Anda di halaman 1dari 23

TAUHID

Kata “tauhid” di dalam bahasa Arab berasal dari kata


(wahhada – yuwahhidu – tauhidan), dan semuanya
berasal dari kata (wahidun) yang berarti satu atau tunggal.
Menurut arti dalam syari’at maka makna tauhid bila
dimutlakkan maksudnya adalah menyendirikan/
mengesakan Allah dalam beribadah kepadanya.
Pengertian secara lebih luas lagi adalah
menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal-hal yang
merupakan kekhususan bagi Allah, baik dalam hal
rububiyyah-Nya, uluhiyyah-Nya, maupun asma’ (nama-
nama) dan sifat-sifat-Nya, dan tidak ada sekutu bagi Allah
dala semua hal tersebut.
Arti Tauhid Menurut Para Ahli
Adapun pengertian tauhid menurut para ulama ternama:
1. DR. Abdul Aziz, tauhid adalah mempercayai bahwa Allah SWT
adalah satu-satunya pencipta, pemelihara, penguasa, dan
pengatur Alam Semesta
2. Prof. Dr. M. Yusuf Musa, tauhid adalah keyakinan tentang
adanya Allah Yang Maha Esa, yang tidak ada satu pun yang
menyamai-Nya dalam Zat, Sifat atau perbuatan-perbuatan-Nya
3. Shalih Fauzan bin Abdullah al Fauzan, tauhid adalah
mengesakan Allah SWT dari semua makhluk-Nya dengan
penuh penghayatan, dan keikhlasan beribadah kepada-Nya,
meninggalkan peribadatan selain kepada-Nya, serta
membenarkan nama-nama-Nya yang Mulia (asma’ul husna),
dan sifat-sifat-Nya yang Maha Sempurna, dan menafikan sifat
kurang dan cela dari-Nya
Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa
pencipta alam semesta ini Allah, bukan sekedar
mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud
(keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan
bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan sifat-Nya.
Namun, tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah.
Maksudnya yaitu, menghambakan diri hanya kepada Allah
secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala
perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan
penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya.
Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan
sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan
tauhid dalam pengertian di atas, mulai dari Rasul pertama
sampai Rasul terakhir Nabi Muhammad SAW.
Pembagian Tauhid
1. Pengertian Tauhid Rububiyyah
Yaitu menyendirikan / mengesakan Allah / menyakini
keesaan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya,
seperti menciptakan, menguasai, mengatur, dan yang
lainnya dari perbuatan-perbuatan Allah yang tidak ada
sekutu dan tandingan bagi Allah dalam hal tersebut. Maka
makna menyendirikan/mengesakan Allah dalam hal
penciptaan yaitu seseorang meyakini bahwasanya tidak
ada pencipta selain Allah. Allah berfirman yang artinya:
“Ingatlah (ketahuilah) menciptakan dan memerintah
hanyalah hak Allah.” [QS. Al-A'raaf: 54].
• Yaitu menyatakan bahwa tidak ada Tuhan
Penguasa seluruh alam kecuali Allah yang
menciptakan dan memberi mereka rizki.
Tauhid ini juga telah diikrarkan oleh orang-
orang musyrik pada masa dahulu. Mereka
menyatakan bahwa Allah semata yang Maha
Pencipta, Penguasa, Pengatur, Yang
Menghidupkan,Yang Mematikan, tidak ada
sekutu bagi-Nya. Allah ta’ala berfirman:
Anl-Ankabut: 61. Dan sesungguhnya jika kamu
tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
menjadikan langit dan bumi dan menundukkan
matahari dan bulan?" Tentu mereka akan
menjawab: "Allah", maka betapakah mereka
(dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).
B.     Makna Tauhid Rububiyah Allah
• Maknanya, menyakini bahwa Allah adalah Dzat yang
menciptakan, menghidupkan, mematikan, memberi rizki,
mendatangkan segala mamfaat dan menolak segala
mudharat. Dzat yang mengawasi, mengatur, penguasa,
pemilik hukum dan selainnya dari segala sesuatu yang
menunjukkan kekuasaan tunggal bagi Allah. Dari sini,
seorang mukmin harus meyakini bahwa tidak ada
seorangpun yang menandingi Allah dalam hal ini.
• Allah mengatakan: “’Katakanlah!’ Dialah Allah yang Maha
Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya sgala
sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan
tidak ada seorangpun yang setara dengan-Nya.” (QS. Al
Ikhlash: 1-4)
C. Ciri-ciri atau Indikator Ber-Tauhid Rububiyah

Adapun indikator atau ciri-ciri orang yang mengenal tauhid rububiyah, terikat dengan tiga perkara
yaitu Ciptaan-Nya, Kuasa-Nya, Pengaturan-Nya.
Terkait dengan ciptaan-Nya:
1.Selalu ingat Allah SWT ketika melihat semua ciptaan-Nya
2.Selalu menjaga dan memlihara semua ciptaan-Nya
3.Mensyukuri nikmat yang telah diberikan
Terkait dengan Kuasa-Nya :
4.Selalu menyakini dengan sepenuh hati segala yang terjadi dalam kehidupannya itu adalah
kehendak dan kuasa Allah SWT
5. Selalu dapat mengambil hikmah atas segala musibah yang terjadi pada dirinya, bahwa itu
adalah hasil kuasa Allah SWT yang pada akhirnya bisa membuat manusia menjadi lebih baik di
masa yang akan datang.
6. Meyakini bahwa segala sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia, bisa terjadi karena kuasa
Allah.
Terkait dengan Pengaturan-Nya :
7. Selalu patuh dan taat terhadap perintah Allah
8. Meyakini bahwa peraturan Allah adalah pedoman hidup yang terbaik yang harus manusia
patuhi seperti Al-qur’an.
9.Yakin bahwa segala apapun yang terjadi dimasa lampau, sekarang dan masa depan itu telah ada
dalam pengaturannya, bahkan telah tertulis di Lauhil Mahfudz.
2. Tauhid Uluhiyyah
Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, yaitu
mengesakan Allah dalam seluruh amalan
ibadah yang Allah perintahkan, seperti:
berdoa, khouf (takut), raja’ (harap), tawakkal,
raghbah (berkeinginan), rahbah (takut),
Khusyu’, Khasyah (takut disertai
pengagungan), taubat, minta pertolongan,
menyembelih, nazar dan ibadah yang lainnya
yang diperintahkan-Nya. Dalilnya firman Allah
ta’ala:
• Sesungguhnya tauhid uluhiyah merupakan
pengejawantahan dari sikap kepasrahan dan penghambaan
yang paripurna hanya kepada Allah. Seorang muslim yang
bertauhid uluhiyah dengan benar akan mengorientasikan
segenap kehidupannya hanya kepada Allah semata.
• Uluhiyah atau ilahiyah berasal dari kata illah. Dalam bahasa
arab kata illah memiliki akar kata a-la-ha yang memiliki arti
tentram,tenang,lindungan,cinta,dan sembah. Semua makna
ini sesuai dengan sifat-sifat dan kekhususan zat Allah.
• Makna tauhid uluhiyah adalah sebuah keyakinan bahwa
Allah adalah satu-satunya zat yang memiliki dan menguasai
langit,bumi dan seisinya,satu-satunya yang wajib ditaati dan
yang menentukan segala aturan serta melindungi. Dialah
yang menjadi tumpuan harapan di dunia dan di akhirat.

• Ibnu Rajab berkata,illah adalah yang wajib ditaati dan tindak
didurhakai,merasa takut karena mengagungkan. Cinta takut dan
penuh harapan,berserah diri,memohon hanya kepada-Nya. Siapa
menyakutukan-Nya dengan suatu makhluk dalam perkara ini akan
merusak keikhlasan seseorang dalam berikrar laa ilaaha illallaah.”
• Illah bagi manusia bisa bermacam-macam bentuknya. Oleh karena-
Nya,konsekuensi pernyataan laa ilaaha illallaah sangat berat karena
harus meninggalkna seluruh illah selain dari Allah swt. Dan hanya Allah
satu-satunya illah yang wajib disembah.
• Tauhid uluhiyah mengandung knsenkuensi-konsenkuensi tertentu
bagi orang-orang yang beriman. Orang kafir menolak keyakinan ini
karena mereka tidak mau menerima konsekuensi logis dari keyakinan
tersebut. Keyakian uluhiyah menuntut kita totalitas mengabdi kepada
Allah swt.dengan segenap aktivitas kita. Ibadah harus kita lakukan
dengan khusyuk hanya mengharap ridha kepada Allah swt. Kita
memakan rezeki hanya mengharap keberkahan dari-Nya
“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan
Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun
didalamnya di samping (menyembah) Allah” (Q.S: Al
Jin:18).
Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun ibadahnya
kepada selain Allah ta’ala, tidak kepada malaikat, kepada
para Nabi dan tidak juga kepada para wali yang shaleh dan
tidak kepada siapapun makhluk yang ada. Karena ibadah
tidak sah kecuali dilakukan dengan ikhlas untuk Allah,
maka siapa yang memalingkannya kepada selain Allah dia
telah berbuat syirik yang besar dan semua amalnya gugur.
Kesimpulannya adalah seseorang harus berlepas diri
3. Tauhid Mulkiyah
• Mulkiyah secara etimologi berasal dari kata
malik berarti Raja berarti meliliki berakar kata
dari ma-la-ka. Raja dan yang memilik semua
alam semesta ini. Secara terminologi mulkiyah
adalah menyakini dan meng-Esa-kan Allah SWT
sebagai pencipta alam semesta sekaligus
m,erajainya. Allah adalah raja diraja.Pemilik
Hakiki dari seluruh alam semesta. (terdapat
dalam Al-Qur’an;Al-baqarah:, 107,257, Al-
Maidah: 44,45,47,55,20, An-Nisa’: 59) :
4. Tauhid Asma’ dan Sifat.
Tauhid Asma wa sifat adalah mengiktikadkan atau meyakini bahwa
tidak ada sesuatu pun yang menyamai Allah, dan hanya Allah saja
yang memiliki sifat kesempurnaan, keperkasaan, dan keindahan.
Namun dalam sifat-sifat Nya tak ada segi yang benar benar terpisah
dari Nya. Allah SWT, telah menunjukkan hal ini dalam firman Nya:
“Tak ada sesuatu pun yang seperti Dia”. (Asy-Syuraa, 42:11)
“Dialah Alloh Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang
Membentuk Rupa, hanya bagi Dialah Asmaaul Husna.” (Al-Hasyr: 24)
Maksudnya adalah kita beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat
Alloh yang diterangkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rosululloh. Dan
kita juga meyakini bahwa hanya Alloh-lah yang pantas untuk
memiliki nama-nama terindah yang disebutkan di Al-Qur’an dan
Hadits tersebut (yang dikenal dengan Asmaul Husna)
• Yaitu: beriman bahwa Allah ta’ala memiliki zat yang tidak
serupa dengan berbagai zat yang ada, serta memiliki sifat
yang tidak serupa dengan berbagai sifat yang ada. Dan bahwa
nama-nama-Nya menyatakan dengan jelas akan sifat-Nya
yang sempurna secara mutlak sebagaimana firman Allah
ta’ala:

“Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalahkepunyaan


Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun
didalamnya di samping (menyembah)
Allah” (Q.S: Al Jin:18).
• Manusia tidak boleh memalingkan sedikitpun
ibadahnya kepada selain Allah ta’ala, tidak
kepada malaikat, kepada para Nabi dan tidak
juga kepada para wali yang shaleh dan tidak
kepada siapapun makhluk yang ada. Karena
ibadah tidak sah kecuali dilakukan dengan
ikhlas untuk Allah, maka siapa yang
memalingkannya kepada selain Allah dia telah
berbuat syirik yang besar dan semua amalnya
gugur.
• Kesimpulannya adalah seseorang harus berlepas diri
dari penghambaan (ibadah) kepada selain Allah,
menghadapkan hati sepenuhnya hanya untuk
beribadah kepada Allah. Tidak cukup dalam tauhid
sekedar pengakuan dan ucapan syahadat saja jika
tidak menghindar dari ajaran orang-orang musyrik
serta apa yang mereka lakukan seperti berdoa kepada
selain Allah misalnya kepada orang yang telah mati
dan semacamnya, atau minta syafaat kepada mereka
(orangorang mati) agar Allah menghilangkan
kesusahannya dan menyingkirkannya, dan meminta
pertolongan kepada mereka atau yang lainnya yang
merupakan perbuatan syirik.