Anda di halaman 1dari 35

SUPPOSITORIA

DAN
OVULA
Oleh : Ade Irma Fitria Ningsih, M.Farm., Apt
 Kata suppositoria sendiri berasal dari
bahasa latin supponere
 sup artinya: di bawah dan ponere
artinya: ditempatkan.
 Berarti, supponere mempunyai arti
“untuk ditempatkan di bawah”.
 Oleh karena itu, suppositoria digunakan
untuk ditempatkan di bagian bawah
tubuh seperti di rektum.
 Supositoria (Suppositoria) merupakan
sediaan padat yang dikemas dalam
berbagai bobot dan bentuk.
 Sediaan ini cara pemakaiannya
diberikan melalui rektal, vagina atau
uretra.
 Supositoria ini umumnya meleleh,
melunak atau melarut pada suhu tubuh.
KEUNTUNGAN PENGGUNAAN SUPOSITORIA DAN OVULA

 Mudah digunakan untuk pengobatan lokal


pada rectum, vagina ataupun urethra.
 Misalnya, wasir, infeksi dan lain
sebagainya.
 Sebagai alternatif bila penggunaan melalui
oral tidak dapat dilakukan. Misalnya: pada
bayi, pasien debil (lemas, tidak
bertenaga), muntah-muntah, gangguan
sistem pencernaan (mual, muntah), dan
kerusakan saluran cerna.
 Obat lebih cepat bekerja, karena absorpsi
obat oleh selaput lendir rectal langsung
ke sirkulasi pembuluh darah.
 Untuk mendapatkan “prolonged action”
(obat tinggal ditempat tersebut untuk
jangka waktu yang dikehendaki).
 Untuk menghindari kerusakan obat pada
saluran cerna
 Dapat menghindari first fast efek dihati.
KERUGIANNYA:

 Pemakaiannya tidak menyenangkan


dan kurang praktis.
 Tidak dapat disimpan pada suhu ruang
untuk supositoria dengan basis oleum
cacao.
 Daerah absorpsinya lebih kecil dan
absorpsi hanya melalui difusi pasif
 Tidak dapat digunakan untuk zat yang
rusak pada pH rektum
Tujuan pemberian suppositoria
 Untuk pengobatan lokal pada rektum, vagina, urethra,
misal wasir, infeksi, dan lain lain.
 Sebagai alternatif bila oral tidak dapat dilakukan.
Misalnya pada bayi, pasien debil (lemas, tidak
bertenaga), muntah-muntah, gangguan sistem
pencernaan (mual, muntah), dan kerusakan saluran
cerna.
 Agar obat lebih cepat bekerja, karena absorpsi obat
oleh selaput lendir rektal langsung ke sirkulasi
pembuluh darah.
 Untuk mendapatkan “prolonged action” (obat tinggal
ditempat tersebut untuk jangka waktu yang
dikehendaki).
 Untuk menghindari kerusakan obat pada saluran cerna.
 Akan tetapi, penggunaan sediaan supositoria
ini dalam hal pemakaian sebenarnya tidak
menyenangkan. Selain itu, tidak dapat pula
disimpan pada suhu ruang untuk suppositoria
dengan basis oleum cacao.

 Bentuk dan ukuran suppositoria harus didisain


sedemikian rupa, sehingga suppositoria dapat
dengan mudah dimasukkan ke dalam lubang
atau celah yang dimasukkan tanpa
menimbulkan rasa tidak nyaman bagi pasien,
dan juga harus dapat bertahan dalam waktu
tertentu.
MACAM-MACAM SEDIAAN SUPPOSITTORIA.
1. SUPPOSITORIA RECTAL/REKTUM (ANUS).
 Penggunaan suppositoria ini
dimasukkan ke dalam anus dengan
menggunakan tangan.
 Berbentuk seperti peluru, dengan
panjang + 32 mm (1,5 inci).
 Mempunyai berat untuk orang dewasa
= 3 g dan anak = 2 g
 Menggunakan lemak coklat
(Theobroma oil) sebagai basis.
 Bentuk suppositoria yang seperti
peluru ini memberi keuntungan.
 Bila bagian yang besar masuk melalui
otot penutup dubur, maka suppos akan
tertarik masuk dengan sendirinya.
2. VAGINAL SUPPOSITORIA = OVULA = PESSARY.

 Penggunaan suppositoria ini dimasukkan ke dalam vagina


dengan menggunakan bantuan alat. (Menurut Farmakope
Indonesia III)
 Ovula merupakan suatu sediaan padat yang digunakan
melalui vagina.
 Bentuk Ovula pada umumnya berbentuk telur, dapat melarut,
melunak, dan meleleh pada suhu tubuh.
 Jadi, ovula berbentuk seperti telur atau bola lonjong atau
kerucut dengan berat 3 – 6 gram.
 Namun demikian, berat ovula umumnya 5 gram jika
menggunakan lemak coklat sebagai basis.
 Akan tetapi, berat ovula dapat beragam tergantung pada
basis dan produk industri.
3. URETHRAL SUPPOSITORIA = BACILLA = BOUGIES.

 Jenis suppositoria ini cara penggunaannya


dimasukkan ke dalam urethra (saluran
kemih) pada pria dan wanita.
 Suppositoria jenis yang ini berbentuk
batang-batang seperti pensil dengan ukuran:
 Untuk laki-laki ♂: panjang + 140 mm, diameter
= 3,6 mm, dan berat = 4 gram
 Untuk perempuan ♀: panjang + 70 mm,
diameter = 1,5 – 3 mm, dan berat = 2 gram
 Sekedar informasi untuk Anda bahwa
pemakaian suppositoria uretral sekarang ini
sudah jarang digunakan.
TUJUAN PENGOBATAN DENGAN MENGGUNAKAN SEDIAAN
SUPPOSITORIA
1. TUJUAN UNTUK EFEK SECARA LOKAL

 Saat suppositoria dimasukkan, maka basis


suppositoria akan meleleh, melunak atau
melarut, dan menyebarkan bahan obat ke
jaringan-jaringan di daerah tempat
dimasukkannya.
 Tujuan pemberian ini agar bahan obat
tersebut dapat dimaksudkan untuk efek kerja
lokal di tempat tersebut atau dapat juga
dimaksudkan agar diabsorpsi untuk
mendapatkan efek sistemik.
Jenis-jenis suppositoria yang berefek lokal adalah
sebagai berikut.
a. suppositoria rektal
 Suppositoria ini paling sering digunakan untuk
menghilangkan konstipasi dan rasa sakit, iritasi,
rasa gatal, dan radang sehubungan dengan wasir
(hemoroid) atau lewat rektal lainnya.
 yang termasuk jenis suppositoria rektal ini dapat
berupa:
 Suppositoria antiwasir. Suppositoria jenis ini biasanya
mengandung sejumlah bahan obat. Diantaranya
adalah anaestetik lokal, vasokonstriktor, astringen,
analgesik, pelunak, dan pelindung.
 Suppositoria laksatif. Suppositoria jenis ini biasanya
suppositoria gliserin yang berefek laksasi (pencahar)
karena iritasi lokal dari membran mukosa, karena
dengan efek dehidrasi gliserin pada membran
tersebut.
b. suppositoria vaginal

 Suppositoria jenis ini dimaksudkan untuk


memberi efek lokal dan terutama berfungsi
sebagai:
 Kontrasepsi. Yang termasuk jenis ini misalnya:
obat nonoksinol-9
 antiseptik pada kebersihan wanita dan sebagai
zat untuk menghambat atau mematikan
penyebab penyakit akibat jamur ataupun
bakteri. Biasanya mengandung trikomonosida
untuk mengobati vaginitis yang disebabkan
oleh mikroorganisma Trichomonas vaginalis dan
Cadida albicans.
 antiinfeksi/biotik untuk mikroorganisma lainnya.
c. suppositoria uretral

 Suppositoria ini digunakan dengan


tujuan sebagai antibakteri dan
anestetik lokal untuk pengujian uretral.
2. TUJUAN UNTUK EFEK SECARA SISTEMIK
 pemberian suppositoria dimaksudkan untuk
memberi efek sistemik.
 Saat penggunaannya, biasanya diberikan
melalui membran mukosa rektal dan vagina.
 Mengapa demikian? Ya karena suppositoria
mampu mengabsorpsi dari kebanyakan obat
yang lain.
 Namun demikian, pemberian suppositoria
melalui rektal ini lebih sering digunakan
sebagai tempat absorpsi sistemik.
 Pemberian suppositoria melalui vagina
jarang digunakan untuk tujuan sistemik.
Absorpsi melalui rektal untuk efek sistemik mempunyai
kelebihan dibandingkan peroral yaitu:
 Obat yang rusak atau inaktivasi oleh pH dan aktivitas
enzim pada lambung atau usus tidak perlu terpapar pada
enzim destruktif tersebut.
 Obat yang mengiritasi mukosa dapat diberikan tanpa
menyebabkan iritasi.
 Obat tidak melewati liver setelah absorpsi melalui rektum,
sehingga tidak dirusak dalam sirkulasi portal (yaitu obat
melintasi sirkulasi portal setelah pemberian melalui oral
dan terabsorpsi).
 Rute melalui rektal cukup nyaman untuk pemberian obat
pada pasien yang tidak dapat atau tidak mau menelan
obat.
 Rute melalui rektal merupakan rute yang efektif untuk
pasien yang mudah muntah.
Waktu terbaik menggunakan sediaan suppositoria

 Sesudah defekasi untuk suppos anal


(rektal), untuk menghindari obat
dikeluarkan terlalu cepat bersama
faeces sebelum sempat bekerja.
 Malam hari sebelum tidur, penderita
dalam posisi telentang untuk
menghindari melelehnya obat keluar
rectum / vagina.
Faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi obat dari
suppositoria rektal

 Faktor Fisiologis
 Faktor fisika dan kimia dari obat dan
basis suppositoria.
BAHAN DASAR (BASIS) SUPOSITORIA

 Bahan dasar (basis) supositoria yang paling


umum digunakan adalah lemak coklat (Oleum
cacao), gelatin tergliserinasi, minyak nabati
terhidrogenasi, campuran polietilen glikol
berbagai bobot molekul, lemak tengkawang
(Oleum Shoreae) atau Gelatin, dan ester asam
lemak polietilen glikol.
 Bahan dasar yang digunakan ini harus dapat
larut dalam air atau meleleh pada suhu tubuh.
BAHAN-BAHAN DASAR SUPOSITORIA TERSEBUT JIKA
DIKATEGORIKAN BERDASARKAN SIFATNYA SEBAGAI BERIKUT:

 Basis berlemak yang meleleh pada suhu


tubuh, misalnya: Oleum Cacao
 Basis yang larut dalam air atau yang
bercampur dengan air, misalnya:
Gliserin Gelatin dan Polietilenglikol
 Basis campuran, misalnya: polioksil 40
stearat (campuran ester monostearat
dan distearat dari polioksietilendiol dan
glikol bebas.
UNTUK MENGHASILKAN SEDIAAN SUPOSITORIA YANG BAIK, MAKA BAHAN-BAHAN
DASAR PEMBUATANNYA HARUSLAH MEMENUHI SYARAT-SYARAT YANG IDEAL, YAITU:

 Baik secara fisiologis dan kimia serta tidak


mengiritasi
 Mempunyai viskositas yang cukup saat dilelehkan
 Harus meleleh pada suhu badan dalam jangka
waktu singkat
 Tidak mengganggu absorpsiatau pelepasan zat
aktif
 Bercampur dengan bermacam obat
 Stabil pada penyimpanan, tidak menunjukkan
perubahan warna, bau dan pemisahan obat.
CARA PEMBUATAN SUPPOSITORIA DAN OVULA
1. Mencetak hasil leburan cetakan suppos

 Basis dilelehkan, sebaiknya diatas


penangas air atau penangas uap untuk
menghindari pemanasan setempat
yang berlebihan,
 Bahan aktif diemulsikan atau
disuspensikan kedalamnya.
 massa dituang kedalam cetakan logam
 Masukkan kedalam kulkas
2. Kompresi untuk obat yang tidak tahan panas, tidak
larut dalam basis.

 Dibuat dengan menekan masa


campuran obat ditambah basis dalam
cetakan khusus memakai alat/mesin.
 Suatu roda tangan berputar menekan
suatu piston pada massa suppositoria
yang diisikan dalam silinder, sehingga
massa terdorong kedalam cetakan.
3. Digulung, dibentuk dengan tangan.

 menggulung basis suppositoria yang telah dicampur


homogen dan mengandung zat aktif, menjadi bentuk yang
dikehendaki.
 Mula-mula basis diiris, kemudian diaduk dengan bahan-
bahan aktif dengan menggunakan mortir dan stamper,
sampai diperoleh massa akhir yang homogen dan mudah
dibentuk.
 Kemudian massa digulung menjadi suatu batang silinder
dengan garis tengah dan panjang yang dikehendaki.
 Amilum atau talk dapat mencegah pelekatan pada tangan.
 Batang silinder dipotong dan salah satu ujungnya
diruncingkan.
ALUR SKEMA GAMBAR PEMBUATAN SUPPOSITORIA – OVULA :
TUGAS
 Jelaskan apa yang dimaksud dengan sediaan
suppositoria?
 Mengapa dibuat sediaan dalam bentuk
suppositoria ?
 Sebutkan macam – macam sediaan suppositoria?
 Sebutkan macam – macam bahan obat yang dapat
digunakan melalui suppositoria rektal?
 Jelaskan pembagian basis sediaan suppositoria –
ovula?
 Jelaskan cara pembuatan sediaan suppositoria dan
ovula?

Anda mungkin juga menyukai