Anda di halaman 1dari 42

OBAT PADA

SISTEM KARDIOVASKULER
Agatha Maylie W.,M.Farm.,
Apt.

STIKES HANG TUAH


SURABAYA
2020
Sistem Kardiovaskuler
Kardio : Jantung, Vaskuler : pembuluh darah
Obat kardiovaskuler : obat yang mempengaruhi dan memperbaiki
sistem kardiovaskuler. Jantung sebagai organ pemompa darah,
dan vaskuler sebagai penyalur darah ke jaringan.
Kardiovaskuler dikendalikan oleh sistem saraf otonom melalui
nodus SA, nodus AV, berkas His, dan serabut Purkinje. Serta saraf
simpatis dan parasimpatis
Bila terjadi gangguan pada salah satu bagian, menyebabkan
gangguan pada sistem kardiovaskuler
Struktur Jantung dan
Kerjanya
Jantung memompa dan
memasok darah ke seluruh
tubuh.
Atrium kanan menerima darah
dari seluruh tubuh melalui vena
cava, lalu dialirkan ke ventrikel
kanan. Darah dari ventrikel
kanan dipompakan keluar
jantung menuju ke paru-paru,
untuk pertukaran CO2 dengan
O2.
Darah dari paru – paru yang
sudah dipenuhi O dipompa
Katup Jantung

Ada 4 katup jantung : mitral, trikupsid, aorta, dan pulmonalis


Fungsi katup jantung : mengatur urutan aliran darah dari satu
bagian ke bagian lain
Katup yang membantu aliran darah dari atrium ke ventrikel
adalah katup mitral dan trikuspid. Sedangkan, katup yang
berfungsi mengendalikan aliran darah yang meninggalkan
jantung adalah katup aorta dan katup pulmonalis.
Keempat katup tersebut menjaga darah terus bergerak maju
ke satu arah. Katup akan menutup dengan cepat agar darah
tidak berbalik ke arah yang berlawanan.
Macam – Macam Obat Pada Sistem
Kardiovaskuler
Calcium
Channel
Nitrat Beta Alfa blocker /
Organik blocker blocker
calcium
antagonist

ACE
Glikosida Diuretik Vasodilator
inhibitor
Obat Lain
Obat hipertensi – Angiotensin reseptor blocker (ARB, berakhiran
– sartan, contoh Valsartan, Irbesartan, Telmisartan)
Obat hyperlipidemia – HMGCoA reductase (Simvastatin,
atorvastatin, rosuvastatin), Fibrat (Gemfibrozil, Fenofibrat), asam
nikotinat
Obat Koagulasi darah – antiplatelet (aspilet, dipiridamol) ,
antikoagulan (warfarin, heparin), antifibrinolitik (asam
traneksamat), fibrinolitik (streptokinase)
Obat anti aritmia – Amiodaron, lidokain, diltiazem, digoxin
1. Nitrat organik
Terapi untuk angina, vasospasme coroner, UAP (unstable angina pectoris),
congestive heart failure (CHF).
Bekerja langsung merelaksasi otot polos pembuluh vena, terjadi dilatasi
vena menyebabkan aliran balik vena berkurang, dan mengurangi beban
jantung.
Pada dosis tinggi dan pemberian cepat menimbulkan vasodilatasi dan
dilatasi arteri perifer, menyebabkan penurunan tekanan diastol dan sistol,
penurunan jantung menurun dan peningkatan frekuensi jantung (takikardi).
Menghilangkan nyeri dada bukan karena vasodilatasi, tapi menurunkan
kerja jantung
Obat ini di metabolisme di hati, dengan kadar puncak 4 menit setelah
pemberian sublingual (bawah lidah), dan ekskresi sebagian besar di
ginjal
Untuk serangan : Menggunakan nitrat kerja singkat (pemberian
sublingual (nitrogliserin, ISDN, eritritil tetranitrat), nitrit inhalasi)
Isosorbid dinitrat (ISDN) sublingual : 2,5 – 10 mg, dan nitrogliserin
0,15 – 0,6 mg

Untuk Pencegahan : Menggunakan nitrat kerja lama : sediaan oral


(nitrogliserin, eritritil tetra nitrat, penta eritritol tetranitrat),
nitrogliserin topikal, nitrogliserin transmucosal / buccal, infus
intravena.
ISDN oral (kadar puncak 60 – 90 menit, lama kerja 3 – 6 jam), salep
nitrogliserin 2% (puncak 60 menit, lama kerja 4 – 8 jam

Efek samping : sakit kepala, hipotensi, kemerahan pada kulit, mual


2. Beta Blocker
Bekerja pada reseptor beta jantung, pembuluh darah perifer
untuk menurunkan kecepatan denyut dan curah jantung, dan
meningkatkan supply O2 miokard dan perfusi.
Cardioprotektif dan anti angina
Sebisa mungkin tidak diberikan pada pasien dengan riwayat
asma, atau penyakit paru obstruktif menahun, karena ada resiko
bronkospasme.
Contoh Sediaan
Asebutolol : tablet / kapsul
Mekanisme : menghambat efek isoproterenol, menurunkan aktivitas renin,
menurunkan outflow simpatetik perifer.
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia, feokromositoma, kardiomiopati
obstruktif hipertropi, tirotoksitosis.
Dosis : 2 x 200 mg (max 800 mg per hari)

Atenolol : tablet
Mekanisme : pengurangan curah jantung disertai vasodilatasi perifer,
efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi renin
akibat aktivasi adrenoseptor di ginjal
Indikasi : hipertensi ringan – sedang, aritmia
Dosis : 2 x 40 – 80 mg / hari
Metoprolol : tablet
Mekanisme : pengurangan curah jantung disertai vasodilatasi
perifer, efek pada reseptor adrenergic di SSP, penghambatan sekresi
renin akibat aktivasi adrenoseptor beta 1 di ginjal
Indikasi : hipertensi, miokard infard, angina pectoris
Dosis : 50 – 100 mg

Propranolol : tablet
Mekanisme kerja : tidak begitu jelas, diduga menurunkan curah
jantung, menghambat pelepasan renin di ginjal, menghambat tonus
simpatetik di pusat vasomotor otak
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migraine,
stenosis subaortik hipertropi, miokard infark, feokromositoma
Dosis : 2 x 40 mg /hari
3. Alfa blocker
Menghambat reseptor alfa di otot polos vaskuler yang secara normal
berespon terhadap rangsangan simpatis dengan vasokonstriksi.

Contoh Sediaan
-. Klonidin : tablet 0,15 mg, 0,3 mg / injeksi 100 mcg / mL
Mekanisme : menghambat perangsangan saraf adrenergic di SSP
Indikasi : hipertensi, migraine
Dosis : 150 – 300 mg/ hari
4. Calcium Channel Blocker (CCB) / Calsium
antagonist
Mekanisme kerja :
Menghambat masuknya ion kalsium melewati kanal kalsium lambat
ke dalam sel otot polos, jantung, dan saraf sehingga
menyebabkan berkurangnya kontraksi otot polos pembuluh darah
(vasodilatasi), kontraksi otot jantung (inotropik positif), dan
pembentukan konduksi impuls dalam jantung (kronotropik dan
dromotropik negatif)
1. Golongan Non dihidropiridin : Menghambat konduksi jantung
Contoh Obat
Diltiazem : farmabes / herbesser (merk)
Menghambat asupan, pelepasan atau kerja kalsium melalui kanal kalsium
lambat
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, MCI, penyakit vascular perifer
Dosis : 3 x 30 mg / hari sebelum makan

Verapamil : Isoptil (tablet, injeksi)


Menghambat masuknya kalsium ke dalam sel otot jantung dan vaskuler
sistemik sehingga menyebabkan relaksasi arteri koroner, dan menurunkan
resistensi perifer, jadi penggunaan oksigen menurun.
Dosis : 3 x 80 mg / hari
Indikasi : hipertensi, angina pectoris, aritmia jantung, migrain
2. Golongan dihidropiridin : Vasodilatasi vaskuler
Contoh Obat
Nifedipin : Adalat , farmalat, nifecard (Tablet / kaplet)
Mekanisme kerja : menurunkan resistensi vaskuler perifer, menurunkan spasme
arteri koroner
Indikasi : hipertensi, angina yang disebabkan vasospasme coroner, gagal jantung
refrakter
Dosis : 3 x 10 mg / hari

Amlodipin : Actapin, Tensivask


Sering dikombinasi dengan golongan obat antihipertensi lain (Diuretik, ACEi)
Indikasi : hipertensi, angina
Dosis : 1 x 5 – 10 mg / hari
5. Glikosida
Derivat dari digitalis (tanaman Digitalis purpurea)
Pilihan terapi pada kasus gagal jantung kongestif

Fungsi utama glikosda ada 3


1. Inotropik positif = meningkatkan kontraksi miokard
2. Kronotropik negatif = menurunkan denyut jantung
3. Dromotropik negatif = mengurangi hantaran sel jantung
Efek
Farmakokinetik : Absorpsi dipengaruhi makanan, obat (kaolin, pectin),
serta pengosongan lambung, distribusi glikosida lambat, dan eliminasi
melalui ginjal
Farmakodinamik : efek pada otot jantung meningkatkan kontraksi,
menghambat enzim Na, K, ATP ase
Contoh Sediaan :
Lanatosid C 0,25 mg, digoksin 0,25 mg, beta-metil digoksin 0,1 mg
6. Penghambat ACE (Angiotensin
Converting Enzyme)
Mekanisme kerja :
Menghambat enzim yang diperlukan untuk mengubah angiotensin
1 menjadi angiotensin 2 (pada sistem RAAS / Renin Angiotensin
Aldosteron System).
Menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah dan berkurangnya retensi
karena beban kerja jantung menurun
Tidak terbentuknya angiotensin 2, maka aldosteron tidak
terbentuk
(Aldosteron adalah hormon yang membuat ginjal banyak menyaring air,
elektrolit, dan garam dalam darah, sehingga tekanan darah
meningkat).
Contoh Sediaan
Kaptopril Lisinopril Ramipril
• Menghambat enzim • Menghambat enzim • Menghambat enzim
konversi angiotensin konversi angiotensin, konversi angiotensin,
sehingga mengakibatkan mengakibatkan
menurunkan penurunan aktivitas penurunan aktivitas
angiotensin 2 yang vasopressor dan vasopressor dan
berakibat sekresi aldosterone. sekresi aldosterone
menurunnya • Indikasi : hipertensi • Indikasi : hipertensi
peleplasan renin dan • Sediaan tablet 5 • Sediaan tablet 2,5
aldosterone. dan 10 mg mg
• Indikasi : Hipertensi, • Dosis 1 – 2 x sehari 1 • Dosis : 1x sehari 1
gagal jantung tablet tablet, atau sesuai
• Sediaan tablet anjuran dokter
12,5 dan 25 mg
• Dosis : 2 – 3x sehari
1 tablet
7. Diuretik
Bekerja melalui berbagai mekanisme untuk mengurangi curah jantung dan menyebabkan
ginjal meningkatkan ekskresi garam dan air.
1. Loop Diuretic
Furosemid : Sediaan tablet / kapsul 40 mg, injeksi 40 mg
Mekanisme kerja : Mengurangi reabsorbsi aktif Na dan Cl dalam lumen tubuli ke dalam
intersitium pada ascending limb of henle, dan mengeluarkan lewat urin
Dosis : Dewasa 2 – 3 x 40 mg / hari, anak 2 – 6 mg/kgBB / hari
Efek samping : hipokalemia, hiperurisemia (peningkatan asam urat)

2. Tiazid
HCT (hidroklorotiazid) : tablet 12,5 mg / 25 mg / 50 mg
Mekanisme kerja : Mengurangi simpanan natrium sehingga volume darah, curah jantung
dan tahanan vaskuler perifer menurun
Dosis : dewasa 25 – 50 mg / hari, anak 0,5 – 1 mg / kgBB/ hari.
Efek samping : pusing, mual
3. Diuretik Hemat Kalium
Spironolakton : tablet 25 mg, 50 mg, 100 mg
Mekanisme kerja : Menghambat penyerapan Natrium berlebih dalam
tubuh, dan menjaga kadar kalium dalam darah agar tidak terlalu rendah.
Dosis : 1 – 2 x 25 – 50 mg/ hari
Efek samping : GI disturbance, gangguan elektrotlit, pusing

4. Diuretik Osmosis
Manitol : Infus 5%, 10%, 15%, 20%
Mekanisme kerja : Membuat darah yang disaring ginjal lebih pekat, sehingga
mengganggu fungsi ginjal untuk menyerap air kembali, sehingga urin
banyak dikeluarkan (biasanya digunakan untuk kasus stroke, glaucoma)
Dosis : 1,5 – 2 g / kgBB infus
Efek samping : edema paru, dehidrasi, pusing
8. Vasodilator
Contoh sediaan
Hidralazin : tablet 10 mg, 25 mg, 50 mg, injeksi 20 mg/ mL
Mekanisme kerja : Relaksasi otot polos arteriol sehingga resistensi
perifer menurun, dan meningkatkan denyut jantung.
Indikasi : hipertensi, gagal jantung
KontraIndikasi : Gagal ginjal, Rheumatoid heart disease
Efek samping : pusing, takikardia, GI disturbance, kulit kemerahan
Interaksi : hipotensi berat bila diberikan bersama diazodsid
Dosis : 50 mg / hari, terbagi 2 – 3 dosis
GANGGUAN KARDIOVASKULER
•Hipertensi
•Angina pektoris
•Gagal Jantung (Heart Failure)
•Henti Jantung
1. Hipertensi
Orang awam menyebut sebagai : darah tinggi (Tekanan darah sistol ≥
140, dan atau diastol ≥ 90 mmHg)
Ada 2 jenis, primer dan sekunder.
1. Primer : 90% : penyebab tidak diketahui
2. Sekunder : 10% : penyebab karena penyakit lain, misal Diabetes

Gejala : Nyeri belakang kepala, pusing, merasa cepat lelah, jantung


berdebar, nyeri dada, susah tidur, susah berkonsentrasi, sesak.

Faktor penyebab hipertensi :


Lifestyle (merokok, makanan, konsumsi alkohol), genetika, penyakit lainnya.
Klasifikasi Hipertensi
Mekanisme Kerja Obat Anti
Hipertensi
Diuretik : Meningkatkan pengeluaran cairan dari tubuh
Beta – blocker : Memperlambat kerja jantung, mengurangi
pengaruh SSO terhadap jantung dan pembuluh darah
Vasodilator,
CCB / Ca antagonis
Memperlebar pembuluh
Penghambat ACE, darah
ARB
2. Angina pektoris

Nyeri dada hebat karena aliran darah coroner tidak cukup


memberikan oksigen yang dibutuhkan oleh jantung dan ini
disebut ISKEMIA jaringan.
Nyeri disebabkan kurangnya aliran darah coroner yang
menyebabkan hipoksia miokard, sangat bervariasi dan khas
diawali di bagian precordium, dan sternum bagian atas, menjalar
ke bahu kiri dan terus ke lengan sampai jari
Serangan ini kadang akut, disebabkan karena stress, makan
terlalu banyak, aktifitas berlebih, dll.
Penyebab : kebutuhan O2 meningkat, supply O2 menurun karena
ada sumbatan vaskuler
Terjadinya Angina
Etiologi (hipertensi, emosi, aktifitas berat,
sindrom coroner akut)
Supply O2 ke jantung turun, kebutuhan O 2 jantung
meningkat
Iskemia jantung, kemudian jantung berusaha
menggunakan jalur lain untuk tetap mendapat
energi
Mekanisme anaerob, produk sisa asam laktat

Otot jantung menjadi asam, angina (nyeri dada)


Pengobatan angina
Tujuan : Memperbaiki supply O2 ke miokard dan mengurangi kebutuhan
miokard terhadap O2, sehingga keseimbangan akan terjadi.
Terapi dengan :
Nitrat organik untuk melebarkan pembuluh darah, menurunkan
tahanan perifer dan menurunkan aliran balik vena ke jantung,
pemberian secara sublingual untuk efek cepat, dan bila sudah 3 dosis
diberikan dalam waktu dekat dan tidak membaik, segera ke
rumah sakit.
Calsium antagonist : vasodilatasi perifer, dan penurunan frekuensi
jantung
Beta blocker : Menurunkan denyut jantung dan kekuatan kontraksi,
sehingga kebutuhan oksigen berkurang
Istirahat cukup, dan hindari stress
Pencegahan lain dengan penempelan patch nitrat pada kulit.
3. Gagal Jantung / Heart Failure
Kondisi dimana curah jantung
tidak cukup mempertahankan
alirah darah ke organ dan
jaringan, serta kebutuhan O2
jaringan tidak terpenuhi.
Penyebab : Menurunnya
kontraksilitas miokard, dan
penyakit penyerta lain
(kelainan katup jantung,
hipertensi, gagal ginjal)
Tujuan terapi : Meningkatkan
efisiensi jantung dan
mengurangi edema
Terapi Pada Gagal Jantung
1. Glikosida (Digoksin) : Meningkatkan kekuatan kontraksi otot
jantung, memperlambat frekuensi denyut jantung, sehingga tekanan
vena menurun, dan mengurangi edema.
Hati2 dalam pemberian digoksin (Termasuk obat dengan indeks
terapi sempit, yaitu dosis terapi dengan dosis toksik sangat dekat).
Bila terjadi toksik : hentikan terapi, koreksi hipokalemia, dan gunakan
obat anti aritmia bila perlu

2. Vasodilator (Hidralazin), Ca antagonis : relaksasi otot polos


vaskuler, dilatasi pembuh darah resisten, sehingga gejala sesak nafas
berkurang.

3. Diuretik : mengurangi edema pada kondisi CHF


4. Henti Jantung dan kondisi
kritis
Henti Jantung / cardiac arrest : keadaan yang dapat terjadi kapan
saja dan perlu tindakan penyelamatan segera (tindakan awal
dilakukan resusitasi jantung paru / RJP)
Penyebab : gangguan fungsi sistem kardiovaskuler
Tujuan terapi : Mencegah komplikasi, Merangsang kembali otot
jantung agar aktif.
Terapi pada henti jantung
Stimulan
jantung Agen anti Natrium
agen kolinergik bikarbonat
adrenergik

Kalsium Obat anti


Glukonas aritmia
Stimulan Jantung (Agen
adrenergik)
Mekanisme Kerja : Merangsang agar otot jantung kembali aktif.
Adrenalin merangsang reseptor alfa dan beta 1 agar kontraksi
jantung spontan, meningkatkan tonus miokard, meningkatkan
kecepatan konduksi dan velositas, meningkatkan perfusi dengan
kompresi jantung.
Contoh : adrenalin, isoprenalin, dobutamin, dopamin
1. Adrenalin : pemberian secara iv, dosis umum 500 mcg. Mencapai
puncak dalam 1 – 2 menit, dan tidak stabil terhadap cahaya, panas, dan
kondisi basa, tidak boleh dicampur dengan aminofilin, fenitoin, natrium
bikarbonat, dan garam kalsium
2. Isoprenalin : pemberian secara iv, efektif pada kondisi asidosis,
biasanya diberikan pada kondisi bradiaritmia berat. Dosis 20 – 60 mcg
untuk awal suntikan, sampai total 200 mcg. Jangan digunakan bersama
adrenalin, dan jangan digunakan pada kasus toksisitas digoksin
3. Dobutamin : agonis adrenergik selektif beta 1, untuk mempertahankan
sirkulasi pada pasien dengan payah jantung atau mendukung sirkulasi
setelah henti jantung, kecepatan infus umum : 2,5 – 10 mcg / kgBB / menit
4. Dopamin : merangsang reseptor alfa, beta, dan dopaminergik.
Dosis umum 5 – 20 mcg/kgBB / menit, efek tahanan perifer total relative
tidak berubah karna efek alfa dan beta serupa.
Efek samping : nyeri, GI disturbance. Dopamin tidak boleh dicampur
dengan pelarut alkali, karena akan tidak aktif, hati – hati pada pasien
dengan gangguan vaskuler perifer – resiko gangren.
Obat anti aritmia
Lidokain : bersifat anestesi lokal, khususnya mengembalikan
aritmia ventricular, seperti yang terjadi selama bedah jantung
atau sesudah infark miokard akut.
Dapat diberi via bolus, infus, atau intra muskular. Kerjanya cepat
namun durasi singkat (20 menit)
Agen anti kolinergik
Atropin sulfat bekerja pada jantung dengan mengurangi hambatan
vagus, dapat dipakai pada pasien dengan infark miokard akut dan
bradikardia dengan hipotensi, pemberian secara iv bolus (400 –
600 mcg)
Kalsium glukonas
Ca glukonas 10% lewat suntikan / iv,
Mekanisme kerja : merangsang miokard agar berkontraksi spontan,
meskipun adrenalin gagal, mencegah aritmia
Koreksi gangguan keseimbangan kalium
Dosis : 250 mg diberi via iv perlahan, 1 ml per menit, jangan
dicampur dengan natrium bikarbonat / adrenalin
Natrium bikarbonat
Merk : Meylon
Digunakan untuk koreksi asidosis metabolik pada kondisi hipoksia / anoksia,
biasanya diberikan dengan larutan infus, dosis umum adalah 50 mmol, dan
dapat diulang setiap 10 menit,
Hati2 dalam koreksi asam basa, agar jangan over.
Diuretik
Mengurangi edema dengan mengeluarkan cairan lewat urin
Volume urin yang dihasilkan dipengaruhi beberapa faktor, yang
paling penting adalah jumlah natrium yang di reabsorpsi melalui
tubulus proksimal,
Reabsorpsi natrium akan diikuti oleh reabsorpsi air yang
menyebabkan urin berkurang, faktor lain adalah keseimbangan
asam basa, hormone aldosteron dan ADH (antidiuretik hormone)
Terapi non farmakologi secara
umum dalam gangguan
kardiovaskuler
•Memperbaiki life style (kurangi makanan berlemak,
hindari konsumsi alcohol, berhenti merokok)
•Menurunkan berat badan
•Pembatasan asupan garam sehari – hari
•Pembatasan asupan cairan (dari makanan dan minuman)
•Lakukan aktifitas ringan dengan teratur
•Hindari stress / emosi
Peran Perawat dalam
manajemen penyakit
kardiovaskuler
•Observasi tanda vital pasien (tekanan darah, nadi, respiratory rate)
•Observasi kondisi klinik pasien (nyeri, sesak)
•Edukasi pasien mengenai penggunaan obat secara tepat
(sublingual, oral, transdermal, dll.)
•Catat volume urin secara berkala (untuk pasien yang mendapat
diuretik)
•Edukasi pasien dalam manajemen gaya hidup
•Amati efektifitas terapi, dan pantau apakah terjadi efek samping
pada pasien
•Kolaborasi dengan tenaga kesehatan yang lain (Dokter, gizi,
farmasi) dalam perawatan pasien
Daftar Pustaka
James PA, Ortiz E, et al. 2014 evidence-based guideline for the management of high blood
pressure in adults: (JNC8). JAMA. 2014 Feb 5;311(5):507-20
Lestari, Siti. 2016. Farmakologi Dalam Keperawatan. Kemenkes RI, Jakarta
Noya, Albert Benedicto Ieuan. “Menilik Anatomi Jantung dan Cara Kerjanya”.
https://www.alodokter.com/menilik-anatomi-jantung-dan-cara-kerjanya, terakhir di update 26
Feb 2018, akses 10 April 2020
Setiadi, 2017. Dasar – Dasar Farmakologi untuk Keperawatan. Indomedia Pustaka.
Yogyakarta
Siswanto, B.B. et al., 2015. Pedoman Tatalaksana Gagal Jantung. Perhimpunan Dokter
Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 1.
Soenarta, A.A. et al., 2015. Pedoman Tatalaksana Hipertensi Pada Penyakit Kardiovaskular.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia, 1.