Anda di halaman 1dari 40

GOLONGAN DARAH

ABO DAN RH

Wiwi Rumaolat, S.Pd.,M.si.Med


GOLONGAN DARAH ABO

PENDAHULUAN

Awal abad 20, Karl Landsteiner memperagakan


dengan uji silang setetes sampel darah dengan yang
lainnya, beberapa dapat berbaur tanpa ada reaksi,
sedangkan yang lainnya bereaksi secara kuat,
menimbulkan aglutinasi (pengumpalan) dari sel-sel
darah merah.
Ada dua antigen sel darah merah : antigen A dan
antigen B.

Dalam golongan ABO, dimungkinkan bagi sel- sel


darah merah memiliki salah satu, keduanya,
serta tidak sama sekali antigen-antigen itu
dipermukaan.
Gambar : a. perbandingan sel darah dan plasma secara
keseluruhan yang terpisah dengan gaya gravitasi. b.
Bekuan darah dalam serum
PENGERTIAN

Sel – sel darah yang hanya memiliki antigen A


di sebut golongan A, dan yang hanya memiliki
antigen B di sebut golongan B,

Sedangkan yang mempunyai kedua antigen


yaitu A dan B disebut golongan AB,

Sel-sel yang tidak memiliki kedua antigen


tersebut, disebut golongan O.
Keberadaan antibodi-antibodi anti-A dan anti-B
didalam serum berlainan, sesuai dengan antigen-
antigen AB yang ada pada sel-sel darah merah.

Golongan Antigen Antibodi


darah pada sel-sel dalam serum
A A Anti-B
B B Anti-A
AB A dan B Tidak ada
O Tidak ada Anti-A dan anti-B
Ada 2 definisi yang penting pada
golongan darah :
 Genotif :
gen-gen yang diturunkan dari masing-masing golongan
darah orang tua yang ada pada kromoson.
 Fenotif :
Efek yang bisa terlihat dari gen-gen yang diwariskan,
misalnya golongan darah itu sendiri ( A, B, O ).

Gen A dan B bersifat dominan atas gen O, jadi fenotif A


dapat berasal dari salah satu, yaitu genotip AA atau AO, hal
yang sama berlaku juga untuk fenotif B.
Kemungkinan kombinasi-kombinasi dari
gen-gen dan golongan darah yang
terbentuk :

Genotif Golongan darah ( fenotif )


AA A
AO A
BB B
BO B
AB AB
OO O
Gambar pohon keluarga golongan darah ABO :

Genotip : AO BO

 Genotip : AB AO BO OO

 Fenotif : AB A B O
PENAMPILAN GOLONGAN DARAH ABO.
Anti-A, hanya bereaksi dengan antigen golongan A
dan Anti-B hanya bereaksi dengan antigen golongan
B. Dengan memakai reagen, dapat ditentukan
golongan ABO sel darah.
Tetapi untuk menentukan golongan darah secara
lengkap, tidak sempurna bila hanya menguji pada
sel-sel darah merah saja, karena hanya diketahui
separuh dari golongan misalnya golongan sel darah
merah.
Sehingga diperlukan suatu reverse grouping test
(test pengolongan terbalik), dengan menguji serum
terhadap sel darah merah A dan B yang telah
diketahui sebelumnya.
Penggunaan sel-sel golongan O ketika
melakukan pengujian sesuatu serum.

Sel-sel golongan O perlu dilibatkan ketika pengujian


serum, sebab beberapa donor dapat saja memiliki
atibodi-antibodi di dalam serumnya yang bukan anti-A
atau anti-B.

Antibodi-antibodi ini secara alamiah tidak diharapkan


ada, sehingga mereka disebut sebagai antibodi-
antibodi ireguler.
PERKEMBANGAN ANTIGEN-ANTIGEN A
dan B SEL DARAH MERAH

Secara normal anti-A dan anti-B amat lemah saat


lahir, dan antibodi-antibodi ini mungkin tidak dapat
ditampilkan hingga bayi itu mencapai umur tiga
bulan.

Karena itu disepakati bahwa kalau melakukan


penggolongan sampel darah dari tali pusat atau bayi
baru lahir, hanya golongan sel darah merah saja yang
perlu diuji.
Gambar: sistem ABO, antigen, antibody
dan pasangannya
MACAM – MACAM SUBGOLONGAN
ANTIGEN – A

 Tahun 1911, telah diketahui bahwa sistem ABO


ternyata lebih rumit daripada yang sebelumnya
dikenal. Ketika ternyata jelas terlihat bahwa
golongan darah A secara serologi dan genetik terbagi
dalam 2 subgolongan yang amat berbeda yaitu A1
dan A2. Hal yang sama juga didapati bahwa golongan
darah AB juga terbagi atas A1B dan A2B.
Tabel ringkasan dari subgolongan
antigen A

Sub-gol.A Frek Antibodi yg Antibodi yg


selalu ada kadang-kadang ada

AI 80 % Anti-B Tidak ada


A2 20 % Anti-B Anti-AI dalam 2 % kasus
AIB 80 % Tidak ada Tidak ada
A2B 20 % Tidak ada Anti-Ai dalam 25 % kasus
ANTI-AB DAN ANTI-A

Anti – AB
Merupakan hal yang biasa untuk memasukan anti-AB sebagai
bagian dari tes penggolonggan darah untuk meyakinkan
bahwa antigen-antigen A dan B yang lemah tidak lolos dari
tes rutin.
Anti-A dan Anti-B dalam gabunggan antibodi-antibodi ini
mempunyai afnitas lebih besar pada antigen-antigen yang
lemah, serta akan bereaksi kuat dengannya, walaupun yang
spesifik mungkin akan gagal bereaksi.
Anti-AB tidak diperlukan untuk menguji sel-sel darah merah
pasien, tetapi dianjurkan untuk pengolongan darah donor.
Anti-A

Anti-A mempunyai gabungann dua antibody :


Anti-A yang mengaglutinasi sel-sel AI,A2,AIB,
dan A2B
Anti-AI yang hanya mengaglutinasi sel-sel AI /
dan AIB

Pencampuran serum Anti-A dengan sel-sel A2


memisahkan kedua antibody, meninggalkan Anti-AI
dalam serum. Serum ini dapat di gunakan untuk
membedakn subgolongan AI dan A2. Tabel berikut
memperlihatkan reaksi-reaksi serologi dengan Anti-A,
Anti-Ab dan Anti-AI.
Tabel : reaksi-reaksi serologi dengan
Anti-A, Anti-Ab dan Anti-AI.

AI A2 AIB A2B
Anti-A + + + +
Anti-AB + + + +
Anti-AI + - + -
STATUS SEKRETOR

Antigen-antogen A dan B tidak hanya ditemui pada sel-sel


darah merah, tetapi juga pada orang-orang yang
disebut sekretor.
Antigen-antigen tersebut dapat terlarut dalam
serumnya.
Sekitar 80% orang-orang mewarisi gen yang dapat
membuat antigen-antigen ini. Pada pelaksanaan
pelayanan transfusi, hal ini tidak terlalu
berpengaruh.
IGM DAN IGG (YANG ALAMIAH TERJADI
DAN IMUN) ANTI-A DAN ANTI-B

Pada setiap orang, kecuali golongan AB, akan


membuat Igm Anti-A atau Anti-B. Hal ini
sebagai akibat stimulasi oleh antigen-antigen
mirip A dan B yang biasanya ada di lingkungan,
makanan, dll.
Bila seseorang mempunyai IgG Anti-B, kadar
IgM Anti-AB-nya biasanya tinggi, dan istilah
“Titer Anti-AB tinggi” atau “Titer O tinggi“
digunakan. Serum ini akan sering melisiskan
sel-sel A atau B pada test pengolongan
kebalikan (reverse).
Antibodi-antibodi yang bertiter tinggi ini
penting dalam dua keadaan :

Transfusi darah golongan O atau plasmanya


kepada orang yang bukan golongan O

Pada kehamilan, bila ibu O sedangkan


bayinya A atau B
GOLONGAN DARAH Rh.

Pentingnya sistem golongan Rh, ditemukan olah Levine dan


stetson pada tahun 1939.
Ketika sesudah melahirkan bayi-lahir-mati, seorang pasien
membutuhkan transfusi darah ABO, ternyata terjadi reaksi
transfui yang fatal. Penelitian laboratarium, ternyata serum si ibu
mempunyai suatu antibody yang ireguler yang beraksi kuat
dengan sel-sel darah merah janinya.
Sekitar 83 % antibody si ibu beraksi dalam populasi yang acak jika
di bandingkan dengan yang terdahulu ditemukan lansteiner dan
weiner, tampaklah bahwa mereka memiliki ciri-ciri yang mirip.
DASAR GENETIK SISTEM Rh
Sistem Rh ini, jauh lebih rumit daripada sistem ABO.
Sistem Rh memiliki enam gen, yaitu Cc, Dd, dan Ee dan
memiliki lima antigen Cc, D dan Ee Tidak ada antigen yang
dibuat oleh gen d.
Gen-gen Rh selalu ada didalam bentuk bertiga, dengan
satu set diperoleh dari tiap orang tua. Gen-gen ini dapat
muncul di tiap kombinasi, seperti Cde, cDE, cdE dan
sterusnya. Kombinasi gen-gen pada orang tua menentukan
kombinasin gen pada anaknya, tetapi yang paling penting
ada tidaknya gen D.
Pohon keluarga yang memperlihatkan dua D positif orangtua
dapat memperoleh keuturunan anak D negatif.

Genotip : D/d D/d

Genotip : D/D D/d D/d


Genotip : D pos D pos D neg
KEPENTINGAN PENGGOLONGAN Rh D

Dalam pelaksanaan transfusi, penting untuk


memastikan pasien-pasien Rh D negatif
menerima darah Rh D negatif. Khususnya
transfusi pada wanita (dengan pengecualian
pada wanita yang telah melewati masa subur)

Sebab transfusi darah Rh D positif yang


sembarangan kepada anak perempuan atau
wanita dengan Rh negatif secara normal akan
merangsangnya membuat anti Rh D.
Anti-D adalah suatu antibodi
IgG, dapat melewati plasenta di
setiap kehamilan Rh D positif
dan merusak sel-sel darah
merah janin

Haemolytic of the newborn.


ANTIGEN Rh D
Secara normal sel-sel darah merah Rh D positif akan
beraglutinasi bila diuji dengan serum anti-D,
Sedangkan sel-sel darah merah Rh D negatif tidak akan
beraglutinasi.
Tetapi, terdapat sejumlah sel-sel yang akan bereaksi
seperti Rh D positif bila diuji dengan beberapa macam
reagen anti-D,
Juga akan bereaksi negatif bila diuji dengan yang lain.
Jenis sl-sel seperti ini disebut sel-sel “Dµ”.
Istilah Dµ digunakan untuk penampilan yang
lemah dari antigen D yang normal, atau dengan
perkataan lain lebih sedikit antigen D per sel
dibandingkan keadaan normal. Hal ini adalah
suatu sifat yang diwariskan. Sebab terdapat
sedikit perbedaan dalam reagen-reagen anti-D,
sel-sel Dµ ini bisa bereaksi dengan kekuatan yang
berbeda terhadap reagen-reagen yang berbeda.
PENGUJIAN UNTUK Dµ
Pengujian untuk Dµ memakai suatu reagen anti-D dengan
indirect antiglobulin tes.
Jika suatu tes Dµ diperlukan, harus dilakukan dengan suatu
reagen yang sudah distandarisasi untuk tes Dµ.
Jika cara tersebut tidak memakai reagen kontrol, maka suatu
direct globulin test (DAT) diperlukan.
Bila hasil dari reagen kontrol atau DAT positif, tes itu keliru
dan pasien itu mesti dianggap sebagai Rh D negatif.
Darah dari seorang donor dengan DAT positif atau tes kontrol
positif mestinya tidak diberikan untuk transfusi.
D PARSIAL
Istilah D parsial digunakan untuk menerangkan
suatu golongan yang amat jarang di masyarakat
yang dinyatakan D positif, tetapi membuat anti-D
yang bereaksi dengan seluruh sel-sel D positif,
kecuali dengan dirinya sendiri dan orang-orang yang
sama jenis golongan D parsial.

Pada orang-orang ini, sebagian dari antigen D yang


normal hilang dan mereka dapat membuat suatu
anti-D atas bagian yang hilang itu.
Kadang-kadang mereka dianggap sebagai kategori
D atau varian D.

Adalah tidak mungkin untuk dapat mengetahui


jenis mereka yang jarang itu dengan test rutin atau
tes Dµ, mereka dikenali kalau membuat anti-D.

Hal ini adalah kejadian yang amat langka, tetapi


anda tidak boleh melupakannya ketika menyelidiki
antibodi yang tidak lazim.
PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH
 Prinsip pemeriksaan : Aglutinasi sel darah
merah dengn anti sera tertentu
 Tujuan pemeriksaan : Untuk memgatahui
golongan darah seseorang
 Persiapan pasien : Tidak diperlukan
 Alat yang diperlukan
Kaca obyek
Lancet
Kapas alkohol
Reagen : 1 set anti sera yang berisi :
Serum anti A
Serum anti B
Serum anti AB
Anti Rh faktor
Cara pemeriksaan :

1. Taruhlah pada sebuah kaca


obyek :
 1 tetes serum anti A

 1 tetes serum anti B

 1 tetes serum anti AB

 1 tetes anti Rh faktor


2. Setetes kecil darah
kapiler atau vena
diteteskan pada serum-
serum tersebut diatas.
Campurkan dengan
ujung lidi, satu lidi untuk
satu macam campuran
3. Goyangkan kaca objek
dengan membuat
gerakan melingkar
selama 4 menit
4. Lihat bagian mana yang
ada aglutinasinya.
Hasil :
Bila :
 Anti A Aglutinasi positif

 Anti B aglutinas negatif Golongan darah A


 Anti AB aglutinasi positif

 Anti A Aglutinasi negatif

 Anti B aglutinasi positif Golongan darah B


 Anti AB aglutinasi Positif
 Anti A aglutinasi Positif
 Anti B aglutinasi Positif Golongan arah AB
 Anti AB aglutinasi Positif
 Anti A aglutinasi negatif
 Anti B aglutinasi negatif Golongan darah O
 Anti AB aglutinasi negatif
 Anti Rh faktor aglutinasi positif Rh + Rh +
 Anti Rh faktor agluitinasi negatif Rh - Rh -