Anda di halaman 1dari 37

ANALISIS AKTIVITAS

INVESTASI
Nama Kelompok :
Salma Rana Kamila S (17.05.52.0237)
Ita Tia Syafitri (17.05.52.0196)
Felicia Septiana G (17.05.52.0304)
Rahardian Suryo U (17.05.52.0288)
Laudry Aqpisna (17.05.52.0239)
A. PENGANTAR ASET
LANCAR
Aset lancar (current assets), merupakan sumber
daya yang dapat segera dikonversi menjadi kas
selama siklus operasi. (kas, piutang, biaya dibayar
dimuka). Siklus operasi, merupakan jumlah waktu dari
komitmen atas kas selama pembelian sampai
penerimaan kas dari penjualan barang atau jasa. Siklus
operasi digunakan untuk mengklasifikasikan aset
sebagai kelompok lancar dan tidak lancar. Aset lancar
diharapkan dapat dijual, dikumpulkan, atau digunakan
dalam siklus operasi. Contoh, kas, setara kas, piutang
jangka pendek, persediaan, dan biaya dibayar di muka.
1. Kas dan Setara Kas
Kas (cash), merupakan aset yang paling likuid
(penting), mencakup mata uang yang tersedia dan dana
pada deposito. Sedangkan, Setara kas merupakan
investasi jangka pendek yang sangat likuid yang mudah
dikonversi menjadi kas dan jatuh tempo sangat pendek,
sehingga memiliki risiko minimal terkait perubahan
harga akibat pergerakan suku bunga. Contoh dari setara
kas seperti surat utang negara jangka pendek dan
reksadana pasar uang.
2. Piutang
Piutang (receivable), merupakan jumlah yang harus
dibayarkan perusahaan yang timbul akibat penjualan
produk atau jasa, atau dari uang muka kepada
perusahaan lain. Piutang usaha (account receivable)
mengacu pada jumlah yang harus dibayarkan kepada
perusahaan yang timbul akibat penjualan produk dan
jasa. Wesel tagih, mengacu pada janji tertulis atas utang
yang harus dibayarkan. Piutang yang dikelompokan
sebagai aset lancar diharapkan dapat tertagih dalam
satu tahun atau satu siklus operasi.
3. Biaya Dibayar di Muka
Biaya dibayar di muka, merupakan pembayaran di
muka untuk jasa atau barang yang belum diterima.
Contohmya, pembayaran di muka untuk sewa, asuransi,
dan pajak properti. Biaya dibayar di muka biasanya di
kelompokan ke dalam aset lancar karena mencerminkan
jasa yang diberikan yang tidak akan memerlukan
penggunaan aset lancar.
B. PERSEDIAAN
Akuntansi dan Penilaian Persediaan

Persediaan (iventories), merupakan barang yang


dimiliki untuk dijual sebagai bagian dari operasi bisnis
normal perusahaan. Pentingnya metode penetapan
biaya untuk penilaian persediaan adalah karena
dampaknya pada laba neto dan penilaian aset.
Persamaan persediaan sangat berguna untuk
memahami arus persediaan. Konsep penting akuntansi
persediaan adalah arus biaya.
Dampak Penetapan Biaya Persediaan terhadap Laporan
Posisi Keuangan

Dalam periode ketika terjadi kenaikan harga dengan


mengasumsikan bahwa perusahaan sebelumya tidak
melikuidasi lapisan persediaan yang lama, metode LIFO
melaporkan bahwa persediaan akhir memiliki harga
yang jauh lebih rendah daripada biaya penggantinya.
Akibatnya, laporan posisi keuangan untuk perusahaan
yang menggunakan LIFO tidak secara akurat mewakili
investasi saat ini yang dimiliki perusahaan atas
persediaannya.
Dampak Penetapan Biaya Persediaan terhadap Arus Kas

Dalam periode kenaikan harga, perusahaan dapat


terjebak pada pengurangan arus kas karena pembayaran
pajak lebih tinggi serta harus mengganti persediaan
yang dijual pada biaya penggantian yang lebih tinggi
dari biaya pembelian awal. Hal ini dapat menyebabkan
permasalahan likuiditas, suatu permasalahan yang
sangat penting dalam periode inflasi tinggi pada tahun
1970-an.
Penetapan Biaya Persediaan untuk Perusahaan
Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi

Biaya persediaan untuk perusahaan manufaktur


terdiri dari 3 komponen :
1. Bahan baku biaya dari bahan dasar yang digunakan
untuk membuat produk
2. Tenaga kerja biaya dari tenaga kerja langsung yang
dibutuhkan untuk mengubah produk menjadi barang
jadi
3. Overhead biaya tidak langsung yang terjadi selama
proses produksi, seperti penyusutan peralatan
produksi.
C. PENGANTAR ASET
JANGKA PANJANG
Aset Jangka Panjang merupakan smber daya yang
digunakan untuk menghasilakan pendapatan operasi
(atau mengurangi biaya operasi) selama lebih dari
satu periode.
Jenis aset jangka panjang yang paling umum adalah
aset tetap berwujud seperti tanah dan bangunan,
pabrik dan peralatan. Aset tak berwujud seperti
paten, merek dagang, hak cipta dan goodwill.
1. Akuntansi Aset Jangka Panjang
• Kapitalisasi, Alokasi, dan Penurunan Nilai
Kapitalis (capitalization), menempatkan aset pada
laporan posisi keuangan dibandingkan secara
langsung membebankan biayanya pada laporan laba
rugi.
Alokasi (allocation), pembebanan biaya aste ke beban
secara periodik selama masa manfaat yang di
harapkan (periodik manfaat)
Penurunan Nilai (impairment), proses penurunan nilai
buku aset ketika arus kas yang diharapkan tidak
lebih cukup untuk menutup sisa biaya yang
dilaporkan dalam laporan posisi keuangan
2. Kapitalisasi versus Pembebanan : Dampak Laporan
Keuangan dan Rasio
Kapitalis merupakan bagian penting dalam akuntansi.
Kapitalis memengaruhi laporan keuangan dan
rasionya, serta berpengaruh terhadap superioritas
laba atas arus kas sebagai pengukuran kinerja
keuangan.
a) Dampak Kapitalisasi terhadap Laba
Kapitalis menunda pengakuan beban dalam laporan laba
rugi, menyebabkan serangkaian laba yang lebih
merata.
b) Dampak Kapitalisasi terhadap Imbal Hasil Investasi
Kapitalisasi menurunkan volatilitas pengukuran laba dan
rasio imbal hasil investasi. Kapitalitas mempengaruhi
pembilangan (laba) dan penyebut (dasar investasi)
dan rasio imbal hasil atas investasi. Sebaliknya,
pembebanan biaya aset menyebabakan dassar
investasi yang lebih rendah dan meningkatkan
volatilitas laba. Naiknya volatilitas pada pembilangan
(laba) diperbesar dengan semakin kecilnya penyebut
(dasar investasi), menyebabkan rasio imbal hasil
lebih mudah berubah dan kurang berguna.
c) Dampak Kapitalisasi terhadap Rasio Solvabilitas
Dalam pembebanan biaya aset secara langsung, rasio
solvabilitas, seperti rasio utang terhadap ekuitas,
mencerminkan kondisi perusahaan yang lebih buruk
dari kondisi yang sebenarnya, hal ini terjadi karena
dalam pembebanan biaya langsung, ekuitas
dinyatakan terlalu rendah untuk perusahaan yang
memiliki aset produktif.
d) Dampak Kapitalisasi terhadap Arus Kas Operasi
Pembebanan biaya aset secara langsung menyatakan
arus kas keluar opersi terlalu tinggi dan arus kas
keluar investassi terlalu rendah pada tahun akui sisi
dibandingkan dengan kapitalisasi biaya.
D. ASET TETAP DAN
SUMBER DAYA ALAM
1. Aset tetap
Aset tetap merupakan aset berwujud tidak lancar
yang digunakan dalam berbagai proses
manufaktur,penjualan atau jasa untuk menghasilkan
pendapatan dan arus kas selama lebih dari satu
periode.
2. Menilai Properti, Pabrik, dan Peralatan
Prinsip biaya historis digunakan saat menilai
properti,pabrik, dan peralatan. Penilaian biaya historis
menunjukan bahwa perusahaan mencatat aset sebesar
harga belinya. Biaya ini termasuk setiap beban yang
diperlukan sampai aset itu berada dalam lokasi dan
kondisi dapat digunakan. Alasan menggunakan biaya
historis terutama berhubungan dengan objectivity.
• Menilai Sumber Daya Alam
Sumber daya alam, juga disebut aset yang
dihabiskan, merupakan hak untuk mengambail atau
mengonsumsi sumber daya alam. Perusahaan
melaporkan sumber daya alam sebesar biaya historis
ditambah biaya pencarian,eksplorasi, dan
pengembangan.
• Penyusutan
Prinsip dasar dalam penentuan laba adalah bahwa
penghasilan yang memperoleh manfaat dalam
penggunaan aset jangka panjang harus menanggung
bagian proporsional dari biaya aset tersebut. Tingkat
penyusutan bergantung dua faktor, yaitu masa manfaat
dan metode alokasi.
a) Deplesi
Deplesi merupakan alokasi biaya sumber daya berdasarkan
tingkat pengolahan atau produksi. Perbedaan deplesi dan
penyusutan adalah bahwa penyusutan biasanya
merupakan alokasi biaya aset produktif sepanjang waktu,
sedangkan deplesi merupakan alokasi biaya berdasarkan
unit yang dieskploitasi dari sumber daya alam.
b) Penurunan Nilai
Penurunan nilai adalah penurunan atau penghapusan
nilai aset jangka panjang. Nilai wajar aset lebih kecil di
bawah nilai tercatat yang disusutkan pada laporan posisi
keuangan, nilai tercatat pada laporan posisi keuangan
tersebut diturunkan pada nilai wajarnya.
3. Menganalisis Aset Tetap dan Sumber Daya Alam
Penilaian aset tetap dan sumber daya alam menekan
objektivitas biaya historis. Namun biaya historis tidak
dapat dibandingkan dengan laporan perushaan yang
berbeda dan tidak berguna untuk mengukur biaya
peluang atas pelepasan atau dalam penilaian alternatif
penggunaan dana.
4. Menganalisis Penyusutan dan Deplesi
Salah satu fokus analisis penyusutan dan deplesi
adalah pada setiap revisi masa manfaat aset. Meskipun
revisi tersebut dapat menghasilkan alokasi biaya yang
lebih andal, analisis harus memperhatikan setiap
pendekatan revisi yang dilakukan, karena biasanya
digunakan dalam memindahkan ataupun meratakan laba
antar periode.
5. Menganalisis Penurunan Nilai
Dalam menganalisis penurunan ada tiga masalah
yang timbul, yaitu:
Mengevaluasi kesesuaian jumlah penurunan nilai.
Mengevaluasi kesesuaian waktu penurunan nilai.
Menganalisis dampak penurunan nilai pada laba.
E. ASET TAKBERWUJUD
Aset tak berwujud (intangible asset) merupakan hak,
keistimewaan dan manfaat dari kepemilikan atau
pengendalian.
• Beberapa kategori asset tak berwujud :
1. Goodwill
2. Paten
3. Hak cipta
4. Nama dagang
5. Merek dagang
1. Akuntansi Aset Takberwujud
a) Aset Tak berwujud yang Dapat Diidentifikasi
merupakan asset tak berwujud yang dapat
diidentifikasikan secara terpisah dan dikaitkan dengan
hak atau keistimewaan tertentu yang memiliki periode
manfaat yang terbatas. Termasuk kedalam jenis ini
antara lain paten, merek dagang, hak cipta dan waralaba
(franchise).
b) Aset Takberwujud yang Tidak Dapat Diidentifikasi
merupakan asset yang dapat dikembangkan secara
internal atau dibeli, tetapi tidak dapat diidentifikasikan
dan sering kali memiliki periode manfaat yang tidak
terbatas. Contohnya adalah goodwill.
c) Amortisasi Aset Takberwujud
ketika biaya dikapitalisasi untuk asset berwujud dan
asset tidak berwujud yang dapat diidentifikasikan, biaya
tersebut selanjutnya harus diamotisasi selama periode
manfaat asset. Lama periode manfaat ini bergantung
pada jenis asset tak berwujud, kondisi permintaan,
kondisi kompetitif dan keterbatasan hokum, kontraktual,
peraturan, atau ekonomi lainnya. Miasalnya, paten
merupakan hak eksekutif yang diberikan pemerintah
kepada para penemu (investor) untuk suatu periode
tertentu.
2. Menganalisis Aset Takberwujud
analisis sering kali memeperlakukan asset tak
berwujud dengan kecurigaan ketika menganalisis
laporan keuangan. Aset tak berwujud sering kali
merupakan salah satu asset yang lebih bernilai yang
dimiliki perusahaan, dan sangat rentan untuk
menyebabkan kesalahan penilai.
analisis juga harus berhati-hati terhadap komposisi,
peniaian, dan disposisi goodwill.
3. Aset Takberwujud dan Kontijensi yang Tidak Tercatat
pembahasan asset tidak lengkap tanpa menangani
asset tak berwujud dan kontinjensi yang tidak tercatat
pada laporan posisi keuangan. Salah satu asset penting
dalam kategori ini adalah goodwill yang dihasilkan
secara internal.
F. REVALUASI ASET
MENURUT IFRS
• Di AS aset operasi aset berwujud dan tak berwujud
dilaporkan pada laporan posisi keuangan sebesar nilai
terendah dari biaya perolehan atau nilai pasar.
• Menurut IFRS perusahaan dapat memilih untuk
melaporkan aset operasi berwujud atau tak berwujud
menggunakan model revaluasi
• Model revaluasi memungkinkan perusahaan untuk
menilai kembali aset secara periodik dan melaporkan
pada nilai wajar,bahkan jika jumlah yang dinilai
kembali lebih tinggi dari aset yang disusutkan
1. Perlakuan Akuntansi
IFRS mengizinkan aset dinaikan nilainya dalam dua
kondisi terpisah.pertama perusahaan diizinkan untuk
menilai kembali asetnya diatas biaya historis yang
disusutkan melalui pembentuk surplus
revaluasi.kedua,perusahaan diizinkan untuk membalik
penurunan nilai selama nilai yang dinaikan tidak
melebihi biaya historis yang disusutkan,meskipun kedua
provisi ini mengizinkan revaluasi aset ke atas,perincian
yang diberikan akan berbeda, sehingga perlu untuk
memeriksanya secara terpisah
a) Pengembalian Penurunan Nilai
Sebelumnya
• Penurunan nilai sebelumnya dapat dibalik
untuk aset berwujud maupun takberwujud jika
nilai aset yang diturunkan berikutnya
mengalami kenaikan.pembalikan dapat terjadi
karena berbagai alasan. Pertama,pasar dapat
membalik penurunan sebelumnya dalam nilai
aset. Kedua,kondisi bisnis yang memburuk
mengalami penurunan nilai penggunaan aset
dapat membaik dikemudian hari. Ketiga
perusahaan mungkin menemukan
penggunaan alternatif aset.
• Pembalikan penurunan nilai akan memiliki dampak
berikut pada laporan keuangan. Pertama aset dengan
pembalikan penurunan nilai akan dimasukan pada
laporan posisi keuangan sebesar nilai yang dinaikan.
Kedua,pembalikan tersebut membawa keuntungan
sehingga dalam laba neto periode bersangkutan
sehingga dimasukan ke saldo laba. Terakhir,
penyusutan periode mendatang akan ditentukan
sebagai proporsi nilai aset yang dinaikan, sehingga
nilainya lebih besar daripada sebelum dinaikan
b) Model Revaluasi
• IFRS mengizinkan perusahaan menaikan nilai
tercatat aset jangka panjang,bahkan ketika nilainya
diatas biaya historis yang disusutkan. Untuk hal ini
perusahaan harus menggunakan model revaluasi
untuk seluruh kelompok aset.
• Model revaluasi menunjukan bahwa aset akan selalu
dilaporkan sebesar nilai wajar pada laporan posisi
keuangan. Namun,model revaluasi tidak akan berlaku
jika nilai wajar aset mengalami penurunan dibawah
biaya hitoris yang disusutkan.
2. Pengungkapan Revaluasi
• Melaporkan ringkasan laporan laba rugi dan laporan
posisi keuangan, serta informasi catatan atas laporan
keuangan terkait dengan revaluasi aset. Informasi
catatan atas laporan keuangan memberikan
informasi mengenai pergerakan aset tetap dan
perincian akun cadangan revaluasi.
3. Implikasi Analisis
• Standar akuntansi mewajibkan pengukuran laba
alternatif hingga parapemakai laporan keuangan dapat
mengidentifikasi komponen laba yang berkelanjutan
dan yangtidak.
• Masalah yang harus dipertimbangkan saat
menganalisis revaluasi aset
1. Revaluasi aset dapat memperbaiki angka laporan laba
rugi
2. Angka laba umumnya terpengaruh negatif oleh
besarnya jumlah sementara yang muncul pada
revaluasi aset
3. Revaluasi seringkali dilakukan berdasarkan kebijakan
manajemen
4. Perbandingan antar waktu dapat dipengaruhi revaluasi
aset