Anda di halaman 1dari 63

KELOMPOK 9

SISTEM EKRESI
DAN
OSMOREGULASI
Presentator 1 Presentator 2
Nadhya Rahmawati Mina Maharot Faiqoh
Meet Our 172154089 172154076

Team

Presentator 3
Ai Anisa Asaidah
172154115
DEFINISI SISTEM EKSKRESI
Sistem
Kesatuan usaha yang terdiri atas bagian-bagian
yang saling berhubungan antara satu dengan yang
Menurut lain.

Bahasa
Ekskres
i engeluaran. Kata ini berasal dari kata dalam
Pengeluaran.
P
bahasa inggris yaitu excretion.
bahasa inggris yaitu excretion.

Menurut Istilah, sistem ekskresi adalah proses pengeluaran


zat-zat tidak berguna yang berasal dari sisa-sisa metabolisme
atau bahan yang berlebihan dari sel atau tubuh suatu
organisme sehingga tidak meracuni tubuh.
Fungsi Sistem Ekskresi

01 02
Membuang limbah yang tidak berguna Mengatur konsentrasi dan volume
dan beracun dari dalam tubuh. cairan tubuh (osmoregulasi).

03 04
Mempertahankan temperatur tubuh Homeostasis.
dalam kisaran normal
(termoregulasi).
ORGAN EKSKRESI PADA HEWAN
1. Hewan yang belum memiliki organ ekskresi

a. Protozoa
Protozoa terus menerus mengeluarkan kelebihan air dari
dalam tubuhnya untuk mempertahankan cairan tubuh yang
hiperosmotis, maka protozoa tidak harus mengeluarkan
hanya air saja tetapi juga mengganti zat-zat terlarut yang
ikut hilang.

b. Coelenterata
Coelenterate mensekresikan sisa metabolismenya melalui
proses difusi,dan ia memiliki astrosit-astrosit yaitu sel-sel
fagosit yang dapat menelan dan memindahkan zat-zat asing.
2. Hewan yang memiliki organ-organ nefridial

Organ ekskretori terdapat pada hewan memiliki tubuh bilateral


simetris,salah satu tipenya yaitu nefridial. Terdapat dua organ
utama nefridial yaitu :
a. Protonefridium, suatu pembuluh yang ujung internalnya
tertutup dan pada bagian dalam ujungnya ini memilki sel api
atau sel rambut (seperti pada Platyhelmintes)
b. Metanefridia

Metanefridia merupakan organ


pengeluaran pada beberapa cacing
Annelida yang mempunyai lubang
bersilia dan saluran dengan ujung
berpori yang terbuka ke arah
rongga tubuh.

Metanefridia cacing tanah memiliki


fungsi ekskresi sekaligus fungsi
osmoregulasi.
Digestive tract

Rectum
IntestineHindgut

Midgut Malpighian
(stomach) tubules
3. Pembuluh Malpighi Salt, water, and Anus
Feces and urine
nitrogenous
Pembuluh malpighi adalah organ wastes
Malpighian
pengeluaran pada serangga dan tubule
Artropoda darat lainnya. Organ ini Rectum
berupa saluran atau pipa yang
salah satu ujungnya buntu,
sedangkan ujung lainnya membuka Reabsorption of H2O,
ke arah usus, terletak di antara ions, and valuable
usus tengah dan rektum. HEMOLYMPH organic molecules
4. Kelenjar Hijau
Kelenjar hijau atau kelenjar
antena adalah organ
pengeluaran yang dimiliki
Crustacea yang terletak di
daerah kepala. Kelenjar hijau
memiliki suatu kantong
berujung buntu, yang disebut
the end-sac (pundi-pundi).

Pundi-pundi tersebut
berhubungan dengan saluran
nefridia dan berakhir pada
kandung kemih.
5. Ginjal
a. Pisces (Ikan)
Ikan mempunyai sitem ekskresi berupa ginjal dan satu lubang pengeluaran yang
disebut urogenital.
b. Mamalia
Pada mamalia ginjal merupakan organ utama yang melakukan proses ekskresi
dan osmoregulasi.

Pronefros Mesonefros Metanefros


Ginjal yang tumbuh Tahapan ginjal setelah Ginjal yang sudah
pada fase embrio/larva. pronefros. berfungsi pada hewan
dewasa
Sistem Ekskresi Pada Hewan
Invertebrata
Sistem ekskresi pada hewan invertebrata lebih sederhana
dibandingkan hewan vertebrata.
1. Organ Sistem Ekskresi
Makhluk Hidup Satu Sel
(Protozoa).
Makhluk hidup satu sel
mengeluarkan sisa-sisa
metabolismenya dengan cara difusi.
Karbondioksida hasil respirasi seluler
dikeluarkan dengan cara difusi.
Selain itu, ada cara lain, yaitu
dengan membentuk vakuola yang
berisi sisa metabolisme
2. Organ Sistem Ekskresi Planaria
Organ ekskresi yang paling sederhana dapat ditemukan pada
cacing pipih atau planaria. Organ ekskresi pada planaria berupa
jaringan menyerupai pipa yang bercabang-cabang, organ
tersebut bernama protonefridia. Jaringan pipa tersebut
dinamakan nefridiofor. Ujung dari cabang nefridiofor disebut sel
api (flame cell). Disebut demikian karena ujung sel tersebut terus
bergerak menyerap dan menyaring sisa metabolisme pada sel-sel
di sekitarnya. Kemudian, mengalirkannya melalui nefridiofor
menuju pembuluh ekskretori.
3. Organ Sistem Ekskresi Cacing Tanah
Cacing tanah, moluska, dan beberapa hewan invertebrata lainnya
memiliki struktur ginjal sederhana yang disebut nefridia. Struktur
tersebut terdapat di setiap segmen tubuhnya. Dalam cairan tubuh cacing
tanah yang memenuhi rongga tubuhnya, terkandung sisa metabolisme
maupun nutrien.
4. Organ Sistem Ekskresi Serangga
Alat ekskresi pada serangga, contohnya belalang adalah tubulus
Malpighi. Badan Malpighi berbentuk buluh-buluh halus yang terikat
pada ujung usus posterior belalang dan berwarna kekuningan. Zat-zat
buangan diambil dari cairan tubuh (hemolimfa) oleh saluran Malpighi di
bagian ujung. Kemudian, cairan masuk ke bagian proksimal lalu masuk
ke usus belakang dan dikeluarkan bersama feses dalam bentuk
kristalkristal asam urat.
Sistem Ekskresi Pada Hewan
Vertebrata
Pada vertebrata terdapat beberapa tipe ginjal. Di antaranya
adalah pronefros, mesonefros, dan metanefros. Pronefros
adalah tipe ginjal yang berkembang pada fase embrio atau larva.
Pada tahap selanjutnya, ginjal pronefros digantikan oleh tipe ginjal
mesonefros. Ketika hewan dewasa, ginjal mesonefros digantikan
oleh ginjal metanefros. Pada Mammalia, Reptilia, dan Aves tipe
ginjal yang dimiliki adalah mesonefros. Namun, setelah dewasa
mesonefros akan diganti oleh metanefros.
1. Organ Sistem Ekskresi Pisces (Ikan)
Ginjal pada ikan adalah sepasang ginjal sederhana yang disebut
mesonefros. Setelah dewasa, mesonefros akan berkembang menjadi
ginjal opistonefros.
Ekskresi amonia dilakukan dengan cara difusi melalui insangnya. Ikan
yang hidup di air laut, memiliki cara adaptasi yang berbeda. Ikan air
laut sangat mudah mengalami dehidrasi karena air dalam tubuhnya
akan cenderung mengalir keluar ke lingkungan sekitar melalui insang,
mengikuti perbedaan tekanan osmotik. Ikan air laut tidak memiliki
glomerulus sehingga mekanisme filtrasi tidak terjadi dan reabsorpsi
pada tubulus juga terjadi dalam skala yang kecil.
2. Organ Sistem Ekskresi Amphibi (Katak)
Tipe ginjal pada Amphibia adalah tipe ginjal
opistonefros. Katak jantan memiliki saluran
ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan
berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak
terjadi pada katak betina.
3. Organ Sistem Ekskresi Reptilia
Tipe ginjal pada Reptilia adalah metanefros. Pada saat embrio, Reptilia
memiliki ginjal tipe pronefros, kemudian pada saat dewasa berubah
menjadi mesonefros hingga metanefros. Hasil ekskresi pada Reptilia
adalah asam urat. Asam urat ini tidak terlalu toksik jika dibandingkan
dengan amonia yang dihasilkan oleh Mammalia. Asam urat dapat juga
diekskresikan tanpa disertai air dalam volume yang besar. Asam urat
tersebut dapat diekskresikan dalam bentuk pasta berwarna putih.
4. Organ Sistem Ekskresi Aves
Burung memiliki ginjal dengan tipe metanefros. Burung tidak memiliki
kandung kemih sehingga urine dan fesesnya bersatu dan keluar melalui
lubang kloaka. Urine pada burung diekskresikan dalam bentuk asam urat.
Metabolisme burung sangat cepat. Dengan demikian, sistem ekskresi juga
harus memiliki dinamika yang sangat tinggi. Peningkatan efektivitas ini
terlihat pada jumlah nefron yang dimiliki oleh ginjal burung. Setiap 1 mm3
ginjal burung, terdapat 100–500 nefron.
5. Sistem Ekskresi Pada Manusia
Fungsi sistem ekskresi pada manusia antara lain:
1. Membuang limbah yang tidak berguna dan beracun dari
dalam tubuh
2. Mengatur konsentrasi dan volume cairan tubuh
(osmoregulasi)
3. Mempertahankan temperatur tubuh dalam kisaran normal
(termoregulasi)
4. Homeostasis
1. Alat pengeluaran (ekskresi)
utama pada manusia adalah
ginjal.Ginjal atau buah pinggang
manusia berbentuk seperti kacang
merah, berwarna keunguan, dan
berjumlah dua buah. Manusia
memiliki sepasang ginjal yang
terletak di belakang perut atau
abdomen. Di bagian atas (superior)
ginjal terdapat kelenjar adrenal
(juga disebut kelenjar suprarenal).
Sebagian dari bagian atas ginjal
terlindungi oleh tulang rusuk ke
sebelas dan dua belas.Kedua ginjal
dibungkus oleh dua lapisan lemak
(lemak perirenal dan lemak
pararenal) yang membantu
meredam goncangan.
2. Kulit
Kulit merupakan lapisan tipis yang
menutupi dan melindungi seluruh
permukaan tubuh. Selain berfungsi
menutupi permukaan tubuh, kulit juga
berfungsi sebagai alat pengeluaran. Zat
sisa yang dikeluarkan melalui kulit adalah
air dan garam-garaman. Kulit terdiri dari
tiga lapisan, yitu lapisan kulit ari
(epidermis), lapisan kulit jangat (dermis)
dan lapisan jaringan ikat bawah kulit.
3. Hati
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh
manusia, terletak di dalam rongga perut sebelah
kanan, dibawah diafragma. Hati merupakan tempat
untuk mengubah berbagai zat, termasuk racun.
Seperti hati menerima kelebihan asam amino yang
akan diubah menjadi urea yang bersifat racun. Hati
menjadi tempat perombakan sel darah merah yang
rusak menjadi empedu. Empedu yang dihasilkan
akan disimpan dalam kantong empedu (bilirubin).
4. Paru-paru
Paru-paru merupakan organ
yang sangat vital bagi
kehidupan manusia karena
tanpa paru-paru manusia tidak
dapat hidup. Dalam Sistem
Ekskresi, paru-paru berfungsi
untuk mengeluarkan
Karbondioksida (CO2) dan Uap
air (H2O). Karbon dioksida dan
air yang dihasilkan pada setiap
metabolisme karbohidrat dan
lemak yang dikeluarkan dari sel-
sel jaringan tubuh dan masuk ke
dalam aliran darah. Sel darah
merah pada alveolus paru-paru
mengikat O2 dan ditransfer ke
jaringan. Setelah membebaskan
oksigen, sel-sel darah merah
menangkap karbon dioksida ini
dengan proses berantai yang
disebut “pertukaran klorida”.
DEFINISI OSMOREGULASI

Secara umum proses osmoregulasi


adalah upaya atau kemampuan untuk
mengontrol keseimbangan air dan ion
antara di dalam tubuh dan
lingkungannya melalui mekanisme
pengaturan tekanan osmose.
Pentingnya
Osmoregulasi bagi
Hewan

o Karena perubahan keseimbangan jumlah air dan zat


terlarut di dalam tubuh memungkinkan terjadinya
perubahan air atau zat terlarut menuju ke arah yang
tidak diharapkan.

o Osmoregulator hewan yang mampu melakukan


osmoregulasi dengan baik
Prinsip-prinsip Dasar Osmoregulasi

Terhadap lingkungan hidupnya, ada hewan air yang membiarkan


konsentrasi cairan tubuhnya berubah-ubah menngikuti perubahan
mediumnya (osmokonformer). Kebanyakan invertebrata laut tekanan
osmotic cairan tubuhnya sama dengan tekanan osmotic air laut. Cairan
tubuh demikian dikatakan isotonic atau isosmotik dengan medium
tempat hidupnya. Bila terjadi perubahan konsentrasi dalam
mediumnya,maka cairan tubuhnya disesuaikan dengan perubahan
tersebut (osmokonformitas).
Sistem Osmoregulasi Pada Hewan
a. Sistem osmoregulasi pada hewan
invertebrata
Secara umum, organ osmoregulasi invertebrata memakai
mekanisme filtrasi, reabsorbsi, dan sekresi yang prinsipnya
sama dengan kerja ginjal pada vertebrata yang
memproduksi urin yang lebih encer dari cairan tubuhnya.
a. Osmoregulasi pada serangga
Kehilangan air pada serangga terutama terjadi
melalui proses penguapan. Hal ini dikarenakan
serangga memiliki ratio luas permukaan tubuh
dengan masa tubuhnya sebesar 50 kali.

b. Osmoregulasi pada Annelida


Cacing tanah seperti Lumbricus terestris
merupakan regulator hiperosmotik yang efektif.
Hewan ini secara aktif mengabsorbsi ion-ion.
Urine yang diproduksinya encer, yang secara
esensial bersifat hipoosmotik mendekati
isoosmotik terhadap darahnya.
c. Osmoregulasi pada Molusca
Pada tubuh keong/siput memiliki permukaan
tubuh berdaging yang sangat permeable
terhadap air. bila dikeluarkan dari cangkangnya,
maka air akan hilang secepar penguapan air
pada seluas permukaan tubuhnya. Banyak
spesies keong yang menyimpan air didalam
rongga mantelnya yang rupanya digunakan
pada liungkungan kering.
b. Sistem osmoregulasi pada hewan
Vertebrata

a. Osmoregulasi pada ikan


Ikan-ikan yang hidup di air tawar mempunyai cairan tubuh
yang bersifat hiperosmotik terhadap lingkungan, sehingga air
cenderung masuk ketubuhnya secara difusi melalui
permukaan tubuh yang semipermiable. Bila hal ini tidak
dikendalikan atau diimbangi, maka akan menyebabkan
hilangnya garam-garam tubuh dan mengencernya cairan
tubuh, sehingga cairan tubuh tidak dapat menyokong fungsi-
fungsi fisiologis secara normal. Ginjal akan memompa keluar
kelebihan air tersebut sebagai air seni. Ginjal mempunyai
glomerulus dalam jumlah banyak dengan diameter besar. Ini
dimaksudkan untuk lebih dapat menahan garam-garam
tubuh agar tidak keluar dan sekaligus memompa air seni
sebanyak-banyaknya.
b. Osmoregulasi pada Reptilia
Hewan dari kelas reptile, meliputi ular, buaya,
dan kura-kura memiliki kulit yang kerimg dan
bersisik. Keadaan kulit yang kering dan bersisik
tersebut diyakini merupakan cara beradaptasi
yang baik terhadap kehidupan darat, yakni agar
tidak kehilangan banyak air.

c. Osmoregulasi pada Aves


Pada burung pengaturan keseimbangan air
ternyata berkaitan erat dengan proses
mempertahankan suhu tubuh. Burung yang
hidup didaerah pantai dan memperoleh
makanan dari laut (burung laut) menghadapi
masalah berupa pemasukan garam yang
berlebihan.
d. Osmoregulasi pada Mammalia
Pada mamalia kehilangan air dan garam dapat
terjadi lewat keringat. Sementara, cara mereka
memperoleh air sama seperti vertebrata
lainnya, yaitu dari air minum dan makanan.
Pengaruh Lingkungan Terhadap Osmoregulasi
Lingkungan Hidup Hewan

Pada dasarnya lingkungan hidup hewan dapat dibagai


menjadi lingkungan air dan lingkungan darat. Lingkungan air
masih dibedakan menjadi lingkungan air laut dan air tawar.
Sedikit sekali hewan darat yang benar-benar telah
meninggalkan lingkungan air.
Misalnya serangga dan beberapa hewan darat yang lain,
meskipun dianggap paling berhasil beradaptasi dengan
kehidupan didarat, namun hidupnya sedikit banyak masih
berhubungan langsung dengan air tawar. Kebanyakan hewan
selain serangga, hidup didalam air atau sangat tergantung
pada air.
FISIOLOGI GINJAL
DIURESIS
SUSUNAN URIN
Fisiologi Ginjal

Ginjal adalah organ yang mempunyai pembuluh darah


yang sangat banyak (sangat vaskuler) tugasnya
memang pada dasarnya adalah
“menyaring/membersihkan” darah. Aliran darah ke ginjal
adalah 1,2 liter/menit atau 1.700 liter/hari, darah
tersebut disaring menjadi cairan filtrat sebanyak 120
ml/menit (170 liter/hari) ke Tubulus.

Ginjal vertebrata : ikan, amfibi,


Reptil, burung dan Mamalia,
prinsip-prinsip fungsi filtrasi
reabsorpsi dan sekresi tubulus
adalah sama.
Struktur ginjal yang paling primitif pada
vertebrata disebut akrinefros atau
holonefros.Pada prinsipnya terdapat tipe ginjal
pada vertebrata, yaitu pronefros,mesonefros, dan
metanefros
Pronefros adalah ginjal yang berkembang pada fase
embrio vertebrata selain mamalia, embrio berudu dan
larva amphibia,pronefros, digantikan oleh mesonefros.
Mesonefros merupakan ginjal pada bagian embrio
sebagian vertebrata, ikan dewasa, mesonefros akan
berubah
menjadi metanefros selama masa perkembangan embrio.
Fungsi ginjal adalah

a)      memegang peranan penting dalam pengeluaran


zat-zat toksis atau racun,

b)      mempertahankan  keseimbangan cairan tubuh,

c)      mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa


dari cairan tubuh, dan

d)     mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein


ureum, kreatinin dan amoniak.

e)     Mengaktifkan vitamin D untuk memelihara kesehatan


tulang.

f)     Produksi hormon yang mengontrol tekanan darah.

g)    Produksi Hormon Erythropoietin yang membantu


pembuatan sel darah merah.
Ginjal menyaring volume darah setiap 4-5
menit. Lapisan luar ginjal adalah korteks,
dikombinasi oleh kapsul jaringan ikat yang kuat.
Lapisan dalam ginjal berupa medula.

Ginjal filtasi-reabosorpsi dapat memproses hasil


berupa cairan dalam jumlah besar serta lebih
dari 99% volume yang difilter direabsorpsi dan
kurang dari 1% diekskresikan sebagai urin
Semua vertebrata dapat memproduksi urin yang
isotonik dan hipotonik terhadap darah.
 Hewan air laut tidak dapat membuang
kelebihan garam sebagai urin encer atau urin
isotonic
 Mamalia laut memiliki ginjal yang mampu
mengkonsentrasi urin serta hewan ini dapat
mengatasi masalah garam dengan kelenjar
ekstrarenal.
 mamalia darat kemampuan memproduksi
urin yang kental merupakan hal yang sangat
penting untuk menjaga keseimbangan air.
 burung dan reptile mengekskresikan asam
urat, memungkinkan mereka untuk
menghasilkan urin setengah padat.
Nefron sebagai Unit Fungsional Ginjal
Nefron merupakan organ fungsional terkecil
penyusun ginjal yang merupakan organ
pengeluaran utama pada vertebrata yang
nantinya membentuk urin dan nefron juga
berfungsi untuk memelihara kekonstanan
komposisi ekstraseluler tubuh. Berdasarkan
letaknya dalam ginjal, nefron dapat dibedakan
antara nefron korteks dan nefron juxtamedula.
Nefron terbagi menjadi tiga wilayah utama yaitu
tubulus proksimal, lengkung Henle, dan tubulus
distal. Tubulus proksimal terdiri dari kapsula
Bowman dan tubulus proksimal, lengkung Henle
terdiri dari saluran turun dan saluran naik,
sedangkan tubulus distal, terdiri atas saluran
pengumpul.
Fisiologi ginjal:
Mekanisme Pembentukan
Urin
Pembentukan urin pada vertebrata melalui tiga proses,
yaitu
1. Ultafiltrasi glomerular
2. Reabsorpsi tubular
3. sekresi tubular
Ultrafiltrasi
Pembentukan ultrafiltrasi dimulai dari
proses ultrafiltrasi yang berlangsung
didalam glomerulus. Ultrafiltrasi adalah
proses perpindahan plasma darah dari
molekul glomerulus menuju ke Kapsula
Bowman’s dengan menembus membrane
filtrasi. Dimana membrane filtrasi tersusun
atas 3 lapisan, yaitu lapisan sel
endothelium glomerulus, membran kapiler
dan epitel kapsula bowman, meski
membrane filtrasi merupakan mebran yang
relative tipis.

Ultrafiltrasi juga ditunjang faktor-faktor lain, yaitu


permukaan filtrasi yang luas, penampang arteriol aferen
lebih kecil daripada arteriol eferen dan membran filtrasi
yang relative tipis dengan pori-pori yang banyak.
FILTRASI
• Membran glomerulus: fenestra lapisan
endotel kapiler, membran/lamina basalis,
diafragma & celah lapisan epitel kapsula
bowman.
• Membran: sangat permeabel thd air &
kristaloid (solut bermolekul kecil), tidak
permeabel thd molekul besar, yaitu koloid
(protein plasma)
Filtrasi Glomerulus
•Filtrat glomerulus (ultrafiltrat): cairan bebas
protein & mengandung kristaloid dgn kadar =
plasma; kristaloid yg terikat dg protein sulit
melewati membran, shg kadar kristaloid ≠
plasma
Faktor yang berperan dlm filtrasi
Tekanan filtrasi (Starling forces), ditentukan
oleh:
1. Tekanan yg mendorong filtrasi:
- tekanan hidrostatik di kapiler glomerulus
- tekanan onkotik dlm kapsula bowman (krn
hampir tdk
ada protein, πKB=0
2. Tekanan yg melawan filtrasi:
- tekanan hidrostatik di kapsula bowman
- tekanan onkotik protein plasma dlm kapiler
glomerulus
Sel-sel kapiler glomerulus yang berpori
(podosit), memiliki tekanan serta permeabilitas
yang tinggi mempermudah proses penyaringan
pada glomerulus. Selain penyaringan, di dalam
glomelurus juga terjadi penyerapan kembali sel-
sel darah, keping darah, dan sebagian besar
protein plasma.
Reabsorpsi tubular
Reabsorpsi tubular merupakan proses
perpindahan cairan dari tubulus renalis
menuju darah dalam kapiler petribular.
Filtrat glomerular mengandung zat-zat
seperti terdapat dalam plasma kecuali
protein darah yang berukuran besar yang
tidak dapat menembus dinding kapiler
glomerulus, sedangkan beberapa zat
penting seperti glukosa dan asam amino
mengalami reabsorpsi
Reabsorpsi natrium dibagian
tubulus distal dikendalikan oleh
hormone aldosteron (hormone steroid
dari korteks anak ginjal). Reabsopsi
tubulus pada ginjal ini dipengaruhi
oleh hormone ADH, dimana ADH
dapat meningkatkan permeabilitas
membran sel pada tubulus ginjal
sehingga jumlah air yang direabsopsi
meningkat dan volume urin yang
dihasilkan berkurang.
Sekresi tubular

Proses sekresi tubular memungkinkan ginjal


meningkatkan konsentrasi zat-zat yang diekskresikan
misalnya H+, K+, obat-obatan dan berbagai zat organik
asing. Sekresi tubular ini sebagian besar berlangsung
pada tubulus distal.
Pada ginjal ikan bertulang keras, reptil dan burung
sekresi tubular merupakan proses yang lebih
berkembang dibandingkan daripada ginjal mamalia. Ikan
laut bertulang keras mensekresikan secara aktif
magnesium dan sulfat dalam jumlah yang besar. Reptil
dan burung mengekskresikan asam urat, yang secara
aktif diekskresikan oleh epitelium tubular, asam urat ini
sukar larut, sehingga membentuk Kristal-kristal didalam
urin dan memerlukan sedikit air untuk ekskresi.
Diuresis
Diuretika adalah zat – zat yeng
memperbanyak pengeluaran  urine
(diuresis) akibat pengaruh langsung
terhadap ginjal. Zat – zat lain yang
meskipun juga menyebabkan diuresis
tetapi tidak mempengaruhi ginjal secara
langsung, adalah :
 Obat – obat yang memperkuat kontraksi
jantung, misalnya Digitalis, Teofilin, dll.
 Zat – zat yang memperbesar volume darah,
seperti Plasma, Dextran.
 Zat yang merintangi sekresi hormon anti
diuretik, misalnya air, alkohol, dan larutan –
larutan hipotonik.
 
Proses diuresis dimulai dengan proses filtrasi yang terjadi di glomeruli,
yang hasilnya berupa ultra filtrat (mengandung air dan elektrolit), ditampung
pada kapsul Bowman yang terdapat disekeliling glomeruli.

Mekanisme Kerja: Kebanyakan diuretika bekerja dengan mengurangi


reabsorpsi ion – ion Na+, sehingga pengeluarannya bersama air diperbanyak.
Obat ini bekerja khusus terhadap tubuli ginjal pada tempat yang berlainan,
yaitu : Pada tubuli proksimal, disini 70% ultra filtrat diserap kembali (Glukosa,
Ureum, ion Na+ dan Cl- ). Filtrat tidak berubah dan tetap isotonik terhadap
plasma. Diuretik osmotik (Manitol, Sorbitol, Gliserol) juga bekerja di tempat ini
dengan mengurangi reabsorpsi  ion   Na+ dan Cl- .Pada lengkungan Henle
(Henle’s loop) 20% ion Cl- diangkut secara aktif ke dalam sel tubuli dan disusul
secara pasif oleh ion  Na+, tetapi tanpa air, sehingga filtrat  menjadi hipotonik
terhadap plasma
SUSUNAN Urin
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa Struktur komposisi urin
yang diekskresikan oleh ginjal yang kemudian akan
dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi.
Eksreksi urin diperlukan untuk membuang molekul-
molekul sisa dalam darah yang disaring oleh ginjal
dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh.
Namun, ada juga beberapa spesies yang
menggunakan urin sebagai sarana komunikasi
olfaktori. Urin disaring di dalam ginjal, dibawa
melalui ureter menuju kandung kemih, akhirnya
dibuang keluar tubuh melalui uretra.
BERKEMIH
Ureter
 Ureter adalah tabung/saluran yang
menghubungkan ginjal dengan
kandung kemih.
 Panjangnya 25-30 cm.
 Pesarafan Ureter: pars abdominalis
dan pars pelvina.
 Tempat penyempitan pada ureter:
uretero-pelvic junction, tempat
penyilangan ureter dengan vassa
iliaca dengan flexura marginalis dan
muara ureter ke dalam
vesicaurinaria.
LAPISAN URETER
1. Dinding luar
jaringan ikat
(jaringan
fibrosa)
2. Lapisan tengah
(otot
polos/muskular
)
3. Lapisan
sebelah dalam
(lapisan
Pada lapisan dindjng ureter terjadi gerakan peristaltik
mukosa)
setiap 5 menit sekali yang mendorong urine melewati
ureter.
Kandung Kemih
 Merupakan kantung
berongga.
 Volumenya dapat
disesuaikan dengan
kontraktil otot polos di
dindingnya.
 Dindingnya mempunyai
lapisan otot yang kuat.
 Organ ini mempunyai fungsi
sebagai reservoir urine
(200-400 cc)
Pengisian Kandung Kemih
FISIOLOGI
BERKEMIH
Kontraksi peristaltik yang teratur
timbul 1-5 kali tiap menit akan
mendorong urine dari pelvis renal
menuju kandung kemih,

Urine akan masuk secara periodic


sesuai dengan gelombang
peristaltiik

Ureter menembus dinding kandung


kemih secara miring.
Pengosongan Kandung Kemih
 proses berkemih akan berlangsung
baik akibat reflex berkemih yang
menghasilkan serangkaian kejadian
berupa relaksasi otot lurik uretra,
kontraksi otot detrusor, dan
pembukaan dari leher kandung kemih
dan uretra.

 Sistem saraf perifer dari saluran kemih


bawah terutama terdiri dari sistem
saraf otonom.

 Peranan sistem parasimpatik pada


proses berkemih berupa kontraksi otot
detrusor kandung kemih.
Fisiologi
Proses Miksi

 Distensi kandung kemih oleh urin dengan jumlah kurang


lebih 250 cc akan merangsang reseptor tekanan yang
terdapat pada dinding kandung kemih.
 angsangan yang menyebabkan kontraksi kandung
kemih dan relaksasi sfingter interus dihantarkan melalui
serabut-serabut parasimpatik.
 Bila terjadi kerusakan pada saraf-saraf tersebut maka
akan terjadi inkontinensia urin (kencing keluar terus-
menerus tanpa disadari) dan retensi urin (kencing
tertahan)
Uretra

 Saluran semit yang berpangkal


pada kandung kemih
 Berfungsi menyalurkan urin
keluar yang diekresikan oleh
tubuh melalui ginjal, ureter,
vesica urinaria
 Berfungsi menyalurkan air
kemih keluar
Kelainan Sistem
Urinaria

Glomerulonefritis Sindrom Nefrotik Gagal Ginjal Kronik


Kelainan Sistem
Urinaria

Kanker Kandung Kemih Infeksi Saluran Kemih Batu ginjal


THANK YOU
Does anyone have any questions?