Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

INSOMNIA
DISUSUN OLEH:
MARSELLA LULU AULIA
1102015126
 PEMBIMBING:
DR . METTA DESVINI P. SIREGAR , S P. K J

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KEDOKTERAN JIWA


PERIODE 11 NOVEMBER – 14 DESEMBER 2019
FAKULTAS KEDOKTERAN YARSI – RSJI KLENDER
JAKARTA
PENDAHULUAN

Tidur Insomnia

STRESS INDONESIA
11,7 %
FISIOLOGI TIDUR

substansia ventrikulo retikularis

Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:


1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
Stadium
5%
I
Stadium
45%
II
REM
Stadium
12%
III
Tidur Sadium
13%
IV

NREM 25%
INSOMNIA
• Keluhan dalam hal kesulitan untuk memulai
atau mempertahankan tidur atau tidur non-
DSM-IV restoratif yang berlangsung setidaknya satu
bulan dan menyebabkan gangguan signifikan
atau gangguan dalam fungsi individu.

The
International • kesulitan memulai atau mempertahankan
tidur yang terjadi minimal 3 malam-1minggu
Classification selama minimal satu bulan.
of Diseases
The
International • kesulitan tidur yang terjadi hampir setiap
Classification malam, disertai rasa tidak nyaman setelah
episode tidur tersebut.
of Sleep
Disorders
KLASIFIKASI

PRIMER ICD SEKUNDER

ORGANIK NON ORGANIK

ORGANIK NON ORGANIK


INTERNATIONAL CLASSIFICATION OF
SLEEP DISORDES
Acute insomnia
Psychophysiologic insomnia
Paradoxical insomnia (sleep-state misperception)
Idiopathic insomnia
Insomnia due to mental disorder
Inadequate sleep hygiene
Behavioral insomnia of childhood
Insomnia due to drug or substance
Insomnia due to medical condition
Insomnia not due to substance or known physiologic condition,
unspecified (nonorganic)
Physiologic insomnia, unspecified (organic)
DSM-IV

• Gangguan tidur yang berkorelasi dengan gangguan mental lain


• Gangguan tidur yang disebabkan oleh kondisi medis umum
• Gangguan tidur yang diinduksi oleh bahan-bahan atau keadaan tertentu
• Gangguan tidur primer (gangguan tidur tidak berhubungan sama sekali
dengan kondisi mental, penyakit, ataupun obat-obatan.) Gangguan ini
menetap dan diderita minimal 1 bulan.
TANDA DAN GEJALA

• Kesulitan untuk memulai tidur pada malam hari


• Sering terbangun pada malam hari
• Bangun tidur terlalu awal
• Kelelahan atau mengantuk pada siang hari
• Iritabilitas, depresi atau kecemasan
• Konsentrasi dan perhatian berkurang
• Peningkatan kesalahan dan kecelakaan
• Ketegangan dan sakit kepala
• Gejala gastrointestinal
ETIOLOGI

• hiperaktivasi dari neurophysiologi dari nervus simpatis


• perubahan regulasi dari neuroendokrin yang mempengaruhi arousal,
kognitif atau
• kebiasaan seseorang yang berhubungan langsung dengan tidur.
stress

kecemasan dan
depresi

obat-obatan

penyebab

kafein, nikotin,
alkohol

kondisi
medisperubahan
lingkungan atau
jadwal kerja

‘Belajar'
insomnia
gangguan
mental dan
psikiatri

keadaan
medis
Insomnia
sekunder
zat atau
obat-obatan

disomania
FAKTOR RESIKO

• Wanita
• Usia lebih dari 60 tahun
• Memiliki g]angguan kesehatan mental
• Stress
• Jjet lag atau perubahan jam kerja
DIAGNOSIS

1. Untuk mencapai kriteria diagnosis untuk – Kelelahan/ malaise


insomnia secara umum, pasien harus – Gangguan konsentrasi, perhatian, dan
memiliki satu dari tiga kriteria dibawah: memori
– Keluhan mengandung paling sedikit satu – Disfungsi sosial
dari keluhan tidur dibawah ini – Mengantuk di siang hari
– Kesulitan untuk memulai tidur
– Berkurangnya energy / motivasi
– Kesulitan untuk mempertahankan tidur
– Kecenderungan untuk terjadi kesalahan/
– Terbangun terlalu awal, atau kecelakaan pada saat kerja atau
– Tidur tidak mengembalikan energi atau mengemudi
kualitas tidur buruk – Tension headaches, dan gejala GI tract
yang berhubungan dengan kesulitan tidur,
2. Kesulitan tidur terjadi walaupun adanya
atau
kesempatan tidur dan keadaan untuk
tidur cukup memadai – Keprihatinan atau kecemasan tentang
tidur
3. Mengalami setidaknya satu dari
GEJALA DARI INSOMNIA (DSM – 5) (APA, 2013)

• Ketidakpuasan dengan kualitas dan kuantitas dari tidur, dengan 1 atau lebih
gejala yang mengikuti seperti sulit tidur, sulit mempertahankan tidur atau
sering terbangun, dan terbangun menjelang dini hari.
• Gangguan saat tidur yang disebabkan oleh stress atau gangguan di sosial,
tempat kerja, pendidikan, akademic, kebiasaan, atau yang lainnya yang
merupakan area yang memiliki fungsi yang penting.
• Sulit tidur setidakny 3 malam setiap minggunya, selam 3 bulan terakhir, dan
disertai dengan tidur yang tidak adekuat
• Insomnia tidak berhubungan dengan gangguan tidur yang lainnya
• Insomnia tidak dijelaskan sebagia gangguan mental atau kondisi medic
KRITERIA DIAGNOSTIK INSOMNIA NON-ORGANIK
BERDASARKAN PPDGJ

Hal tersebut di bawah ini diperlukan untuk membuat diagnosis pasti:


• Keluhan adanya kesulitan masuk tidur atau mempertahankan tidur, atau kualitas tidur yang buruk
• Gangguan minimal terjadi 3 kali dalam seminggu selama minimal 1 bulan
• Adanya preokupasi dengan tidak bisa tidur dan peduli yang berlebihan terhadap akibatnya pada malam
hari dan sepanjang siang hari
• Ketidakpuasan terhadap kuantitas dan atau kualitas tidur menyebabkan penderitaan yang cukup berat
dan mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan
• Adanya gangguan jiwa lain seperti depresi dan anxietas tidak menyebabkan diagnosis insomnia
diabaikan.
• Kriteria “lama tidur” (kuantitas) tidak diguankan untuk menentukan adanya gangguan, oleh karena
luasnya variasi individual. Lama gangguan yang tidak memenuhi kriteria di atas (seperti pada “transient
insomnia”) tidak didiagnosis di sini, dapat dimasukkan dalam reaksi stres akut (F43.0) atau gangguan
penyesuaian (F43.2)
TATALAKSANA

Tatalaksana Farmakologi

non
Non benzodiazep
benzodiazep
Farmakologi ine
ine

sleep hygine

terapi
tingkah laku

gaya hidup
dan
pengobatan
di rumah
PEMILIHAN OBAT, DITINJAU DARI SIFAT GANGGUAN
TIDUR :

• Initial Insomnia (sulit masuk ke dalam proses tidur)


• Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep inducing anti-insomnia” yaitu golongan
benzodiazepine (Short Acting). Misalnya pada gangguan anxietas.
• Delayed Insomnia (proses tidur terlalu cepat berakhir dan sulit masuk kembali ke proses tidur
selanjutnya). Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Prolonged latent phase Anti-Insomnia”,
yaitu golongan heterosiklik antidepresan (Trisiklik dan Tetrasiklik). Misalnya pada gangguan
depresi.
• Broken Insomnia (siklus proses tidur yang normal tidak utuh dan terpecah-pecah menjadi
beberapa bagian (multiple awakening).
• Obat yang dibutuhkan adalah bersifat “Sleep Maintining Anti-Insomnia”, yaitu golongan
phenobarbital atau golongan benzodiazepine (Long acting). Misalnya pada gangguan stres
psikososial.
BENZODIAZEPIN

Benzodiazepin (BZD) memperbaiki insomnia dengan mengurangi fase REM,


menurunkan latensi tidur, dan menurunkan terbangun malam hari.
Penyerapan BZD tidak terpengaruh oleh penuaan, namun penurunan massa
otot, penurunan protein plasma, dan peningkatan lemak tubuh yang terlihat
pada usia lanjut mengakibatkan peningkatan konsentrasi obat tak-terikat dan
peningkatan waktu paruh eliminasi.
NONBENZODIAZEPIN HIPNOTIK

Nonbenzodiazepin hipnotik adalah sebuah alternatif yang baik dari


penggunaan benzodiazepin tradisional, selain itu obat ini menawarkan efikasi
yang sebanding serta rendahnya insiden amnesia, tidur sepanjang hari,
depresi respirasi , ortostatik hipotensi dan terjatuh pada lansia. Obat
golongan non-benzodiazepin juga efektif untuk terapi jangka pendek
insomnia. Obat-obatan ini relative memiliki waktu paruh yang singkat
sehingga lebih kecil potensinya untuk menimbulkan rasa mengantuk pada
siang hari; selain itu penampilan psikomotor dan daya ingat nampaknya lebih
tidak terganggu dan umumnya lebih sedikit mengganggu arsitektur tidur
normal dibandingkan obat golongan benzodiazepine (
SLEEP-PROMOTING AGENTS
(MELATONIN)

• Melatonin adalah hormon yang dibentuk di glandula pineal, yaitu sebuah


kelenjar yang hanya sebesar kacang tanah yang terletak di antara kedua
sisi otak. Hormon ini mempunyai fungsi yang sangat khas karena
produksinya dipicu oleh gelap dan hening tetapi dapat dihambat oleh sinar
yang terang.
• Dosis melatonin yang direkomendasikan ialah 3 mg dan dapat ditingkatkan
hingga 12 –15 mg. Efek samping yang dilaporkan ialah sakit kepala,
pusing,lemah, iritabel. Megadosis (300mg perhari) dapat menghampat
fungsi ovarium. Kontraindikasi pada Wanita hamil dan menyusui (Liya,
2013).
ANTIHISTAMIN

• Three–diphenhydramine hydrochloride, dypenhydramine citrate dan


doxylamine yang sering digunakan untuk membantu tidur. Efek samping
penggunaanya adalah pusing, lemah, mual
ANTIDEPRESAN

• Pengaturan Dosis
• Pemberian tunggal dosis anjuran 15 sampai 30 menit sebelum pergi tidur.
• Dosis awal dapat dinaikkan sampai mencapai dosis efektif dan
dipertahankan sampai 1-2 minggu, kemudian secepatnya tapering off
(untuk mencegah timbulnya rebound dan toleransi obat).
• Pada usia lanjut, dosis harus lebih kecil dan peningkatan dosis lebih
perlahan-lahan, untuk menghindari oversedation dan intoksikasi.
• Ada laporan yang menggunakan antidepresan sedatif dosis kecil 2-3 kali
seminggu (tidak setiap hari) untuk mengatasi insomnia pada usia lanjut.
LAMA PEMBERIAN

• Pemakaian obat antiinsomnia sebaiknya sekitar 1-2 minggu saja, tidak lebih
dari 2 minggu, agar resiko ketergantungan kecil. Penggunaan lebih dari 2
minggu dapat menimbulkan perubahan “Sleep EEG” yang menetap sekitar
6 bulan lamanya.
• Kesulitan pemberhetian obat seringkali oleh karena “Psychological
Dependence” (habiatuasi) sebagai akibat rasa nyaman setelah gangguan
tidur dapat ditanggulangi.
EFEK SAMPING

• Efek samping dapat terjadi sehubungan dengan farmakokinetik obat anti-insomnia


(waktu paruh) :
• Waktu paruh singkat, seperti Triazolam (sekitar 4 jam). Gejala rebound lebih berat
pada pagi harinya dan dapat sampai menjadi panik.
• Waktu paruh sedang, seperti Estazolam gejala rebound lebih ringan.
• Waktu paruh panjang, seperti Nitrazepam menimbulkan gejala “hang over” pada
pagi harinya dan juga “intensifying daytime sleepiness”.
• Penggunaan lama obat anti-insomnia golongan benzodiazepine dapat terjadi
“disinhibiting effect” yang menyebabkan “rage reaction”.
•  
INTERAKSI OBAT

• Obat anti-insomnia + CNS Depressants (alkohol dll) menimbulkan potensiasi


efek supresi SSP yang dapat menyebabkan “oversedation and respiratory
failure”.
• Obat golongan benzodiazepine tidak menginduksi hepatic microsomal
enzyme atau “produce protein binding displacement” sehingga jarang
menimbulkan interaksi obat atau dengan kondisi medik tertentu.
• Overdosis jarang menimbulkan kematian, tetapi bila disertai alkohol atau
“CNS Depressant” lain, resiko kematian akan meningkat.
PERHATIAN KHUSUS

• Kontraindikasi :
– Sleep apneu syndrome
– Congestive Heart Failure
– Chronic Respiratory Disease
• Penggunaan Benzodiazepine pada wanita hamil mempunyai risiko
menimbulkan “teratogenic effect” (e.g.cleft-palate abnormalities)
khususnya pada trimester pertama. Juga benzodiazepine dieksresikan
melalui ASI, berefek pada bayi (penekanan fungsi SSP).
KOMPLIKASI

• Gangguan dalam pekerjaan atau di sekolah.


• Saat berkendara, reaksi reflex akan lebih lambat. Sehingga meningkatkan
reaksi kecelakaan.
• Kelebihan berat badan atau kegemukan
• Daya tahan tubuh yang rendah
• Meningkatkan resiko dan keparahan penyakit jangka panjang, contohnya
tekanan darah yang tinggi, sakit jantung, dan diabetes.
PROGNOSIS

• Prognosis umumnya baik dengan terapi yang adekuat dan juga terapi pada
gangguan lain seperti depresi. Lebih buruk jika gangguan ini disertai
skizophrenia.
TERIMAKASIH