Anda di halaman 1dari 53

INSTRUMEN PENELITIAN

INSTRUMEN PENGUMPULAN DATA

 Merupakan alat pengumpul data.


 Macamnya tergantung dengan macam dan
tujuan penelitian, misalnya timbangan,
kuesioner , dll
 Instrumen pengumpul data disebut juga
“Kuesioner”
KUESIONER

 Daftar pertanyaan yg sudah tersusun dengan


baik, sudah matang, dimana responden (dalam
hal angket) dan interviewer (dalam hal
wawancara) tinggal memberikan jawaban atau
dengan memberikan tanda-tanda tertentu .
 Kuesioner sering juga disebut daftar
pertanyaan (formulir).
 Data dari kuesioner sesuai dgn tujuan
penelitian, isi kuesioner sesuai dgn hipotesis
dan kuesioner bentuk penjabaran dari
hipotesis.
SYARAT KUESIONER

 Mencakup tujuan penelitian.


 Mudah ditanyakan.
 Mudah dijawab.
 Data yg diperoleh mudah diolah (diproses)
MACAM KUESIONER

 Kuesioner (formulir) untuk keperluan


administrasi (pengisian sepenuhnya oleh
responden tapi biasanya ada petunjuk
pengisian).
 Kuesioner untuk observasi (mencakup hal-hal
yg diselidiki/diobservasi).
 Kuesioner untuk wawancara (memperoleh
jawaban yg lebih akurat dari responden).
1. Personal interview.
2. Telephon interview.
SYARAT-SYARAT YANG DIPERHATIKAN
DALAM MERANCANG KUESIONER

1. Pertanyaan hendaknya “jelas” :


 Menggunakan kata-kata yg tepat dan jelas (sulit
akan bias dan ilmiah akan membingungkan).
 Tidak terlalu luas (dimana ibu melahirkan,
seharusnya dimana ibu melahirkan anak
pertama).
 Tidak terlalu panjang atau menggabung
pertanyaan (apakah ibu menjadi akseptor KB
dan apa sebabnya).
lanjutan

 Tidak boleh memimpin (Ibu sudah


mengikuti KB , seharusnya apakah ibu
sudah memakai cara pencegahan
kehamilan )
 Dihindari pertanyaan double negatif
(Sebaiknya punya 3 anak tidak
menambah anak lagi, seharusnya jumlah
anak sebaiknya 3. Bagaimana pendapat
ibu).
lanjutan

2. Pertanyaan hendaknya membantu


ingatan responden (umur responden
melahirkan anak 1, ditanyakan tahun
berapa responden lahir, tahun berapa
melahirkan anak).
3. Pertanyaan menjamin responden untuk
mengutarakan jawabannya.
4. Pertanyaan hendaknya menghindari bias
(umur, pendapatan, dsbnya).
lanjutan

5. Pertanyaan hendaknya memotivasi


responden (susunan pertanyaan yg
tepat).
6. Pertanyaan hendaknya dapat menyaring
responden (Apakah ibu sudah…., apabila
ya lanjut).
7. Pertanyaan sesederhana mungkin (makin
sederhana makin tegas sifatnya) mis,
untuk pertanyaan setuju tidak boleh
kepada orang tapi pada perbuatan,
kebijakan, dsb.
ASPEK YANG DIPERHATIKAN
DALAM KUESIONER

1. Jenis pertanyaan.
2. Bentuk pertanyaan.
3. Isi pertanyaan.
4. Urutan pertanyaan
JENIS PERTANYAAN DALAM KUESIONER

1. Pertanyaan mengenai fakta (menghendaki


jawaban fakta dari responden mis ; tentang
sex, pendidikan, agama, status perkawinan,
dsb)
2. Pertanyaan mengenai pendapat dan sikap
(mengenai perasaan, kepercayaan, konsepsi,
pendapat, ide, dsb).
3. Pertanyaan informatif (mengenai apa yg telah
diketahui, apa yg telah didengar, dsb)
BENTUK PERTANYAAN DALAM KUESIONER

1. Bentuk pertanyaan terbuka.


2. Bentuk pertanyaan tertutup.
BENTUK PERTANYAAN TERBUKA

1. Free response question (pertanyaan ini untuk


mengetahui pendapat atau motif mis ;
Bagaimana pendapat ibu mengenai alat-alat
kontrasepsi).
2. Directed response question (bebas tapi sudah
diarahkan mis ; bagaimana perasaan ibu
selama menggunakan IUD ).
BENTUK PERTANYAAN TERTUTUP

1. Dichotomous choice (disediakan 2 jawaban utk


dipilih 1, biasanya untuk pendapat, perasaan atau
sikap).
 Mudah diolah, Tidak sulit, dapat digunakan bila
kita sudah yakin terhadap jawaban yg digunakan.
2. Multiple Choice (disediakan beberapa jawaban
alternatif dan dipilih salah satu).
3. Check list (disediakan beberapa alternatif
jawaban dan dipilih jawaban sebanyak mungkin).
4. Rangking question (disediakan beberapa alternatif
jawaban dan dipilih jawaban sebanyak mungkin
tapi diurutkan sesuai kepentingan)
ISI PERTANYAAN DALAM KUESIONER

 Disesuaikan dgn tujuan penelitian.


 Tergantung dalam atau dangkalnya data
yang digali.
 Banyaknya pertanyaan tergantung
luasnya penelitian.
 Jumlah pertanyaan sebaiknya diperlukan
waktu menjawab sekitar 15 – 30 menit
dan maksimal 45 menit.
 Apabila memerlukan waktu > 45 menit,
datang > 1 kali untuk responden yg sama
URUTAN PERTANYAAN DALAM KUESIONER

1. Pengantar (penjelasan tentang maksud atau


tujuan penelitian dan identitas responden).
2. Pertanyaan pemanasan (latar belakang
responden mis ; dimana dilahirkan, dari mana
asalnya, dsb).
3. Pertanyaan demografi (berhubungan dgn umur,
pendidikan, pekerjaan, dsb).
4. Pertanyaan-pertanyaan pokok (jantungnya
kesioner, karena tujuan atau data2 yg yg akan
diperoleh ada dalam pertanyaan ini.
5. Penutup (ucapan terima kasih dan kesan2
interviewer pada saat pelaksanaan).
PENGUKURAN INSTRUMENT
Pengukuran adalah :
• Adalah observasi fenomena tersebut dapat
dianalisis menurut aturan tertentu.
• Mempunyai makna bukan hanya pengukuran
yg berkonotasi kuantitatif, misalnya
pengukuran tekanan darah, dll. Tetapi juga
pengukuran kualitatif.
• Menurut konsep ini maka anamnesis dan
pemeriksaan jasmani dalam penelitian klinis,
kuesioner dalam studi epidemiologis.
• Semua jenis pemeriksaan penunjang, baik yg
berdimensi kuantitatif, dan kualitatif.
VARIASI DALAM PENGUKURAN
 Setiap pengukuran selalu terbuka
kemungkinan untuk terdapatnya
variabilitas hasil.
 Untuk itu peneliti harus memahami
sumber variasi pengukuran.
Sumber variabilitas pengukuran :
1. Variasi pengukuran.
Mencakup variabilitas pada instrumen yg
dipakai untuk melakukan pengukuran maupun
pada pemeriksaan atau org yg melaksanakan
pengukuran.
 Timbangan badan dipakai berulang-ulang akan
memberikan hasil yg bervariasi.
 Pengukuran yg dilakukan oleh 2 orang akan
memberikan hasil yg berbeda.
 Pemeriksaan yg sama yg melakukan
oemeriksaan pada subyek yg sama pada saat
yg berbeda
2. Variasi Biologis.
Variasi biologis sangat mempengaruhi hasil
pengukuran.
 Tekanan darah yg diukur setelah pasien berlari
sangat berbeda dengan bila dilakukan setelah
pasien beristirahat.
 Kadar zat kimia tertentu menunjukkan hasil yg
berbeda bila diukur pada waktu yg berbeda
misalnya siang dan malam hari
SYARAT-SYARAT ALAT UKUR
 Karakteristik alat ukur yg harus
diperhitungkan dalam setiap proses
pengukuran adalah :
 Kesahihan (validitas).
 Keandalan (reliabilitas ).
 Tidak ada satu pengukuran pun yang
memiliki kesahihan dan keandalan yg
sempurna.
KESAHIHAN
 Adalah validitas.
 Menunjukkan betapa dekat alat ukur
menyatakan apa yg seharusnya diukur.
 Misalnya ; Timbangan badan merupakan
alat yg sahih untuk mengukur berat badan ,
namun volume air mata bukan alat ukur yg
sahih untuk mengukur kesedihan.
 Kesahihan pengukuran dipengaruhi oleh
bias pengukuran.
 Ada 3 bias yang mempengaruhi kesahihan
yaitu ; bias pengamat, bias subyek dan bias
instrumen.
KESAHIHAN
 Validitas dapat dibedakan menjadi dua konsep
valditas :
1. Validitas penelitian.
 Derajat kebenaran kesimpulan yang ditarik dari
sebuah penelitian , yang dipengaruhi dan dinilai
berdasarkan metode penelitian yang digunakan,
keterwakilan sampel penelitian dan sifat populasi
asal sampel.
 Contoh; ketika sebuah meta-analisis melaporkan
hasil penlitian dari 18 studi bahwa penggunaan
telepon seluler > 10 tahun meningkatkan risiko
tumor otak, keabsahan kesimpulan tersebut merujuk
kepada validitas penelitian.
KESAHIHAN
(lanjutan konsep validitas)
2. Validitas pengukuran.
 Merupakan pernyataan tentang derajat
kesesuaian hasil pengukuran sebuah alat
ukur (instrumen) dengan apa yg
sesungguhnya ingin diukur oleh peneliti.
 Pengukuran adalah merupakan prosedur
pemberian nilai kuantitatif atau kualitatif
terhadap variabel pada subjek penelitian
KESAHIHAN
 Pengukuran yang valid adalah pengukuran dari
alat ukur yang dibuat dengan metodologi yang
benar dan implementasi pengukuran yang benar
 Jika implementasi pengukuran benar, tetapi alat
ukur tidak benar, maka hasil pengukuran juga
tidak benar, menghasilkan kesalahan
pengukuran.
 Demikian juga jika metodologi alat ukur benar,
tetapi pelaksanaan pengukuran tidak benar,
maka hasil pengukuran juga tidak benar.
 Sehingga validitas pengukuran menentukan
validitas penelitian, jika pengukuran salah, maka
kesimpulan penelitian juga salah.
KESAHIHAN
Validitas pengukuran mencakup 4 aspek :
1. Validitas isi.
 Kesesuaian hasil pengukuran variabel yg
diteliti oleh sebuah alat ukur dengan isi dari
variabel tersebut.
 Contoh; jika kuesioner dirancang untuk
mengukur sikap, maka validitas isi alat ukur
tersebut merujuk sejauh mana isi kuesioner
memang mengukur sikap, bukan mengukur
variabel lain.
KESAHIHAN
(lanjutan validitas isi)
 Penilaian validitas isi secara kualitatif dapat
dilakukan oleh pakar.
 Penilaian validitas isi secara kuantitatif
dapat dilakukan dengan mengkorelasikan
masing-masing item pertanyaan dari alat
ukur tersebut dan masing-masing item
korelasi dengan skor total item (Koefisien
korelasi item total < 0,20 dibuang).
KESAHIHAN
Validitas pengukuran mencakup 4 aspek :
2. Validitas muka.
 Menunjukkan derajat kesesuaian antara
penampilan luar alat ukur dan atribut-atribut
variabel yang ingin diukur.
 Contoh; jika alat ukur merupakan kuesioner
item-item pertanyaan dalam kuesioner harus
dapat dipahami subjek penelitian dengan
benar.
 Untuk memastikan validitas muka, perancang
kuesioner hendaknya menggunakan bahasa yg
baik, benar, tepat, tidak multi-interprtatif.
KESAHIHAN
Validitas pengukuran mencakup 4 aspek :
3. Validitas konstruk.
 Adanya variabel abstrak seperti depresi,
kecemasan, kecerdasan, motivasi dan nyeri yang
tidak dapat diamati secara langsung.
 Agar dapat diukur maka variabel abstrak itu perlu
dibangun menjadi bentuk lebih konkrit, disebut
konstruk dan sekaligus dapat diukur secara
kuantitatif.
 Contoh; kecemasan dimanifestasikan oleh adanya
bukti seperti telapak tangan berkeringat,
takhikardia, gerakan mondar-mandir dan kesulitan
berkonsentrasi.
KESAHIHAN
(lanjutan validitas konstruk)
 Maka suatu pengukuran kecemasan dikatakan
memiliki validitas konstruk jika berkorelasi
dengan bukti-bukti tersebut.
 Validitas konstruk adalah menunjukkan
kesesuaian antara hasil pengukuran alat ukur
dengan konsep (konstruk) teoritis tentang
variabel yang diteliti.
KESAHIHAN
Validitas pengukuran mencakup 4 aspek :
4. Validitas kriteria.
 Seringnya dijumpai sebuah instrumen
mengukur atribut dengan validitas tinggi,
namun mahal, tidak praktis, invasif,
berbahaya, atau memakan banyak waktu
untuk penggunaan rutin.
 Adalah kesesuaian antara hasil pengukuran
sebuah alat ukur dengan alat ukur ideal
tentang variabel yg diteliti.
KESAHIHAN
(lanjutan validitas kriteria)
 Penilaian validitas kriteria suatu alat ukur
dapat dilakukan dengan
membandingkannya secara kuantitatif
dengan alat ukur standar emas, dengan
melihat tingkat korelasinya.
 Jika variabel terukur dalam skala ordinal,
validitas kriteria dapat dinilai dengan
koefisien korelasi spearman.
PENILAIAN KESAHIHAN

1. Penilaian kesahihan alat ukur berskala


numerik.
 Dilakukan dengan cara membandingkan
alat ukur tersebut dgn alat ukur yang
baku sebagai penera.
Cth:Timbangan untuk mengukur berat badan
dibandingkan dgn timbangan baku, kemudian
dinyatakan sebagai selisih rerata nilai baku
dengan nilai pengukuran yang diperoleh, dibagi
dengan nilai baku.
PENILAIAN KESAHIHAN

2. Penilaian kesahihan alat ukur berskala


nominal.
 Dilakukan dengan cara membandingkan
dengan alat diagnostik terbaik yang ada.
 Dengan cara tersebut akan diperoleh nilai
sensitivitas, spesifisitas dan rasio
kemungkinan
RELIABILITAS ( KEANDALAN)

Keandalan adalah :
 Keterandalan, reliabilitas, reprodusibilitas,
presisi atau ketepatan pengukuran.
 Suatu pengukuran disebut andal, apabila ia
memberikan nilai yg sama apabila pemeriksaan
dilakukan berulang-ulang (konsisten).
 Alat ukur yang baik harus mengukur dengan
benar (valid) dan konsisten (andal, reliabel).
 Dua aspek reliabilitas alat ukur ;
1. Konsistensi internal.
2. Stabilitas.
RELIABILITAS ( KEANDALAN)

1. Konsistensi internal.
 Jika sebuah instrumen terdiri dari sejumlah item
pertanyaan (misalnya; kuesioner untuk depresi),
maka skor dari masing-masing item pertanyaan
seharusnya berkorelasi dengan skor semua item.
2. Stabilitas.
 Jika sebuah timbangan berulang kali mengukur 5
kg + 0 kg dari bobot bayi, sedang timbangan
lainnya mengukur 5 kg + 4 kg dari bobot bayi
yang sama, maka bisa disimpulkan pengukuran
dengan timbangan pertama lebih stabil dari
timbangan kedua.
RELIABILITAS ( KEANDALAN)

 Alat ukur yang andal tidak hanya perlu


konsisten secara internal, tetapi juga
konsisten secara eksternal.
 Konsisten secara internal mencakup
stabilitas alat ukur ketika :
1. Stabilitas digunakan pada waktu berbeda.
2. Stabilitas Pengukur sama pada dua
kesempatan yg berbeda.
3. Stabilitas pengukur berbeda pada
kesempatan sama.
VARIABILITAS YANG BERPERAN DALAM
KEANDALAN
1. Variabilitas pengamat.
Variabilitas yg terjadi pada pemeriksa
(mis ; pemilihan kata pada wawancara
atau keterampilan tangan seseorang
dalam mengoperasikan alat ukur.
2. Variabilitas subyek.
merupakan adanya variasi biologis (mis;
fluktuasi emosi, tekanan darah, irama
sirkadian dan pemakaian obat oleh
subyek.
VARIABILITAS YANG BERPERAN DALAM
KEANDALAN

3. Variabilitas instrumen.
Sesuatu yang mempengaruhi
ketepatan (mis; perubahan sensitivitas
alat, suhu atau kelembaban kamar atau
derajat kebisingan sekitar.
PENILAIAN KEANDALAN

1. Penilaian keandalan pengukuran variabel


numerik.
Pada umumnya dilakukan dengan cara
menggunakan simpangan baku, salah
satunya adalah menggunakan Koefisien
Variasi.
Cth:Pengukuran kadar natrium serum dilakukan
dengan alat A dan alat B. Dilakuakn
pengukuran pada satu sampel serum sebanyak
masing-masing 20 kali, dengan hasil sebagai
berikut :
PENILAIAN KEANDALAN

Cth:Pengukuran kadar natrium serum dilakukan


dengan alat A dan alat B. Dilakuakn
pengukuran pada satu sampel serum sebanyak
masing-masing 20 kali, dengan hasil sebagai
berikut :
Alat A (mEq/L) : 136, 132, 133, 137, 134, 135, 134,
135, 138, 132, 134, 136, 138, 133, 134, 135,
135, 135, 132, 136.
Alat B (mEq/L) ; 135, 139, 132, 132, 130, 136, 140,
135, 136, 135, 129, 136, 134, 133, 133, 136,
136, 134, 137, 136.
PENILAIAN KEANDALAN

Pengukuran A : rerata = 134,7; simpang baku =


1,76 dan Koefisien variasi =
1,76/134,7 =0,013.

Pengukuran B : rerata = 134,7; simpang baku =


2,71 dan Koefisien variasi =
2,71/134,7 = 0,020

Jadi meski reratanya sama, akan tetapi Koefisien


variasi lebih kecil, artinya pengukuran A lebih andal
daripada pengukuran B
PENILAIAN KEANDALAN

 Penilaian keandalan pengukuran konsistensi


internal yang paling sering digunakan untuk
keandalan adalah Alpha (α) Cronbach.
 Makin tinggi Alpha (α) Cronbach, makin baik
(konsisten) alat ukur.
 Batas minimal Alpha (α) Cronbach alat ukur
adalah 0,70 untuk mengklasifikasi konsistensi
internal sebagai memadai dan 0,80 sebagai baik
(Streiner dan Norman 2000; Garson, 2008).
PENILAIAN KEANDALAN

2. Penilaian keandalan pengukuran variabel


berskala nominal.
 Yang banyak digunakan adalah
penentuan nilai kappa(k).
 Kappa merupakan suatu statistik yang
mengukur kesesuaian antara variabel
berskala nominal dikotom.
PENILAIAN KEANDALAN

Lanjutan .
 Nilai kappa merupakan perbandingan
antara kesesuaian bukan akibat peluang
dengan kemungkinan terbesar
kesesuaian bukan akibat peluang untuk
set data tersebut.
 Nilai kappa yang ideal adalah 1, namun
hal ini hampir tidak pernah diperoleh dan
nilai diatas 0,8 biasanya dianggap sangat
baik.
Lanjutan .
 Interpretasi nilai kappa menurut Altman :
Nilai Kappa Kekuatan
< 0,20 Buruk
0,21 – 0,40 Kurang dari sedang
0,41 – 0,60 Sedang
0,61 – 0,80 Baik
0,81 – 1,00 Sangat Baik
PENILAIAN KEANDALAN
Contoh :
1. Dua orang dokter (P dan Q) diminta untuk
menilai gambar USG kepala untuk menentukan
adanya perdarahan intrakranial, mereka diminta
untuk menyatakan apakah gambarab USG
kepala tersebut normal atau tidak.
2. Hasil tersebut kemudian disusun di dalam tabel
2 x 2 sebagai berikut :
 Bila kedua dokter menyatakan USG normal.
 Bila P menyatakan Normal dan Q tidak normal.
 Bila P menyatakan tidak normal dan Q normal.
 Bila kedua dokter menyatakan tidak normal.
PENILAIAN KEANDALAN
Dr. P
Normal Tidak
Normal 9(a) 7(b) 16(a+b)
Tidak 4(c) 10(d) 14(c+d)
Dr. Q Jumlah 13(a+c) 17(b+d) 30(N)

Kesesuai nyata = (9+10)/30 = 63,3%


Kesesuaian karena peluang = {(16x13)/30 + (14x17)/30} : 30 = 49,5%
Kesesuaian bukan akibat peluang = (63,3 – 49,5)% = 13,8%.
Kesesuaian bukan peluang = (100,0 – 49,5)% = 50,5%.
Kappa = 13,8%/50,5% = 0,273 = 27,3%.
STRATEGI MENINGKATKAN KETERANDALAN
1. Memilih itm-item pertanyaan untuk alat ukur, lalu
menguji konsistensi internal dan stabilitas alat
ukur melalui pilot study.
2. Menghilangkan variasi pengukuran antar
pengamat, dengan menggunakan orang-orang
terlatih dan termotivasi.
3. Menghilangkan variasi pengukuran intra
pengamat, dengan mengurangi sumber variasi
eksternal seperti kejemuan, kelelahan,
lingkungan berisik, yg berpengaruh kepada
subjek penelitian maupun pengamat.
STRATEGI MENINGKATKAN KETERANDALAN

4. Melakukan koreksi terhadap pengamat,


berdasarkan “kalibrasi” alat ukur dalam studi
realibilitas.
5. Membakukan situasi / konteks / lingkungan
pengguna instrumen.