Anda di halaman 1dari 29

PELUMAS /LUBRICATION

PENDAHULUAN
• Pelumas adalah zat kimia, yang umumnya cairan, yang
diberikan di antara dua benda bergerak untuk mengurangi
gaya gesek. Zat ini merupakan fraksi hasil destilasi minyak
bumi yang memiliki suhu 105-135 derajat celcius.
• Pelumas berfungsi sebagai lapisan pelindung yang
memisahkan dua permukaan yang berhubungan.
Umumnya pelumas terdiri dari 90% minyak dasar dan 10%
zat tambahan.
• Salah satu penggunaan pelumas paling utama adalah 
oli mesin yang dipakai pada mesin pembakaran dalam.
Definisi Pelumas dan Pelumasan
• Pelumasan adalah metode yang digunakan
untuk mengurangi gesekan, keausan dan
panas dari bagian mesin yang bergerak relatif
satu terhadap lainnya.
• Pelumas dibuat campuran base oil (bahan dasar
pelumas) dan aditif. Base oil biasanya berasal
dari minyak bumi (mineral oil),
• Tetapi ada juga yang berasal bukan dari minyak
bumi. Pelumas demikian sering disebut pelumas
sentetis. Pelumas sintesis dapat dibuat dari
minyak bumi atau minyak nabati (vegertable
oil). Konsumen sudah biasa memilih pelumas
apakah oil sentesis, semi sintesis atau mineral.
Mengapa timbul adanya pelumas?
1. ADANYA FRIKSI
Friksi adalah gaya yang menahan gerakan sliding atau
rolling satu benda terhadap benda lainnya. Friksi
merupakan faktor yang penting dalam mekanisme operasi
sebagian besar peralatan atau mesin.

2. KEAUSAN
Jenis jenis friksi
• Friksi besar (high friction) dibutuhkan untuk bekerjanya
mur dan baut, klip kertas, penjepit (tang catut), sol sepatu,
alat pemegang dll. Gaya friksi dibutuhkan pada saat kita
jalan agar tidak terpeleset. Friksi juga dibutuhkaan agar
dapat menumpuk pasir, apel dll. Namun friksi juga
merupakan tahanan tehadap gerakan yang bersifat
merugikan.20% tenaga mesin mobil dipergunakan untuk
mengatasi gaya friksi pada elemen mesin yang bergerak.
• friksi kecil (low friction), dikehendaki untuk benda yang
bergerak seperti mesin tenaga (engine), ski, elemen
arloji/jam dll.
• koefisen friksi (coefficient of friction ) dan
biasanya diberi simbol huruf Yunani mu (µ ).
Secara matematik persamaan dapat ditulis sbb
µ = F/L

• Koefisien friksi tidak punya satuan, karena


friksi dan beban yang diukur dalam satuan
gaya (pound atau Newton) saling meniadakan.
2. KEAUSAN

Keausan (wear) adalah hilangnya materi dari


permukaan benda padat sebagai akibat dari gerakan
mekanik. Keausan umumnya sebagi kehilangan materi
yang timbul sebagai akibat interaksi mekanik dua
permukaan yang bergerak slidding dan dibebani. Ini
merupakan fenomena normal yang terjadi jika dua
permukaan saling bergesekan, maka akan ada keausan
atau perpindahan materi Contohnya uang logam
manjadi tumpul setelah lama dipakai akibat bergesekan
dengan kain dan jari manusia.
SEJARAH PELUMAS
• Penggunakan pelumas pada jaman kuno,
seperti tergambar pada relief dinding batu di
Mesir 4,000 yl., yaitu orang melumasi jalan
saat menyeret patung batu yang berat.
Pelumasan pada jaman modern, sistim
pelumasan didesain untuk mengurangi
keausan alat sehinggA dapat beroperasi lama
dan tanpa pemeliharaan.
• Alam menggunakan cairan yang disebut synovial fluid pada
pelumasan tulang sendi hewan dan manusia. Sedangkan
manusia jaman prasejarah menggunakan lumpur untuk
menarik seluncur.

• Pelumas dari lemak binatang dipakai untuk gerobak


pertama, dan terus digunakan sampai abad 19 ketika
industri minyak bumi (petroleum) muncul, yang kemudian
mejadi sumber utama pelumas mineral (mineral oil) atau
pelumas petro (petroleum lubricant). Kemampuan pelumas
petro terus dikembangkan untuk memenuhi bervariasi
kebutuhan spesifik seperti sepeda motor, mobil, pesawat,
mesin turbo, kereta api, mesin pembangkit tenaga dll. dan
tuntutan bertambahnya kecepatan dan kapasitas mesin
transportasi maupun mesin industri.
• Zaman jet dan ruang angkasa memperbaharui minat
orang pada pelumas sintetik (synthetic lubricants) karena
menawarkan unjuk kerja superior dibandingkan pelumas
petro.
• Minyak lumas sintetik walaupun sudah banyak dipasarkan
namun harganya masih beberapa kali lebih mahal
dibandingkan dengan pelumas petro konvensional.
• Akhir-akhir ini kepedulian orang terhadap lingkungan
memperbarui minat pada pelumas bio dari minyak nabati
(vegetable oils) yang bersifat ramah lingkungan.
JENIS-JENIS PELUMASAN

1. Pelumasan Lapisan Fluida (Fluid-film


lubrication) Pelumasan ini dilakukan dengan
menyisipkan (interposing) lapisan cairan
yang dapat memisahkan secara sempurna
permukaan yang bergerak. Lapisan cairan
mungkin secara sengaja disediakan seperti
minyak lumas pada bantalan (bearings) atau
tanpa sengaja misalnya air yang tergenang
di jalan dan roda mobil.
2. Pelumasan Batas (Boundary lubrication) Suatu
kondisi antara pelumasan lapisan fluida dan
keadaan tanpa pelumas dan ada disebut
pelumasan batas (boundary lubrication). Pada
kondisi ini properti permukaan dan properti
pelumas menentukan besarnya friksi sistim ini.
Pelumasan batas menunjukkan salah satu
fenomena pelumasan yang sangat penting, yang
dijumpai terutama pada saat mesin start dari
keadaan berhenti.
3. Pelumasan Padat (Solid lubrication) Materi padat
seperti graphite, molybdenum disulfide (Moly) dan
PTFE (Teflon) digunakan secara luas jika pelumas
biasa tidak memiliki kemampuan menahan beban
dan suhu yang ektrim. Pelumas tidak hanya dari
lemak, serbuk, gas tapi juga kadang bahan logam
dipakai sebagai permukaan gesek pada beberapa
mesin. Beberapa puluh tahun terakhiri ini juga
dikenal jenis pelumas baru yang disebut pelumas
sol (sol-lube). Pelumas ini merupakan koloid, yaitu
suspensi pelumas padat dalam pelumas cair.
Ada lima bentuk pelumasan yang dapat
dikenal secara jelas, yaitu :
1. Hidrodinamika 
2. Hidrostatika
3. Elastohidrodinamika
4. Batas (boundary)
5. Lapisan padat tipis (solid film). 
1. Pelumasan hidrodinamika
• Pelumasan hidrodinamika (hydrodinamic
lubrication) berarti bahwa permukaan
penerima beban dari bearing dipisahkan oleh
lapisan pelumas yang agak tebal, sedemikian
rupa untuk menjaga persinggungan logam
dengan logam, dan bahwa stabilitas yang
dicapai dapat dijelaskan dengan hukum-
hukum mekanika fluida. 
2. PELUMASAN HIDROSTATIKA
• Pelumasan hidrostatika (hydrostatic lubrication) didapat
dengan memasukkan pelumas, yang kadang-kadang
berupa udara atau air, kedalam bidang bearing beban pada
suatu tekanan yang cukup untuk memisahkan permukaan-
permukaan dengan suatu lapisan pelumas-tipis yang agak
tebal. Sehingga, tidak seperti pelumasan hidrodinamika,
gerakan dari permukaan relatif terhadap yang lain tidak
diperlukan. Pelumasan hidrostatika perlu diperhatikan
dalam merancang bearing dimana kecepatan putar kecil
atau nol dan dimana tahanan gesekan sekecil mungkin.
3. PELUMASAN ELASTOHIDRODINAMIKA

• Pelumasan elastohidrodinamika
(elastohydrodynamic lubrication) adalah
gejala yang terjadi bila suatu pelumas
dimasukkan diantara permukaan-permukaan
yang berkontak secara menggelinding, seperti
pasangan roda gigi atau bearing rol. 
4. PELUMASAN BATAS (BOUNDARY
LUBRICATION). 
• Luas permukaan yang tidak memadai, suatu penurunan
kecepatan dari permukaan yang bergerak, suatu
pengurangan jumlah pelumas yang dimasukkan ke suatu
bearing, kenaikan beban bearing, atau kenaikkan temperatur
pelumas yang terjadi karena viskositas salah satu diantara
hal-hal diatas dapat menjaga terbentuknya suatu lapisan-
tipis (film) yang cukup tebal untuk membentuk pelumasan
lapisan-tipis penuh. Bila ini terjadi, pada keadaan yang paling
buruk mungkin dipisahkan oleh lapisan-tipis pelumas hanya
dalam ketebalan beberapa ukuran molekul saja. Ini disebut
pelumasan batas (boundary lubrication). P
5. LAPISAN PADAT TIPIS
• Bila bearing harus beroperasi pada temperatur
yang sangat tinggi, suatu pelumas lapisan padat
tipis (solid-film lubrication) seperti graphit atau
molybdenum disulfida harus dipakai karena
minyak mineral biasa tidak sesuai. Banyak
penelitian akhir-akhir ini sedang dilakukan
dalam tujuan ini, juga untuk mencari bahan
campuran bearing dengan nilai keausan yang
rendah dan juga koefisien gesek yang kecil.
KLASIFIKASI PELUMASAN
1. Intermittent Lubrication. 
Bearing untuk aplikasi beban ringan dan rpm lambat dapat dilumasi
secara manual. Oil bisanya di masukkan ke dalam lubang pelumasan
pada bearing. Oil yang digunakan biasanya adalah grease
menggunakan pressure gun.

2. Limited Continous Lubrication. 


Metode ini lebih baik daripada pelumasan dengan manual.
Pelumasan ini berisi sumbu pelumas atau jarum pelumas. Sumbu
membawa oil secara kapilar. Jika journal bearing berputar, jarum di
kocok dan oli mengalir lewat dari reservoir melalui gap antara jarum
dan lubang di plug bearing.
3. Continous Lubricating. 
Oil di suplai secara terus menerus dan ini sangat penting untuk
pelumasan hidrodinamik. Ada beberapa jenis continuous lubricating,
A. ring oil system yaitu membuat pelumasan disekeliling bearing
journal. Oil di semprot dari bearing bagian bawah dan ketika journal
bearing berputar maka oil akan terangkat ke atas sehingga
melumasi semua bagian journal.
B. splash lubrication, dimana part yang berputar direndam bersama oli
dan biasanya digunakan untuk pelumasan mesin, gear-box,
compressor. Contohnya pelumasan antara dinding cylinder dan
piston ring, pelumsanannya menggunakan metode ini.
C. in-pressure lubrication system yaitu pelumasan dengan
menyemprotkan oil dengan pompa ke titiK- titik pelumAsan, setelah
oil disemprotkan ke bagian bagian part, oli jatuh dan ditampung dan
kembali masuk ke pompa dan mengalami siklus yang sama. 
Berdasarkan bahan bakunya dibedakan atas dua
macam, mineral dan sintesis
• Pelumas mineral berbahan dasar minyak bumi. Setelah
diolah, minyak bumi ditambah bahan- bahan aditif agar mutu
pelumas lebih baik. Pada pelumas modern bisanya bahan
aditifnya cukup lengkap, sehingga beberapa merek tidak
menganjurkan penambahan aditif atau oil treatment.
• PELUMAS sintesis adalah pelumas berbahan dasar campuran
berbagai macam bahan kimia yang membuat di
Laborantorium. Umumnya, pelumas sintesis mempunyai
tingkat mutu yang lebih tinggi daripada pelumas mineral,
namun harganya lebih mahal. Tantangan pelumas adalah
mengalir dengan mudah pada waktu mesin start. Oil yang baik
akan memberikan proteksi terhadap bagian-bagian yang
bergerak, terutama pada temperatur operasi yang relatif
tinggi.
Ada empat macam kondisi yang harus dicermati
dengan seksama Dalam Pelumasan, yaitu :

1. Warna Pelumas
Warna pelumas bermacam-macam tergantung dari
mereknya ada yang berwarna merah, hijau tua, kuning
atau ungu

2. Jumlah pelumas
Saat pelumas diganti dengan yang baru, penunjukan pada
oil dipstick harus berada pada tanda F (full) atau penuh.
3. Keausan Mesin
Penyebab keausan sangat beragam, antara lain
adanya celah diantara komponen mesin yang
bergesekan terlalu besar. Akibat dari keausan
yang sudah berat seperti itu, pelumas mengalami
penguapan. Penyebab lain misalnya kebocoran
pada sejumlah komponen mesin, seperti
saringan oli, seal yang sudah rapuh, atau gasket
yang sudah rusak.
4. Kekentalan Pelumas
Kekentalan pelumas yang baik akan bertahan dalam jangka
waktu pemakaian normal. Perhatikan jika ada campuran
”asing”. Artinya pelumas bercampur karena kepala silinder
dan blok mesin mengalami kerusakan. Jika tercium bau
bensin, meski kerusakan ini jarang terjadi, itu berarti ada
kebocoran pada selinder atau pada injector bahan bakar.
Semua mesin kendaraan membutuhkan pelumas yang
berfungsi mendinginkan, mengurangi gesekan, serta
melindungi mesin dari keausan.
ANY QUESTION ?