Anda di halaman 1dari 15

BAB III

INFORMASI, DOKUMEN DAN TANDA


TANGAN

Adelia Rizma R.P (073)


Margaretha Sarah Victoria (062)
Brian Adiyatma R (106)
Abdul Aziz (087)
M. Faris Afif Putra (095)
M. ‘Athallah (080)
Penjelasan
Pasal 5 dan Pasal 6 UU ITE No. 11 Tahun
2008 mengatur mengenai “Pengakuan
informasi/dokumen elektronik sebagai alat
bukti yang sah”
Penjelasan
Pasal 8 UU ITE No 11 Tahun 2008 menjelasakan tentang
komunikasi data, namun dalam hal ini mengerucut pada
masalah waktu, yaitu waktu pengiriman dan waktu
penerimaan. Untuk lebih jelasnya mari kita masuk
kepembahasannya
Komunikasi data adalah hubungan atau interaksi (pengiriman
dan peneriman) antar sistem atau device yang terhubung
dalam sebuah jaringan, baik yang dengan jangkauan sempit
maupun dengan jangkauan yang lebih luas.
Yang dimaksud dengan media transmisi adalah Jalur transmisi yang
menghubungkan antara pengirim dengan penerima yang terdiri antara transmiter
(jenis komunikasi yang digunakan dalam melakukan komunikasi data) dan
receiver (penerima sinyal yang dikirimkan melalui media transmisi untuk
kemudian dikirimkan ke tujuan atau penerima). Waktu pengiriman ditentukan
pada saat data memasuki media transmisi (dimulai sejak memasuki transmiter).
Yang dimaksud dengan sistem informasi terakhir adalah ketika data sampai pada
tujuan atau penerima (sistem informasi atau perangkat penerima yang ditunjuk).
Penjelasan
Pasal 9 dan 10 mengatur tentang informasi dan
traksaksi elektronik pada praktik jual beli online.
Bahwa salah satu kewajiban pelaku usaha adalah
menyediakan infromasi yang lengkap dan benar
berkaitan dengan syarat kontrak, produsen dan
produk yang ditawarkan. Kemudian pelaku usaha
dapat disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Keandalan.
Penjelasan
Pasal 11 dan 12 bahwa tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum dan akibat
hukum yang sah dengan persyaratan:
 Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik terkait hanya kepada Penanda Tangan;
 Data pembuatan Tanda Tangan Elektronik pada saat proses penandatanganan
elektronik hanya berada dalam kuasa Penandatangan;
 Segala perubahan terhadap Tanda Tangan Elektronik yang terjadi setelah waktu
penandatangan dapat diketahui;
 Segala perubahan terhadap informasi Elektronik yang terkait dengan Tanda Tangan
Elektronik tersebut setelah waktu penandatangan dapat diketahui;
 Terdapat cara tertentu yang dipakai untuk mengidentifikasi siapa penandatangannya;
 Terdapat cara tertentu untuk menunjukkan bahwa penandatangan telah memberikan
persetujuan terhadap informasi elektronik terkait.
Landasan Hukum
 Asas Kepastian Hukum
Landasan hukum bagi pemanfaatan teknologi informasi dan transaksi elektronik
serta segala sesuatu yang mendukung penyelenggraanya yang dapat
pengakuan hukum di dalam dan di luar pengadilan. Sebagai contoh pasal 6 :
 Pasal 6
Dalam hal terdapat ketentuan lain selain yang di atur dalam pasal 5 ayat (4) yang
mensyaratkan bahwa suatu informasi harus berbentuk tertulis atau asli, informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik di anggap sah sepanjang informasi yang
tercantum di dalamnya dapat di akses, ditampilkan, dijamin keutuhanya, dan dapat di
pertanggung jawabkan sehingga menerangkan suatu keadaan.
Studi Kasus 1 (Bukti Elektronis)
Terbaru, dalam skandal "Papa Minta Saham" tahun atau Kasus PT Freeport Indonesia 2015 membuat Mantan
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Setya Novanto mengajukan permohonan uji materi atas Undang Undang
Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) serta Undang Undang KPK. “Pemohon merasa dirugikan dengan
ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 44 huruf b UU ITE,” ujar kuasa hukum Novanto, Syaefullah
Hamid, di Gedung Mahkamah Konstitusi Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Kamis (25 Februari 2016). Adapun dua
ketentuan tersebut mengatur bahwa informasi atau dokumen elektronik merupakan salah satu alat bukti dalam
penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di pengadilan yang sah.
Novanto juga merasa dirugikan dengan berlakunya ketentuan Pasal 26A UU KPK terkait alat bukti elektronik yang
sah. Novanto menilai bahwa ketentuan-ketentuan tersebut tidak mengatur secara tegas mengatur tentang alat
bukti yang sah, serta siapa yang memiliki wewenang untuk melakukan perekaman. "Perekaman yang dilakukan
secara tidak sah (ilegal) atau tanpa izin orang yang berbicara dalam rekaman, atau dilakukan secara diam-diam
tanpa diketahui pihak yang terlibat dalam pembicaraan secara jelas melanggar hak privasi dari orang yang
pembicaraanya direkam," kata dia. Sehingga, bukti rekaman itu tidak dapat dijadikan sebagai alat bukti karena
diperoleh secara ilegal. Majelis hakim Ketua MK Arief Hidayat pun memberikan saran perbaikan permohonan,
sebab tidak ada kedudukan hukum pemohon sebagai anggota DPR.
Sumber : Wikipedia
Tanggapan
Pakar hukum media dari Universitas Airlangga Henry Subiakto menganggap aturan
alat bukti elektronik dalam Pasal 5 ayat (1), (2) juncto Pasal 44 UU No. 11 Tahun 2008
tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sangat penting di era teknologi
informasi yang semakin pesat. Jika aturan tersebut dihilangkan, tidak ada aturan yang
dapat melindungi warga negara dari kejahatan dunia maya (cyber crime).
Menurutnya, setiap aktivitas yang terekam secara digital atau elektronik dapat
dijadikan sebagai alat bukti. Namun, apabila hal itu bersifat privat, kemudian dibuka ke
publik tanpa seizin si pemiliknya, maka hal itu bisa terancam pidana.
  “Misalnya, ada orang berkomunikasi dengan orang lain secara privat. Kemudian
salah satunya membuka pembicaraannya, apakah ini pidana atau tidak? Ya,
tergantung. Sudah diatur oleh undang-undang atau tidak? Kalau sudah diatur, dia
melanggar undang-undang, berarti dia pidana,” terangnya.
Tanggapan
Perlu adanya penjelasan lebih rinci mengenai pasal 5 dan 6 pada
UU ITE No. 11 Tahun 2008. Karena apabila hanya bukti
elektronik tetapi didapatkan dengan cara ilegal dapat
melanggar hak asasi manusia. Alhasil bukti tersebut tidak
dapat dijadikan sebagai alat bukti yang sah. Perekaman tanpa
izin/persetujuan orang yang berbicara dalam rekaman atau
dilakukan secara diam-diam tanpa diketahui pihak-pihak yang
terlibat jelas melanggar hak privasi orang yang
pembicaraannya direkam
Tanggapan Pidana
Tindakan perekaman secara ilegal telah melanggal UU ITE pasal 27 ayat
1 yang berbunyi “Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat
diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang
memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”. Kemudian sesuai dengan
ketentuan pidana pasal 45 ayat 1 orang tersebut dapat dikenakan
pidana. Pasal tersebut berbunyi “Setiap Orang yang memenuhi unsur
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau
ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”.
Studi Kasus 2
Salah satu kasus penggunaan tanda tangan digital yang tidak sah terjadi di
California, Amerika Serikat, pada tahun 2016. Kasus ini menimpa Paul Bains,
seorang pengacara yang menggunakan tanda tangan digital untuk menyatakan
kebangkrutan. Layanan tanda tangan digital yang digunakan Paul Bains
merupakan entitas ternama yang sudah digunakan oleh berbagai jaringan bisnis
di Amerika. Akan tetapi, pengadilan menetapkan bahwa tanda tangan digital
yang digunakan Paul Bains tidak sah karena tanda tangan tersebut dihasilkan
hanya lewat tombol ‘click to sign’ tanpa melalui proses autentikasi lebih lanjut.
Hakim menganggap bahwa siapa saja bisa menekan tombol tersebut sehingga
identitas penanda tangan pada dokumen tersebut tidak bisa dipastikan.
Sumber : Privy.id
Tanggapan
Jika disesuaikan dengan hukum yang terdapat di Indonesia memang benar
tanda tangan tersebut tidak sah. Karena pada pasal 12 UU ITE No. 11 Tahun
2008 telah dijelaskan “sistem tidak dapat oleh orang lain yang tidak berhak”
namun pada situs tersebut tidak ada keamanan yang terpercaya. Tanda
tangan elektronik berfungsi sebagai alat untuk memverifikasi dan
autentifikasi atas identitas penandatangganan sekaligus untuk menjamin
keutuhan dan keautentikan dokumen. Tanda tangan elektronik
mempresentasikan identitas penandatanganan yang diverifikasi berdasarkan
data pembuatan tanda tangan elektronik dimana data pembuatan tanda
tangan elektronik dibuat secara unik yang hanya merujuk kepada
penandatanganan.
Revisi UU ITE, UU ITE No. 19 Tahun 2016

 Terhadap pelaksanaan putusan Mahkamah


Konstitusi mengikuti ketentuan yang telah
direvisi pada pasal 5 yaitu menambahkan
penjelasan pada ketentuan Pasal 5 ayat (1) dan
ayat (2) mengenai keberadaan informasi
Elektronik dan/atau dokumen elektronik
sebagai alat bukti hukum yang sah.
TERIMA KASIH
KRITIK DAN SARAN DIPERSILAKAN 