Anda di halaman 1dari 18

TERAPI KELUARGA

DEFINISI
• Terapi keluarga adalah suatu bentuk terapi untuk
membantu keluarga mengatasi permasalahannya (konflik,
masalah dalam keluarga) agar keluarga dapat berfungsi
secara lebih baik, serta menurunkan tingkat stress
keluarga (Nevid, 2004).
• cabang dari psikoterapi yang bekerja dengan keluarga
untuk memelihara perubahan dan perkembangan
keluarga, dengan melihat perubahan yang terjadi dalam
sistem interaksi antar anggota keluarga dan menekankan
akan pentingnya hubungan keluarga bagi kesehatan
psikologis para anggota keluarga.
Peran Keluarga Dalam Terapi Keluarga
• Mengenali tanda gejala bahaya pada klien, serta
membantuya.
• Bersikap terbuka pada klien.
• Membantu klien bersikap pada orang lain.
• Memberikan akses informasi yang mudah bagi klien.
• Membangun self esteem pasien.
• Menyelenggarakan aturan demi keselamatan keluarga.
• Menurunkan ancaman terhadap keluarga.
• Mengingatkan akan tanggung jawab masing2 anggota
keluarga lainnya.
Peran Perawat Dalam Terapi Keluarga
• Menidik dan mengajarkan tentag cara perawatan klien.
• Mengingatkan keluarga untuk memberikan dukungan
bagi kesembuhan klien.
• Memberikan informasi tentang sumber bantuan yang
dapat dimanfaatkan oleh keluarga.
• Memberikan pelayananmelalui
penyuluhan/pendidikan di rumah.
• Mengajarkan keluarga serta melibatkan keluarga dalam
mencegah kekambuha klien.
Teori tentang terapi keluarga
• Teori Expresed Emotion
• Teori konsep bowen
• Terapi struktur keluarga
• Terapi strategi keluarga
Teori Expresed Emotion
• Terapi keluarga yang dilakukan untuk pasien skizofrenia
berdasarkan pada teori EE (expressed emotion). Terapi
keluarga utamanya ditujukan untuk mencegah terjadinya
kekambuhan pada pasien serta mempercepat proses
rehabilitasi pasien.
• EE adalah sebuah istilah khusus untuk pasien gg jiwa yang
menunjukkan suatu ukuran lingkungan keluarga yang
didasarkan pada bagaimaa keluarga berespon secara
spontan terhadap pasien gg jiwa. EE tdk sama dengan exress
feeling, expresi emosi dalam bahasa sehari2, ataupun family
expressiveness. EE hanya istilah untuk pasien gg jiwa.
Teori Expresed Emotion
• Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa keluarga yang
anggotanya mempunyai EE tinggi cenderung mengalami
kekambuhan, tingkat adaptasi yang jelek (Cutting & Docherry,
2000 King & Dixon, 1999 dalam Nevid 2004; ) dan prognosa
yang jelek (Kuipers, 2006 dalam Kritzinger et al, 2011)
• Perilaku keluarga dengan level EE tinggi: level kritik tinggi,
sikap permusuhan pada pasien, kejam, suka mengatur, lebih
sedikit empati, sedikit toleransi, sedikit fleksibilitas.
• Disamping itu level EE tnggi juga dikaitkan dengan resiko lebih
besar terjadinya depresi dan gangguan makan (Butzlaff dan
Hooley, 1998 dalam Nevid, 2004)
lanjutan
• Alat ukur untuk mengukur Expressed Emotion
antara lain: The Five Minute Speech Sample
(FMSS), Level of Expressed Emotion Scale
(LEE), Family Attitude Scale (FAS), Perceived
Criticism (PC), dan Camberwell Family
Interview (CFI).
EE dan terapi keluarga
• Keluarga dengan level EE tinggi perlu mendapatkan terapi
keluarga (Tarrier et al., 1988 dalam Kritzinger et al, 2011).
• Namun keluarga dengan level EE rendah tidak perlu
mendapatkan terapi keluarga, hal ini disebabkan keluarga
dengan level EE rendah sudah mampu bersikap yang
konstruktif/baik bagi pasien. Jika dipaksakan melakukan
terapi keluarga, maka justru dapat menyebabkan
kekambuhan pasien oleh karena keluarga menganggap sikap
mereka yang salah pada pasien (Leff, 2000 dan Linzen, et al.,
1996 dalam Kritzinger et al, 2011).
Konsep teori bowen
• Pembeda diri: masing2 anggota keluarga memiliki
karakter, peran, tingkat emosi yang berbeda2.
• Traingle: ayah-ibu-anak. Membentuk ikatan emosional
dan pola komunikasi yang aman da seimbang.
• Dinamik: antara tiap generasi mungkin memiliki
masalah yang berbeda.
• Sibling: adakah pilih kasih dalam keluarga?
• Sistem emosi nuclear family: bagian terpenting
keluarga adalah keluarga inti (ayah-ibu-anak).
Teori struktur keluarga
• Keluarga dianggap sebagai suatu sistem
sosiokultural yang terbuka, sehingga memungkinkan
untuk terjdinya penyesuaian terhadap anggota
keluarga lainnya. Misal pola makan dari anggota
keluarga lain (pama, bibi, saudara) bisa disiasati
dengan penyesuaian pola makan di keluarga
tersebut.
• Fokus teori ini adalah proses penyesuaian harus
berlagsung secara adaptif. Jika maladaptif maka hal
tsb adalah masalah yang harus segera dipecahkan.
Teori strategi keluarga
• Menekankan pentingnya komunikasi dalam
keluarga, semua tingkah laku didasarkan atas
komunikasi.
• Strategi komunikasi dalam terapi jenis ini
meliputi: reframming (menegaskan kembali
inti masalah), pengendalia perubahan (tugas
baru bagi keluarga), paradoks (merubah
perilaku yang menghambat proses keluarga).
Kelebihan terapi keluarga
• Terapi kelurga suatu strategi yang efektif untuk melibatkan klien (Adnopozz, 2002;
Dembo 2002)
• Program perawatan yang cukup lama tetap dapat tetap berjalan di keluarga(Woods,
1998).
• Lebih sedikit resistensi atau defensif yang dilakukan oleh anggota keluarga ketika
berada di lingkungannya sendiri (Johnson, et al 2002).
• Motivasi pasien akan meningkat karena ada penghargaan perawat kepada keluarga
serta kebutuhan mereka (Wasik dan Brya, 2001).
• Anggota keluarga akan dapat mengakses sumber dayanya dan lebih efektif dalam
program terapi .
• Dapat menjangkau seluruh anggota keluarga, dimana jika di RS hal tersebut sangat
sulit untuk dijagkau. Wasik dan Bryan (2001) mengatakan “perubahan akan lebih
mudah jika seluruh anggota keluarga diikutkan”
• Akses terhadap kondisi alami keluarga dapat meningkakatkan kesuksesan terapi
keluarga (Cortes, 2004).
Kelebihan terapi keluarga
• Setting alami dalam keluarga memungkinkan terapis untuk melaksanakan
terapinya lebih efektif, karena keluarga adalah suatu hubunga antara
individu, serta di lingkungan keluarga menyediakan lingkungan nyata yang
dibutuhkan aggota keluarga untuk mengikuti prosedur terapi (Cortes, 2004).
• Terapi keluarga dapat memberikan tempat yang cukup luas bagi semua
anggota keluarga, tidak seperti di ruangan RS yang kecil.
• Terapi keluarga dapat menjadi tempat yang nyaman untuk anak2 dan remaja
dari keinginn untuk menolak terapi, serta mereka (anak2 dan remaja) akan
terhindar dari label abak yang “nakal”, “emosional”, “mengalami pelecehan”
yang seringkali muncul di tatanan klinis, oleh karena perilaku mereka adalah
alami di lingkungan mereka sendiri (Adnopoz, 2002 dalam Cortes, 2002).
• Terdapat dukungan dan dan anggota keluarga dapat berkembang lebih
efektif di lingkunga mereka sendiri (Hinckley&Ellis, 1985 dan Zarski et al.,
1991 dalam Cortes, 2004).
Kelemahan terapi keluarga
• Terapi keluarga kurang mendapatkan perhatian dan jarang diajarkan di institusi
pendidikan, dan hanya ditemui dalam pelatihan-pelatihan (Cortes, 2004)
sehingga banyak perawat yang belum mahir dam melaksanakan terapi keluarga
atau melaksanakan terapi keluarga yang masih konvensional.
• Banyak pelatihan hanya berfokus pada pelatihan terapi keluarga untuk pasien
anak2 atau remaja. Padahal terapi keluarga adalah diperuntukkan untuk semua
anggota keluarga.
• Tingginya tingkat Burnout terapis ketika menghadapi masalah yang kompleks
dari setiap anggota keluarga.
• Akses terapis terhadap bantuan multidisipliner cukup sulit, dan pertukaran
informasi antar tim multidisiplin sangat terbatas.
• Ada issue tentang keselamatan terapis/konselor ketika melaksanakan terapi
keluarga.
• Ada Anggapan bahwa terapi keluarga yang melibatkan stuasi alami keluarga
dianggap “stereotype” sebagai “bentuk pelayanan yang tidak professional”,
karena anggapan pelayanan professional dilaksanakan di setting klinik.
Tahapan Terapi Keluarga
1. Permulaan hubungan dengan membangun
trust
2. Pengkajian dan perencanaan
3. Implementasi dan tahap Kerja
4. Evaluasi dan terminasi
Contoh Terapi Keluarga
• Pengkajia:
– Mengkaji struktur keluarga (pola komunikasi, peran, nilai, dan kekuatan keluarga)
– Mengkaji fungsi keluarga (fungsi afektif, sosialisasi, ekonomi, dan koping keluarga).
– Menganalisa masalah keluarga yang dapat diselesaikan melalui terapi keluarga

• Melakukan persiapan
– Menyiapkan bahan untuk terapi keluarga 
– Menyampaikan tujuan terapi kepada keluarga
– Membuat kontrak dengan keluarga untuk pelaksanaan terapi keluarga. 

• Pelaksanaan:
– Melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem 3.1 Mengucapkan salam terapeutik kepada keluarga
– Menyampaikan tujuan sesi terapi keluarga saat ini
– Menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi oleh keluarga
– Melakukan terapi keluarga dengan pendekatan sistem :
- Mengklarifikasi dan membedakan pemikiran dan perasaan pada anggota keluarga
- Membantu keluarga untuk menyatakan pendapat dan pemikirannya sendiri tanpa takut merasa berbeda dengan anggota yang lain
- Mengupayakan terjadinya diferensiasi pada anggota keluarga dan mencegah terjadinya segitiga masalah dalam keluarga dengan tetap
menjaga kontak aktif dari seluruh anggota keluarga
- Mempertahankan diferensiasi yang telah terjadi pada anggota keluarga dan menerapkannya untuk mengatasi masalah yang terjadi di
keluarga

• Evaluasi
– Melakukan evaluasi terapi keluarga bersama-sama
– Membuat kontrak untuk pertemuan berikutnya.

• Dokumentasi
– Mencatat hasil terapi keluarga
– Membuat dan mencatat rencana intervensi.
SEKIAN