Anda di halaman 1dari 22

LogoType

UU NO 30 TAHUN 2002
TENTANG KPK
DISUSUN OLEH:
1. ABRAHAM SERGIUS MANAHAN POLORENSIUS HUTAPEA
(2301190397)
4. ALWI AKBAR (1302190571)
15. DINA NOVITASARI S. (1302190464)
23. IRHAM FAUZAN (1302190939)
29. NUR CHAFIZOH (4301190036)
Welcome!!

“ Di pundak pemimpin yang bebas korupsi, di situlah masa


depan negeri -Najwa Shihab

Mohon diperhatikan ya teman-teman!


UU No. 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

BAB I (Ketentuan Umum) BAB II BAB VII (Pemeriksaan di Sidang


( Tugas,Wewenang dan Pengadilan ) Bab VIII (Rehabilitasi
Kewajiban) dan Kompensasi)

01 Bab I (Pasal 1-5) dan Bab II (Pasal


6-15).
04 Bab VII (Pasal 53-62)
Bab VIII (Pasal 63)

BAB III (Tata Pelaporan dan


Penentuan Gratifikasi) Bab IV BAB IX (Pembiayaan) Bab X
(Tempat Kedudukan, Tanggung (Ketentuan Pidana)
02 Jawab dan Susunan Oraganisasi) 05 Bab IX (Pasal 64)
Bab III (Pasal 16-18) Bab IV (Pasal 19- Bab X (Pasal 65-67)
28)
Bab XI (Ketentuan Peralihan) Bab XII
BAB V (Pimpinan KPK) BAB VI (Panutup)
03 (Penyelidikan, Penyidikan dan
Penuntutan)
06 Bab XI (Pasal 68-69) Bab XII (Pasal
Bab V (Pasal 29-37) 70-72)
Bab VI (Pasal 38-52)
BAB I
Ketentuan Umum
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan :
1.Tindak Pidana Korupsi adalah setiap orang yang dikategorikan melawan hukum, melakukan
perbuatan memperkaya diri sendiri, menguntungkan diri sendiri, atau orang lain atau suatu
korporasi, menyalahkan kewenangan maupun kesempatan atau sarana yang ada padanya karena
jabatan atau kedudukan, yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
(UU No. 31 tahun 1999).
2.Penyelenggara Negara adalah pejabat negara yang menjalankan fungsi dan tugas pokoknya
berkaitan dengan penyelenggaraan negara, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang –
undangan yang berlaku (UU Nomor 28 Tahun 1999).
3.Pemberantasan tindak pidana korupsi adalah serangkaian tindakan untuk mencegah dan
memberantas tindak pidana korupsi.
Pasal 2
Pembentukan Komisi Pemberantasan Korupsi.
Pasal 3
Komisi Pemberantasan Korupsi bersifat independent dan bebas dari pengaruh kekuasaan
manapun.
Pasal 4
Komisi Pemberantasan Korupsi dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil
guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pasal 5
Komisi Pemberantasan Korupsi berasaskan pada :
a. kepastian hukum; b. keterbukaan; c.akuntabilitas; d. kepentingan umum; dan
e. proporsionalitas.
BAB II
TUGAS, WEWENANG, DAN KEWAJIBAN
Pasal 6 Pasal 9
Komisi Pemberantasan Korupsi mempunyai
tugas:
Pengambil alihan penyidikan dan penuntutan
dilakukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi BERANI
a. koordinasi dengan instansi yang berwenang dengan alasan:
melakukan pemberantasan tindak pidana
korupsi;
a. Laporan masyarakat;
b. proses penanganan tindak pidana korupsi
JUJUR
b. supervisi terhadap instansi yang berwenang
melakukan pemberantasan tindak pidana
yang berlarut-larut;
c. penanganan tindak pidana korupsi ditujukan ITU
korupsi; untuk melindungi pelaku tindak pidana korupsi
c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan
penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
yang sesungguhnya;
d. penanganan tindak pidana korupsi
HEBAT!
d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan mengandung unsur korupsi;
tindak pidana korupsi; dan e. campur tangan dari eksekutif, yudikatif, atau
e.melakukan monitor terhadap penyelenggaraan legislatif; atau
pemerintahan negara. f. keadaan lain yang menurut pertimbangan
Pasal 7 kepolisian atau kejaksaan, penanganan tindak
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang : pidana korupsi sulit dilaksanakan secara baik
a. mengkoordinasikan penyelidikan, penyidikan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
dan penuntutan tindak pidana korupsi;
b. menetapkan sistem pelaporan tindak pidana Pasal 10
korupsi; Komisi Pemberantasan Korupsi memberitahukan
c.meminta informasi tentang instansi yang terkait; kepada penyidik atau penuntut umum untuk
d. melaksanakan dengar pendapat dan mengambil alih tindak pidana korupsi yang
e. meminta laporan instansi terkait pencegahan sedang ditangani.
tindak pidana korupsi.
Pasal 11
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi y
ang :
a. melibatkan aparat penegak hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana
korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara;
b. mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; dan/atau
c. menyangkut kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah).
Pasal 12
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang :
a.melakukan penyadapan;
b.melarang seseorang bepergian ke luar negeri;
;
c. meminta keterangan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya yang diperlukan;
d. memerintahkan kepada bank atau lembaga keuangan lainnya untuk memblokir rekening yang diduga hasil dari korupsi
;
e.memerintahkan kepada pimpinan tersangka untuk memberhentikan sementara tersangka dari jabatannya;
f.meminta data kekayaan dan data perpajakan tersangka;
g. menghentikan sementara semua kegiatani. meminta bantuan kepolisian atau instansi lain yang terkait.
Pasal 13
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang melaksanakan langkah atau upaya pencegahan sebagai berikut :
a. melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara negara;
b. menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;
c. menyelenggarakan program pendidikanantikorupsi;
d. merancang sosialisasi pemberantasan tindak pidana korupsi;
e. melakukan kampanye antikorupsi;
f. melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan tindak pidana korupsi.
Pasal 14
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang:
a. melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan
administrasi di semua lembaga negara dan pemerintah;
b. memberi saran kepada pimpinan lembaga negara
dan pemerintah untuk melakukan pengkajian
keuangan;
c. melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia,
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, dan
Badan Pemeriksa Keuangan, jika saran Komisi
Pemberantasan Korupsi mengenai usulan perubahan
tersebut tidak diindahkan.

Pasal 15
Komisi Pemberantasan Korupsi berkewajiban :
a. memberikan perlindungan terhadap saksi;
b. memberikan informasi kepada masyarakat;
c. menyusun laporan tahunan;
d. menegakkan sumpah jabatan;
e. menjalankan tugas, tanggung jawab, dan
wewenangnya berdasarkan asas-asas.
BAB III
TATA PELAPORAN DAN PENENTUAN GRATIFIKASI
Pasal 16
Setiap pegawai negeri atau penyelenggaea negara yang menerima gratifikasi wajib melaporkan kepada
KPK dengan tata cara sebagai berikut:
a. Laporan dilakukan secara tertulis dengan mengisi formulir yang ditetapkan oleh KPK dengan dokumen
yang berkaitan dengan gratifikasi
b. Formuliryang dimaksud poin a, setidaknya memuat :
1) Nama dan alamat lengkap penerima dan pemberi gratifikasi
2) Jabatan pegawai negeri atau penyelenggara negara
3) Tempat dan waktu penerimaan gratifikasi
4) Uraian jenis gratifikasi yang diterima, dan
5) Nilai gratifikasi yang diterima.
Pasal 17
(1) KPK dalam waktu paling lambat 30 hari kerja terhitung sejak tanggal laporan diterima dengan
pertimbangan
(2) Dalam menetapkan status kepemilikan gratifikasi, KPK dapapt memanggi penerima gratifikasi untuk
meberikan keterangan
(3) Status kepemilikan gratifikasi ditetapkan oleh pimpinan KPK
(4) Keputusan pimpinan KPK tentang kepemilikan gratifikasi dapat berupa penetapan status gratifikasi milik
penerima atau milik negara.
(5) KPK wajib menyerahkan keputusan status kepemilkan gratifikasi paling lambat 7 hari kerja sejak tanggal
ditetapkan
(6) Penyerahan gratifikasi yang milik negara kepada Menteri Keuangan palig lambat 7 hari kerja sejak
tanggal ditetapkan
Pasal 18
KPK wajib mengumumkan gratifikasi yang ditetapkan menjadi milik negara paling sedikit sekali dalam
setahun.
BAB IV
TEMPAAT KEDUDUKAN, TANGGUNG JAWAB, DAN SUSUNAN ORGANISASI

Pasal 21
(1) KPK terdiri atas:
a. Pimpinan KPK yang terdiri dari 5 orang
Pasal 19 b. Tim penasihat 4 orang
(1) KPK berkedudukan di Ibu kota negara dan wilayah kerjanya meliputi c. Pegawai KPK sebagai pelaksana tugas
seluruh wilayah Indonesia (2)Pimpinan KPK disusun sebagai berikut :
(2) KPK dapat membentuk perwakilan daerah di provinsi a. Ketua KPK merangkap sebagai anggota
(3) KPK bertanggung jawab kepada publik atas pelaksanaan b. Wakil ketua 4 orang dan merangkap sebagai anggota
tugasnyadan menyampaikan laporannya secara terbuka dan berkala (3)- (6) Pimpinan KPK adalah pejabat negara,penyidik dan
pada presiden, DPR, dan BPK penuntut umum,bekerja secara kolektif, penanggung jawab
(4) Pertanggung jawaban secra publik,dilakukan secara : tertinggi KPK
a. Wajib audit terhadap kinerja dan pertanggungjawaban sesuai dengan
program kerjanya. Pasal 22
b. Menentukan laporan tahunan, dan (1) KPK berwenang mengangkat tim penasihat yang diajukan
c. Membuka akses informasi oleh panitia seleksi pemilihan
(2) Panitia seleksi pemilihan dibentuk oleh KPK
Pasal 20 (3) Panitia seleksi pemilihan mengumumkan penerimaan calo
(1) KPK bertanggunjawab ke publik atas tugasnya dan menyampaikan n dan mengumpulkan calon anggota berdasar keinginan dan
laporan secara terbuka kepada Presiden, DPR, dan BPK masukan dari rakyat.
(2) Pertanggungjawaban publik dilaksanakan dengan cara : (4) Calon tim penasihat diumumkan terlebihdahulu pada
a. Wajib audit terhadap kinerja dan pertanggungjawaban keuangan masyarakat untuk ditanggapi sebelum ditunjuk dan diangkat
sesuai program kerja. oleh KPK berdasarkan calon yang diusul panitia seleksi
b. Menerbitkan laporan tahunan pemilihan.
c. Membuka akses informasi (5) Setelah ditanggapi masyarakat,panitia seleksi pemilihan
mengajukan 8 calon anggota pada KPK untuk dipilih 4 orang
(6) Kegiatan pemilihan calon anggota tim penasihat dilakukan
paling lambat 3 bulan sejak panitia seleksi pemilihan dibentuk
Pasal 23 (3) Bidang pencegahan membawahkan :
Tim penasihat berfungsi memberikan nasihat dan Subbidang pendaftarandan pemeriksaan laporan harta kekayaan
pertimbangan sesuai dengan kepakarannya pada KPK penyelenggara Negara, Subbidang gratifikasi, Subbidang pendidikan dan
dalam pekasanaan tugas dan wewenang KPK pelayanan masyarakat, dan Subbidang penelitian dan pengembangan.
(4) Bidang Penindakan membawahkan :
Pasal 24 Subbidang penyelidikan, Subbidang penyidikan,Subbidang penuntutan
(1) Anggota Tim penasihat adalah warga negara Indonesia (5) Bidang informasi dan Data membawahkan :
karena kepakarannya diangkat oleh KPK Subbidang pengolahan informasi dan data ,Subbidang pembinaan jaringan
(2) Pegawai KPK adalah warga negara Indonesia yang kerja antarkomisi dan Instansi ,Subbidang monitor
karena keahliannya diangkat sebagai pegawai KPK (6) Bidang pengawasan Internal dan pengaduan masyarakat
(3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara membawahkan :
pengangkatan pegawai KPK diatur lebih lanjut dengan Subbidang pengawasan Internal,Subbidang pengaduan masyarakat
Keputusan KPK (7) Subbidang penyelidikan, subbidang penyidikan, dan subbidang
Pasal 25 penuntutan, masing-masing membawahkan beberapa satuan tugas sesuai
(1) KPK : dengan kebutuhan bidangnya
a. Menetapkan kbijakan dan tata kerja organisasi (8) Ketentuan mengenai tugas bidang-bidang dan masing-masing
mengenai pelaksanaan tugasdan wewenang KPK subbidang diatur lebih lanjut dengan Keputusan KPK
b. Mengangkat dan memberhentikan Kepala Bidang,
kepala kesekretariatan, dan petugas pada KPK Pasal 27
c. Menentukan kriteria penanganan tindak pidana korupsi (1) Dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya, KPK dibantu oleh
(2) Ketentuan mengenai prosedur tata kerja KPK diatur Sekretariat Jenderal yang dipimpin oleh seorang Sekretaris Jenderal.
lebih lanjut di keputusan KPK (2) Sekretaris Jenderal diangkat dan duberhentikan oleh presiden
(3) Dalam menjalankan tugasnya sekretaris jenderal bertanggung jawab
Pasal 26 pada pipinan KPK
(1) Susunan KPK terdiri atas Ketua KPK dan 4 orang wakil (4) Ketentuan mengenai tugas dan fungsi sekretaris jenderal ditetapkan
ketua KPK lebih lanjut dengan keputusan KPK
(2) KPK membawahkan 4 bidang yaitu :
Pasal 28
Bidang pencegahan, Bidang penindakan, Bidang informasi
KPK dapat melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam rangka
dan data, dan ,Bidang pengawasan internal dan
pengemmbangan dan pembinaan organisasi KPK.
pengaduan masyarakat.
BAB V
PIMPINAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI (KPK)

Pasal 29 • Sebelum mengajukan nama-nama calon


Membahas ttg syarat menjadi pimpinan kpk pemimin ke presiden, DPR terlebih dahulu
1. WNI mengumumkan kepada masyarakat untuk
2. Bertakwa Kepada Tuhan YME mendapatkan tanggapan mengenai nama nama
3. Sehat jasmani dan Rohani calon
4. Berijazah sarjana Hukum atau sarjana lainnya • Presiden menyampaikan nama-nama calon
dengan pengalaman dan keahlian sekurang pimpinan ke DPR
kurangnya 15 thn dalam bidang Hukum, • DPR wajib memilih 5 nama dari calon yang
Ekonomi, Keuangan atau Perbankan diusulkan presiden ( 1 ketua dan 4 lainnya wakil)
5. Berumur antara 40-65 thn saat proses kemudian menyampaikan kepada presiden untuk
pemilihan disahkan
6. Bereputasi baik
7. Bukan pengurus partai politik
8. Melepaskan jabatan struktural dan lainnya Pasal 32
selama menjadi anggota KPK Pimpinan KPK berhenti dan diberhentikan karena
9. Tidak menjalankan profesinya selama menjadi • Meninggal
anggota KPK • Habis masa jabatannya
10. Mengumumkan kekayaannya • Menjadi terdakwa tindak kejahatan
• Berhalangan tetap atau terus menerus selama
Pasal 30 lebih dari 3 bulan lebih tidak dapat menjalankan
• Pemimpin KPK dipilih oleh DPR berdasarkan calon yang tugasnya
diusulkan oleh Presiden RI • Mengundurkan diri
• Untuk melancarkan pemilihan, maka pemerintah Dalam hal pimpinan KPK menjadi tersangka
membentuk panitia yang terdiri dari unsur pemerintah dan pidana kejahatan, diberhentikan sementari dari
masyarakat. jabatannya
Pemberhentian oleh presiden RI
Pasal 33
Dalam hal terjadi kekosongan Pimpinan KPK, Presiden mengajukan calon pengganti ke DPR

Pasal 34
Pimpinan KPK memegang jabatan selama 4 tahun dan setelahnya dapat dipilih kembali untuk
sekali masa jabatan

Pasal 35
Sebelum memangku jabatan, Pimpinan KPK diambil sumpahnya menurut kepercayaannya di
hadapan presiden

Pasal 36
Pimpinan KPK dilarang:
• Mengadakan hubungan langsung atau tidak terhadap tersangka atau pihak lain yang
berhubungan dengan perkara yang sedang ditangani KPK
• Menangani tindak pidana yang pelakunya memiliki hubungan keluarga dengan anggota KPK
Yang bersangkutan
• Menjabat Komisaris atau direksi suatu perseroan, organ yayasan, pengawas atau pengurus
koperasi dan jabatan profesi lainnya.

Pasal 37
Ketentuan pasal 36 berlaku juga untuk Tim Penasehat dan Pegawai yang bertugas pada KPK
PASAL 40
BAB VI
BAGIAN 1 Komisi Pemberantasan Korupsi tidak berwenang mengeluarkan surat
perintah penghentian penyidikan dan penuntutan dalam perkara tindak
PASAL 38
pidana korupsi.
1. Segala kewenangan yang berkaitan dengan penyelidikan,
penyidikan, dan penuntutan yang diatur dalam Undang- PASAL 41
Undang Nomor 8 Tahun 1981 berlaku juga bagi penyelidik, Komisi Pemberantasan Korupsi dapat melaksanakan kerja sama dalam
penyidik, dan penuntut umum pada Komisi Pemberantasan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi dengan
Korupsi. lembaga penegak hukum negara lain sesuai dengan peraturan
2. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) perundang-undangan yang berlaku atau berdasarkan perjanjian
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara internasional yang telah diakui oleh Pemerintah Republik Indonesia.
Pidana tidak berlaku bagi penyidik tindak pidana korupsi
sebagaimana ditentukan dalam Undang-Undang ini. PASAL 42
Komisi Pemberantasan Korupsi berwenang mengkoordinasikan dan
PASAL 39 mengendalikan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana
1. Penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan tindak pidana korupsi yang dilakukan bersama-sama oleh orang yang tunduk pada
korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana yang peradilan militer dan peradilan umum
berlaku dan UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana PASAL 43 (bag. 2) PASAL 45 (bag. 3) PASAL 51 (bag. 4)
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun Penyelidik diangkat dan Penyidik diangkat dan Penuntut (Jaksa
2001, kecuali ditentukan lain dalam Undang-Undang ini. diberhentikan oleh KPK diberhentikan oleh KPK. Penuntut Umum)
2. Prosedur dilaksanakan berdasarkan perintah dan diangkat dan
bertindak untuk dan atas nama Komisi Pemberantasan diberhentikan oleh KPK
Korupsi.
3. Penyelidik, penyidik, dan penuntut umum yang menjadi Penyelidik Penyidik melaksanakan Penuntut melaksanakan
pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi melaksanakan fungsi fungsi penyidikan tindak fungsi penuntutan tindak
diberhentikan sementara dari instansi kepolisian dan penyelidikan tindak pidana korupsi pidana korupsi
kejaksaan selama menjadi pegawai pada Komisi pidana korupsi
Pemberantasan Korupsi.
BAGIAN 2
PASAL 47
PASAL 44
Penyidik dapat melakukan penyitaan tanpa izin Ketua
Jika penyelidik menemukan bukti yang cukup adanya
Pengadilan Negeri apabila mendapat cukup bukti untuk
dugaan tindak pidana korupsi, dalam waktu paling
memperkuat dugaan.
lambat 7 hari kerja terhitung sejak tanggal ditemukan
Ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
bukti, penyelidik melaporkan kepada KPK. Bukti
yang mengatur mengenai tindakan penyitaan, tidak
permulaan dianggap ada apabila telah
berlaku berdasarkan Undang-Undang ini.
ditemukanminimal 2 alat
Penyidik wajib membuat berita acara penyitaan pada
bukti. Apabila penyelidik tidak menemukan bukti yang
hari penyitaan lalu salinan berita disampaikan kepada
cukup, penyelidik melaporkan kepada KPK dan
tersangka atau keluarganya.
penyelidikan dihentikan oleh KPK.
Apabila KPK memutuskan untuk menindaklanjuti
perkara, maka KPK bisa melaksanakan penyidikan
sendiri atau melimpahkan ke kepolisian atau kejaksaan. PASAL 48
Ketika penyidikan diambil alih kepolisian atau kejaksaan, Tersangka wajib memberikan keterangan kepada
maka wajib melaksanakan koordinasi dan melaporkan penyidik tentang seluruh harta bendanya dan harta
perkembangan penyidikan kepada KPK. benda lain yang terlibat dengan tindak pidana korupsi
BAGIAN 3 yang dilakukan oleh tersangka.
PASAL 46
Tersangka yang ditetapkan oleh KPK terhitung sejak
tanggal penetapan tersebut, prosedur pemeriksaan
tersangka yang diatur dalam peraturan perundang-
¬undangan lain tidak berlaku.
PASAL 49
Pemeriksaan dilakukan dengan tidak mengurangi hak-
Setelah penyidikan dinyatakan cukup, penyidik
hak tersangka.
membuat berita acara dan disampaikan kepada
Pimpinan KPK untuk ditindaklanjuti.
PASAL 50
Ketika tindak pidana korupsi terjadi dan penyidikan dilakukan terlebih dahulu oleh pihak kepolisian atau
kejaksaan, instansi tersebut wajib memberitahukan kepada KPK paling lambat 14 hari kerja terhitung
sejak tanggal dimulainya penyidikan serta wajib dilakukan koordinasi terus-menerus kepada KPK.
Ketika KPK mulai melakukan penyidikan maka kepolisian atau kejaksaan tidak berwenang untuk
melanjutkan penyidikan.
Ketika penyidikan dilakukan secara bersamaan antara KPK dan pihak kepolisian atau kejaksaan, maka
penyidikan kepolisian atau kejaksaan harus segera dihentikan.

BAGIAN 4
PASAL 52
Penuntut Umum wajib melimpahkan berkas perkara kepada Pengadilan Negeri setelah menerima
berkas dari penyidik paling lambat 14 hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya berkas
tersebut.
Ketua Pengadilan Negeri wajib menerima pelimpahan berkas perkara dari KPK untuk diperiksa dan
diputus.
PASAL 53
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh
Komisi Pemberantasan Korupsi.

PASAL 54
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berada di lingkungan Peradilan Umum, dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan dilakukan
secara bertahap dengan Keputusan Presiden.

PASAL 55
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berwenang memeriksa dan memutus tindak pidana korupsi yang dilakukan di luar wilayah negara Republik
Indonesia oleh warga negara Indonesia.

PASAL 56
1. Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi terdiri atas hakim Pengadilan Negeri dan hakim Ad Hoc.
2. Hakim Pengadilan negeri ditetapkan berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung.
3. Hakim Adhoc diangkat dan diberhentikan oleh Presiden Republik Indonesia atas usul Ketua Mahkamah Agung.
4. Ketua Mahkamah Agung wajib melakukan pengumuman kepada masyarakat dalam menetapkan dan mengusulkan calon hakim.

PASAL 57
Persyaratan Hakim Peradilan Tindak Pidana Korupsi:
1. berpengalaman menjadi hakim sekurang - kurangnya 10 (sepuluh) tahun
2. berpengalaman mengadili tindak pidana korupsi;
3. cakap dan memiliki integritas moral yang tinggi selama menjalankan tugasnya, dan
tidak pernah dijatuhi hukuman disiplin
PASAL 57 PASAL PASAL 60
59
HAKIM 1. warga negara Republik Indonesia persyar 1. warga negara Republik Indonesia
AD HOC 2. bertakwa kepada Tuhan Yang atan 2. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Maha Esa dalam Esa
3. sehat jasmani dan rohani Pasal 3. sehat jasmani dan rohani
4. Berpendidikan sarjana hukum atau 57 juga 4. Berpendidikan sarjana hukum atau
sarjana lain yang mempunyai berlaku sarjana lain yang mempunyai keahlian
keahlian dan berpengalaman bagi dan berpengalaman sekurang-kurangnya
sekurang-kurangnya 15 tahun di hakim 20 tahun di bidang hukum
bidang hukum adhoc 5. Berumur sekurang-kurangnya 50
5. Berumur sekurang-kurangnya 40 pada tahun pada proses pemilihan
tahun pada proses pemilihan Pengadi 6. tidak pernah melakukan perbuatan
6. tidak pernah melakukan perbuatan lan tercela
tercela Tinggi 7. cakap, jujur, memiliki integritas moral
7. cakap, jujur, memiliki integritas yang tinggi, dan memiliki reputasi yang
moral yang tinggi, dan memiliki baik
reputasi yang baik 8. tidak menjadi pengurus salah satu
8. tidak menjadi pengurus salah satu partai politik
partai politik 9. melepaskan jabatan struktural dan
9. melepaskan jabatan struktural dan atau jabatan lainnya selama menjadi
atau jabatan lainnya selama menjadi hakim adhoc
hakim adhoc.
*Mahkamah Agung.
*Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
PASAL 58 PASAL 59 PASAL 60

Perkara tindak pidana korupsi Dalam hal putusan Pengadilan Dalam hal putusan Pengadilan
diperiksa dan diputus oleh Tindak Pidana Korupsi Tinggi Tindak Pidana Korupsi
Pengadilan Tindak pidana dimohonkan banding ke dimohonkan kasasi kepada
Korupsi dalam waktu 90hari Pengadilan Tinggi, perkara Mahkamah Agung, perkara tersebut
kerja terhitung sejak tanggal tersebut diperiksa dan diputus diperiksa dan diputus dalam jangka
perkara dilimpahkan ke dalam jangka waktu paling lama waktu paling lama 90 hari kerja
Pengadilan Tindak Pidana 60 hari kerja terhitung sejak terhitung sejak tanggal berkas
Korupsi. tanggal berkas perkara diterima perkara diterima oleh Mahkamah
Dilakukan oleh majelis hakim oleh Pengadilan Tinggi. Agung
berjumlah 5 orang yang terdiri
atas 2 orang hakim Pengadilan Pemeriksaan dilakukan oleh Pemeriksaan dilakukan oleh Majelis
Negeri yang bersangkutan majelis hakim berjumlah 5 orang Hakim berjumlah 5 orang terdiri
dan 3 orang hakim Ad Hoc. yang terdiri atas 2 orang hakim atas 2 orang Hakim Agung dan 3
Pengadilan Tinggi yang orang hakim Ad Hoc
bersangkutan dan 3 orang
hakim Ad Hoc.
PASAL 61
Sebelum memangku jabatan, hakim Ad Hoc wajib mengucapkan sumpah/janji menurut agamanya di
hadapan Presiden Republik Indonesia.
Isi sumpahnya yaitu:
1. berjanji untuk tidak menjanjikan sesuatu kepada siapapun
2. Berjanji untuk tidak menerima suatu pemberian
3. Berjanji untuk setia mengabdi pada negara
4. Berjanji untuk menjunjung tinggi etikaprofesi

PASAL 62
Pemeriksaan di sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dilakukan berdasarkan hukum acara pidana
yang berlaku dan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

BAB VIII
PASAL 63
Apabila seseorang dirugikan dalam rangkaian proses yang dilakukan KPK secara bertentangan dengan
hukum yang berlaku maka orang yang bersangkutan berhak untuk mengajukan gugatan rehabilitasi.
Gugatan yang diajukan tidak mengurangi hak orang yang dirugikan untuk mengajukan gugatan
praperadilan.
Gugatan diajukan kepada Pengadilan Negeri yang berwenang. Dalam putusan Pengadilan Negeri
ditentukan jenis, jumlah, jangka waktu, dan cara pelaksanaan rehabilitasi dan/atau kompensasi yang
harus dipenuhi oleh Komisi Pemberantasan Korupsi.
BAB IX Pasal 67
PEMBIAYAAN Setiap Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi dan pegawai
Pasal 64 pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang melakukan tindak
Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan tugas Komisi pidana korupsi, pidananya diperberat dengan menambah 1/3
Pemberantasan Korupsi dibebankan kepada Anggaran Pendapatan (satu pertiga) dari ancaman pidana pokok.
dan Belanja Negara.

BAB X
KETENTUAN PIDANA BAB XI
Pasal 65 KETENTUAN PERALIHAN
Setiap Anggota Komisi Pemberantasan Korupsi yang melanggar Pasal 68
ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 36, dipidana dengan Semua tindakan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun. tindak pidana korupsi yang proses hukumnya belum selesai
pada saat terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi,
Pasal 66 dapat diambil alih oleh Komisi Pemberantasan Korupsi
Dipidana dengan pidana penjara yang sama sebagaimana dimaksud berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
dalam Pasal 65, pegawai pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang : 9.
a. mengadakan hubungan langsung atau tidak langsung dengan Pasal 69
tersangka atau pihak lain yang terkait dengan perkara tindak pidana 1. Dengan terbentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi maka
korupsi yang ditangani Komisi Pemberantasan Korupsi tanpa alasan Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara
yang sah; sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 28
b. menangani perkara tindak pidana korupsi yang pelakunya Tahun
mempunyai hubungan keluarga sedarah atau semenda dalam garis 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas
lurus ke atas atau ke bawah sampai derajat ketiga dengan pegawai dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme menjadi bagian Bidang
pada Komisi Pemberantasan Korupsi yang bersangkutan; Pencegahan pada Komisi Pemberantasan Korupsi.
c. menjabat komisaris atau direksi suatu perseroan, organ yayasan, 2. Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara
pengurus koperasi, dan jabatan profesi lainnya atau kegiatan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tetap menjalankan
yang berhubungan dengan jabatan tersebut. fungsi, tugas, dan wewenangnya, sampai Komisi
Pemberantasan
BAB XII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 70
Komisi Pemberantasan Korupsi melaksanakan tugas dan wewenangnya paling lambat 1 (satu) tahun
setelah Undang-Undang ini diundangkan.

Pasal 71
1. Dengan berlakunya Undang-Undang ini Pasal 27 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3874) sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001
Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150) dinyatakan tidak berlaku;
2. Setelah Komisi Pemberantasan Korupsi menjalankan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 70, ketentuan mengenai Komisi Pemeriksa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 sampai
dengan Pasal 19 dalam BAB VII Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara
yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851), dinyatakan tidak
berlaku.
Pasal 72
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
TERIMA KASIH
ADA PERTANYAAN ?