Anda di halaman 1dari 54

Benign Prostatic Hyperplasia

(BPH)
Oleh :
Akhada Maulana
Staf Sub Bagian/SMF Urologi
FKUNRAM/RSUP NTB Mataram
Anatomi Prostat

Sumber gambar : http://sinoemedicalassociation.org/urosurgery/


Anatomi Prostat
Zona Prostat
Fungsi Prostat
 Mensekresi cairan alkaline yang merupakan
70% dari volum cairan seminal, yang
merupakan pelicin dan nutrisi untuk sperma.
 Cairan alkaline ini akan menyebabkan

liquefaksi dan menetralkan lingkungan asam


vagina.
 Penampung sementara sperma dan mencegah

ejakulasi retrograde.
Benign Prostatic Hyperplasia
Benign Prostatic Hyperplasia
Benign Prostatic Hyperplasia
Epidemiologi BPH
 42 % pria 51-60 tahun, 81 % 71-80 tahun.
 50 % pria < 60 tahun, 90 % 85 tahun.
 50 % pasien BPH mengeluhkan LUTS.
Patofisiologi BPH
 Penyebab BPH belum jelas
 Beberapa teori di antaranya:

◦ Teori DHT (dihidrotestosteron)


◦ Teori Reawakening
◦ Teori growth factors.
 epidermis growth factor (EGF) meningkat
 fibroblast growth factor (FGF) meningkat
 transforming growth factor-b (TGF – b) menurun
Patofisiologi BPH
 Di dalam prostat enzim 5-alpha-reductase
tipe II memetabolisme testosteron menjadi
DHT, yang akan berikatan dengan reseptor
androgen  BPH.
 Stimulasi reseptor alpha-1-adrenergik 

meningkatkan kontraksi otot polos 


memperburuk LUTS.
Patofosiologi BPH
 Karakteristik BPH secara mikroskopis 
hyperplasia.
 Pria enuch tidak akan mengalami BPH.
Patofisiologi BPH
Gambaran Klinis: Gejala Obstruktif
 Menunggu di awal kencing (hesitancy).
 Harus mengedan saat kencing (straining).
 Pancaran melemah (weak stream)
 Pancaran kencing terputus-putus
(intermittency).
 Kencing tidak tuntas (Incomplete emptying).
 Durasi kencing memanjang.
 Retensi urin.
 Inkontinen karena buli-buli penuh (overflow
incontinenece).
Gambaran Klinis : Gejala Iritatif
 Sering buang air kecil (frequency)
 Tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency)
 Buang air kecil malam hari lebih dari satu kali
(nocturia)
 Sulit menahan buang air kecil (urge
incontinence)
Penegakan Diagnosis
 Anamnesis
 Pemeriksaan Fisik
 Pemeriksaan Penunjang
Anamnesis
 Scoring IPSS dan Quality of Life
 Keluhan lain : hematuria, riwayat retensi urine

dan LUTS, passing stone, dan demam.


 Riwayat lain : pemasangan kateter, operasi

endoskopi urologi, trauma pada punggung


dan selangkangan, DM, dan stroke.
International Prostate Symptom Score
(IPSS)
 Terdiri dari 7 pertanyaan
 Skala 0-5
 Total skor berkisar antara 0-35.

◦ 0- 7: ringan
◦ 8-19: sedang
◦ 20-35: berat
No. Gejala Tidak pernah Kurang dari 1x dlm.5x Kurang dari 1/2 Kadang Kadang Lebih dari 1/2 Hampir selalu Skor
Selama sebulan terakhir, seberapa sering anda......

1 merasa tidak lampias saat selesai berkemih? 0 1 2 3 4 5

2 harus kencing dalam waktu kurang dari 2 jam setelah selesai berkemih? 0 1 2 3 4 5

3 mendapatkan bahwa anda kencing terputus-putus? 0 1 2 3 4 5

4 mendapatkan bahwa anda sulit menahan kencing? 0 1 2 3 4 5

5 pancaran kencing melemah? 0 1 2 3 4 5

6 harus mengedan untuk mulai berkemih? 0 1 2 3 4 5

7 harus bangun untuk berkemih sejak mulai tidur pada malam hari hingga pagi hari? 0 1 2 3 4 5

Skor IPSS total (1-7)


Kwalitas hidup Senang sekali senang pada umumnya puas campuran antara puas dan pada umumnya tidak puas tidak bahagia buruk sekali
tidak

Seandainya anda harus menghabiskan sisa hidup dengan fungsi berkemih saat ini, bagaimana perasaan anda 0 1 2 3 4 5 6

Skor kwalitas hidup


Keterangan Nama dokter :
Total IPSS skor: Ringan Mild) : 0- 7 Nama pasien :
Sedang (Moderate): 8-19 Tanggal :
Berat (Severe) : 20-35 Umur :
Pemeriksaan Fisik
 Status generalis
 Status lokalis urologi :

◦ Flank
◦ Suprapubik : keadaan buli-buli
◦ Genitalia eksterna : keadaan meatus uretra eksterna
◦ DRE : tonus sphincter ani, mukosa rectum, ampulla
rectum, konsitensi prostat, sulcus medianus, sulcus
lateralis, pole superior, nyeri tekan, nodul, dan
keadaan sarung tangan. DRE dikerjakan dengan
syarat buli-buli tidak penuh (tidak ada retensi urine).
Digital Rectal Examination
Pemeriksaan Penunjang
 Pemeriksaan Laboratorium
 Pemeriksaan Radiologis
 Uroflowmetry
Pemeriksaan Laboratorium
 PSA, dengan nilai normal < 4 mg/dL.
 Fungsi ginjal : ureum dan kreatinin darah
 Urinalisa : untuk mengetahui adanya infeksi

(leukosit dan bakteri) dan hematuria


(eritrosit).
 Glukosa darah  DM
Pemeriksaan Radiologis
 USG Urologi : untuk diagnosis cepat, untuk
mengukur volume prostat (dlm cc), protrusi
prostat ke buli-buli, batu buli, divertikel buli,
cystitis, dan kelainan ginjal (hidronefrosis dan
batu ginjal).
 BNO : bila ditemukan batu buli-buli.
 BNO IVP : bila dari USG urologi ditemukan

adanya kelainan dalam ginjal.


 Sistografi : bila ditemukan divertikel  untuk

menentukan volume divertikel buli-buli.


BNO IVP
Sistografi
USG Urologi
USG urologi dapat dilakukan dengan dua cara :
 Transabdominal ultrasound
 Transrectal ultrasound : dapat mendeteksi

keganasan prostat, bendungan di vesikula


seminalis, dan pelebaran vena periprostatika.
USG Urologi

USG Transrectal USG


Transabdominal
Uroflowmetry
 Pemeriksaan untuk mengukur kecepatan
pancaran kencing dalam satuan ml/s.
 Nilai normal diatas 10 ml/s.
 Dapat menentukan waktu hesitansi, volume

kencing, kecepatan maksimal, kecepatan


rata-rata, dan durasi kencing.
 Setelah uroflowmetry dilakukan pengukuran

residu urine dengan TAUS.


 Tidak dilakukan pada pasien yang terpasang

kateter dan dgn batu buli-buli/ureter distal.


Uroflowmetry
Uroflowmetry
Komplikasi BPH
Komplikasi BPH
Diagnosis Banding
 Keluhan obstruksi :  Keluhan iritatif :
◦ striktur uretra ◦ overactive bladder
◦ kontraktur leher ◦ karsinoma in situ
vesika
vesika
◦ batu buli-buli kecil
◦ infeksi saluran kemih
◦ kanker prostat
◦ kelemahan detrusor/ ◦ prostatitis
neurogenic bladder ◦ batu ureter distal
◦ batu vesika besar
Tatalaksana
 Watchful waiting
 Medikamentosa
 Operasi Endoskopi
 Operasi Terbuka
 Tindakan Lain
Watchful Waiting
 Keluhan ringan (skor IPSS < 7).
 Observasi saja tanpa pengobatan :
◦ mengurangi minum setelah makan malam agar
mengurangi nokturia;
◦ menghindari obat-obat parasimpatolitik (mis:
dekongestan);
◦ mengurangi minum kopi;
◦ melarang minum minuman alkohol agar tidak terlalu
sering buang air kecil;
◦ kontrol setiap tiga bulan untuk diperiksa : IPSS,
uroflowmetri, dan TRUS. Bila terjadi kemunduran,
segera diambil tindakan.
Terapi Medikamentosa
 5a reductase inhibitor
 Alfa blocker

◦ Selektif
◦ Non selektif
 Fitoterapi
Alpha Blocker
 Menghambat reseptor a1, yaitu otot polos di
trigonum, bladder neck, prostat, dan kapsul
prostat; sehingga terjadi relaksasi otot.
 Mengurangi derajat obstruksi sehingga perbaikan
gejala obstruksi relatif cepat.
 Efek samping dari obat ini adalah penurunan
tekanan darah.
 Contoh obat : prazosin; afluzosin; terazosin dosis 1
mg/hari, dan dapat dinaikkan hingga 2-4 mg/hari;
dan tamsulosin dengan dosis 0.2-0.4 mg/hari.
5a Reductase Inhibitor
 Obat ini dapat menurunkan volume prostat
dengan menghambat perubahan testosteron
menjadi dehidrotestosteron.
 Penurunan volume prostat minimal 6 bulan.
 Salah satu efek samping obat ini adalah

penurunan libido.
 Contoh obat : finasterid dan dutasterid.
Fitoterapi
 Terapi dengan bahan dari tumbuh-tumbuhan dengan zat
aktif :
◦ Hypoxis rooperis
◦ Pygeum africanum
◦ Urtica sp
◦ Sabal serulla
◦ Curcubita pepo
◦ Populus temula
◦ Echinacea purpurea
◦ Secale cerelea
 Masih diperlukan penelitian untuk mengetahui efektivitas dan
keamanannya
Operasi Prostatektomi
 Indikasi operasi :
◦ Retensi urine berulang (gagal dgn tx konservatif).
◦ Hematuria gross berulang
◦ ISK berulang
◦ Gangguan fungsi ginjal
◦ Batu saluran kemih
Operasi Endoskopi
 Terapi baku emas : TUR-P (Trans Urethral
Resection of the Prostate)
 Indikasi : volume prostat < 90 gram.
 Maksimal waktu kerja 60 menit.
 Resiko : TUR syndrome

 Komplikasi jangka panjang :striktur uretra

(3-14 %), ejakulasi retrograd (75%),


inkontinensia (<1%), dan disfungsi ereksi
(4-40%).
TUR-P
TUR-P
TUR-P
TUR-P
TUR-P
Prostatektomi Terbuka
 Melalui luka sayatan pada supra pubik.
 Indikasi : berat prostat > 90 gram, terdapat

divertikel buli dengan ukuran lebih dari


sepertiga volume buli-buli (sekalian
dilakukan divertikulektomi), atau terdapat
batu buli yang besar.
Tindakan Lain
Trans Urethral Incision of the Prostate (TUIP)
 Untuk BPH dengan LUTS gejala sedang sampai

berat dan ukuran prostat kecil.


 Insisi pada arah jam 5 dan 7.

 Penyulit yang bisa terjadi adalah ejakulasi retrograd


Tindakan Lain
Laser Prostat
◦ Perdarahan minimal.
◦ Jarang terjadinya sindrom TUR.
◦ Dapat dilakukan pada pasien yang menjalani terapi
antikoagulan.
◦ Tanpa rawat inap RS.
 Kerugian :
◦ Tidak dapat jaringan untuk pemeriksaan PA.
◦ Diperlukan waktu kateterisasi lebih lama.
◦ Keluhan iritatif lebih banyak.
◦ Biaya yang mahal.
◦ Efek samping perdarahan (2%), nyeri pasca operasi
(3%), retensi (19%), ejakulasi retrograd (3%), dan
disfungsi ereksi (1%).
Tindakan Lain
Microwave hyperthermia
 Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang
dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai
suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi
koagulasi.

Trans urethral needle ablation (TUNA)


 Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila
posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum
yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan
panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum
yang menancap di jaringan prostat.
Tindakan Lain
High intensity focused ultrasound (HIFU)
 Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang
memancarkan energi ultrasound dengan
intensitas tinggi dan terfokus.

Intraurethral stent
 Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan
di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen
uretra tetap terbuka. Dilakukan pada pasien
dengan harapan hidup terbatas dan tidak dapat
dilakukan anestesi atau pembedahan.
Tindakan Lain
Transurethral baloon dilatation
 Dilakukan dengan memasukkan kateter
yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan
leher kandung kemih. Prosedur ini hanya
efektif bila ukuran prostat kurang dari 40 g,
sifatnya sementara, dan jarang dilakukan
lagi.
Akhirul Kalam