Anda di halaman 1dari 47

ROBEKAN

JALAN LAHIR
KELOMPOK 5
FITRI PITASARI
HINDUN MAYSAROH
LAILUL MAHBUBAH
NATALIA PUTRI B
RINI ARISKAWATI
TRI WAHYU M
PENGERTIAN ROBEKAN JALAN
LAHIR

Perlukaan pada jalan lahir dapat


terjadi pada dasar panggul
berupa episiotomi atau robekan
perineum spontan, vulva dan
vagina, serviks uteri, serta
uterus.
MACAM-MACAM ROBEKAN
JALAN LAHIR
1.Robekan Vulva
Robekan yang terjadi pada saat bayi
lahir baik secara spontan maupun
dengan menggunakan alat atau
tindakan. Robekan pada vulva di bagi
atas dua jenis, yaitu robekan vulva dan
hematoma vulva.
2. Robekan Vagina
Robekan atau laserasi yang sampai pada
daerah vagina dan cenderung mencapai
dinding lateral dan jika cukup dalam dapat
mencapai elevator ani. Kadang juga dapat
mengakibatkan cedera tambahan pada
bagian atas saluran vagina, dekat spina
iskiadika. Jenis Robekan Vagina: Robekan
kecil dan superfisial , Kolporeksis , Fistula
vesikovaginal.
3. Robekan Perineum
4. Robekan Cervix
Robekan yang biasanya terdapat pada
pinggir samping cervix kadang-kadang
sampai ke SBR, dan membuka parametrium.
Robekan yang sedemikian dapat membuka
pembuluh-pembuluh darah yang besar dan
menimbulkan perdarahan yang hebat.
PENYEBAB ROBEKAN JALAN
LAHIR
1.Robekan Vulva
Di bagi atas dua jenis, yaitu robekan
vulva dan hematoma vulva. Terjadinya
hematoma vulva disebabkan oleh
karena robeknya pembuluh darah
terutama vena yang terletak di bawah
kulit alat kelamin luar dan selaput
2. Robekan Vagina
Perlukaan vagina sering terjadi sewaktu:
Melahirkan janin dengan cunam, Ekstraksi
bokong, Ekstraksi vakum, Reposisi presentasi
kepala janin (misal oksipito posterior), Sebagai
akibat lepasnya tulang simfisis pubis
(simfisiolisis).

3. Robekan Perineum
Pada umumnya terjadi pada persalinan di mana:
Kepala janin terlalu cepat lahir, Persalinan tidak
dipimpin sebagaimana mestinya, Sebelumnya
pada perineum terdapat banyak jaringan
4. Robekan Cervix
Dapat terjadi pada : Partus presipitatus,
Trauma karena pemakaian alat-alat operasi
(cunam, perforator, vakum ekstraktor),
Melahirkan kepala janin pada letak sungsang
secara paksa, Partus lama, dimana telah
terjadi srviks odem, sehingga jaringan serviks
sudah menjadi rapuh dan mulai robek.
TANDA DAN GEJALA ROBEKAN
JALAN LAHIR
1.Robekan Vulva dan Hematoma Vulva
Pada robekan vulva, akan terlihat robekan-
robekan kecil pada labium minus, vestibulum
atau bagian belakang vulva.
Pada hematoma vulva daerah hematoma
akan terlihat bagian yang lembek,
membengkak dan perubahan warna kulit di
daerah hematoma disertai dengan nyeri
2. Robekan Vagina
a.Robekan kecil dan superfisial→Pada umumnya tidak
terjadi perdarahan yang banyak dan perdarahan tidak
aktif.
b.Kolporeksi→Gejala-gejala dan pertolongannya tidak
berbeda dengan tindakan pertolongan pada ruptura
uteri.
c. Fistula vesikovaginal
1)Fistula vesikovaginal karena trauma→Pada keadaan
ini segera setelah terjadi fistula, kelihatan air kencing
menetes ke dalam vagina.
2)Fistula vesikovaginal karena terlepasnya jaringan
nekrosis→Dalam hal ini gejala beser kencing tidak
d.Robekan Perineum→Robekan perineum
Tingkat III ditandai dengan robekan mengenai
seluruh perineum sampai mengenai otot-otot
sfingter ani.
e.Robekan Serviks →Robekan serviks dapat
terjadi pada satu tempat atau lebih.
PENATALAKSANAAN ROBEKAN
JALAN LAHIR
1.Robekan Vulva dan Hematoma
a. Pada robekan vulva, Jika luka robek agak besar dan
banyak berdarah, terlebih robekan terjadi
dipembuluh darah daerah klitoris, dilakukan
penghentian perdarahan atau penjahitan luka
robekan.
b.Pada hematoma kecil dilakukan pengompresan.
Hematoma semakin besar disertai tanda anemia,
pre syok, perlu segera dilakukan pengosongan dari
2.Robekan Vagina→Pada luka robek yang lebar
dan dalam, perlu dilakukan penjahitan
secara terputus-putus atau jelujur.
3.Robekan yang kecil dan superfisial→Tidak
diperlukan penanganan khusus.
4.Kolporeksis→Pada luka robek yang lebar dan
dalam, perlu dilakukan penjahitan secara
terputus-putus atau jelujur.
5.Fistula vesikovaginal
a. Fistula vesikovaginal karena trauma→harus
segera dilakukan penjahitan luka yang terjadi.
Sebelum penjahitan, terlebih dahulu dipasang
kateter tetap dalam vesika urinaria, kemudian baru
luka dijahit lapis demi lapis sesuai dengan bentuk
anatomi vesika urinaria.
b. Fistula vesikovaginal karena terlepasnya jaringan
nekrosis→Kadang-kadang pada fistula yang kecil,
dengan menggunakan kateter tetap (untuk drainase
vesika urinaria) selama beberapa minggu, fistula
yang kecil tersebut dapat menutup sendiri. Pada
fistula yang agak besar, penutupan fistula baru
6. Robekan Perineum Tingkat III→Jahit pada dinding depan
rectum. Kemudian fasia perirektal dan fasia septum
rektovaginal dijahit sehingga bertemu kembali. Ujung-
ujung otot sfingter ani diklem, kemudian dijahit.
Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti
menjahit robekan perineum tingkat II
7. Robekan serviks:
a. Pertama klem pinggir robekan, sehingga perdarahan
berkurang.
b. Kemudian serviks ditarik sedikit, sehingga lebih jelas
kelihatan dari luar.
c. Ratakan pinggir robekan yang bergerigi
d. Jahit robekan dimulai dari ujung robekan dengan cara
jahitan terputus-putus atau jahitan angka delapan
KOMPLIKASI ROBEKAN JALAN
LAHIR
1. Robekan Vulva →fistula fesikovagina atau rektovagina
yang disertai dengan inkontinensia, infeksi sekunder
yang disertai pembentukan abses atau septikemia atau
keduanya
2. Robekan Vagina→perdarahan, infeksi
3. Robekan perineum→perdarahan, hematoma, retensi
urin, infeksi, jaringan parut dan stenosis
(penyempitan) vagina, vesiko vagina.
4. Robekan serviks→perdarahan, syok, inkompetensi
serviks (cervical incompetence) atau pun infertilitas
KONSEP TEORI ASUHAN
KEBIDANAN ROBEKAN JALAN LAHIR

1. Pengkajian
1)Data Subyektif
a.Riwayat persalinan→Robekan lebih sering terjadi pada
kelahiran anak pertama, persalinan lama (obstructed
labor) dan Partus presipitatus.
b.Pola kebiasaan sehari hari→Ibu harus makan-makanan
bergizi, banyak istirahat, dan melakukan senam Kegel
secara teratur. Tindakan tersebut juga dapat membantu
memperlambat pelahiran kepala bayi selama persalinan
dan dapat mencegah robekan
2)Data Obyektif
a. Keadaan umum→Pada hematoma yang semakin
membesar, lebih-lebih disertai dengan tanda
anemia, pre syok .
b.Pemeriksaan fisik
Muka : hematoma yang semakin membesar,
kadang disertai tanda anemia (muka pucat)
Mata : Pada hematoma yang semakin membesar,
kadang disertai tanda anemia (konjungtiva pucat)
Genetalia :
1)Pada robekan perineum tingkat III, robekan terjadi
mengenai seluruh perineum sampai mengenai otot-
otot sfingter ani
2)Pada robekan vulva, akan sering terlihat robekan
kecil pada labium minus, vestibulum atau bagian
belakang vulva
3)Pada daerah hematoma akan terlihat bagian yang
lembek, membengkak dan perubahan warna kulit di
daerah hematoma disertai dengan nyeri tekan
4)Kolporeksis terjadi robekan pada vagina bagian atas,
sehingga sebagian serviks uteri dan sebagian uterus
terlepas dari vagina
5)Perdarahan yang berasal dari jalan lahir. Sumber
3)Pemeriksaan khusus
Untuk dapat menetapkan sumber
perdarahan dapat dilakukan dengan
pemeriksaan dalam dan pemeriksaan
speculum, biasanya sumber perdarahan
dari serviks atau portio.
2. Diagnosa→PAPIAH inpartu kala IV, dengan
robekan serviks, keadaan umum ibu
baik/buruk, prognosa baik/buruk.
3. Perencanaan
a. Jelaskan pada ibu dan keluarga keadaan umum ibu
baik. Ibu menagalami robekan serviks dan harus
dihecting. Ibu mengerti.
b.Tekan fundus untuk membantu mendorong serviks
agar lebih terlihat
c. Gunakan retraktor vagina untuk membuka serviks
jika perlu
d.Pegang serviks dengan forceps cincin atau forcep
spons dengan hati-hati.
e. Letakkan forcep pada kedua sisi robekan dan tarik
dalam berbagai arah perlahan untuk melihat
f. Jika tepi robekan bergerigi, sebaiknya sebelum dijahit
tepian tersebut diratakan dahulu.
g. Tutup robekan serviks dengan jahitan jelujur
menggunakan benang catgut kromik atau poligloklonik
yang dimulai dari apeks (tepi atas robekan), biasanya
bagian ini menjadi sumber perdarahan.
h. Jika bagian panjang bibir servik robek, jahit dengan jahitan
jelujur.
i. Pada robekan yang dalam, jahitan harus dilakukan lapis
demi lapis untuk mengurangi resiko hematom pada rongga
di bawah jahitan.
j. Jika apeks sulit diraih dan diikat, pegang apeks dengan
forcep tetap terpasang selama 4 jam.
k. Buka forcep sebagian setelah 4 jam tetapi jangan
4. Pelaksanaan
Bidan melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara
komprehensif, efektif, efisien dan aman berdasarkan
evidence based kepada klien/pasien dalam bentuk upaya
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Dilaksanakan
secara mandiri, kolaborasi dan rujukan.
5. Evaluasi
Ditulis dalam bentuk catatan perkembangan SOAP sebagai
berikut:
S : Data subjektif, mencatat hasil anamnesa.
O : Data objektif, mencatat hasil pemeriksaan.
A : Hasil analisa, mencatat diagnosa dan masalah
kebidanan.
P : Penatalaksanaan, mencatat seluruh
TINJAUAN KASUS
Tanggal : 14-01-2020, Pukul 13.00 WIB.
Tempat :Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. DATA SUBYEKTIF
Istri Suami
Nama : Ny. “R” Tn. “P”
Umur : 26 tahun 28 tahun
Agama : Islam Islam
Suku bangsa : Jawa-Indonesia Jawa-Indonesia
Pendidikan : SMA SMA
Pekerjaan : Swasta Swasta
Penghasilan : ± Rp. 1.500.000.-/bln Rp. 2.000.000,-/bln
Status Maritas : Menikah pertama Menikah pertama
Usia menikah : 25 tahun 27 tahun Lama/
Berapa kali : 1 tahun/ 1x 1 tahun/ 1x
Alamat : Karangrejo, Maospati, Magetan
Anak Ke :1
• Ibu merasakan mulas-mulas dari tanggal 13 Januari 2020 pukul
22.00 WIB, datang ke rumah sakit tanggal 14 januari 2020 pukul
13.00 WIB.
• Ibu, suami dan keluarga sehat, tidak pernah menderita penyakit
menahun, menular dan menurun.
• Ibu menarche usia 14 tahun, lama haid 6-7 hari, ganti pembalut
4x/hari pada hari 1-2, tidak disminore. HPHT: 13 April 2019 , HPL:
18 Januari 2020.
• Sekarang hamil pertama, sehat, usia kehamilan 9 bulan, sudah
mengikuti program ANC terpadu lengkap, hasil normal. Tidak ada
keluhan selama hamil, status imunisasi TT lengkap (T5). Mendapat
multivitamin zat besi, vitamin C, kalcium lactate, diminum rutin
sesuai anjuran. Ibu sudah mendapatkan penyuluhan tentang
perawatan payudara, persiapan persalinan (P4K) dan teknik
pernafasan untuk persiapan persalinan.
• Ibu belum pernah menggunakan KB, setelah melahirkan ibu belum
mempunyai pilihan KB.
• BAB 1x/hari normal, BAK 10-12x/sehari
• Ibu tidur malam ±7jam, dan ibu tidur siang ±1jam.
• Ibu melakukan pekerjaan rumah tangga dibantu suami dan
beristirahat saat lelah.
• Mandi , gosok gigi 2x/hari, keramas 2–3 hari sekali, ganti
baju dan celana dalam 2x/hari setelah mandi, cebok dari
arah depan ke belakang setiap selesai BAK/BAB. Ibu
membersihkan payudara tiap mandi dengan sabun.
• Selama hamil ibu jarang melakukan hubungan seksual.
• Ibu maupun suami tidak mempunyai kebiasaan minum-
minuman beralkohol, minum jamu, mengkonsumsi obat-
obatan tertentu. Suami tidak merokok.
• Ibu tidak pijat perut ke dukun, tidak minum jamu atau obat-
obatan, dan tidak ada pantangan makanan
2. DATA OBYEKTIF
• KU baik, keadaan komposmentis.
• TD: 120/70 mmHg, S: 36,4 ºC, N: 80 x/menit, R : 20x/ menit.
• TB: 156 cm, LILA: 24 cm, BB sebelum hamil: 49 kg, IMT : 20,1 (normal),
• BB sekarang (14-01-2020): 60,3 kg, IMT : 24,8 (normal). Kenaikan BB selama
hamil 11,3 kg.
• Muka tidak sembab, tidak pucat, tidak oedema.
• Sklera putih, konjungtiva palpebrae merah muda, kelopak mata tidak oedema.
• Bibir tidak pucat, tidak ada stomatitis, lidah bersih, tidak terdapat karies gigi.
• Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, tidak ada bendungan
vena jugularis.
• Bunyi jantung normal, payudara tidak ada benjolan abnormal, kedua puting
menonjol, kolostrum sudah keluar, pada aksila tidak ada pembesaran kelenjar
limfe.
• Abdomen arah pembesaran membujur, pembesaran sesuai dengan usia
kehamilan dan terlihat pergerakan janin
• Genetalia bersih, tidak terdapat condiloma matalata dan
akuminata.
• Anus tidak hemoroid.
• TFU Mc Donald : 34 cm, TBJ: 3565 gram
• Palpasi
1) Leopold I : Pertengahan px dan pusat, pada fundus teraba
bagian lunak, kurang bundar, dan tidak melenting (bokong)
2) Leopold 2 : Pada perut sebelah kanan teraba bagian yang
keras memanjang seperti papan, dan bagian perut sebelah kiri
teraba bagian kecil tubuh seperti tangan dan kaki.
3) Leopold 3 : pada perut bagian bawah teraba bagian yang
bulat, keras dan tidak dapat digoyangkan (kepala).
4) Leopold 4 : bagian terendah janin sudah masuk PAP
(konvergen).
• Penurunan kepala 4/5 bagian
• DJJ (+) 138x/menit, kuat, teratur, punctum maksimum 3 jari
• Pemeriksaan dalam, pukul 13.00 WIB.
• v/v taa, pembukaan 2 cm, eff 25%, ketuban (+), preskep,
Hodge I, UUK kadep, tidak teraba bagian kecil disamping
kepala janin, kesan jalan lahir normal.
3. Assesment
G1P00000, usia kehamilan 39-40 minggu, janin tunggal, hidup,
intra uterine, situs bujur, habitus fleksi, posisi puka, presentasi
kepala, kepala sudah masuk PAP, kesan jalan lahir normal,
inpartu kala 1 fase laten, KU ibu dan janin baik. Prognosa baik. 3
4. Penatalaksanaan
a. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga.
Ibu mengerti.
b. Menganjurkan keluarga mendampingi ibu. Ibu didampingi
suami.
c. Menganjurkan ibu untuk melakukan distraksi dan relaksasi
dengan pernafasan saat ada his. Ibu menarik nafas panjang.
d. Menganjurkan ibu untuk tidur miring kiri. Ibu tidur miring
f. Menganjurkan untuk tidak menahan BAB dan BAK. Ibu
tidak BAB dan BAK.
g. Rencana tindakan
1) Siapkan alat, dan perlengkapan persalinan
2) Observasi his, DJJ, nadi tiap 30 menit, suhu dan tekanan
darah tiap 2 jam
3) VT 4 jam lagi pada pukul 17.00 WIB, atau bila perineum
sudah menonjol, dan vulva membuka.
4) Lakukan asuhan persalinan kala II
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 17.00 WIB Tempat
: Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Subyektif
a.Mulas-mulas semakin sering dan sakit.
b.Ibu makan roti sedikit demi sedikit dan minum air beberapa teguk.
2. Obyektif
a. KU baik, kesadaran komposmentis.
b. Kandung kemih penuh, ibu BAK di atas tempat tidur dengan menggunakan
pispot.
c. HIS 3 kali dalam 10 menit lama 45-50 detik DJJ (+) 142 x/menit kuat teratur,
punctum maksimum 3 jari kanan atas simpisis.
d. Perlimaan 3/5 e. v/v taa, pembukaan 4 cm, eff 50%, ketuban (-), preskep,
Hodge II, UUK kadep, tidak teraba bagian kecil disamping kepala janin,
kesan jalan lahir normal.
3. Assesment
G1P00000, usia kehamilan 39-40 minggu, inpartu kala 1 fase aktif
akselerasi, KU ibu dan janin baik. Prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
a. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan mencegah ibu untuk
tidak boleh mengejan ketika ada his. Ibu tidak mengejan saat ada his.
b. Menganjurkan ibu makan minum di sela-sela his. Ibu minum setengah
gelas air putih.
c. Menganjurkan ibu tidur miring ke kiri. Ibu bersedia.
d. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK. Ibu tidak
menahan BAB dan BAK.
e. Mengobservasi his, djj, dan nadi tiap 30 menit, produksi urine dan
suhu tiap 2 jam, tekanan darah tiap 4 jam dan melakukan pemeriksaan
dalam 4 jam lagi pukul 21.00 WIB atau bila ada tanda gejala kala II.
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 21.00 WIB Tempat
: Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Subyektif
a. Mulas-mulas semakin sering dan keluar lendir bercampur darah.
b. Ibu makan roti atau nasi dan minum air beberapa teguk.
2. Obyektif
a. KU baik, kesadaran komposmentis.
b. Kandung kemih kosong.
c. HIS 3 kali dalam 10 menit lama 45-50 detik DJJ (+) 144 x/menit kuat teratur,
punctum maksimum 3 jari kanan atas simpisis.
d. Perlimaan 2/5 e. v/v taa, pembukaan 8 cm, eff 75%, ketuban (-), preskep, Hodge
III, UUK kadep, tidak teraba bagian kecil disamping kepala janin, kesan jalan
lahir normal.
3. Assesment
G1P00000, usia kehamilan 39-40 minggu, inpartu kala 1 fase aktif
dilatasi maksimal, KU ibu dan janin baik. Prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
a. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu dan mencegah ibu
untuk tidak boleh mengejan ketika ada his. Ibu tidak mengejan
saat ada his.
b. Menganjurkan ibu makan minum di sela-sela his. Ibu minum
setengah gelas air putih.
c. Menganjurkan ibu tidur miring ke kiri. Ibu bersedia.
d. Menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAB dan BAK. Ibu tidak
menahan BAB dan BAK. j. Mengobservasi his, djj, dan nadi tiap
30 menit, produksi urine dan suhu tiap 2 jam, tekanan darah
tiap 4 jam dan melakukan pemeriksaan dalam 4 jam lagi pukul
01.00 WIB atau bila ada tanda gejala kala II.
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 23.00 WIB Tempat
: Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Data subyektif
Ibu merasa mulas – mulas semakin lama semakin sering. Terdapat dorongan untuk mengejan
seperti ingin BAB yang tidak bisa ditahan lagi, ibu merasa lelah, tidak nafsu makan dan
minum. Ibu terakhir makan pada pukul 22.30 WIB, minum terakhir pukul 22.55 WIB.
2. Data obyektif
a. Keadaan umum ibu baik, kesadaran composmentis
b. Ibu tampak kelelah dan berkeringat, mukosa bibir tampak kering, blood slym bertambah
banyak, terdapat tekanan pada anus, perineum menonjol, vulva vagina membuka, ketuban
menonjol.
c. Perlimaan 0/5.
d. His : 5 kali/10 menit, lama 50 detik.
e. DJJ terdengar jelas, (12-12-12) 144 x/menit, kuat teratur, puntum
maxsimum 2 jari di atas sympisis.
f. Hasil VT pukul 23.00 WIB : v/v taa, ᴓ10 cm, eff 100%, ketuban (-),
preskep, HIV, UUK bawah sympisis, tulang kepala janin terpisah,
sutura dengan mudah dapat dipalpasi, tidak ada bagian kecil janin
di samping kepala janin, kesan jalan lahir normal.
3. Assessment
G1P00000, usia kehamilan 39-40 minggu, inpartu kala II. Keadaan
umum ibu dan janin baik. Prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa pembukaan
sudah lengkap dan waktunya untuk mengejan. Ibu mengerti dan
paham.
2) Memimpin ibu untuk meneran.
3) Mengobservasi DJJ di antara his. (12-12-11) 140 x/menit
kuat, teratur, punctum maximum 2 jari bawah sympisis.
4) Menganjurkan keluarga untuk memberikan makan dan
minum pada ibu di antara his. Ibu bersedia minum air putih.
5) Pada saat kepala crowning 5-6 cm, melindungi perineum dan
mencegah kepala defleksi tiba-tiba, setelah sub oksiput di
bawah simpisis anjurkan ibu nafas pendek-pendek,
memeriksa kemungkinan ada lilitan tali pusat, tidak ada
lilitan tali pusat, tunggu kepala bayi melakukan putaran
paksi luar, melahirkan bahu dengan cara memegang kepala
secara biparietalis, melahirkan badan sampai tungkai dengan
sangga susur. Bayi lahir pukul 23.20 WIB.
6) Menilai gerak dan tangis dalam waktu 0 detik, cukup bulan,
bayi langsung menangis, dan gerak aktif
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 23.20 WIB
Tempat : Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Subyektif
Ibu lega bayi lahir sehat dan selamat.
2. Obyektif
Bayi lahir spontan belakang kepala, menangis kuat, gerak aktif, warna kulit
kemerahan, jenis kelamin laki-laki.
3. Assesment
Bayi baru lahir normal, KU baik, prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
a. Meletakkan bayi di atas perut ibu b.
b. Mengeringkan bayi, mengganti handuk bersih dengan handuk kering
c. Menjepit tali pusat, memotong tali pusat dan mengikat tali pusat
d. Mengganti handuk basah dengan handuk yang kering
e. Melakukan IMD selama 1 jam. IMD tidak berhasil, bayi mampu
melewati tahap IMD hingga mengeluarkan liur dari mulutnya.
f. Merencanakan
1) Setelah 1 jam bayi lahir, memberi salep mata tetrasiklin, injeksi vit
K dengan dosis 1 mg secara IM pada anterolateral paha kiri dan
melakukan pengukuran antropometri, melakukan pemeriksaan
fisik
2) Setelah 1 jam injeksi vit K, memberikan imunisasi Hb-0 dengan
dosis 0,5ml IM di anterolateral paha kanan
3) Jaga bayi dalam keadaan hangat, bayi diselimuti.
4) Memandikan bayi minimal 6 jam setelah lahir
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 23.25 WIB Tempat
: Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Subyektif
Ibu mengeluh perutnya mules.
2. Obyektif
a. KU baik, komposmentis
b. TFU setinggi pusat, kontraksi uterus bundar dan keras, tali
pusat nampak di depan vulva, perdarahan 50 cc, kandung kemih
kosong.
3. Assesment
Inpartu kala III , KU ibu baik. Prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
a. Memeriksa uterus untuk memastikan bayi tunggal.
b. Menyuntikkan oksitosin 10 IU secara IM pada 1 menit peratama
c. Ketika ada his melakukan PTT searah sumbu jalan lahir,
merasakan tidak ada tahanan, tali pusat bertambah panjang dan
keluar semburan darah ± 100 cc, tangan kiri melakukan dorso
kranial.
d. Saat plasenta berada di depan vulva, tangkap dengan kedua
tangan dan putar searah jarum jam. Plasenta lahir pukul 23.30
WIB.
e. Masase fundus uteri hingga kontraksi uterus baik. Kontaksi
uterus keras dan bundar.
f. Memeriksa kelengkapan plasenta, kontaksi uterus, kandung
kemih, perdarahan dan laserasi jalan lahir.
Tanggal : 14-01-2020 Pukul : 23.35 WIB Tempat
: Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. Subyektif
Ibu lega plasenta telah lahir
2. Obyektif
a. KU ibu baik, komposmentis
b. Kontraksi uterus baik, teraba keras dan bundar, TFU 2 jari bawah
pusat, kandung kemih kosong, perkiraan perdarahan selama persalinan
150 cc, terdapat laserasi derajat 2 pada mukosa vagina, kulit perineum
dan otot perineum.
3. Assesment
Inpartu kala IV, KU ibu baik. Prognosa baik.
4. Penatalaksanaan
a. Memastikan bahwa uterus berkontraksi.
b. Menyuntikkan Lidokain 1 % non epineprint di perineum
c. Menjahit luka laserasi derajad II dengan teknik jelujur dan subkutis
menggunakan benang catgut.
d. Memandikan atau menyibin ibu.
e. Mengganti pakaian kotor ibu dengan pakaian yang nyaman.
f. Mendekontaminasi alat dan tempat bersalin.
g. Melakukan observasi tekanan darah, nadi TFU, kontrkasi uterus dan
perdarahan setiap 15 menit selama 1 jam pertama dan 30 menit pada jam
kedua pasca persalinan , suhu tiap 1 jam selama 2 jam. Hasil terlampir pada
patograf.
h. Dokumentasi dan melengkapi partograf
i. Menjadwalkan kunjungan ulang nifas pertama 6 jam sampai 3 hari masa nifas
untuk memastikan involusi, laktasi, lochea normal dan mencegah, mendeteksi
serta menangani terjadinya perdarahan, KIE kebutuhan dasar ibu nifas.
Tanggal : 15-01-2020, pukul 01.35 WIB
Tempat : Ruang Bersalin RSAU Efram Harsana

1. S:
a. Ibu merasa saat ini dalam keadaan baik, tidak mengalami perdarahan.
b. Ibu sudah meneteki bayinya, bayi bisa menghisap dengan kuat.
c. Ibu telah melakukan mobilisasi miring kanan dan kiri.
2. O:
a. KU ibu baik, kesadaran composmentis
b. TTV : TD: 110/70 mmHg, N : 82x/menit, RR : 22x/menit, S : 36,3 C
c. Kandung kemih kosong.
d. TFU 2 jari bawah pusat,uterus teraba bundar dan keras.
e. Tidak ada perdarahan abnormal.
f. Ku bayi baik, tangis kuat.
1) S : 36,7C, RR : 24x/menit
2) Warna kulit merah muda
3) Gerak aktif, menetek kuat
4) Pemeriksaan fisik normal
5) Tali pusat bersih, dibungkus kasa kering dan steril, tidak ada perdarahan.
6) BB lahir 3300 gram, PB lahir 48 cm, LK 33 cm, LD 36 cm LILA 10 cm.
7) Bayi IMD 20 menit karena ibu merasa kesakitan saat dilakukan hecting,
bayi sampai pada tahap bayi bergerak ke arah payudara.
8) Bayi telah mendapatkan vitamin K1 dan salep mata tetrasiklin 1% segera
setelah lahir yaitu pukul 32.30 WIB, injeksi Hb0 scara IM pada paha
kanan pukul 24.30 WIB
9) Bayi sudah BAB pukul 01.10 WIB dan belum BAK.
3. A :
P10001 2 jam post partum, laktasi lancar, involusi baik, lochea
rubra, Keadaan ibu dan bayi baik, Prognosa baik.
4. P :
1) Mengobservasi KU dan TTV ibu dan bayi setiap 4 jam
2) Memindahkan ibu keruang nifas
3) Memberikan terapi asam mefenamat 500 mg 3x1, amoxicillin
500 mg 3x1, Fe 1x1.
4) Menganjurkan ibu kontrol ulang 1 minggu lagi pada tanggal
21 Januari 2020 untuk pemberian vitamin A, pemeriksaan
tanda-tanda vital, TFU, lokhea, laktasi dan involusi.
TERIMAKASIH