Anda di halaman 1dari 10

ALAT UKUR

PSIKOLOGI
EKSPERIMEN
ANDI NURAYU KHOFIFAH
4518091051 | KELAS C
1. STEADINESS TESTER-GROOVE TYPE
Steadiness Tester-Groove Type adalah suatu bentuk pengujian
terhadap stabilitas tangan. Selain digunakan untuk mengukur
stabilitas tangan alat ini juga digunakan untuk mengukur
kemampuan motorik halus seseorang, antara lain kemampuan
mengarahkan gerakan tangan /lengan serta ketangkasan jari.

Tujuan/Manfaat
:
untuk mengetahui efek yang ditimbulkan dari stress, kegelisahan, kelelahan,
konsumsi bahan kimia (kafein,alkohol, narkotika), usia lanjut dan lain
sebagainnya yang berpengaruh terhadap stabilitas tangan dan motorik halus.
Dalam kehidupan sehari-hari. alat ini dapat digunakan dalam pelaksanaan
ujian masuk teknisi mesin, tukang las, kedokteran, baik dokter umum, dokter
gigi, dokter bedah dan lain sebagainnya.

Cara Penggunaan :
Dalam mengoperasikan steadiness tester- groove type ini, subjek diminta memegang stick
dan menggerakannya kesamping pada lintasan lurus yang makin menyempit.
Alat akan mencatat secara otomatis lamannya waktu dan jumlah error yang terjadi setiap
kali lintasan tersentuh oleh stick.
2. STEADINESS TESTER-HOLE TYPE
Steadiness tester-hole type ini juga merupakan suatu alat yang
dapat digunakan untuk mengukur tingkat stabilitas tangan.
Selain itu,alat ini juga dapat digunakan untuk mengukur kemampuan
motorik halus, diantarannya mengarahkan arah gerakan, tingkat
gemetaran (tremor), presisi, kecepatan gerak tangan, lengan dan
ketangkasan jari.

Tujuan/Manfaat
: digunakan untuk mengukur seberapa besar pengaruh dari
Alat ini dapat
variable stress, kegelisahan, konsumsi bahan kimia ( kafein, alcohol, narkoba ),
usia, kelelahan, kebugaran dan lain-lain.

Cara Penggunaan :
Subjek diminta memegang stick dan memasukkannya melalui lubang/ hole hingga mencapai
batas ujungnya yang berwarna merah. Posisi masuknya harus lewat diatas posisi sensor dan
gerak stick jangan ditumpukan pada sensor. Saat sampai diujung, tombol harus ditekan.
Dalam menggunakan alat ini waktu yang terpakai dan jumlah kesalahan akibat menyentuh
dinding hole akan tercatat secara otomatis.
3. MIRROR TRACER
Mirror tracer masuk dalam kategori motor memori, yaitu kemampuan untuk
melakukan suatu gerakan yang telah dimiliki seseorang dalam memorinya.
Pengujian motor memori selalu melibatkan aspek persepsi, enconding, dan
pengaksesan kembali atau recall informasi kinetik yang telah tersimpan.

Tujuan/Manfaat
Mirror: tracer sebagai alat motor memori melibatkan kemampuan koordinasi
tangan dengan dengan mata dalam merespon bayangan terbalik sebuah objek
yang terlihat melalui cermin. Aspek yang diukur adalah ketepatan penelusuran
dan kecepatan gerakanya. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, seperti pada
pengendara mobil saat jalan mundur, merias diri, dan lain-lain

Cara Penggunaan :

Subjek diminta untuk menelusuri suatu pola sambil melihat bayangan dicermin, sehingga secara visual
nampak dalam posisi terbalik. Alat ini memiliki sebuah tabir yang letaknya diatas pola bintang yang
berfungsi untuk mencegah subjek memandang secara langsung gerakan tangannya pada saat menelusuri
pola. Waktu yang dibutuhkan dan banyaknya kesalahan atau error yang dilakukansecara otomatis akan
tercatat dalam panel scoring. Kesalahan atau eror apabila penelusuran pola bintang keluar dari pola yang
tersedia.
4. TWO ARMS COORDINATION TEST
Alat ini juga masuk dalam motor memori test, hanya saja dalam two arm coordination
test sangat diperlukan koordinasi tangan dan mata untuk bergerak bersama secara
efektif dari telapak tangan, lengan dan siku-siku yang dipandu oleh pandangan mata
ketika mengoperasikan alat ini.

Tujuan/Manfaat
:
two arm coordination test ini adalah untuk menguji koordinasi kedua tangan dan
mata serta konsep kecapatan yang berlawanan akurasinya. Dalam kehidupan sehari-
hari, koordinasi kedua tangan sangatlah dibutuhkan misalnya pada seorang sopir,
pilot,
juru ketik dan lain sebagainya.

Cara Penggunaan :
Subjek diminta menelusuri pola berbentuk bintang dengan menggerakkan stangan ke kanan- ke kiri atau
melebar-menyempit sehingga pena penelusur dapat bergeser menelusuri pola bintang. Pada saat menelusuri
pola bintang, diusahakan untuk tidak keluar dari lintasan yang berbentuk bintang, karena apabila keluar dari
lintasan, maka secara otomatis akan tercatat dalam panel scoring  sebagai kesalahan atau error. Selain itu,
subjek harus berusaha melakukannya secepat mungkin, karena waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan
tugas ini secara otomatis juga tercatat pada counter waktu panel scoring.
5. DEPTH PERCEPTION APPARATUS
Dalam depth perception apparatus ini, aspek persepsi sangatlah utama. Persepsi adalah
proses untuk memilih, memilah, dan mengartikan informasi yang diperoleh melalui
indera. Persepsi seseorang tergantung pada panca indra yaitu penglihatan, pendengaran,
penciuman, perasaan, dan peraba.

Tujuan/Manfaat
:
Depth perseption adalah kemampuan visual untuk menggambarkan dunia ini dalam
tiga dimensi, sehingga seseorang dapat menafsirkan secara tepat jarak dari suatu
objek.
Dalam kehidupan sehari-hari, kegiatan yang membutuhkan ketepatan perkiraan,
kesejajaran posisi, misalnya adalah saat mengemudikan mobil agar dapat sejajar
dengan mobil lain.

Cara Penggunaan :
Dengan menggunakan depth perception apparatus, subjek diuji untuk menentukan apakah dua buah objek
telah berada dalam posisi sejajar (berkedalaman sama). Salah satu objek dibuat memiliki posisi tetap, sedangkan
yang satu dapat digeser melalui tombol maju mundur sehingga dapat disejajarkan. Subjek mengatur posisi untuk
melihat kedua buah objek melalui jendela hingga tidak melihat bagian bawah atau atas dari benda, sehingga tidak
ada tanda yang dapat membantunya untuk menebak-nebak.
6. ROEDER MANIPULATIVE APTITUDE TEST
Roeder Manipulative Aptitude Test merupakan salah satu alat yang
digunakan untuk mengukur kemampuan koordinasi antara
ketajaman visual dengan kecepatan gerakan motorik tangan.

Tujuan/Manfaat
:
Alat tes ini dapat digunakan untuk menguji kemampuan koordinasi
visual-motorik. Contoh pekerjaan yang menggunakan kemampuan
koordinasi visual motorik adalah operator telefon

Cara Penggunaan :

Pengoperasian roeder manipulative aptitude test ini diawali dengan memilih batas waktu pada counter (misalnya
pada batas tak terhingga waktu tergantung dari waktu start dan stop). Langkah kedua yaitu melakukan pengujian
dengan meletakkan satu unit benda ke lubang papan sesuai dengan pasanganya, maka waktu mulai dihitung
(start otomatis). Jika semua unit benda terpasang pada papan, maka counter akan berhenti ( stop otomatis ).
Selanjutnya counter akan mencatat lama waktu pengerjaan yang tertera pada display. Apabila batas waktu dipilih
nilai tertentu misalnya 10 menit, maka perhitungan waktu akan mulai saat pertama kali kita meletakkan unit
benda gambar papan (start otomatis) dan berhenti sendiri setelah 10 menit meskipun pengerjaan belum selesai.
7. REACTION TIMES APPARATUS
Alat ini didesain untuk mengukur kecepatan reaksi subjek terhadap stimulus berupa sinyal
lampu merah dan hijau. Masing-masing bisa dimunculkan di bagian kiri atau kanan secara
acak. Di sekeliling sinyal lampu merah atau hijau itu diberi stimulus pengganggu berupa
lampu yang bisa dinyalakan dengan efek berputar cepat atau lambat baik searahy atau
berlawanan arah jarum jam. Selain lampu yang dinyalakan dan berputar dengan kecepatan
yang kita tentukan, dalam alat ini juga terdapat stimulus pengganggu berupa nada bising.

Tujuan/Manfaat
:
Upaya mengukur human reaction time (selang waktu antara saat munculnya stimulus
hingga seseorang memberikan respon).

Cara Penggunaan :

Subjek diminta memegang panel respon yang berisi tombol merah dan hijau. Subjek diminta untuk
memencet satu  tombol merah atau hijau yang terlihat dalam kotak apparatus. Misalnya jika melihat
lampu merah, maka subjek diminta segera memencet tombol merah pada panel yang dipegangnya.
Dalam menggunakan alat ini, waktu yang digunakan subjek untuk bereaksi terhadap stimulus akan
tercatat secara otomatis, dan tugas eksperimenter adalah mengontrol selang waktu (timing) yang
digunakan antara memunculkan satu stimulus ke stimulus berikutnya dan memilih faktor
pengganggu mana yang dikenal.
8. MULLER LYER APPARATUS
Ilusi Muller Lyer merupakan sebuah ilusi optik yang terjadi saat seseorang salah
mempersepsi panjang salah suatu ruas garis dari dua garis dengan panah yang
beragam arah, dimana salah satu garis dibatasi oleh anak panah yang mengarah
kedalam
dan garis yang lain dibatasi oleh anak panah yang mengarah keluar, satu diantara dua
garis tersebut dapat digerakan ke dalam dan keluar. Pengamat yang mengamati garis
dengan anak panah tersebut, akan mengalami kesalahan dalam mempersepsi
panjang ruas garis tersebut.
Tujuan/Manfaat
:
Untuk mengetahui adanya ilusi dalam penglihatanseseorang, untuk m
engetahui hubungan antara "ungsi "isiologis dengan persepsi
seseorang

Cara Penggunaan :

Subjek diminta untuk menggeser-geser salah satu ruas garis, sampai dia meyakini keduannya
telah “nampak” sama panjangnya. Meski secara fisik panjangnya sama dapat dibuktikan dengan
mistar pengukur) namun persepsi visual dari si subjek tetap “menganggap” bahwa salah satu
garis tersebut seolah lebih panjang.
Thanks !
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
Etiam aliquet eu mi quis lacinia