Anda di halaman 1dari 10

Review Aritkel tentang pjk

DWI ANGGRENI
P05130218017
Hiperkolesterolemia
Hiperkolesterolemia adalah salah satu jenis
kelainan profil lemak darah (dislipidemia),
yang di tandai dengan tingginya kadar
kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL)
dan kadar trigliserida serta kadar kolesterol
High Density Lipoprotein (HDL) yang rendah.
Kadar kolesterol yang tinggi menyebabkan
penyumbatan pembuluh darah jantung dan
otak serta menimbulkan keluhan nyeri dada
dan menimbulkan gangguan sirkulasi darah
ke otak (Garnadi,2011).
• Estimasi prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) sebanyak
7,2 % diseluruh dunia, terdapat 478.000 orang meninggal dunia
karena PJK, dan sebanyak 1,5 juta orang menderita serangan
jantung (WHO,2007). Hiperkolesterolemia berdampak pada PJK
yang sangat erat kaitannya dengan konsumsi lemak dan
kolesterol (Siswono,2003).Departemen Kesehatan RI (2008)
menunjukkan bahwa penyakit jantung adalah penyebab utama
kematian di Indonesia, dan persentase kematian akibat penyakit
kardiovaskuler untuk PJK adalah 53 % (Kalim, 2006). Kadar
kolesterol yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah jantung
dan otak, menimbulkan rasa nyeri dada, dan menimbulkan
gangguan sirkulasi darah ke otak.Kekakuan pembuluh darah
akibat kadar kolesterol yang tinggi berperan menimbulkan gejala
hipertensi, seperti pusing dan tekuk terasa berat (Khasana, 2012).
• Gejala kolesterol tinggi umumnya akibat pembuluh jantung dan
pebuluh darah atau akibat adanya penumpukan deposit kolesterol
pada organ. Pada sebagian orang, kadar lemak total yang tinggi
dapat menumpuk dibawah kulit membentuk “Xanthoma”. Kadar
kolesterol yang tinggi dapat menyumbat pembuluh darah pada
jantung dan otak, menimbulkan keluhan nyeri dada, serta
menimbukan sirkulasi darah ke otak. Kekakuan pembuluh darah
akibat kadar koleterol yang tinggi turut berperan menimbulkan
gejalah hipertensi, seperti pusing dan tekuk terasa berat. Adanya
kelainan profil lemak lain seperti tingginya kadar trigliserida bisa
juga menimbulkan pembesaran organ liver (hati) line (limfa), serta
terjadinya radang pancreas (Garnadi,2012).
• Hipertensi adalah suatu keadaan dimana tekanan darah ≥
140/90 mmHg, dan pengukuran tekanan darah dilakukan
minimal dua kali untuk mendapatkan hasil yang lebih baik
(WHO, 2001). Penyakit tidak menular khususnya
hipertensi dapat menyebabkan kematian.Tahun 2005,
60% kematian disebabkan karena hipertensi, yang terjadi
pada penduduk berumur di bawah 70 tahun.Penyakit
tidak menular yang cukup banyak mempengaruhi angka
kesakitan dan angka kematian dunia adalah penyakit
kardiovaskuler seperti hipertensi. Pada tahun 2005 di
Asia Tenggara, kematian karena hipertensi sebesar 28%
(WHO, 2001).
faktor resiko pendertia PJK
• Penderita PJK banyak didapatkan adanya faktor – faktor risiko.
Faktor risiko utama atau fundamental yaitu faktor risiko lipida
yang meliputi kadar kolesterol dan trigliserida, karena pentingnya
sifat – sifat substansi ini dalam mendorong timbulnya plak di arteri
koroner.Negara Amerika pada saat ini 50% orang dewasa
didapatkan kadar kolesterolnya > 200 mg/dl dan ± 25% dari orang
dewasa umur > 20 tahun dengan kadar kolesterol >240 mg/dl,
sehingga risiko terhadap penyakit jantung koroner akan
meningkat. Penderita penyakit jantung koroner akan mengalami
hipertensi 2,25 kali dibanding dengan yang bukanpenderita
penyakit jantung koroner.
• Berbagai penelitian epidemiologi menunjukkan adanya
keadaan-keadaan sifat dan kelainan yang dapat
mempercepat terjadinya penyakit jantung koroner.
Memiliki faktor risiko lebih dari satu seperti hipertensi,
diabetes melitus, dan obesitas, maka akan mempunyai 2
atau 3 kali berpeluang terkena penyakit jantung koroner
dibandingkan 70 orang yang tidak.
DIIT JANTUNG

• Penanganan hipertensi dapat dilakukan dengan cara


medis dan non medis. Melalui cara non medis, penderita
hipertensi yang rawat inap dapat menjalani diet sesuai
dengan keluhan penyakit komplikasinya. Jenis diet
diberikan sesuai dengan hasil pemeriksaan dokter
tentang penyakit komplikasi yang diderita oleh penderita
hipertensi rawat inap yang bertujuan untuk memenuhi
status gizi, sehingga mempercepat proses penyembuhan.
• Fenomena yang terjadi sampai saat ini, yakni rumah sakit
sering sekali salah menyediakan makanan untuk pasien
yang rawat inap selain itu, penentuan makanan sering
sekali tidak didasari atas kebutuhan zat gizi si pasien
tersebut. Diet yang diberikan pun tidak sesuai dengan
diet yang seharusnya dikonsumsi sesuai dengan keluhan
kesehatannya. Di samping itu, tindakan kepatuhan pasien
yang rawat inap juga memengaruhi keberhasilan
penatalaksanaan diet di rumah sakit.