan Suatu Hal, untuk menarik perhatian pengguna
laporan keuangan terhadap pengungkapan tambahan, sesuai dengan SA
706
Jika kondisi-kondisi yang disebutkan diatas tidak ada dan
auditor disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan untuk
melaksanakan perikatan audit, auditor harus:
(a) Mengevaluasi dampak sifat laporan keuangan yang menyesatkan
dalam laporan auditor; dan
(b) Apakah penjelasan tambahan dalam laporan auditor dapat
mengurangi kemungkinan kesalah pahaman.
Jika auditor menyimpulkan bahwa penjelasan tambahan dalam
laporan auditor tidak dapat mencegah kemungkinan kesalah
pahaman, auditor tidak boleh menerimaperikatan audit tersebut,
kecuali disyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Konsekuensinya auditor tidak boleh memasukan pengacuan apapun
dalam laporan auditor bahwa audit telah dilaksanakan sesuai SA.
SA 220 - Pengendalian Mutu Untuk Audit atas Laporan Keuangan

Ruang Lingkup
SA ini mengatur tanggung jawab tertentu auditor dalam merhatikan
prosedur pengendalian mutu untuk audit atas laporan keuangan .
SA ini juqa mengatur, jika relevan, tanggung Jawab penelaah
pengendalian mutu perikatan. SA ini harus dibaca bersama dengan
ketentuan etika yang relevan.
Tujuan adalah untuk mengimplementasikan prosedur pengendalian mutu
pada tingkat perikatan untuk memberikan keyakinan memadai bagi
auditor bahwa:
a. Audit telah dilakukan dengan mematuhi standar profesi serta
ketentuan hokum dan peraturan yang berlaku.
b. Laporan auditor yang diterbitkan telah sesuai dengan kondisinya.
Sistem Pengendalian Mutu dan Peran Tim Perikatan
Sistem, kebijakan, dan prosedur pengendalian mutu merupakan
tanggung jawab KAP ( SPM 1).
KAP berkewajiban menetapkan dan memelihara suatu pengendalian
mutu guna memberikan keyakinan memadai bahwa :
a. KAP dan personelnya mematuhi standar profesi serta ketentuan
hukum dan peraturan yang berlaku.
b. Laporan yang diterbitkan KAP atau rekan perikatan telah sesuai
kondisinya.
SPM 1 mencakup kebijakan dan prosedur yang mengandung setiap
unsur sebagai berikut ;
• Tanggung Jawab kepemimpinan atas mutu di dalam KAP.
• Ketentuan etika yang relevan.
• Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien dan perikatan
tertentu.
• Sumber daya manusia.
• Pelaksanaan perikatan; dan pemantauan.
• Tanggung jawab kepemimpinan atas mutu audit
Tindakan rekan perikatan kepada anggota lain dalam tim perikatan dalam
mengambil tanggung jawab keseluruhan atas mutu perikatan audit,
menekankan :
a. Pentingnya mutu audit atas :
• Pelaksanaan pekerjaan yang mematuhi standar profesi, hokum dan
peraturan peraturan yang berlaku
• Kepatuhan terhadap kebijak dan prosedur pengendalian mutu KAP yang
berlaku.
• Penerbitan laporan auditor sesuai dengan kondisinya.
• Kemampuan tim perikatan untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi
perhatiaanya tanpa rasa takut.
b. Fakta bahwa mutu merupakan hal yang esensial dalam melaksanakan
perikatan audit.
• Ketentuan Etika yang Relevan
Kode etik menetapkan prinsip dasar etika professional yang mencakup :
a. Integritas.
b. Objektivitas.
c. Kompetensi dan kecermatan professional.
d. Kerahasiaan dan
e. Perilaku professional.
• Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klien dan perikatan
audit.
SPM 1 mengharuskan KAP memperoleh informasi yang dipandang
perlu sesuai kondiri sebelum menerima suatu perikatan. Informasi
berikut membantu dalam memutuskan penerimaan perikatan :
a. Integritas pemilik utama, manajemen inti dan pihak yang
bertanggung jawab terhadap tata kelola.
b. Kompetensi tim perikatan dan kapabilitas yang diperlukan termasuk
waktu dan sumber daya
c. Kemampuan Kap dan team perikatan untuk mematuhi ketentuan
yang relevan
d. Hal2 yang signifikan yang timbul selama perikatan dan implikasinya
terhadap kelangsungan hubungan perikatan.
Sumber daya manusia
• Team perikatan mencakup seseorang menggunakan keahlian tertentu
dalam bidang akuntansi dan audit, baik yang ditugaskan maupun yang
dipekerjakan oleh KAP.
• Ketika mempertimbangkan kompetensi dan kemampuan yang tepat,
hal berikut perlu dipertimbangkan
a. Pemahaman dan pengalaman praktik atas perikatan audit dengan
sifat dan kompleksitasnya.
b. Pemahaman standar profesi serta ketentuan hokum yang berlaku.
c. Keahlian teknis, termasuk keahlian dalam bidang tehnologi informasi.
d. Pengetahuan industry yang relevan dengan usah klien.
e. Kemampuan menggunakan pertimbangan professional.
• Pelaksanaan Perikatan
a. Arah team perikatan mencakup komunikasi kepada anggota team
perikatan
b. Supervisi mencakup memantau kemajuan perikatan, mengarahkan
hal 2 yang dignifikan yang timbul selama perikatan,
mengidentifikasikan hal2 yang perlu dikonsultasikan atau
dipertimbangkan oleh team perikatan.
c. Penelaahan terhadap pelaksanaan pekerjaan team.
SA – 230 – Dokumentasi Audit.
Ruang Lingkup
SA ini berkaitan dengan kewajiban auditor dalam menyusun
dokumentasi audit untuk audit atas laporan keuangan.
Sifat dan tujuan dokumentasi
Dokumentasi sesuai SA ini:
a. Bukti sebagai dasar bagi auditor untuk menarik kesimpulan tentang
pencapaian tujuan secara keseluruhan,
b. Bukti bahwa audit telah dirancang dan dilaksanakan sesuai SA dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Dokumentasi berfungsi untuk :
a. Membantu team perikatan untuk merencanakan dan melaksanakan
audit.
b. Membantu anggota team yang bertanggung jawab dalam supervise
untuk mengarahkan dan mensupervisi proses audit.
c. Memungkinkan team perikatan untuk mempertanggung jawabkan
pekerjaan mereka.
d. Menyimpan catatan atas hal-hal signifikan yang berkelanjutan untuk
audit di masa yang akan dating.
SA 240- Tanggung Jawab Auditor Terkait Dengan
Kecurangan dalam Suatu audit Atas Laporan Keuangan
Ruang Lingkup
SA ini berhubungan dengan tanggung jawab auditor terkait dengan
kecurangan dalam suatu audit atas laporan keuangan.

SA ini memperluas bagaimana SA 315 dan SA 330 harus dierapkan


dalam kaitannya dengan risiko kesalahan penyajian material karena
kecurangan.
Karakteristik kecurangan
• Kesalahan penyajian dalam laporan keuangan dapat timbul karena
kecurangan atau kesalahan. Faktor yang membedakan antara
kecurangan dan kesalahan adalah apakah tindakan yang
mendasarinya, yang berakibat terjadinya kesalahan penyajian dalam
laporan keuangan.
• Maskipun kecurangan merupakan konsep hokum yang luas, untuk
kepentingan SA ini, auditor berkepentingan terhadap kecurangan yang
menyebabkan kesalahan penyajian material dalam laporan keuangan
• Tanggung Jawab untuk Pencegahan dan Pendeteksian Kecurangan
Tanggung jawab utama untuk pencegahan dan pendeteksian
kecurangan berada pada dua pihak yaitu yang bertanggung jawab atas
tata kelola entitas dan manajemen.

Auditor yang melaksanakan audit berdasarkan SA bertanggung jawab


untuk memperoleh keyakinan memadai apakah laporan keuangan
secara keseluruhan bebas dari kesalahan penyajian material yang
disebabkan oleh kecurangan atau kesalahan. Karena keterbatasan
bawaan suatu audit, maka selalu ada risiko yang tidak terhindarkan
bahwa beberapa kesalahan penyajian material mungkin tidak terditeksi.
SA 250 – Pertimbangan atas Peraturan Perundang
– undangan dalam audit atas laporan keuangan
Ruang Lingkup
SA ini mengatur tentang tanggung jawab auditor untuk
mempertimbangkan peraturan perundang-undangan dalam audit atas
laporan keuangan.

SA ini tidak berlaku bagi perikatan assurance lain yang di dalamnya


auditor secara specific ditugaskan untuk melakukan pengujian dan
pelaporan secara terpisah terhadap kepatuham terhadap peraturan
perundang-undangan tertentu.
• Dampak Peraturan Perundang-Undangan
Peraturan perundang-undangan tersebut bersifat mengikat dan
merupakan kerangka peraturan perundang-undangan bagi suatu
entitas.

Ketentuan dalam beberapa peraturan perundang-undangan berdampak


langsung terhadap laporan keuangan yang menentukan jumlah dan
pengungkapan yang dilaporkan dalam laporan keuangan.
• Tanggung Jawab untuk mematuhi peraturan perundang-undangan
Manajemen dan pihak yang bertanggung jawab terhadap tata kelola
bertanggung jawab bahwa operasi entitas dijalankan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Auditor bertanggung jawab untuk memperoleh keyakinan memadai


bahwa laporan keuangan, secara keseluruhan, bebas dari salah saji
material baik yang disebabkan oleh kecurangan maupun kesalahan.
Dalam SA ini, auditor diharuskan untuk selalu waspada terhadap
adanya kemungkinan bahwa prosedur audit lain yang diterapkan untuk
tujuan menyatakan opini atas laporan keuangan dapat mengungkapkan
kepada auditor adanya contoh-contoh ketidakpatuhan yang terjadi atau
diduga terjadi. Mempertahankan skeptisisme professional selama audit
seperti yang disyaratkan pada SA 200.
SA 260 – Komunikasi dengan Pihak
Yang Bertanggung Jawab Atas Tata
kelola
• SA ini berkaitan dengan tanggung jawab auditor untuk berkomunikasi
dengan pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam audit
atas laporan keuangan.
• Untuk memperoleh informasi yang relevan dengan audit dari pihak
yang bertanggung jawab terhadap tata kelola.
• SA ini menyediakan kerangka menyeluruh untuk komunikasi antara
auditor dengan pihak yang bertanggung jawab terhadap tata kelola,
dan mengidentifikasi beberapa hal spesifik yang perlu
dikomunikasikan kepada mereka.
Peran Komunikasi
Fokus utama SA ini adalah komunikasi dari auditor kepada pihak yang
bertanggung jawab atas tata kelola, maskipun begitu komunikasi dua
arah penting untuk membantu:
a. Auditor dan pihak yang bertanggungjawab atas tata kelola dalam
memahami hal yang terkait dengan audit.
b. Auditor dapat memperoleh informasi audit yang relevan dari pihak
yang bertanggungjawaba atas tata kelola, sehingga dapat
membantu auditor dalam memahami entitas dan lingkungannya,
dalam mengidentifikasi sumber bukti audit yang tepat.
c. Pihak yang bertanggung jawab atas tata kelola dalam memenuhi
tanggungjawabnya untuk mengawasi proses pelaporan keuangan,
sehingga mengurangi risiko kesalahan penyajian yang material.
Hal-hal yang perlu dikomunikasikan :
• Tanggung jawab auditor berkaitan dengan audit atas laporan
keuangan.
• Temuan signifikan selama audit.
• Independensi auditor
Terima kasih