Anda di halaman 1dari 18

SKALA

BORGADUS
Nama Kelompok
1. Bisri Ahmad Dahler D1091151016
2. Nurul Amirah Khairunnisa D1091171002
3. Vicky Andika D1091171025
4. Ridha Nadea Putri D1091171030
5. Fransiskus Kurniawan D1091171038
Pengertian Skala Borgadus
 Skala Borgadus (Borgadus
Social Distance) dicetuskan oleh
Emory S. Bogardus tahun 1925.
 Skala Bogardus atau skala jarak
social, secara kuantitatif skala
ini berupaya untuk mengukur
“jarak sosial” antar individu
(kelompok) atau sikap
penerimaan terhadap individu
(kelompok) lain.
Pengertian Skala Borgadus
Tujuannya untuk mengetahui
bagaimana individu (kelompok) mau
menerima individu (kelompok) lain
yang berbeda.
 Mengukur tingkat jarak seseorang
diharapkan dapat memelihara
hubungan individu (kelompok)
dengan individu (kelompok) lain.
 Pengukuran jarak sosial dilakukan
dengan memvariasikan derajat,
tingkat pemahaman, dan perasaan
yang muncul dalam situasi sosial.
Penggunaan Skala Borgadus
• Dengan skala bogardus responden diminta untuk
mengisi atau menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk
melihat jarak sosial terhadap induvidu (kelompok)
lainnya, masing-masing pertanyaan akan diberi skor dan
angka yang lebih tinggi mencerminkan jarak sosial yang
lebih besar.
• Skala Bogardus bersifat kumulatif yaitu individu yang
menunjukkan sikap positif terhadap item yang
menunjukkan jarak sosial yang sempit dengan
sendirinya juga akan memberi respon positif terhadap
hubungan yang menunjukkan jarak sosial yang lebih
lebar.
• Skala Borgadus dalam penggunaannya untuk
Bentuk Skala Borgadus
• Skala Borgadus berbentuk pernyataan yang umumnya berisi 5
hingga 7 pernyataan yang mengungkapkan keintiman yang
semakin kuat atau lemah terhadap suatu individu (kelompok).
• Disusun dengan menggunakan 7 kategori, yang bergerak mulai
dari yang ekstrim menerima sampai dengan yang ekstrim
menolak  Skor 1-7, dimana skor 1 menunjukkan tidak ada
jarak sosial, tidak prejudice.
• Pengukuran jarak sosial dinyatakan dalam bentuk :
1. Kedekatan (nearness) = bila dianggap ada perbedaan
sosial yang kecil.

2. Kejauhan (farness) = bila dianggap ada perbeaan sosial


yang besar
LANGKAH PENYUSUSNAN

Vertical Social • Jarak sosial vertikal


Distance mengacu kepada derajat
penerimaan dalam suatu
hirarki kelompok sosial (tingkat
Horizontal Social pekerjaan, pendidikan)
Distance • Jarak sosial horizontal, yaitu
mengenai penilaian perbedaan
antara individu sebagai
anggota suatu kelompok
dengan anggota kelompok
lain.
CARA SKORING
• Umumnya BERISI 5-7 INDIKATOR
Cara-cara membuat skala Setiap pernyataan yang ditulis dapat
bogardus adalah sebagai disepakati sebagai pernyataan yang
berikut: FAVOURABLE dan pernyataan
1. Kalikan skor dengan UNFAVOURABLE.
presentasi dalam sel • Skor partisipan berasal dari jumlah
matriks item yang disetujui, sehingga
2. Jumlah hasil perkalian SEMAKIN BESAR SKORNYA
tersebut masing-masing SEMAKIN KECIL JARAK
satu suku SOSIALNYA.
3. Hasil penjumlahan ini • Jawaban positif harus diberi bobot
adalah skor untuk yang lebih tinggi daripada jawaban
kelompok suku tersebut yang mempunyai sikap negatif
dan total skor ini pula • Mempunyai dua kemungkinan
menjadi skala. jawaban yaitu Ya dan TIDAK
Penyataan dalam Skala Borgadus

No FAVOURABLE SKOR UNFAVOURABLE SKOR


1 Ya 1 Tidak 1
2 Tidak 0 Ya 0

Skala Borgadus bersifat tertutup, dimana jawaban


telah disediakan sehingga responden tinggal memilih.
Pemilihan skala ini memudahkan subjek untuk
merespon setiap pertanyaan yang diberikan.
Yang menjadi penekanan dalam penyusunan skala ini
adalah ketepatan membuat pertanyaan atau
pernyataan.
Penelitian tentang jarak sosial yang pernah dilakukan

1. Siegel dan Shepherd (1959) meneliti jarak sosial mahasiswi kulit putih
terhadap kulit hitam, yang hasilnya dapat diurutkan sebagai berikut
(darmjarak sosial tertinggi) : mengikuti pemilu di Negara bagian, berkuliah di
universitas yang sama, menjadi teman dekat, dan menikah dengan salah satu
anggota keluarga.
2. Bourkel, Ferring dan Weber (2012), meneliti jarak sosial terhadap penderita
Alzheimer. Diperoleh hasil bahwa jarak sosial terkecil adalah kesediaan untuk
menikahkan anak responden dengan anak penderita, sedangkan meminta
bantuan pasian merupakan jarak sosial tertinggi.
3. Adewuya dan Makanjuola (2005), meneliti tentang jarak sosial terhadap
penderita gangguan mental di Nigeria.
4. Ball, 2009 meneliti jarak sosial terhadap etnis dan ras minoritas di Jepang
Bersediakah saya berdampingan dengan
Homoseksual?
1. Turis
2. Tetangga
3. Warga negara di negara saya
4. Teman kerja/sekolah
5. Sahabat
6. Anggota keluarga

‘Anggota keluarga” dianggap memiliki keintiman paling tinggi (jarak


sosial paling rendah) sedangkan “turis di negara saya’ dianggap memiliki
keintiman paling rendah (jarak sosial tinggi).
Setiap situasi yang disetujui diberi skor 1 dan situasi yang tidak
disetujui skor 0. skor partisipan berasal dari jumlah item yang disetujui,
sehingga semakin besar skornya maka semakin kecil jarak sosialnya
terhadap homoseksual.
Bersediakah saya berdampingan dengan
Homoseksual?

Hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut (dari jarak sosial


tertinggi, beserta bobot skor) :
• Menerima homoseksual sebagai turis (skor 1)
• Menerima homoseksual sebagai warga negara (skor 2)
• Menerima homoseksual sebagai tetangga (skor 3)
• Menerima homoseksual sebagai teman (skor 4)
• Menerima homoseksual sebagai sahabat (skor 5)
• Menerima homoseksual sebagai keluarga (skor 6)
situasi dapat disusun sebagai berikut (dari jarak sosial
tertinggi): menerima homoseksual sebagai turis (73%), warga
negara (65%), tetangga (47%), teman (45%), sahabat (27%),
dan sebagai anggota keluarga (17%).
Bersedia menerima homoseksual sebagai ‘turis’ merupakan jarak sosial
yang paling tinggi hingga menerima homoseksual sebagai ‘anggota
keluarga’ merupakan jarak sosial yang paling rendah terhadap
homoseksual. Dengan hanya menerima homoseksual sebagai turis
menunjukkan bahwa individu tidak menginginkan homoseksual berada di
sekitar mereka. Menyetujui situasi ‘turis’ menunjukkan bahwa kesempatan
untuk bertemu atau berinteraksi sangat kecil karena menjadi turis berarti
hanya sekali-sekali menggunjungi Indonesia dan sebagai warga negara
asing yang tinggal di luar Indonesia.

Dengan demikian, dapat dikatakan hingga kini penerimaan masyarakat


Indonesia terhadap homoseksual masih rendah. Dengan kata lain,
masyarakat mengharapkan untuk tidak berdampingan dengan homoseksual.
Masyarakat memiliki jarak sosial yang tinggi terhadap homoseksual. Artinya
masyarakat masih memiliki prasangka yang cukup tinggi terhadap
homoseksual.
Kelebihan Skala Borgandus

• Skala Bogardus ini menjadi sangat penting tatkala indikator-indikator


yang semakin jauh dari poin 1 menunjukkan bahwa potensi konflik antar
kelompok masyarakat yang biasanya bersifat horisontal sangat besar.
Karena itulah penelitian yang menggunakan Skala Bogardus ini
seharusnya melakukannya secara berkala dengan tentu saja
mengembangkan instrumen-instrumen pertanyaan yang digunakan.
• Pernyataan yang disusun menunjukkan intensitas hubungan yang
semakin meningkat sehingga dari urutan pernyataan mempunyai
konsekwensi skala dengan itensitas hubungan yang semakin meningkat
pula.
• Sudah memiliki indikator yang baku.
Kekurangan Skala Borgandus

• Seperti yang diungkapkan oleh Lee, Sapp, dan Ray (1996)


dalam The Journal of Social Psychology, konsep Bogardus
mengandung kelemahan karena dilahirkan dari perspektif
“mayoritas”, sehingga sulit untuk menjelaskan nature dari
penjarakan sosial tersebut.
• Skala Bogardus merupakan bentuk skala kumulatif, jika
seseorang menyisakan pertanyaan dengan bobot yang
besar. Maka akan terjadi kumulasi sehingga pertanyaan
tersebut akan “di iyakan”
Daftar Pustaka

• http://etheses.uinmalang.ac.id/2263/7/08
410019_Bab_3.pdf
• http://jenyviray.blogspot.co.id/2016/04/sk
alabogardus.html
• http://indahdes85.blogspot.co.id/2010/08/
skalapengukuran.html?m=1
TERIMA KASIH