Anda di halaman 1dari 20

KEPERAWATAN PARIWISATA I

INTERVENSI PADA KLIEN DI


PANTAI
NAMA KELOMPOK :
NI LUH GEDE DIPA LINDAYANI (P07120217025)
I PUTU YOAN SUGIANTARA (P07120217026)
KADEK MEGA ASRINI (P07120217027)
DEFINISI KEPERAWATAN TRANSKULTURAL
Transcultural Nursing merupakan suatu
area yang berkaitan dengan perbedaan
Transkultural bila ditinjau dari maupun kesamaan nilai-nilai budaya
makna kata , transkultural ( nilai budaya yang berbeda,ras,yang
berasal dari kata trans dan mempengaruhi pada seorang perawat
culture. Menurut Kamus Besar saat melakukan asuhan keperawatan
Bahasa Indonesia trans berarti kepada klien/pasien).
melintang,melintas,menembus,
melalui. Menurut Kamus Besar Transkultural Nursing adalah suatu
Bahasa Indonesia kultur berarti area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan
kebudayaan,cara pemeliharaan,
yang fokus memandang perbedaan dan
pembudidayaan. Jadi , kesamaan diantara budaya dengan
transkultural dapat diartikan menghargai asuhan, sehat dan sakit
sebagai lintas budaya yang didasarkan pada nilai budaya manusia,
mempunyai efek bahwa budaya kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini
yang satu mempengaruhi digunakan untuk memberikan asuhan
budaya yang lain atau juga keperawatan khususnya budaya atau
pertemuan kedua nilai-nilai keutuhan budaya kepada manusia
budaya yang berbeda melalui (Leininger, 2002).
proses interaksi sosial
LANJUTAN

Perilaku caring adalah bagian dari keperawatan yang


membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan
keperawatan. Tindakan caring adalah tindakan yang dilakukan
dalam memberikan dukungan kepada individu secara utuh.
Perilaku ini seharusnya sudah tertanam di dalam diri manusia
sejak lahir, dalam perkembangan dan pertumbuhan, masa
pertahanan sampai individu tersebut meninggal. Hal ini tetap
ikut berkembang dengan seturut jalannya perkembangan
manusia tersebut.
TUJUAN PENGGUNAAN KEPERAWATAN
TRANSKULTURAL

Menurut Leniger tujuan penggunaan keperawatan transkultural


adalah dalam pengembangan sains dan ilmu yang humanis
sehingga tercipta praktek keperawatan pada kebudayaan yang
spesifik. Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan
nilai dan norma yang spesifik yang tidak dimiliki oleh kelompok
lain contohnya suku Osing, Tengger dan Dayak. Sedangkan,
kebudayaan yang universal adalah kebudayaan dengan nilai dan
norma yang diyakini dan dilakukan oleh hampir semua kebudayaan
seperti budaya olahraga untuk mempertahankan kesehatan.
Dengan adanya keperawatan transkultural dapat membantu
klien beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih
menguntungkan kesehatannya. Perawat juga dapat membantu klien
agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih
mendukung peningkatan status kesehatan.
KONSEP DALAM KEPERAWATAN
TRANSKULTURAL

Di dalam buku yang berjudul “Fundamentals of Nursing” yang ditulis oleh Kozier
Barabara ( 1983 ) mengatakan bahwa konsep keperawatan adalah merupakan suatu
bagian dari ilmu kesehatan dan seni merawat yang meliputi pengetahuan. Konsep ini
ingin memberikan penegasan bahwa sifat seorang manusia yang menjadi target
pelayanan dalam perawatan adalah bersifat bio,psycho,social,spiritual. Oleh karenanya,
tindakan perawatan harus didasarkan pada tindakan yang komperhensif sekaligus
holistik.
Budaya merupakan salah satu dari perwujudan atau bentuk interaksi yang nyata
sebagai manusia yang bersifat sosial. Budaya yang berupa norma, adat istiadat menjadi
acuan perilaku manusia dalam kehidupan dengan yang lain. Pola kehidupan yang
berlangsung lama dalam suatu tempat,selalu diulangi,membuat manusia terikat dalam
proses yang dijalaninya.
LANJUTAN
Selain itu ada beberapa konsep lagi yang terkandung dalam transkultural
nursing yakni :

Perbedaan budaya
Dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk
Budaya Nilai budaya yang optimal dari pemberian asuhan
Adalah norma atau aturan tindakan Adalah keinginan individu atau keperawatan, mengacu pada kemungkinan
variasi pendekatan keperawatan yang
dari anggota kelompok yang tindakan yang lebih diinginkan atau dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya
dipelajari, dan dibagi serta memberi sesuatu tindakan yang dipertahankan yang menghargai nilai budaya individu,
petunjuk dalam berfikir, bertindak pada suatu waktu tertentu dan kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan
dan mengambil keputusan. melandasi tindakan dan keputusan. terhadap lingkungan dari individu yang datang
dan individu yang mungkin kembali lagi
(Leininger, 2002).

Etnosentris Etnis
Ras
Diantara budaya-budaya yang Berkaitan dengan manusia dari
Adalah perbedaan macam-
dimiliki oleh orang lain adalah ras tertentu atau kelompok
persepsi yang dimiliki oleh individu macam manusia didasarkan pada
budaya yang digolongkan
yang menganggap bahwa budayanya mendiskreditkan asal muasal
menurut ciri-ciri dan kebiasaan
adalah yang terbaik. manusia.
yang lazim.
LANJUTAN

Etnografi
Adalah ilmu yang mempelajari budaya. Care
Caring
Pendekatan metodologi pada penelitian Adalah fenomena yang berhubungan
Adalah tindakan langsung yang diarahkan
etnografi memungkinkan perawat untuk dengan bimbingan, bantuan, dukungan
untuk membimbing, mendukung dan
mengembangkan kesadaran yang tinggi perilaku pada individu, keluarga,
mengarahkan individu, keluarga atau
pada perbedaan budaya setiap individu, kelompok dengan adanya kejadian untuk
kelompok pada keadaan yang nyata atau
menjelaskan dasar observasi untuk memenuhi kebutuhan baik actual maupun
antisipasi kebutuhan untuk meningkatkan
mempelajari lingkungan dan orang-orang, potensial untuk meningkatkan kondisi dan
kondisi kehidupan manusia
dan saling memberikan timbal balik kualitas kehidupan manusia
diantara keduanya.

Cultural Care
Berkenaan dengan kemampuan kognitif Cultural imposition
untuk mengetahui nilai,kepercayaan dan
Berkenaan dengan kecenderungan tenaga
pola ekspresi yang digunakan untuk
kesehatan untuk memaksakan
mebimbing, mendukung atau memberi
kepercayaan, praktik dan nilai diatas
kesempatan individu, keluarga atau
budaya orang lain karena percaya bahwa
kelompok untuk mempertahankan
ide yang dimiliki oleh perawat lebih
kesehatan, sehat, berkembang dan
tinggi daripada kelompok lain.
bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan
dan mencapai kematian dengan damai.
PARADIGMA TRANSKULTURAL
NURSING

Leininger (2002) mengartikan paradigma keperawatan transkultural sebagai cara pandang, keyakinan, nilai-
nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya
terhadap empat konsep sentral keperawatan (Andrew and Boyle, 2002), yaitu manusia, sehat, lingkungan dan
keperawatan.

MANUSI LINGKUNGA
A N
:

KEPERAWATA
SEHAT N
Asuhan keperawatan ditujukan memandirikan individu sesuai
LANJUTAN
dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam
melaksanakan asuhan keperawatan (Leininger, 2002) adalah :
Strategi III,
Strategi I, Mengubah/mengganti
Perlindungan/mempertaha Strategi II, budaya klien
nkan budaya. Mengakomodasi/ne Restrukturisasi budaya
Mempertahankan budaya goasiasi budaya. klien dilakukan bila
dilakukan bila budaya budaya yang dimiliki
pasien tidak bertentangan Intervensi dan merugikan status
dengan kesehatan. implementasi kesehatan. Perawat
Perencanaan dan keperawatan pada berupaya
implementasi keperawatan
diberikan sesuai dengan tahap ini dilakukan merestrukturisasi gaya
nilai-nilai yang relevan untuk membantu hidup klien yang
yang telah dimiliki klien biasanya merokok
klien beradaptasi menjadi tidak merokok.
sehingga klien dapat
meningkatkan atau terhadap budaya Pola rencana hidup
mempertahankan status tertentu yang lebih yang dipilih biasanya
kesehatannya,misalnya menguntungkan yang lebih
budaya berolah raga setiap menguntungkan dan
pagi. kesehatan
sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
PROSES KEPERAWATANTRANSKULTURAL

Pengelolaan asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1. Pengkajian
Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien
sesuai dengan latar belakang budaya klien.
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah,
diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan.
3. Perencanaan dan Pelaksanaan
Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan
yang tidak dapat dipisahkan.
4. Evaluasi
Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang
mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak sesuai
dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat bertentangan dengan
budaya yang dimiliki klien.
TREN DAN ISU TRANSKULTURAL NURSING

Banyak hal dalam budaya Indonesia termasuk dalam cara mereka mempercayai dan
mengobati diri mereka untuk membuat hidup mereka mampu menangani sakit yang mereka alami,
sebagai contoh budaya Jawa, disini budaya jawa yang sering kami ketahui cara dan adat yang
mereka percayai untuk mengobati diri saat sakit adalah dengan kerokan, kerokan bukan hal yang
asing bagi budaya jawa, lebih dari banyak orang jawa yang masih menggunakan kerokan untuk
mengobati sakit mereka sampai saat ini.
Ketika melakukan komunikasi untuk memberikan informasi tentang akibat yang terjadi dari
kerokan tidak membuat para klien atau pasien tidak berhenti melakukan tradisi seperti hal tersebut
karena itu telah menjadi kebiasaan yang secara terus menerus dilakukan. Sehingga asuhan
keperawat yang mungkin akan diberikan kepada klien tidak dapat dilakukan karena adanya
penolakan yang terjadi terhadap anggapan akan hal tersebut. Disini kita tidak dapat mengkritik
keyakinan dan praktik budaya kesehatan tradisional yang dilakuakan. Karena tujuan kita bukanlah
untuk mengubah atau mengkritik tradisi tersebut, namun bagaimana perawat mampu melakukan
semua tugasnya dalam memenuhi kebutuhan pasien.
CONTOH KASUS DIPANTAI DI DALAM AIR
(TENGGELAM)

A. Pengertian Tenggelam
Tenggelam adalah suatu peristiwa dimana terbenamnya seluruh atau sebagian tubuh ke dalam
cairan. Pada umumnya tenggelam merupakan kasus kecelakaan, baik secara langsung maupun
karena ada faktor-faktor tertentu.
B. Faktor pemicu / Penyebab seseorang tenggelam di pantai
Tenggelam umumnya disebabkan oleh ketidakmampuan diri untuk memosisikan mulut dan
hidung di atas permukaan air, dan menahan napas ketika berada di dalam air untuk jangka waktu
tertentu. Kasus-kasus tenggelam seperti di pantai dapat dipicu oleh sejumlah faktor, seperti:
• Tidak bisa berenang.
• Mengalami serangan panik saat berada di dalam air.
• Mengonsumsi alkohol sebelum berenang atau berlayar ketika berwisata.
• Menderita penyakit yang kambuh ketika berenang di pantai, seperti serangan jantung atau 
epilepsi.
• Tidak mengawasi dan menjaga bayi atau anak-anak ketika berada di dalam air pantai.
• Musibah alam, seperti tsunami.
LANJUTAN
C. Penanganan Pertama Pada kasus Tenggelam
Prinsip pertolongan di air :
• Raih ( dengan atau tanpa alat ).
• Lempar ( alat apung ).
• Dayung ( atau menggunakan perahu mendekati penderita ).
• Renang ( upaya terakhir harus terlatih dan menggunakan alat apung ).
Penanganan Korban
• Pindahkan penderita secepat mungkin dari air dengan cara teraman.
• Bila ada kecurigaan cedera spinal satu penolong mempertahankan posisi kepala, leher dan
tulang punggung dalam satu garis lurus. Pertimbangkan untuk menggunakan papan spinal
dalam air, atau bila tidak memungkinkan pasanglah sebelum menaikan penderita ke darat.
• Buka jalan nafas penderita, periksa nafas. Bila tidak ada maka upayakan untuk memberikan
nafas awal secepat mungkin dan berikan bantuan nafas sepanjang perjalanan.
• Upayakan wajah penderita menghadap ke atas.
• Sampai di darat atau perahu lakukan penilaian dini dan RJP bila perlu
• Berikan oksigen bila ada sesuai protokol.
• Jagalah kehangatan tubuh penderita, ganti pakaian basah dan selimuti.
• Lakukan pemeriksaan fisik, rawat cedera yang ada.
• Segera bawa ke fasilitas kesehatan.
LANJUTAN

D. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Korban Tenggelam

Pengkajian
• Kaji adanya respirasi spontan
• Kaji tingkat kesadaran
• Kaji suhu inti tubuh
 
Diagnosa Keperawatan
• Gangguan pertukaran gas
• Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
• Pola Napas Tidak Efektif
• Perfusi Perifer Tidak Efektif

Intervensi Keperawatan Klien di Pantai WORD !


CONTOH KASUS DI PINGGIR PANTAI ( TERKENA
KARANG/BEBATUAN PINGGIR PANTAI )

A. Pengertian
Pantai merupakan salah satu destinasi wisata yang sangat populer untuk dikunjungi
wisatawan asing dan mancanegara, tak terkecuali pantai di negara Indonesia. Selain kasus
didalam air seperti di tenggelan, di pinggir pantai juga terkadang menyimpan bahaya tersendiri.

B. Faktor Pemicu / Penyebab Seseorang Terkena Karang/Bebatuan Pinggir Pantai


Kasus-kasus Seseorang Terkena Karang/Bebatuan Pinggir Pantai dapat dipicu oleh sejumlah
faktor, seperti:
• Permukaan karang atau bebatuan pinggir pantai yang halus sehingga licin dipijak karena
terkena debutan ombak dan air laut
• Licinnya permukaan alas kaki yang menyebabkan seseorang kehilangan keseimbangan
dan tak sengaja terjatuh di bebatuan.
• Ketidakseimbangan wisatawan karena kondisi intern seperti pusing, kurang fit, dan
kelelahan sehingga menyebabkan kurangnya.
• Kecerobohan wisatawan ketika sendiri. Contohnya bermain dan berlari lari sehingga
kurang memperhatikan bebatuan yang dipijak.
LANJUTAN
C. Penanganan Pertama Pada Wisatawan yang Terkena Karang/Bebatuan Pinggir Pantai
• Vulnus Laserasi (Luka Robek)
Cara mengatasi luka robek, bila ada perdarahan dihentikan terlebih dahulu dengan cara menekan
bagian yang mengeluarkan darah dengan kasa steril atau saputangan/kain bersih. Kemudian cuci dan
bersihkan sekitar luka dengan air dan sabun. Luka dibersihkan dengan kasa steril atau benda lain yang
cukup bersih. Perhatikan pada luka, bila dijumpai benda asing ( kerikil, kayu, atau benda lain )
keluarkan. Bila ternyata luka terlalu dalam, rujuk ke rumah sakit. Setelah bersih dapat diberikan anti-
infeksi lokal seperti povidon iodine atau kasa anti-infeksi.
• Vulnus excoriasi (Luka lecet)
Pertama yang harus dilakukan adalah membersihkan luka terlebih dahulu menggunakan NaCl
0,9%, dan bersiaplah mendengar teriakan pasien, karena jenis luka ini tidak memungkinkan kita
melakukan anastesi, namun analgetik boleh diberikan. Setelah bersih, berikan desinfektan. Perawatan
jenis luka ini adalah perawatan luka terbuka, namun harus tetap bersih, hindari penggunaan IODINE
salep pada luka jenis ini, karena hanya akan menjadi sarang kuman, dan pemberian IODINE juga tidak
perlu dilakukan tiap hari, karena akan melukai jaringan yang baru terbentuk.
• Vulnus contussum (luka memar)
Yang perlu dilakukan adalah kompres dengan air dingin, karena akan mengakibatkan vasokontriksi
pembuluh darah, sehingga memampatkan pembuluh-pembuluh darah yang robek.
• Vulnus insivum (Luka sayat)
Jenis luka ini biasanya tipis. Cara penanganan : yang perlu dilakukan adalah membersihkan dan
memberikan desinfektan.
LANJUTAN

D. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Wisatawan yang Terkena


Karang/Bebatuan Pinggir Pantai

Pengkajian
• Kaji Skala Nyeri
• Kaji tingkat kesadaran
• Kaji adanya Luka

Diagnosa Keperawatan
• Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
• Risiko Infeksi

Intervensi Keperawatan Klien di Pantai WORD !


SESI TANYA JAWAB