Anda di halaman 1dari 4

• ISOLASI SENYAWA SESKUITERPENOID

A. Ekstraksi

Sekitar 1,2 kg bahan tanaman diekstraksi dengan 6 L n-heksana dalam botol kaca.

Lalu botol di putar pada kecepatan 200 rpm selama sehari

Supernatan disaring, dipekatkan menggunakan rotary evaporator pada 50 ° C

Dipindahkan ke dalam gelas sebelum ditimbang

Prose yang sama di ulang sebanyak 3x

Residu tanaman yang sama diekstraksi dalam urutan sebagai berikut : 6 L


diklorometana, etil asetat, aseton, dan metanol.
• UJI AKTIVITAS

B. Uji Aktivitas Anti Bakteri


 Microorganisme yang digunakan
• Digunakan Bakteri gram positif (Staphylococcus aureus dan Enterococcus faecalis) dan bakteri gram
negatif (Escherichia coli dan Pseudomonas aeruginosa)
• Kultur bakteri dipertahankan pada nutrien agar pada suhu 4°C dan diinokulasi dan diinkubasi pada suhu
37 ° C selama 12 jam sebelum tes skrining.

 Uji aktivitas antibakteri kuantitatif dengan metode pengenceran mikrobroth


• Aktivitas antibakteri dievaluasi dengan penentuan konsentrasi penghambatan minimum (MIC) untuk setiap
ekstraksi E. faecalis, E. coli, P. aeruginosa dan S. aureus mengikuti metode mikro-pengenceran yang
dikembangkan oleh Eloff.
C. Isolasi senyawa antibakteri dengan fraksinasi oleh bioassay

• Sebanyak (102,88 g) ekstrak kasar dimasukan kedalam kolom berukuran (35 × 4 cm) dengan
silika gel 60 dan dielusi menggunakan campuran pelarut yang meningkatkan polaritas n-
heksana/etil asetat dan etil asetat/metanol.
• Lima belas fraksi (1-15) dikumpulkan dan dianalisis pada TLC.
• Fraksi 10-30% n-heksana selanjutnya difraksinasi pada kromatografi kolom lain yang dielusi
hingga 100% etilasetat.
• Sub-fraksi dikumpulkan dan dikelompokkan menjadi 10 sub-fraksi (F1-F10) berdasarkan profil
TLC.
• Subfraksi F1, F3 dan F7-F9 dikombinasikan berdasarkan profil TLC untuk membuat satu sub-
fraksi yang selanjutnya dimurnikan menggunakan kromatografi kolom pada silika gel 60 dan
dielusi dengan etil asetat:aseton (70:30).
• Sub-fraksi iii – v dari lima sub-fraksi yang dikumpulkan diberi label senyawa 1 hingga 4 dan
dibiarkan kering. Lalu diuji aktivitas biologisnya dan profil spektral yang dengan Panjang
gelombang 400 NM dengan spektrofotometer.
D. Uji Aktivitas Senyawa Biologis

Aktivitas antibakteri dengan uji dilusi mikro broth


• Senyawa dilarutkan kembali dalam aseton dengan konsentrasi akhir 1000 μg / mL.
• Menyiapkan dua kali seri pengenceran dari senyawa (250-1,95 μg / mL) dalam pelat mikrotiter.
• Semua sampel diuji dan direplikasi sebanyak 3 kali.
Uji aktivitas anti-inflamasi
• Uji ini menggunakan stimulan seperti lipopolysaccharide (LPS) untuk menginduksi oxidative stress dan
dihydrodichloro flororescein diacetate (H2DCF-DA) untuk mendeteksi keberadaan reactif oxygen species
(ROS) yang berlebih.
Uji Sitotoksisitas
• Efek toksik dari senyawa-senyawa ditentukan dengan metode (MTT).