Anda di halaman 1dari 12

KELOMPOK 4

 ANNISA HALLA
 CHINDY NOFITASARI
 DHONA AYU GUMILAR
 EVA GUSHARTANTI
 REGITA WIDYANINGRUM
 WAFA HANIFA
 WILDA FITRIANA
A. Pola Denyut Jantung Janin
Normal

DJJ = indikator untuk mengukur kesejahteraan janin


dalam rahim.
UK 25 mg =150x/menit.
Aterm =120-160x/menit patokan nilai normal
Pemeriksan dilakukan 1 menit penuh.
B. POLA UTERUS NORMAL
Aktivitas uterus dapat diukur secara elektronis,
sehingga memungkinkan kita untuk membuat
beberapa generalisasi mengenai hubungn
kontraksi dengan hasil akhir persalinan. Efisiensi
otot uterus dapat menimbulkanpersalinan yang
bervariasi.
Pada saat persalinan kala 1 frekuensi kontraksi
meningkat dari 3 kali menjadi 5 kali kontraksi per
10 menit. Dan tonus basal uterus dari 8 menjadi
12 mmHg.
Pada kala 2 frekuensi lima sampai enam kali per
10 menit
C. POLA DENYUT JANTUNG JANIN ABNORMAL

Hilangnya variabilitas yang tidak berhubungan


dengan medikasi, aktivitas janin atau obat-obatan,
disertai oleh :
 Deselerasi lambat pasien/berulang (20 menit)
 Deselerasi variabel berulang/persiten (20 menit)
 Bradikardia (<100 dpm) ≥10 menit
 Gambaran sinusoidial
D. Metode pengkajian lain

Antara lain Fetal salp stimulation,dan fetal


acoustic stimulation. Pemeriksaan
tersebut merupakan tindakan invasif yang
memerlukan peralatan canggih dan
tenaga kesehatan yang terampil karena
memiliki resiko pada ibu dan janin. Bukti
dari adanya kegawatan janin adalah
ditemukannya kadar pH darah janin yang
rendah, dan hal ini berkaitan juga dengan
rendahnya nila APGAR
E. Sampel Darah Janin Untuk Pemantauan

Sesuai dengan American college Of Obstetrician and Gynecologis,


pengukuran pH pada darah kapiler kulit kepala dapat membantu untuk
mengidentifikasi keadaan gawat darurat. Prosedur ini memang jarang
dilakukan, tetapi merupakan pemeriksaan penyerta untuk menegakkan
diagnosis gawat janin pada hasil NST yang meragukan.
Pengambilan darah janin harus dilakukan di luar his dan sebaiknya Ibu
dalam posisi tidur miring.
Pemeriksaan darah janin ini dilakukan bila terdapat indikasi sebagai
berikut :
1. Deselarasi vaiabel memanjang
2. Meconium pada presentasi kepala
3. Hipertensi Ibu
4. Osilasi atau variabilitas yang menyempit
5. Deselerasi lambat berulang
Kontraindikasi :
1. Gangguan pembekuan darah janin
2. Presentasi fetus yang tidak dapat dicapai
3. Infeksi pada Ibu
Syarat :
4. Pembukaan lebih dari 2 cm
5. Ketuban sudah pecah
6. Kepala sudah turun hingga dasar pelvis
F. PENANGANAN DISTRES JANIN
Penanganan Distress Janin Menurut Prawirohardjo
(2009) penanganan fetal distress saat persalinan adalah
sebagai berikut :
1. Cara pemantauan
a. Kasus resiko rendah – auskultasi DJJ selama persalinan :
 Setiap 15 menit kala I
 Setiap setelah his kala II
 Hitung selama satu menit setelah his selesai
b. Kasus resiko tinggi – gunakan pemantauan DJJ
elektronik secara berkesinambungan
c. Hendaknya sarana untuk pemeriksaan pH darah janin
disediakan
Interpretasi data dan pengelolaan
a. Untuk memperbaiki aliran darah uterus : Pasien
dibaringkan miring ke kiri, untuk memperbaiki
sirkulasi plasenta
b. Hentikan infus oksitosin (jika sedang diberikan)
c. Berikan oksigen 6-8 L/menit
d. Untuk memperbaiki hipotensi ibu (setelah
pemberian anastesi epidural) segera berikan infus
1 L infus RL
e. Kecepatan infus cairan-cairan intravaskular
hendaknya dinaikkan untuk meningkatkan aliran
darah dalam arteri uterina.
3. Untuk memperbaiki aliran darah umbilicus
a. Pasien dibaringkan miring ke kiri, untuk
memperbaiki sirkulasi plasenta.
b. Berikan ibu oksigen 6-8 L/menit 32
c. Perlu kehadirkan dokter spesialis anak Biasanya
resusitasi intrauterin tersebut diatas dilakukan selama
20 menit
G.TERAPI TOKOLISIS UNTUK
POLA DJJ YANG ABNORMAL
TOKOLISIS merupakan terapi utama yang digunakan
dalam pencegahan persalinan preterm. Tokolisis paling
berguna sebelum usia kehamilan 32 minggu. Efektivitas
tokolisis tergantung dari kematangan dan dilatasi serviks.
Bila serviks belum matang, tokolisis lebih mungkin untuk
berhasil. Diukur dengan skor tokolisis Baumgarten.

Berbagai macam obat telah digunakan untuk menekan kontraksi


uterus, yaitu :
 Antagonis calcium channel : Nifedipin
 Magnesium sulfat
 Beta Agonis : Terbutalin, Ritodrine
 Inhibitor prostaglandin sintetase : Indometasin, Movicox
 Antagonis oksitosin : Atosiban
TERIMAKASIH