Anda di halaman 1dari 9

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DISTRES SPRITUAL

YHEFIN SAMPE PARENDEN


201801137
Definisi
 Distres spiritual adalah kerusakan kemampuan
dalam mengalami dan mengintegrasikan arti dan
tujuan hidup seseorang dengan diri, orang lain,
seni, music, literature, alam dan kekuatan yang
lebih besar dari dirinya (Nanda,2005)
 Distres spritusl adalah gangguan dalam prinsip
hidup yang meliputi seluruh kehidupan seseorang
dan diintegrasikan biologis dan psikososial
(Varcaloris, 2000).
Krakteristik distress spiritual (Nanda, 2005) :

Hubungan dengan
diri
1. ungkapan Hubungan dengan
oran lain
kekurangan
a. Harapan Hubungan dengan seni, Hubungan dengan kakkuatan yang
1. Menolak music, literature, dan lebih besar dari dirinya
b. Arti dan tujuan berhubungan alam 1. Ketidakmampuan untuk
hidup dengan tokoh 1. Ketidak mampuan berdoa
c. Perdamaian/kete agama untuk 2. Ketidak mampuan untuk
nangan 2. Menolak berpartisipasi dalam kegiatan
mengungkapkan
interaksi keagamaan
d. Penerimaa kreativitas 3. Mengungkapkan terbuang
denagan tujuan (bernyanyi,
e. Cinta olehatau karena kemarahan
dan keluarga mendengarkan
f. Memaafkan diri 3. Mengungkapkan
Tuhan
music, menulis) 4. Meminta utuk bertemu
sendiri terpisah dari dengan tokoh agama
2. Tidak tertarik
g. Keberanian system dengan alam 5. Tiba-tiba berubah praktik
2. Marah pendukung 3. Tidak tertarik agama
3. Kealahan 4. Mengungkapkan 6. Ketidak mampuan untuk
dengan bacaan intropeksi
4.Koping yang buruk pengasingan diri keagamaan 7. Mengungkapkan hidup tanpa
harapan , menderita
Penyebab
  
Menurut vacarolis (2000) penyebab distress spiritual adalah:
1. Pengkajian fisik abuse
2. Pengkajian psikologis
(Otis-Green, 2002)
3. Pengkajian sosial budaya dukungan sosial dalam memahami
kenyakinan klien (Spencer, 1998)
Pengkajian
Salah satu instrumen yang dapat digunakan adalah:

1. Puchalski’s FICA Spritiual History Tool (Pulschalski, 1999) :


a. F : Faith atau keyakinan (apa a. keyakinan saudara?) Apakah saudara memikirkan diri saudara menjadi sesorang yang spritual ata
religius? Apa yang saudara pikirkan tentang keyakinan saudara dalam pemberian makna hidup
b. I : Impotance dan influence. (apakah hal ini penting dalam kehidupan saudara). Apa pengaruhnya terhadap bagaimana saudara
melakukan perawatan terhadap diri sendiri? Dapatkah keyakinan saudara mempengaruhi perilaku selama sakit?
c. C : Community (Apakah saudara bagian dari sebuah komunitas spiritual atau religius?) Apakah komunitas tersebut mendukung
saudara dan bagaimana? Apakah ada seseorang didalam kelompok tersebut yang benar-benar saudara cintai atua begini penting
bagi saudara?
d. A : Adress bagaimana saudara akan mencintai saya sebagai seorang perawat, untuk membantu dalam asuhan keperawatan saudara?
2. Pengkajian aktifitas sehari-hari pasian yang mengkarakteristikan distres spiritual, mendengarkan berbagai pernyataan penting
seperti :

a. Perasaan ketika seseorang gagal

b. Perasaan tidak stabil

c. Perasaan ketidakmmapuan mengontrol diri

d. Pertanyaan tentanPerasaan hampag makna hidup dan hal-hal penting dalam kehidupan
Lanjutan ….
3. Faktor Predisposisi
4. Faktor Presipitasi
5. Penilaian Terhadap Stressor :
a. Respon Kognitif
b. Respon Afektif
c. Respon Fisiologis
d. Respon Sosial
e. Respon Perilaku
6. Sumber Koping
Intervensi

1. Bina hubungan saling percaya dengan pasien, kaji faktor penyebab distress spiritual
pada pasien, bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran terhadap agama
yang diyakininya, bantu klien mengembangkan kemampuan untuk mengatasi
perubahan spritual dalam kehidupan.
2. Gunakan komunikasi terapeutik untuk membina hubungan saling percaya dan
menunjukkan empati.
3. Menggunakan alat untukmemonitor dan mengevaluasi spiritual well-being sebagai
Diagnosa pendekatan
4. Mendorong individu untuk melihat kembali masa lalu dan memfokuskan pada
kejadian dan hubungan yang memberikan kekuatan dan dukungan spiritual
Distters 5. Rawat klien dengan bermartabat dan hormat dengan cara menghargai pendapat dan
Spritual keyakinan klien.
6. Dorong partisipasi dalam hubungan dengan anggota keluarga, teman dan orang lain.
7. Jaga privacy dan ketenangan untuk kegiatan spiritual
8. Dorong partisipasi dalam kelompok spiritual sesuai dengan keyakinan yang dianut.
9. Berbagai keyakinan tentang arti dan tujuan dengan perawat
10. Diskusikan manfaat spiritual
11. Beri kesempatan untuk mendiskusikan berbagai hambatan yang
12. dirasakan dalam menjalankan keyakinan
13. Bersikap terbuka dan menjadi pendengar yang baik terhadap apa yang dikatakan
individu
14. Dorong klien berdoa secara individu
15. Mendorong klien untuk menulis dalam daftar kegiatan hariannya setiap hari untuk
mengekpresikan pemikiran dan saran refleksi.
Evaluasi

1. Ekspresi wajah bersahabat, menunjukkan rasa senang ada kontak mata, mau berjabat tangan, mau menyebutkan nama,
mau menjawab salam, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau mengutarakan masalah yang dihadapi.
2. Klien mampu
a. Mengungkapkan harapan masa depan yang positif.
b. Mengungkapkan arti hidup
c. Mengungkapkan optimis
d. Mengungkapkan keyakinan dalam diri
e. Mengungkapkan keyakinan kepada orang lain
f. Menentukan tujuan hidup
3. Klien mampu
g. Mencintai diri sendiri dan orang lain dengan mengungkapkan penerimaan terhadap dirinya sendiri maupunorang lain
h. berdoa menurut keyakinannya masing-masing
i. Melakukan ibadah
4. Klien mampu
j. Melakukan ADL
k. Melaksanakan keyakinannya sesuai dengan perannya
l. Mengungkapkan perasaannya terkait dengan keyakinannya
Thanks You