Anda di halaman 1dari 22

HEALTHCARE

CENTER
Kelompok 5:
Audy Rahadini
Saskia Mega Lorensa
TABLE OF CONTENTS

01 02
Health Belief Model Transtheoritical Model

OUR HEALTHCARE CENTER


Health Belief
Model
“Secara bahasa, Health Belief Model (HBM) memilki tiga kata utama
sebagai sebuah konsep, yakni health, believe, dan modal. Health
diartikan sebagai keadaan sempurna baik fisik, mental, maupun
social, dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat (World Health
Organization (WHO), 2017).”

OUR HEALTHCARE CENTER


pengertian
 Belief dalam bahasa inggris memiliki arti percaya atau keyakinan. Sehingga belief
yaitu keyakinan terhadap sesuatu yang menimbulkan tindakan atau perilaku
tertentu, misalnya seseorang percaya bahwa mandi akan membuat tubuh bersih
dari kotoran (Putri, 2016).
 Model adalah representasi dari suatu objek, benda, atau ide-ide dalam bentuk yang
disederhanakan dari kondisi atau fenomena alam (Mahmud, 2008: 1). Sedangkan
pengertian model yang mengacu pada Health Belief Model ini adalah suatu
representasi dari suatu ide dalam suatu kondisi.
 Health Belief Model sejauh ini adalah teori yang paling umum digunakan dalam
pendidikan kesehatan dan promosi kesehatan (Glanz & Lewis, 2002; Nationan
Cancer Institute (NCI), 2003). Health Belief Model ini juga menjadi salah satu dari
teori perilaku kesehatan (Maulana, 2009: 51). Dimana teori kesehatan perilaku
adalah kombinasi antara pengetahuan, pendapat, dan tindakan yang dilakukan oleh
individu atau kelompok yang mengacu pada kesehatan mereka (Kennedy, 2009).
Komponen Dasar Health Belief Model
1.Perceived seriousness/severity
Perceived seriousness disebut juga sebagai keparahan yang
dirasakan.
2.Perceived susceptibility
Perceived susceptibility disebut juga sebagai kerentanan yang
dirasakan atau sebagai presepsi subyektif seseorang tentang risiko
terkena penyakit (Anies, 2006).
3.Perceived benefits
Perceived benefits disebut juga sebagai manfaat yang dirasakan. Ini
mengacu pada persepsi seseorang tentang efektivitas berbagai
tindakan yang tersedia untuk mengurangi ancaman penyakit atau
penyakit (atau untuk menyembuhkan penyakit) (Lamorte, 2016).
4.Perceived barriers
Perceived barriers disebut juga sebagai rintangan yang dirasakan.
Ini mengacu pada perasaan seseorang terhadap hambatan untuk
melakukan tindakan kesehatan yang disarankan (Lamorte, 2016).
5.Cues to action
Cues to action disebut juga sebagai strategi untuk mengaktifkan
kesiapan. Inilah rangsangan yang dibutuhkan untuk memicu
proses pengambilan keputusan untuk menerima tindakan
kesehatan yang direkomendasikan (Lamorte, 2016).
6.Self-efficacy
Self-efficacy disebut sebagai keyakinan dalam kemampuan
seseorang untuk mengambil tindakan (Anies, 2006). Ini mengacu
pada tingkat kepercayaan seseorang terhadap kemampuannya
untuk berhasil melakukan perilaku.
Kekurangan dan Kelebihan Health Belief Modal
Gottwald & Brown (2012) memaparkan beberapa kelebihan dan kekurangan dari Health Belief Model,
yang akan dipaparkan dalam bentuk table dibawah ini.
Kelebihan Kekurangan
HBM memrpediksi seseorang apakah mungkin HBM mengasumsikan keputusan kesehatan
melakukan tindakan pencegahan dibuat secara rasional
HBM membantu untuk memprediksi apakah Dibutuhkan pandangan bio-medis tentang
seseorang dapat mengubah perilaku mereka kesehatan
HBM menggambarkan pentingnya kepercayaan Bukti bahwa model ini efektif dalam kaitannya
individu dan memeriksa bagaimana perubahan dengan perilaku kesehatan seperti
dalam kepercayaan dapat menyebabkan penyalahgunaan alkohol atau merokok yang
perubahan perilaku terbatas
HBM membantu seseorang untuk memeriksa HBM tidak mengakui faktor penentu kesehatan
biaya dan manfaat dari tindakan apa pun yang lebih luas
HBM menggambarkan sifat kompleks HBM tidak mengenal peran keluarga, kehidupan
pengambilan keputusan dan berbagai faktor sosial, lingkungan budaya sebagai faktor politik
yang mempengaruhi perubahan
Hambatan yang dirasakan diikuti oleh HBM tidak menyadari bahwa tidak semua isyarat
kerentanan yaitu dua dimensi terpenting dalam untuk bertindak memiliki bobot yang sama,
memprediksi perubahan misalnya sebuah poster tidak akan memiliki
dampak yang sama seperti keluarga yang tidak
sehat.
Transtheoritical
Model

Transtheoretical Model (TTM) adalah salah satu teori tentang perubahan


perilaku yang telah dikembangan oleh W. F. Prochaska yang merupakan
seorang psikoterapis. Teori ini fokus pada pengaruh sosial dan biologis.
Konstruk utama dari model ini adalah proses perubahan, hasil
perimbangan keputusan dan juga skala rangsanagan dimana model ini
melibatkan pengambilan keputusan, emosi, dan kepercayaan diri.
OUR HEALTHCARE CENTER
SERVICES

stage of processes of decisional


self-efficacy
change change balance

OUR HEALTHCARE CENTER


Stage of Change
1. Pre-contemplation
Tahap awal dimana individu belum siap menghadapi perubahan.
Mereka masih belum menyadari kebutuhan untuk berubah. Pada
tahap ini individu belum memilki niatan untuk berubah dalam
waktu dekat. Tahapan ini diperlukan stategi bagi individu untuk
belajar lebih banyak mengenai perilaku hidup sehat, memikirkan
pro mengenai perubahan perilaku.
2. Contemplation
Individu yang berada dalam tahap ini sudah mulai berpikir untuk
berubah dalam waktu dekat. Strategi yang diperlukan pada tahap
ini adalah individu membayangkan dampak positif atau manfaat
ketika mereka sudah melakukan perubahan perilaku, individu juga
belajar mengurangi kontra terhadap perubahan perilaku.
Stage of Change
3. Preparation
Individu telah siap melakukan perubahan dalam jarak dekat.
Mereka sudah mengambil langkah-langkah untuk berubah. Dalam
tahap ini dibutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat mereka,
individu juga dapat mengatakan kepada orang lain mengenai
rencana perubahan perilakunya dan berpikir tentang hal-hal
positif yang akan dia dapatkan. 
4. Action
Individu telah melakukan perilaku sehat dalam waktu dekat.
Individu telah membuat komitmen untuk berubah. Strategi yang
diperlukan adalah mengganti kegiatan yang berkaitan dengan
perilaku sehat dengan hal-hal positif, menghargai diri sendiri dan
menghindari situasi dan orang lain yang berpotensi untuk
Stage of Change
5. Maintenance
Individu telah memelihara perilaku sehat dalam jangka panjang. Di
tahap ini individu telah sadar pentingnya perilaku sehat.
 Processes of
change
Terdapat sepuluh proses perubahan yang
mempengaruhi disetiap tahapannya

9
 Processes of
change
1. Consciousness raising (peningkatan kesadaran)
Peningkatkan kesadaran tentang penyebab, dampak dan
penyembuhan untuk masalah perilaku yang dialami individu. Upaya
untuk meningkatkan kesadaran dapat dilakukan dengan kampanye
media.

2. Dramatic relief (penyuluhan dramatic)


Individu juga dapat meningkatkan kesadaran melalui pengalaman
atau sesuatu yang membangkitkan emosional individu, sehingga
individu tergerak untuk adanya perubahan pada perilakunya.
Contohnya psikodrama.

3. Self-reevaluation (Evaluasi Diri)
Proses dimana membandingkan dirinya sendiri dengan role
model atau panutan yang memiliki perilaku sehat.
 Processes of
change
4. Environmental reevaluation (Evaluasi Lingkungan)
Penilaian kognitif dan afektif mengenai bagaimana kebiasaan individu yang tidak
sehat, akan atau telah mempengaruhi lingkungan sosial. Hal ini juga dapat
meningkatkan kesadaran dirinya yang telah atau sedang menjadi model yang
baik atau buruk bagi oranglain. Contohnya kebiasaan merokok

5. Self-liberation (kebebasan pribadi)
Keyakinan bahwa individu mampu berubah dan memiliki komitmen atau niat untuk
melakukannya. Mudahnya seperti, resolusi di tahun baru atau membuat janji
dengan kesaksian publik. Hal ini diyakini dapat meningkatkan kekuatan kemauan
seseorang

6. Social liberation (kebebasan sosial)


Ketersediaan, sarana atau alternatif untuk membantu merubah perilaku tidak
sehat. Diperlukan advokasi, prosedur pemberdayaan dan kebijakan yang tepat
agar social liberation meningkat, contohnya zona bebas asap dan juga peraturan
dilarang merokok di tempat-tempat tertentu.
 Processes of
change
7. Counter conditioning (kondisi yang berlawanan)
Diperlukan pembelajaran perilaku sehat yang dapat menggantikan
perilaku yang bermasalah. Contohnya relaksasi sebagai counter stress,
makanan bebas lemak sebagai pengganti makanan berkalori banyak
(Prochaska, J.O.,et all., 2013)

8. Stimulus control (pengendalian rangsangan)


Menghilangkan stimulus yang dapat meningkatkan kebiasaan yang tidak
sehat, dengan cara menambah alternatif anjuran yang lebih sehat.
 Processes of
change
9. Contingency management (pengelolaan kemungkinan)
Terdapat konsekuensi yang diperoleh individu ketika ia memutuskan
untuk mengambil langkah perubahan. Pemberian reward akan membuat
individu untuk mengulangi perubahan perilaku yang sehat dibandingkan
dengan pemberian punishment. Dapat disimpulkan bahwa penguatan
diperlukan agar seseorang mau mengulang atau meneruskan perilaku
sehatnya.

10.  Helping relationship (kerjasama)
Dibutuhkan dukungan dari pihak-pihak disekitar individu yang ingin
merubah perilakunya, seperti kerabat dekat, sahabat, teman, atau
orangtua. Dukungan dapat diwujudkan dalam netuk kepedulian,
kepercayaan, keterbukaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya.
Dukungan dinilai dapat meningkatkan usaha individu untuk berubah.
Merupakan sebuah konstruk yang
membangun cerminan individu
relative menimbang pro dan kontra
dari suatu peribahan.

Decisional Terdapat 4 kategori pro yaitu


keuntungan diri sendiri dan orang

Balance lain, dan persetujuan/penerimaan


dirinya dan orang lain. Serta 4
kategori kontra yaitu biaya yang
dikeluarkan diri sendiri dan orang
lain, dan penolakan diri sendiri dan
orang lain (Janis & Manss, 1985).
Instructions for use
Yaitu membangun keyakinan individu untuk dapat
mengatasi resiko tanpa kembali ke perilaku tidak
sehat. Diadaptasi dari teori Bandura tentang Self-
Efficacy. Situational Templation Measure merupakan
suatu dorongan  untuk terlibat perilaku tertentu
pada suatu kondisi beresiko tinggi. Self-Efficacy
Measure merupakan suatu kepercayaan untuk tidak
terlibat dalam hal tertentu. (Velicer, Prochaska,
Fava, & Norman, 1998)
Ryan adalah seorang siswa SMA dengan kesadaran rendah mengenai kesehatannya, ia
merupakan perokok aktif yang berusaha untuk merubah perilakunya. Dalam proses perubahan
perilaku merokok menurut transtheoretical model terdapat tahap-tahap yang harus dilalui Ryan
dalam perubahan perilaku.
Pertama, precontemplation dimana Ryan merasa bahwa dirinya tidak memilki
permasalahan terhadap perilaku yang ia tunjukan, Ryan tidak memiliki motivasi untuk
mengubah perilaku. Ia tidak ingin berhenti merokok karena ia merasa baik-baik saja dan tidak
terdapat masalah pada dirinya. Pemikiran Ryan tersebut mengakibatkan ia tidak ingin berhenti
merokok.
Kedua, contemplation yang merupakan tahap dimana Ryan mulai menunjukkan
Aplikasi kesadaran yang muncul dari dalam dirinya akan perilaku tersebut. Tetapi hal tersebut hanya
Penerapan sebatas kesadaran sehingga Ryan belum dapat berkomitmen merubah perilakunya.
Ketiga, preparation merupakan kondisi dimana Ryan mulai membangun niat untuk
merubah perilakunya, ia membuat rencana minggu depan dirinya akan melepaskan rokok, dan
membuat strategi perlahan dengan cara mengurangi konsumsi rokok sampai akhirnya sama
sekali tidak mengonsumsi. 
Action, pada tahap ini Ryan berusaha secara perlahan menggantikan rokok dengan
permen. Ketika keinginannya untuk mengonsumsi rokok muncul, Ryan akan membeli permen
dan memakannya untuk mengalihkan rasa inginnya mengonsumsi rokok. 
Maintenance Ryan berusaha untuk tetap menjaga perilaku memakan permen ketika
merasa ingin mengonsumsi rokok.
Tahap terahkir adalah termination, dimana Ryan melupakan perilaku merokoknya, ia
sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk mengonsumsi rokok, sekalipun ia berteman atau
THANKS!
Kekurangan dan
Kelebihan
The Transtheoretical model (TTM) berhasil mengintegrasikan beberapa teori terdahulunya tentang modifikasi
perilaku dengan lebih lengkap dan kompleks. pola yang digunakan berbentuk pola umum, sehingga teori
ini sangat fleksibel untuk diterapkan di segala perubahan perilaku. Otomatis, teori ini dapat digunakan oleh
berbagai kalangan dan dapat digunakan untuk perubahan perilaku apapun. The Transtheoretical
model(TTM) melakukan perubahan perilaku secara bertahap sehingga individu yang berkaitan tidak
langsung berubah secara drastis. Hal ini berdampak lebih baik agar perilaku sebelumnya ketika re-
lapsing dapat diminimalkan.
Sedangkan kekurangan dari The Transtheoretical model(TTM) adalah teori ini berasumsi bahwa individu akan
dapat memodifikasi perilakunya dalam jangka waktu kurang lebih 6 (enam) bulan. Namun, belum ada
pembuktian empiris yang menjelaskan bahwa rentang waktu selama 6 (enam) bulan tersebut adalah
waktu yang cukup untuk pengubahan suatu  perilaku. Selain itu, teori ini juga tidak menjelaskan pengaruh
dari faktor lain yang sebenarnya turut andil dalam perubahan  perilaku seseorang.