Anda di halaman 1dari 23

Erytromicyn suspensi

Ira Okmadila
1012017029
Erytromicyn suspensi
Suspensi erytromisin merupakan antibiotik golongan
makrolida yang cara kerjanya menghambat sisntesis
protein kuman/bakteri dengan jalan berikatan secara
reversible dengan ribosom subunit 50S, dan bersifat
bakteriostatik atau bakterisid tergantung dari jenis
bakteri dan kadar obat makrolida.
Eritromisin dihasilkan oleh suatu strain Streptomyces
erythereus. Eritromisin aktif terhadap bakteri gram
positif cocci ( Stapylococcus dan streptococcus). Dan
gram negatif cocci (spesies Neisseria) dan beberapa
gram negatif seperti spesies basilli, erytromicin juga
aktif terhadap Chamyda dan treponema sperti
S.pyogenes dan S.pneumoniae.
Erytromicyn suspensi
01 KOMPOSISI

02 INDIKASI

03 DOSIS

04 EFEK SAMPING

05 KONTRA INDIKASI

06 PERINGATAN DAN PERHATIAN

07 INTERKASI OBAT
KOMPOSISI
Tiap 5 ml suspensi mengandung eritromisina
etilsuksinat setara dengan eritromisina 200mg
INDIKASI
Eritromisin di indikasika, untuk infeksi kulit dan
jaringan lunak yang disebabkan oleh
Stapylococcus aureus ( resistensi dapat terjadi
selama pengobatan).Infeksi saluran pernapasan
pada anak, batuk rejan (pertusis) , sinusitis yang
disebabkan Streptococcus pyogenes, Haemofilus
influenzae, Streptococcus pneumoniae, dan
Mycoplasma pneuminiae. Radang panggul akut
yang disebabkan oleh Neisseria gonorrhoae
pada penderita yang alergi terhadap penisilin.
Pencegahan terhadap endocarditis bacterial
pada penderita yang alergi terhadap penisilin
dengan riwayat demam rematik dan kelainan
jantung bawaan. Eritromisin aktif terhadap
kuman anaerob dalam usus sehingga bersama
neomisin digunakan untuk profilaksis bedah
usus,. Penyakit Legionnaires, karier Bordetella
partusis pada nosofaring.
DOSIS
DEWASA
400mg 4 kali sehari atau
600-800mg tiap 12 jam.

ANAK-ANAK
Sehari 30-50mg /kg berat
badan dalam 4 dosis
terbagi.

Pada penggunaan eritromisin perlu diperhatikan karena dapat terjadi


gangguan fungsi hati pada pasien yang menggunkan eritromisin >14 hari
EFEK SAMPING

Iritasi gastrointestinal, Kehilangan pendengaran yang Reaksi alergi , seperti


mual, muntah, diare, reversibel pada pasien dengan urtikaria dan anafilaksis.
distress, epigastris, gangguan fungsi ginjal dan pada Dan pada orang yang
penderita yang mendapat dosis alergi eritromisin maka
anoreksia.
besar, konvulsi, halusinasi, dapat menimbulkan gejala
vertigo, aritmia dan kardiak.
kesulitan bernafas,
pembengkakan pada
wajah dan
bibir, lidah dan
KONTRAINDIKASI Gangguan fungsi hati yang
berat

Pasien yang hipersensitif


terhadap erytromicin

Pasien yang menggunakan


tertenadin, astemizol, atau
cisapride
PERINGATAN DAN PERHATIAN

HARAP BERHATI-HATI APABILA OBAT ERITROMISIN


INI HENDAK DIGUNAKAN PADA PENDERITA
GANGGUAN FUNGSI HATI ( DENGAN ATAU TANPA
PENYAKIT KUNING) DAN GANGGUAN FUNGSI
GINJAL. WASPADAI PENGGUNAAN JANGKA
PANJANG KARENA DAPAT MENYEBABKAN
RESISTENSI BAKTERI. KONSULTASIKAN TERLEBIH
DAHULU UNTUK IBU HAMIL YANG HENDAK
MENGGUNAKAN ERITROMISIN
INTERAKSI ERITROMISIN

1. Teofilin, toksisitas teofilin meningkat.


2. Karbamazepim, konsentrasi obat karbamazepim dalam darah akan meningkat.
3. Warfarin, waktu prptombin bisa memanjang.
4. Methylprednisolon, mengurangi eliminasi metilprednisolon
5. Ergotamin meningkatkan toksisitas ergotamin
FARMAKOKINETIK

1. Distribusi
distribusi eritromisin keseluruh cairan tubuh baik kecuali ke cairan
sebrospinal. Obat ini merupakan satu diantara sedikit antibiotika yang
berdisfusi kecairan prostat dan mempunyai sifat akumulasi unit kedalam
makrofag. Obat ini berkumpul dihati. Adanya inflamasi menyebabkan
penetrasinya kejaringan lebih baik
2. Metabolisme
eritromisin dimetabolisme ekstensif dan diketahui menghambat oksidasi
sejumlah obat melalui interaksinya dengan sistem sitokrom P-450
3. Ekskresi
Eritromisin terutama dikumpulkan dan diekskresikan dalam bentuk aktif
dalam empedu. Reabsorsi parsial terjadi melalui sirkulasi entero hepatik.
Eritromisin
Zat ini berwarna kekuningan, larut dalam air
sebanyak 2mg/ml. Etritromisin larut lebih baik
. dalam etanol atau pelarut organik. Antibiotik ini
tidak stabil dalam suasana asam, kurang stabil
pada suhu kamar tetapi cukup stabil pada suhu
rendah. Aktivitas in vitro paling besar dalam
suasana alkalis. Larutan netral eritromisin yang
disimpan dalam suhu kamar akan menurun
potensinya dlam beberapa hari, tetapi bila
disimpan pada suhu 5oC biasanya tahan dalam
beberapa minggu
Eritromisin
Karakteristik fisika: Pemerian : serbuk/hablur, putih atau
Kelarutan agak kuning, tidak berbau rasa
. •1:100 bagian air
pahit , agak higroskopis
•1: 5 larut dalam etanol 95%
•1: 6 dalam kloroform
•1: 5 dalam eter

Teofilin,
Monografi
a. Berat molekul: 733,94
b. Kemurnian: eritromisin mengandung tidak kurang dari 850mcg C37H67NO13 per
mg, dihitung terhadap zat anhidrat
.
c. Oragnoleptis:
• warna: putih,
• bau: tidak berbau atau praktis tidak berbau,
• rasa: pahit
d. Bentuk kristal: serbuk hablur
e. Sifat fisika kimia: titik lebur : 135oC Higroskopisitas: higroskopik kelarutan: sukar
larut dalam air, larut dalam etanol, dalam kloralhidrat dan dalam eter. pH: 8,0-10,5
(dalam 400mg/ml dalam 19 bagian air)
f. Stabilitas:
• Terhadap suhu: stabil dalam suhu 37oC.
• Terhadap cahaya: dalam bentuk larutan harus terlindung dari cahaya
• Terhadap kelembapan : stabil dan relatif humidity 20-90% dengan suhu 25oC.
• Terhadap pelarut air: stabil dalam larutan pada suhu 37oC selama 3 hari
Analisis
Erytromicyn suspensi

ANALISIS KUALITATIF
ANALISIS KUANTITATIF
ANALISIS KUALITATIF
ERYTROMISINA
1. Uji organoleptik
uji organoleptik meliputi uji makroskopis, warna dari sampel, bau dan rasa
dari sampel.
2. Uji kelarutan
uji kelarutan meliputi kelarutan sampel dalam air, dalam asam, dalam basa dan
dalam dan dalam pelarut organik.
caranya: siapkan 4 tabung reaksi masing-masing tabung berturut-turut diisi dengan
air, larutan asam, larutan basa dan pelarut organik. Kemudian sampel dilarutkan
dalam masing-masing tabung.
3. Uji golongan
caranya sampel yang akan diidentifikasi direaksikan dengan fehling A dan
fehling B apabila ada perubahan warna berarti ada senyawa pereduksi.
4. Uji penegasan
caranya: analit direaksikan dengan seuatu reagen tertentu yang spesifik dan
selektif, kemudian amati perubahan warna yang terjadi.
ANALISIS KUALITATIF
1. Zat+H2S04 -> coklat merah
2. Zat +pereaksi Nessler -> abu-abu hitam
3. Larutan zat dalam aseton +HCl -> jingga yang
berubah merah kemudian merah keunguan.
4. Tambahkan CHCl3 kocok-> lapisan CHCl3
menjadi ungu.
5. larutan zat + Cu(NO3)2 ammoniakal, biarkan 5
menit-> abu-abu coklat
6. Zat +HNO3 pekat -> kuning+air -> hijau
7. 5 mg zat tambahkan 2 ml asam sulfat P, kocok
perlahan-lahan , terjadi warna coklat merah.
8. Larutkan 3 mg zat dalam 2 ml aseton P + 2 ml
asam klorida P, terjadi warna jingga yang berubah
menjadi merah dan kemudian menjadi merah tua
keunguan, tambahkan 2ml Kloroform P, kocok
maka lapisan kloroform akan menjadi warna ungu
ANALISIS KUANTITATIF
Berdasarkan literatur penetapan kadar
erytromicin dapat ditentukan dengan
spektofotometri
UV-Vis, dan Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi (KCKT) , iodimetri
Cara Kerja UV-VIS
Cara kerja spektofotometri UV-VIS yaitu sinar dari
sumber radiasi diteruskan menuju monokromator.
Cahaya dari monokromater diarahkan terpisah
melalui sampel dengan sebuah cermin berotasi.
Detektor menerima cahaya dari sampel secara
bergantian secara berulang-ulang. Sinyal listrik dari det
ektor diproses, diubah ke digital dan dilihat hasilnya. S
elanjutnya perhitungan dilakukan dengan komputer ya
ng sudah terprogram
Cara kerja KCKT
Prinsip kerja HPLC/KCKT adalah pemisahan dengan
menggunakan teknik kromatografi. Pada HPLC system
kromatografi yang digunakan adalah caipadat, fase bergerak
berupa cairan yaitu pelarut dan fasa diam berupa padatan
yaitu absorban yang terdapat dalam kolom analitik

•Dengan bantuan pompa, fase gerak cair dialirkan


melalui kolom ke detektor. Cuplikan dimasukkan ke
dalam aliran fasa gerak dengan cara penyuntikkan.
•Di dalam kolom, terjadi pemisahan komponen-
komponen campuran karena perbedaan kekuatan
interaksi
antara solut-solut terhadap fasa diam.
•Solut-solut yang kurang kuat interksinya dengan fasa
diam akan keluar dari kolom lebih dahulu, sebaliknya
solut-solut yang kuat berinterksi dengan fasa diam
maka solut-solut tersebut akan keluar kolom dideteksi
oleh detektor kemudian direkam dalam bentuk
kromatogram
ANALISIS KUANTATIF
ERYTROMISINA
METODE IODIMETRI:
1. Lebih kurang 500mg eritromisin yang ditimbang seksama dilarutkan dalam air
secukupnya hingga 100ml sebanyak 5,0 ml larutan dipipet kedalam labu
bersumbat kaca , ditambah 1 ml Natrium Hidroksida 1 N dan dibiarkan selama 20
menit.
2. Larutan selanjutnya ditambah 5 ml larutan dapar yang dibuat dengan
mencampurkan 5 ml asam asetat 12%, 5 ml larutan Natrium asetat 27% dan
15ml air. Larutan lalu ditambah 1 ml asam klorida 1 N dan 10 ml iodium 0,01N,
dibiarkan selama 20 menit dan terlindung dari cahaya. Larutan dititrasi dengan
baku natrium tiosulfat 0,01 N menggunakan indikator kanji. Dilakukan titrasi
blanko dengan cara: diambil 5,0 ml larutan yang sama dan dimasukkan kedalam
labu elenmeyer bersumbat kaca. Larutan ditambah 5 ml larutan dapar dan
10,0 ml iodium 0,01N, dibiarkan selama 20 menit dan terlindung dar cahaya.
ANALISIS KUANTATIF
ERYTROMISINA

3. Larutan dititrasi dengan baku natrium tiosulfat 0,01 N menggunakan indikator


kanjiSelisih volume larutan baku tiosulfat blanko dengan volume tiosulfat awal
setara dengan jumlah iodium yang berekasi dengan eritromisin.
Thank you