Anda di halaman 1dari 45

KONSEP

HOME CARE
Umi Azizah KN, S.Kep,Ns.,
M.Kep
Latar Belakang
Penyakit dg perawatan
Fasilitas RS yg terbatas
jangka panjang meningkat

Masalah
HOSPITALISASI
• Tingginya kejadian sakit akibat penyakit kronis Solusi
mengakibatkan dampak pd perawatan dlm jangka
panjang, seperti kasus stroke, DM dg ulkus,
fasilitas RS yg terbatas dan fokus pd kuratif
memunculkan sebuah masalah.
HOME CARE
• Telalu lama di RS juga berdampak pd psikologgi
pasien dan keluarga (hospitalisasi)
• Penderita dg perawatan jangka panjang ini baik
jika perawatannya dilakukan dirmh pasien sendiri.
Pengertian
Definisi menurut Permenkes RI N0. 9 th
2014 tentang Klinik
Home care adalah pelayanan kesehatan yang
berkesinambungan dan komperhensif yang diberikan
kepada individu dan keluarga ditempat tinggal mereka
yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan
atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan
meminimalkan akibat dari penyakit.
• Neis dan Mc. Ewen (2010) menyatakan home care adalah system
dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah
kepada orang-orang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di
rumah kerena kondisi kesehatannya.

• Menurut Amerika Medicine Associatin, Home care merupakan


penyediaan peralatan dan jasa pelayanan keperawatan kepada pasien
di rumah yang bertujuan untuk memulihkan dan mempertahankan
secara maksimal tingkat kenyamanan dan kesehatan.
Dari beberapa literature yang didapatkan home care dapat didefenisikan
sebagai berikut:
1.Perawatan di rumah merupakan lanjutan asuhan keperawatan dari rumah
sakit yang sudah termasuk rencana pemulangan (discharge planning) dan
dapat dilaksanakan oleh perawat rumah sakit semula oleh perawat
komunitas dimana pasien berada atau tim keperawatan khusus yang
menangani perawatan dirumah
2.Perawatan di rumah merupakan bagian dari asuhan keperawatan keluarga
sebagai tindak lanjut dari tindakan unit rawat jalan atau puskesmas.
3. Pelayanan kesehatan berbasis di rumah merupakan suatu komponen
rentang keperawatan kesehatan yang berkesinanambungan dan
komperhensif diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal
mereka.
4. Pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan pasien individu dan keluarga,
direncanakan, dikoordinasikan, dan disediakan oleh pemberi pelayanan
yang diorganisir untuk memberi pelayanan di rumah melalui staf atau
pengaturan berdasarkan perjanjian kerja atau kontrak (Warola, 1980.
Dalam pengembangan model praktek mandiri keperawatan di rumah
yang disusun PPNI dan Departemen Kesehatan)
Bagaimana Sejarah Home Care
Di Indonesia istilah home care
baru berkembang sejak tahun
2001 sejak dikeluarkannya SK
Dirjen YAN MED Nomor: HK. Penggunaan model dan sistem
00.06.5.1.311. th 2001 pelayanan home care sudah
dikenal sejak lama dengan
dikenalnya istilah parawat
keliling, yang memberikan
pelayanan kesehatan dari
rumah ke rumah.
Di Indonesia, Pelaksanaan home care
berkembang. Hal ini ditandai dengan lahirnya
Lembaga Home care Graha Bali yang
terintegrasi dengan praktek mandiri perawat
(Cakra, 2006).

Dalam Permekes No 9 tahun 2014 secara ekplisit home


care menjadi bagian pelayanan terintegrasi dari klinik. 
Perspektif Home care
1. Perspektif Sosial
Sebelum tahun 1960an home care masih digolongkan sebagai
pelayanan sosial pemerintah yang lebih focus pada upaya
pencegahan keluarga miskin serta rentan.

2. Perspektif Regulasi dan Kebijakan Pemerintah


Kebijakan tecontinuing care, dukungan dalam bentuk regulasi praktek dan
pembiyaan yang bersumber pada asuransi perorangan dan pemerintah
menjadikan home care diberbagai Negara berkembang dengan pesat
3. Perspektif Teknologi
Kemajuan dalam teknologi pelayanan kesehatan memungkinkan
melakukan beberapa tindakan (Rise,2001) antara lain:
a. Meningkatkan kualitas tingkat layanan
b. Membantu dalam memberikan pelayanan
c. Mengurangi kerugian sosial dan ekonomi
d. Melakukan manajemen pemenuhan kebutuhan pasien
e. Melakukan tuntutan peningkatan kualitas pelayanan
Home care adalah solusi kompleksnya
masalah kesehatan masyarakat masa kini

Secara definisi:
Home care is care that allows a person with
special needs stay in their home
special needs
Fokus Pelayanan Home
Care
• Promosi kesehatan
• Pemeliharaan kesehatan
• Meningkatkan kemandirian pasien & keluarga

Home care merupakan salah satu tipe perawatan jangka panjang


(kondisi terminal atau pd penyakit paliatif) dan juga termasuk
bagian dari discharge planning (kelanjutan tindakan atau asuhan
keperawatan yg dilakukan di RS yg dilanjutkan di rmh)
Tujuan Home Care
Tujuan Umum:
Menyediakan pelayanan berbasis di rumah
terhadap klien yang memenuhi persyaratan
sehingga klien dapat dirawat di rumah
dengan aman, tenang dan mengurangi beban
hospitalisasi.
Tujuan Khusus:
1. Meningkatkan support system yang adekuat dan efektif serta
mendorong digunakannya pelayanan kesehatan.
2. Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota
keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan.
3. Mendorong pertumbuhan & perkembangan dari seluruh anggota
keluarga serta memberikan pendidikan kesehatan tentang
peningkatan kesehatan dan pencegahan.
4. Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar anggota keluarga.
5. Meningkatkan kesehatan lingkungan.
Konsep/Teori Keperawatan
1. Teori Lingkungan (Florence Nightingale)
2. Teori konsep manusia sebagai unit (Martha E.
Rogers)
3. Teori Transkultural nursing (Leininger)
4. Theory of Human Caring (Watson, 1979)
5. Teori Self Care (Dorothea Orem)
1 Teori Lingkungan
(Florence Nightingale)
• Lingkngan fisik dapat mempengaruhi kesehatan
tanpa melihat kondisi fisik sebelumnya
• Komponen lingkungan yg mempengaruhi
kesehatan adalah 5 komponen:
1. Udara bersih
2. Air yang bersih
3. Pemeliharaan yang efisien
4. Kebersihan, serta
5. Penerangan/pencahayaan
2 Teori konsep manusia sebagai
unit (Martha E. Rogers)
• Rogers berasumsi bahwa manusia merupakan satu kesatuan yg utuh,
yg memiliki sifat & karakter yang berbeda-beda.
• Proses kehidupan manusia berdasarkan konsep homeodinamik yang
terdiri dari integritas, resonansi dan helicy.
Integritas berarti individu sebagai satu kesatuan dengan lingkungan
yang tidak dapat dipisahkan, dan saling mempengaruhi satu dengan
yang lain.
Resonansi mengandung arti bahwa proses kehidupan antara individu
dengan lingkungan berlangsung dengan berirama dengan frekuensi
yang bervariasi
Helicy merupakan proses terjadinya interaksi antara manusia dengan
lingkungan akan terjadi perubahan baik perlahan-lahan maupun
berlangsung dengan cepat
• Menurut Rogers (1970), tujuan keperawatan adalah untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatan, mencegah
kesakitan, dan merawat serta merehabilitasi klien yang sakit dan
tidak mampu dengan pendekatan humanistik keperawatan.
• Menurut Rogers (1979) Kerangka Kerja Praktik: “Manusia utuh”
meliputi proses sepanjang hidup. Klien secara terus menerus
berubah dan menyelaraskan dengan lingkungannya.
Teori Transkultural nursing
3
(Leininger)
• Tujuan teori ini adalah untuk memberikan pelayanan
yang berbasis pada kultur.
• Struktur sosial seperti kepercayaan, politik, ekonomi dan
kekeluargaaan adalah kekuatan signifikan yang
berdampak pada ”care” dan mempengaruhi kesejahteraan
dan kondisi sakit.
• Perawat tidak dapat memisahkan cara pandangan dunia,
struktur sosial dan keyakinan kultur (orang biasa dan
profesional) terhadap kesehatan, kesejahteraan , sakit,
atau pelayanan saat bekerja dalam suatu kelompok
masyarakat tertentu, karena faktor-faktor ini saling
berhubungan satu sama lain
Aplikasi teori transkultural nursing dalam pelayanan home care nursing pada
pasien harus memperhatikan aspek budaya yg diyakini pasien, seperti:
1. Filosofi & keyakinan pasien
2. Pandangan hidup pasien
3. Pendidikan
4. Pekerjaan
5. Kekerabatan
6. Teknologi
7. Regulasi
4 Theory of Human Caring
(Jean Watson, 1979)
• Teori ini mempertegas bahwa caring
sebagai jenis hubungan dan transaksi yang
diperlukan antara pemberi dan penerima
asuhan untuk meningkatkan dan
melindungi pasien sebagai manusia

Mempengaruhi kesanggupan pasien untuk sembuh


Manusia memiliki empat cabang kebutuhan manusia yang saling berhubungan:
• Kebutuhan makanan dan cairan
Kebutuhan biofisikal
• Kebutuhan eliminasi
(kebutuhan untuk hidup)
• Kebutuhan ventilasi

Kebutuhan psikofisikal • Kebutuhan aktivitas dan istirahat


(kebutuhan fungsional) • Kebutuhan seksual

Kebutuhan psikososial • Kebutuhan untuk berprestasi


(kebutuhan untuk integrasi) • Kebutuhan organisasi

Kebutuhan intra dan interpersonal


kebutuhan aktualisasi diri
(kebutuhan untuk pengembangan)
Teori Self Care
5
(Dorothea Orem)
 Teori Dorothea Orem
1. Teori perawatan diri sendiri (self care theory)
a.Self care
b.Self care agency
c.Self care therapy

2. Teori defisit perawatan diri (deficit self care theory)

3. Teori sistem keperawatan (nursing system theory )


a. Sistem bantuan penuh (wholly Compensatory System)
b. Sistem bantuan sebagian (Partially Compensatory System)
c. Sistem suportif dan edukatif
1. Self Care Theory
1. Self care merupakan aktifitas dan inisiatif individu dalam memenuhi
serta mempertahankan kehidupan, kesehatan serta kesejahteraan
2. Self care agency merupakan kemampuan individu dalam melakukan
perawatan diri sendiri yg dapat dipengaruhi oleh usia, perkembangan,
sosiokultural, dan kesehatan
3. Therapetic self care demand merupakan tuntutan atau permintaan
dalam perawatan diri sendiri yg merupakan tindakan mandiri yg
dilakukan dalam waktu tertentu dengan menggunakan alat dan metode
tindakan yg tepat.
2. Deficit Self Care Theory
 Merupakan hal utama dari teori general keperawatan menurut
Orem.
 Dalam teori ini keperawatan diberikan jika seorang dewasa (atau
pada kasus ketergantungan) tidak mampu atau terbatas dalam
melakukan self care secara efektif.
 Orem mengidentifikasi lima metode yang dapat digunakan dalam membantu self
care:
1. Tindakan dilakukan untuk orang lain.
2. Memberikan petunjuk dan pengarahan.
3. Memberikan dukungan fisik dan psychologis.
4. Memberikan dan memelihara lingkungan yang mendukung pengembangan
personal.
5. Pendidikan.
 Perawat dapat membantu individu dengan menggunakan beberapa atau semua
metode tersebut dalam memenuhi self care.
3. Nursing System Theory
a. System bantuan secara penuh (wholly Compensatory System)
 Suatu system keperawatan dengan memberikan bantuan secara total
kepada pasien dikarenakan ketidakmampuan pasien dalam memenuhi
tindakan perawatan secara mandiri
 Ada tiga kondisi yang termasuk dalam kategori ini yaitu:
1. Tidak dapat melakukan tindakan self care (misal: px dg koma)
2. Dapat membuat keputusan, observasi atau pilihan tentang self care
tetapi tidak dapat melakukan ambulasi dan pergerakan manipulatif
(misal: px pasca operasi, keterbatasan gerak, kelumpuhan)
3. Tidak mampu membuat keputusan yang tepat tentang self carenya
(misal: px dg disorientasi, gg. Jiwa).
b. Sistem bantuan sebagian (Partially Compensatory System)
 Bantuan pemberian perawatan diri secara sebagian saja dan
ditujukan kepada pasien yang memerlukan bantuan secara
minimal

 Contohnya: Pada pasien yang pasca operasi laparatomi dimana


pasien mempunyai kemampuan seperti cuci tangan, gosok gigi,
cuci muka akan tetapi butuh pertolongan dalam ambulasi dan
melakukan perawatan luka yang dilakukan oleh perawat.
c. System suportif dan edukatif
 System bantuan yang diberikan pada pasien yang membutuhkan
dukungan pendidikan dengan harapan pasien akan mampu
memerlukan perawatan secara mandiri.

 Contohnya: Pemberian penyuluhan (Pendidikan kesehatan)


mengenai pentingnya ASI bagi bayi.
Penekanan Teori Self Care
• Pemeliharaan intake udara.
• Pemeliharaan intake air.
• Pemeliharaan intake makanan.
• Mempertahankankan hubungan perawatan proses eliminasi dan eksresi.
• Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat.
• Pemeliharaan keseimbangan interaksi sosial.
• Pencegahan resiko-resiko untuk hidup, fungsi usia dan kesehatan manusia.
• Peningkatan fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam kelompok sosial
sesuai dengan potensinya.
Keuntungan HOME CARE
1. Convenience
2. Acces
3. Information
4. Relationship
5. Cost
6. Outcomes
1. Convenience (kenyamanan)
 Klien akan lebih merasa
nyaman jika dirawat di
rumah karena lingkungan
yang familiar
 Klien tidak perlu repot
menunggu antrian
2. Access
 Klien yang mengalami
keterbatasan fisik tidak perlu
repot untuk menjangkau
fasilitas kesehatan
 Home visit dapat
meningkatkan temuan kasus
baru
3. Information
 Perawat dapat memperoleh informasi
yang lebih komprehensif
 Perawat dapat melihat efek dari faktor
fisik, psikologis, dan lingkungan sosial
terhadap status kesehatan seseorang
4. Relationship dimension
 Meningkatkan kemandirian
klien
 Privasi terjamin dan lebih akrab
 Frekuensi kunjungan dapat
mempengaruhi kedekatan
perawat dan klien
5. Cost dimension
Biaya lebih murah, karena
klien tidak perlu membayar
biaya “kamar”
Beberapa studi menunjukkan
pengurangan biaya medis
sebagai hasil dari program
kunjungan rumah pada ibu dan
anak.
6. Outcomes dimension
 Penyembuhan klien lebih
cepat
 Sebuah study menunjukkan
program kunjungan rumah
yang didesain dengan baik
pada kelompok anak beresiko
dapat meningkatkan
kesehatan.
Jenis Institusi Pemberi
Layanan Home Care
Jenis Institusi Pemberi
Layanan Home Care

1. Institusi pemerintah
Di Indonesia pelayanan home care yang telah lama berlangsung
dilakukan adalah dalam bentuk perawatan kasus/keluarga resiko
tinggi (baik ibu, bayi, balita maupun lansia) yang dilaksanakan
oleh tenaga keperawatan Puskesmas. Klien yang dilayani
Puskesmas biasanya adalah kalangan menengah ke bawah. Di
Amerika dilakukan oleh visiting nurse.
2. Institusi sosial
Melaksanakan pelayanan home care dengan suka rela dan tidak
memungut biaya. Biasanya dilakukan oleh LSM atau organisasi
keagamaan dengan penyandang dananya dari donatur, misalnya
Bala Keselamatan yang melakukan kunjungan rumah pada
keluarga yang membutuhkan sebagai wujud pengabdian.
3. Institusi swasta
Dalam bentuk praktek mandiri baik perorangan maupun kelompok
yang menyelenggarakan pelayanan home care dengan menerima
imbalan jasa baik secara langsung dari klien maupun pembayaran
melalui pihak ketiga (asuransi).

4. Home Care berbasis rumah sakit (Hospital Home care).


Merupakan perawatan lanjutan pada klien yang telah di rawat di
rumah sakit, karena masih memerlukan bantuan layanan
keperawatan, maka dilanjutkan di rumah.
Alasannya munculnya Home care jenis program ini adalah :
 Ambulasi dini dg risiko memendeknya hari rawat, kesempatan utk
melakukan penkes sangat kurang, misalnya pada post partum normal
hanya dirawat 1-3 hari, shg untuk mengajarkan cara menyusui, cara
merawat tali pusat, merawat luka perineum yg benar, dan senam post
partum belum dilaksanakan dg optimal, shg kemandirian ibu masih
kurang.
 Menghindari risiko infeksi nosokomial yg dapat terjadi pada klien yg di
rawat di RS.
 Makin banyaknya penyakit kronis, yg bila dirawat di RS memerlukan
biaya yg besar.
 Perlunya kesinambungan perawatan klien dari RS ke rumah, shg akan
meningkatkan kepuasan klien maupun perawat