Anda di halaman 1dari 9

SISTEM PENCATATAN DAN PELAPORAN SURVEILENS

NAMA KELOMPOK :
MUHAMMAD IBRAHIM ( P21345118050 )
MUTIARA PUTRI SALSABILA ( P21345118053 )
SAPTA YULIMELINIA ( P21345118072)
ZAHROTAL UNTSAYA INI SENOAJI ( P21345118083)
PENCATATAN DAN PELAPORAN SURVEILANS

Pencatatan dan pelaporan merupakan kegiatan yang harus


diperhatikan oleh tenaga kesehatan (khususnya epidemiolog)
dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik bagi
individu, keluarga dan masyarakat. Untuk dapat melakukan
kegiatan pencatatan dan pelaporan dengan baik, maka
dibutuhkan Data dan Informasi yang tepat dan akurat
Pencatatan

Sistem Pencatatan secara umum terbagi dalam 2 (dua) bagian, yaitu :

Sistem Pencatatan Tradisional adalah system pencatatan yang memiliki catatan


masing-masing dari setiap profesi atau petugas kesehatan, dimana dalam
system ini masing-masing disiplin ilmu (Dokter, Bidan, Perawat, Epidemiolog,
Ahli Gizi dsb) mempunyai catatan sendiri – sendiri secara terpisah. Keuntungan
system ini adalah Pencatatan dapat dilakukan secara lebih sederhana.
Kelemahan system ini adalah data tentang kesehatan yang terkumpul kurang
menyeluruh, koordinasi antar petugas kesehatan tidak ada dan upaya
pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan tuntas sulit dilakukan.

Sistem Pencatatan Non-Tradisional adalah Pencatatan yang berorientasi pada


Masalah (Problem Oriented Record /POR). Keuntungan system ini adalah kerja
sama antar tim kesehatan lebih baik dan menunjang mutu pelayanan kesehatan
secara menyeluruh.
Pelaporan

Pelaporan merupakan cara komunikasi petugas kesehatan yang dapat dilakukan baik
secara tertulis maupun lisan tentang hasil dari suatu kegiatan atau intervensi yang telah
dilaksanakan.
• Laporan Lisan
- Kelemahan : Kemungkinan yang dilaporkan hanyalah hal-hal yang baik-baik saja dan
bersifat subyektif.
- Keuntungan : Hasil dari kegiatan/intervensi yang telah dilakukan dan data yang telah
terkumpul dapat segera ditindaklanjuti dalam waktu yang lebih cepat.
• Laporan Tertulis
- Kelemahan : memakan waktu dan biaya yang lebih.
- Keuntungan : bisa lebih bersifat Objektif dan lebih terperinci serta pelaporan dapat
bersifat positif maupun negative.
Laporan Tahunan
Laporan tahunan meliputi :
- Data dasar puskesmas (LT-1) - Data peralatan Puskesmas (LT-3)
- Data kepegawaian (LT-2)
Tujuan Pelaporan dan Pencatatan

Tujuan Pencatatan dan Pelaporan menurut POTTER dan PERRY adalah :


• Komunikasi : sebagai alat komunikasi yang efektif antar petugas kesehatan sehingga
kesinambungan informasi dan upaya penanggulangan penyakit filariasis dapat tercapai
• Pendidikan : sebagai informasi tentang gambaran penyakit filriasis dan pemecahannya.
• Pengalokasian dana : dapat digunakan untuk merencanakan tindakan dan kegiatan yang
tepat dengan dana yang tersedia.
• Evaluasi : sebagai dasar untuk melakukan evaluasi terhadap hasil intervensi yang
diberikan.
• Dokumen yang sah : sebagai bukti nyata dan legal yang dapat digunakan bila didapatkan
adanya penyimpangan serta bila diperlukan untuk keperluan pengadilan.
• Jaminan mutu : dapat memberikan jaminan kepada masyarakat terhadap mutu layanan
kesehatan yang diberikan.
• Penelitian : merupakan sumber data yang sangat bermanfaat untuk kepentingan
penelitan atau riset
• Analisis : merupakan dasar analisis masalah kesehatan pada individu , keluarga , maupun
Pencatatan dan Pelaporan Surveilan Penyakit Filariasis

1. Pencatatan
Pencatatan kasus adalah kegiatan mencatatan dari seluruh kasus kejadian filariasis oleh
petugas kesehatan sesuai dengan formulir yang berlaku

2. Pelaporan kasus
Pelaporan kasus adalah kegiatan penemuan kasus yang dilaporkan diduga merupakan
suatu kasus kejadian filariasis yang dilaporkan masyarakat / petugas kesehatan. Laporan
kasus ditanggapi serius dengan segera. Filariasis perlu dilakukan kegiatan surveilens untuk
dapat ditentukan penyebab terjadinya kejadian filariasis dan ditindaklanjuti serta dievaluasi
guna keberhasilan program eliminasi filariasis
Dalam kejadian filariasis kegiatan survailens membutuhkan kerja sama yang baik dari
masyarakat/ petugas kesehatan di lapangan yang akan melaporkan kasus ditindaklanjuti.
Pada pelaksanaannya menentukan penyebab kejadian filariasis tidak lah mudah diperlukan
laporan dengan keterangan rinci.
Pencatatan dan Pelaporan Surveilan Penyakit Filariasis

A.) Data yang dilaporkan


Data yang diperoleh dipergunakan untuk menganalisa
kasus dan mengambil kesimpulan. Hal- hal yang perlu
diperhatikan adalah pelaporan terdapat dalam lampiran
formulir kejadian filariasis.

B.) Kurun Waktu pelaporan


Laporan harus dibuat secepatnya sehingga keputusan
dapat dibuat secepat mungkin untuk dilakukan tindakan
selanjutnya.

C.) Tujuan
Survailens kejadian filariasis bertujuan untuk mengamati,
mendektesi dini, mencatat, melaporkan, serta merespon
kasus yang terjadi dengan cepat dan tepat serta
mengurangi dampak negative kasus tersebut terhadap
ALUR PELAPORAN PENYAKIT FILARIASIS

Rujukan kasus dapat dilakukan dari tempat pertolongan


pertama (rumah) hingga tempat pelayanan kesehatan
terdekat (PUSKESMAS atau dokter peraktek). Dari
tempat pelayanan kesehatan terdekuat, bila diperlukan
kasus dapat dirujuk ke rumah sakit terdekat dan bila
kasus memerlukan rujukan terhadap pelayanan tertentu
(baik pelayanan spesialistik atau memerlukan sarana
penunjang tertentu), kasus dapat dirujuk ke rumah sakit
rujukan terakhir (Top Refferal Hospital) yang terdekat
diwilyah terseut. Kasus tersebut dapat dievaluasi oleh
Komite Ahli Pengobatan Filariasis (KAPFI).

Pelaporan dilaksanakan secara bertahap dan bertingkat.


Pada keadaan tertentu bila kasus yang dilaporkan
menimbulkan perhatian yang berlebihan dari
masyarakat, pelaporan dapat dilakukan langsung kepada
ALUR PELAPORAN PENYAKIT FILARIASIS

Agar petugas mau melaporkan kasus kejadian filariasis


dengan ketentuan laporan maka perlu dilakukan :
A.) Peningkatan kepedulian terhadap pentingnya
pelaporan melalui system pelaporan yang
sudah ada
B.) Membekali petugas kesehatan dengan pengetahuan
tentng kejadian filariasis
C.) Memberikan umpan balik yang positif terhadap
pelaporan
Kasus kejadian yang dilaporkan harus ditulis didalam
formulir pelaporan secara tepat.
Petugas kesehatan atau kepala Puskesmas bertanggung
jawab melengkapi formulir pelaporan tersebut yang
selanjutnya dikirim ke Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota.
Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota menentukan apakah
kasus kejadian tersebut dalam daftara kasus kejadian