Anda di halaman 1dari 60

SISTEM

URINARY
SISTEM URINARY???
 Sistem urinal (urinary tract) adalah suatu
sistem saluran dalam tubuh manusia, meliputi
ginjal dan saluran keluarnya yang berfungsi
untuk membersihkan tubuh dari zat-zat yang
tidak diperlukan. Zat yang diolah oleh sistem
ini selalu berupa sesuatu yang larut dalam air.
Atau
 Sistem perkemihan atau sistem urinaria,
adalah suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari
zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh
dan menyerap zat-zat yang masih di
pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih).
• Membuang sisa metabolisme :
– Sisa metabolisme Nitrogenous :
ureum, creatinin, uric acid.
– Racun-racun/Toxins
– Obat-obat/Drugs
• Pengaturan homeostasis : FUNGSI???
– Keseimbangan air ???
– Elektrolit
– Keseimbangan asam-basa darah
– Tekanan darah
– Produksi darah merah
– Mengaktifkan vitamin D
KOMPONEN

• Ginjal/Kidneys
• Ureter/Ureters
• Kandung kemih
(urinary bladder)
• Uretra/Urethra
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum
abdominalis di belakang peritonium pada kedua sisi vertebra
lumbalis III, dan melekat langsung pada dinding abdomen.

Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis),


jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar
GINJAL/KIDNEY
dari pada ginjal kanan.

Pada orang dewasa berat ginjal ± 200 gram. Dan pada


umumnya ginjal laki – laki lebih panjang dari pada ginjal wanita

Berat ginjal diperkirakan 0,5% dari berat badan, dan


panjangnya ± 10 cm. Setiap menit 20-25% darah dipompa oleh
jantung yang mengalir menuju ginjal.

Fungsi Ginjal:

1. Menyaring dan Mengekskresikan zat – zat sisa


metabolisme yang mengandung nitrogen dan air, misalnya
amonia.
2. Mengekskresikan zat – zat yang jumlahnya
berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya
(misalnya obat – obatan, bakteri dan zat warna).
3. Mengatur keseimbangan air dan garam dengan
cara osmoregulasi.
4. Mengatur tekanan darah dalam arteri dengan
mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
5. Membantu mengatur pembentukan sel darah

Terdapat nefron yg berfungsi untuk penyaringan darah dan
mengandung kapiler2 darah yg bergumpal2 yg disebut

Korteks Renalis (Kulit


Ginjal ) ●
glomerulus yg dikelilingi kapsula bowman dan gabungan
antara kapsula bowman dg glomerulus disebut badan
malpigi
Filtrasi terjadi pd badan malpigi (antara kapsula bowman
GINJAL/ KIDNEY
dan glomerulus) kemudian zat2 terlarut akan masuk ke
kapsula bowman dan akan diteruskan ke medula renalis


Terdiri dari bagian berbentuk kerucut (renal pyramid)dg
dasarnya menghadap korteks dan puncaknya (papila
renalis)mengarah ke bagian dalam ginjal. Piramid terdiri dari
Medula renalis berkas saluran paralel (tubuli dan duktus kolingentes).
Gabungan antara piramid dan korteks disebut lobus renalis.
(Sumsum ginjal ) ●
Diantara piramid terdapat jaringan korteks yg disebut
kolumna renal yg menggandung ribuan pembuluh halus yg
merupakan lanjutan dari kapsula bowman


Merupakan ujung ureter yg berpanngkal di ginjal,berbentuk
corong lebar) sebelum berbatasan dg ginjal pelvis renalis
bercabang 2/3 yg disebut kalix mayor yg bercabang lagi
Pelvis renalis (rongga membentuk beberapa kalix minor yg langsung berhubungan
dg papila renalis
ginjal) ●
Kalix minor menampung urin yg keluar terus-menerus dr papila
renalis kemudian masuk ke kalix mayor, kemudian ke pelvis
renalis dan ke uretra kemudian ditampung di kandung kemih
Ginjal mendapat darah dari aorta abdominalis yang
mempunyai percabangan arteria renalis, yang
berpasangan kiri dan kanan dan bercabang menjadi Sirkulasi pada
arteria interlobaris kemudian menjadi arteri akuata,
arteria interlobularis yang berada di tepi ginjal
bercabang menjadi kapiler membentuk gumpalan
Ginjal
yang disebut dengan glomerolus dan dikelilingi leh
alat yang disebut dengan simpai bowman,
didalamnya terjadi penyadangan pertama dan
kapilerdarah yang meninggalkan simpai bowman
kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena kava
inferior.
Persyarafan Ginjal

Ginjal mendapat persyarafan dari


fleksus renalis (vasomotor) saraf
ini berfungsi untuk mengatur
jumlah darah yang masuk ke
dalam ginjal, saraf inibarjalan
bersamaan dengan pembuluh
darah yang masuk ke ginjal. Anak
ginjal (kelenjar suprarenal)
terdapat di atas ginjal yang
merupakan senuah kelenjar
buntu yang menghasilkan 2(dua)
macam hormon yaitu hormone
adrenalin dan hormn kortison.
Tahap Pembentukan
Setiap ginjal terdiri dari
sekitar 1 juta unit penyaring
Urin
(nefron).
Sebuah nefron merupakan
suatu struktur yang
menyerupai mangkuk
dengan dinding yang
berlubang (kapsula
Bowman), yang mengandung
seberkas pembuluh darah
(glomerulus). Kapsula
Bowman dan glomerulus
membentuk korpuskulum
renalis.
FILTRASI
Filtrasi terjadi pada kapiler glomerulus pada kapsul Bowman.
Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium kapiler yang berpori
Tahap Pembentukan Urin
(podosit) sehingga mempermudah proses penyaringan. Beberapa
faktor yang mempermudah proses penyaringan adalah tekanan AUGMENTASI
hidrolik dan permeabilitias yang tinggi pada glomerulus. Selain
penyaringan, di glomelurus terjadi pula pengikatan kembali sel- Augmentasi adalah proses penambahan
sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma. zat sisa dan urea yang mulai terjadi di
Bahan-bahan kecil terlarut dalam plasma, seperti glukosa, asam tubulus kontortus distal. Komposisi urin
amino, natrium, kalium, klorida, bikarbonat, garam lain, dan urea yang dikeluarkan lewat ureter adalah 96%
melewati saringan dan menjadi bagian dari endapan. air, 1,5% garam, 2,5% urea, dan sisa
Hasil penyaringan di glomerulus berupa filtrat glomerulus (urin substansi lain, misalnya pigmen empedu
primer) yang komposisinya serupa dengan darah tetapi tidak yang berfungsi memberi warm dan bau
mengandung protein. Pada filtrat glomerulus masih dapat pada urin.
ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, dan garam- Hal-hal yang Mempengaruhi Produksi
garam lainnya. Urin
Hormon anti diuretik (ADH) yang
dihasilkan oleh kelenjar hipofisis
REABSORBSI posterior akan mempengaruhi
Volume urin manusia hanya 1% dari filtrat glomerulus. penyerapan air pada bagian tubulus distal
Oleh karena itu, 99% filtrat glomerulus akan direabsorbsi karma meningkatkan permeabilitias sel
secara aktif pada tubulus kontortus proksimal dan terjadi terhadap air. Jika hormon ADH rendah
penambahan zat-zat sisa serta urea pada tubulus maka penyerapan air berkurang sehingga
kontortus distal.Terjadi penyerapan darah, yang tersaring urin menjadi banyak dan encer.
adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang Sebaliknya, jika hormon ADH banyak,
tersaring ditampung oleh kapsul bowmen yang terdiri penyerapan air banyak sehingga urin
dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, sedikit dan pekat. Kehilangan
diteruskan ke tubulus ginjal. Meresapnya zat pada kemampuan mensekresi ADH
tubulus ini melalui dua cara. Gula dan asam mino menyebabkan penyakti diabetes
meresap melalui peristiwa difusi, sedangkan air melalui insipidus. Penderitanya akan
peristiwa osmosis. Reabsorbsi air terjadi pada tubulus menghasilkan urin yang sangat encer.
proksimal dan tubulus distal. Menghasilkan urin primer.
Saluran “Tube” yang melekat pada ginjal dan menuju ke Kandung kemih
(bladder)Merupakan lanjutan renal pelvis

URETER •

Masuk melalui bagian posterior kandung kemih
Mendorong sejumlah air kemih dalam gerakan bergelombang
(kontraksi).
• Setiap ureter akan masuk ke dalam kandung kemih melalui suatu
sfingter. Sfingter adalah suatu struktur muskuler (berotot) yang bisa
membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup.

Lapisan dinding ureter terdiri dari :


a. Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b. Lapisan tengah otot polos
c. Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan – gerakan peristaltik tiap 5


menit sekali yang akan mendorong air kemih masuk ke dalam
kandung kemih (vesika urinaria).

Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan


oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui
osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.

Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia muskulus


psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada
tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis
renalis, pembuluh darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai
saraf sensorik.
Bentuk kandung kemih seperti kerucut yang dikelilingi
oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum
vesika umbikalis medius dapat mengembang dan
VESIKA URINARIA
mengempis seperti balon karet, terletak di belakang
simfisis pubis di dalam ronga panggul. ( Kandung Kemih )
Berfungsi untuk Menampung / menyimpan urine
sementara.

Mempunyai Trigone ( tiga pembukaan)


– Dua dari ureter
– Satu ke urethrea

Bagian vesika urinaria terdiri dari :

1. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah


belakang dan bawah, bagian ini terpisah dari rektum
oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan
ikat duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.

2. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.

3. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan


berhubungan dengan ligamentum vesika umbilikalis.
Dinding Kandung kemih
• peritonium (lapisan sebelah luar),
• tunika muskularis (3 Lapisan otot polos (detrusor VESIKA URINARIA
muscle)),
• tunika submukosa, dan ( Kandung Kemih )
• lapisan mukosa (lapisan bagian dalam).

Proses Miksi (Rangsangan Berkemih).

Distensi kandung kemih, oleh air kemih akan


merangsang stres reseptor yang terdapat pada dinding
kandung kemih dengan jumlah ± 250 cc sudah cukup
untuk merangsang berkemih (proses miksi). Akibatnya
akan terjadi reflek kontraksi dinding kandung kemih,
dan pada saat yang sama terjadi relaksasi spinser
internus, diikuti oleh relaksasi spinter eksternus, dan
akhirnya terjadi pengosongan kandung kemih.

Rangsangan yang menyebabkan kontraksi kandung


kemih dan relaksasi spinter interus dihantarkan melalui
serabut – serabut para simpatis. Kontraksi sfinger
eksternus secara volunter bertujuan untuk mencegah
atau menghentikan miksi. kontrol volunter ini hanya
dapat terjadi bila saraf – saraf yang menangani
kandung kemih uretra medula spinalis dan otak masih
utuh.
Persarafan dan peredaran darah vesika urinaria,
diatur oleh torako lumbar dan kranial dari sistem VESIKA URINARIA
persarafan otonom. Torako lumbar berfungsi
untuk relaksasi lapisan otot dan kontraksi spinter ( Kandung Kemih )
interna.

Bila terjadi kerusakan pada saraf – saraf tersebut


maka akan terjadi inkontinensia urin (kencing
keluar terus – menerus tanpa disadari) dan
retensi urine (kencing tertahan).

Peritonium melapis kandung kemih sampai kira –


kira perbatasan ureter masuk kandung kemih.
Peritoneum dapat digerakkan membentuk
lapisan dan menjadi lurus apabila kandung kemih
terisi penuh. Pembuluh darah Arteri vesikalis
superior berpangkal dari umbilikalis bagian
distal, vena membentuk anyaman dibawah
kandung kemih. Pembuluh limfe berjalan menuju
duktus limfatilis sepanjang arteri umbilikalis.
merupakan saluran sempit yang berpangkal
pada kandung kemih yang berfungsi
URETRA menyalurkan air kemih keluar.

Pada laki- laki uretra bewrjalan berkelok – kelok melalui


tengah – tengah prostat kemudian menembus lapisan
fibrosa yang menembus tulang pubis kebagia penis
panjangnya ± 20 cm.
Uretra pada laki – laki terdiri dari :
1. Uretra Prostaria
2. Uretra membranosa
3. Uretra kavernosa
Lapisan uretra laki – laki terdiri dari lapisan mukosa
(lapisan paling dalam), dan lapisan submukosa.

Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis


pubisberjalan miring sedikit kearah atas,
panjangnya ± 3 – 4 cm. Lapisan uretra pada wanita
terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar),
lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena –
vena, dan lapisan mukosa (lapisan sebelah
dalam).Muara uretra pada wanita terletak di
sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina)
dan uretra di sini hanya sebagai saluran ekskresi.
GANGGUAN
SISTEM URINARY
Perubahan
Retensi Urin
KLASIFIKASI
Pola
Urinalisasi
Inkontinensia GANGGUAN
Urin
PERKEMIHAN
Kandung Kemih
Neurolgenik

Infeksi Sistisis ( Infeksi


dan Sal Kemih Bawah)
GANGGUAN
Inflamasi
PERKEMIHAN
traktus
urinarius Sistitis Intertisial

Uretritis

Pielonefritis
(Infeksi sal kemih
atas)
Glomerulonefr
Gangguan
Penyaringan
itis Akut KLASIFIKASI
Ginjal Glomerulonefr GANGGUAN
itis Kronik
PERKEMIHAN
Glomerulopati

Sindroma
Nefrotik
GANGGUAN Penyumbatan
PERKEMIHAN saluran
Lanj… Hidronefrosis
Kemih

Batu Saluran
Kemih

Infark Ginjal

Nefroklerosis
Gangguan
Pembuluh Penyakit Ginjal
Darah Ginjal Ateroembolik
Trombosis
Vena Renalis
Gagal Ginjal
Gagal Ginjal
Akut KLASIFIKASI
Gagal Ginjal GANGGUAN
Kronik
PERKEMIHAN
Kanker Renal
Kanker &
Hiperplasia Kanker Ureter &
Renal & Pelvis Renalis
GANGGUAN Tractus
PERKEMIHAN Kanker Kandung
Urinarius
Lanj… Kemih

Kanker Uretra

BPH

Gangguan Asidosis Tubulus


Metabolik Renalis
dan Diabetes Inspidus
Kongenital Nefrogenik

Trauma Renal
Trauma Ginjal Trauma Sal Kemih
dan Sal kemih
Perubahan pola
Urinalisasi
Retensi Urin
DEFINISI
 Merupakan
ketidakmampuan untuk EPIDEMIOLOGI
melakukan Sering terjadi pada pasien
miksi/urihasi meskipun pascaoperatif , khususnya pasien yg
menjalani operasi di daerah
terdapat perineum atau anal shg timbul
keinginan/dorongan spasme refleks sfingter. Selai itu
pada klien yg melahirkan normal
terhadap hal tersebut. retensi urin terjai sebagai akibat
dari peregangan atau trauma dari
dasar kandung kemih dengan
edema trigonum. Karena itu klien
postpartum sering mengalami
retensi urin. Insiden terjadinya
retensi urine post partum berkisar
1,7% sapai 17,9%.
Etiologi dan Faktor Resiko
• ETIOLOGI • Faktor Resiko
– Pasca operatif perineum – epidural anestesia
atau anal – gangguan sementara
– Post partum normal kontrol saraf kandung
– Kecemasan kemih
– Pembesaran prostat – trauma traktus genitalis,
– Kelainan patologi uretra khususnya pada
( infeksi, tumor) hematoma yang besar
– Trauma – sectio cesaria
– Disfungsi neurogenik
kandung kemih
PATOFISIOLOGI
Selama fase pengisian, pengaruh sistem saraf simpatis terhadap kandung kemih menjadi
bertekanan rendah dengan meningkatkan resistensi saluran kemih. Penyimpanan urin
dikoordinasikan oleh hambatan sistem simpatis dari aktivitas kontraktil otot detrusor yang
dikaitkan dengan peningkatan tekanan otot dari leher kandung kemih dan proksimal uretra
Pengeluaran urine secara normal timbul akibat dari kontraksi yang simultan otot detrusor dan
relaksasi saluran kemih. Hal ini dipengaruhi oleh sistem saraf parasimpatis yang mempunyai
neurotransmiter utama yaitu asetilkholin, suatu agen kolinergik. emed void dis
Selama fase pengisian, impuls afferen ditransmisikan ke saraf sensoris pada ujung ganglion
dorsal spinal sakral segmen 2-4 dan informasikan ke batang otak. Impuls saraf dari batang
otak menghambat aliran parasimpatis dari pusat kemih sakral spinal. Selama fase
pengosongan kandung kemih, hambatan pada aliran parasimpatis sakral dihentikan dan
timbul kontraksi otot detrusor
Hambatan aliran simpatis pada kandung kemih menimbulkan relaksasi pada otot uretra
trigonal dan proksimal. Impuls berjalan sepanjang nervus pudendus untuk merelaksasikan
otot halus dan skelet dari sphincter eksterna. Hasilnya keluarnya urine dengan resistensi
saluran yang minimal.
MANIFESTASI KLINIS

• gangguan berkemih, termasuk diantaranya


kesulitan buang air kecil;
• pancaran kencing lemah, lambat, dan terputus-
putus;
• ada rasa tidak puas, dan keinginan untuk
mengedan atau memberikan tekanan pada saat
berkemih
• pengosongan kandung kemih yang tidak
sempurna
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
• pemeriksaan rongga pelvis
• pemeriksaan neurologik
• jumlah urine yang dikeluarkan spontan dalam 24 jam
• pemeriksaan urinalisis dan kultur urine
• pengukuran volume residu urine (volume residu urine
normal adalah 25% dari total volume vesika urinaria )
• Fungsi berkemih, dalam hal ini dapat digunakan
uroflowmetry
• pemeriksaan tekanan saat berkemih, atau dengan
voiding cystourethrography
PENATALAKSANAAN
MEDIS ???
• Ketika kandung kemih menjadi sangat menggembung
diperlukan kateterisasi, kateter Foley ditinggal dalam
kandung kemih selama 24-48 jam untuk menjaga kandung
kemih tetap kosong dan memungkinkan kandung kemih
menemukan kembali tonus normal dan sensasi.
• Bila kateter dilepas, pasien harus dapat berkemih secara
spontan dalam waktu 4 jam. Setelah berkemih secara
spontan, kandung kemih harus dikateter kembali untuk
memastikan bahwa residu urine minimal. Bila kandung
kemih mengandung lebih dari 100 ml urine, drainase
kandung kemih dilanjutkan lagi.
KOMPLIKASI ???
• Akibat dari retensi adalah timbulnya infeksi
traktus urinarius yang rekuren dengan
kemungkinan gangguan pada traktus urinarius
bagian atas akibat distensi kandung kemih yg
berlebihan gangguan suplai darah pada
dinding kandung kemih dan proliferasi bakteri.
• Gangguan fungsi renal terjadi bila terdapat
obstruksi sal kemih.
PERUBAHAN
POLA
URINALISASI
INKONTINENSIA URIN
DEFINISI
Inkontinensia Urin adalah
ketidakmampuan untuk
mengendalikan
pengeluaran air kemih.
(Medicastore.com)
Inkontinensia Urin
merupakan eliminasi urin
dari kandung kemih yg
tidak terkendali atau
terjadi diluar keinginan
Inkontinensia urin bisa terjadi pada EPIDEMIOLOGI
usia berapapun dan masing-masing
memiliki penyebab yang berbeda.
Sekitar 1 dari 3 orang usia lanjut
memiliki masalah dengan kandung Diperkirakan prevalensi
kemihnya dan wanita 2 kali lebih inkontinensia urin berkisar
sering terkena. antara 15–30% usia lanjut di
masyarakat dan 20-30% pasien
geriatri yang dirawat di rumah
Pada penelitian yang sakit mengalami inkontinensia
mengikutsertakan lebih dari 1.000 urin, dan kemungkinan
wanita Turki yang diamati pada bertambah berat inkontinensia
sebuah klinik ginekologi urinnya 25-30% saat berumur
(kandungan), para peneliti 65-74 tahun. Masalah
menemukan bahwa mereka yang inkontinensia urin ini angka
menderita inkontinensia urin lebih kejadiannya meningkat dua
cenderung memiliki riwayat kali lebih tinggi pada wanita
ngompol pada masa kanak-kanak dibandingkan pria.
dibandingkan wanita yang tidak
menderita inkontinensia.
KLASIFIKASI IU
• Inkontinensia Urin Akut Reversibel
Etiologi
• Delirium
• Imobilisasi
• Resistensi urin karena obat-obatan
• Obstruksi anatomis
• Konstipasi
• Poliuria
• Gagal jantung dan insufisiensi
• Berbagai macam obat juga dapat mencetuskan
terjadinya inkontinensia urin seperti Calcium
Channel Blocker, agonist adrenergic alfa, analgesic
narcotic, psikotropik, antikolinergik dan diuretic.
KLASIFIKASI IU Lanj….
• Inkontinensia Urin Persisten
– Inkontinensia karena stres
Kebocoran air kemih, biasanya berupa pancaran kecil, yg disebabkan oleh meningkatnya
tekanan di dalam perut, yg terjadi pada saat penderita batuk, tertawa, mengedan, bersin atau
mengangkat benda berat
Etiologi
• Kelemahan pada sfingter (otot yg mengendalikan aliran kemih dari kandung kemih)
• Pada wanita, berkurangnya tahanan terhadap aliran kemih melalui uretra, biasanya karena
kekurangan estrogen
• Perubahan anatomis yg disebabkan oleh melahirkan banyak anak atau pembedahan
panggul
• Pada pria, pengangkatan prostat atau cedera pada bagian atas uretra atau leher kandung
kemih
– Inkontinensia urin urgensi
 Ketidakmampuan untuk menunda pengeluaran air kemih lebih dari beberapa menit setelah
penderita merasakan kandung kemihnya penuh
Etiologi
• nfeksi saluran kemih
• Kandung kemih yg terlalu aktif
• Penyumbatan aliran kemih
• Batu & tumor kandung empedu
• Obat, terutama diuretik
KLASIFIKASI IU Lanj….
– Inkontinensia urin overflow
 Penimbunan air kemih dalam kandung kemih yg terlalu banyak sehingga sfingter tidak mampu
menahannya dan terjadi kebocoran yg hilang-timbul, seringkali tanpa sensasi kandung kemih
Etiologi
• Penyumbatan aliran air kemih,biasanya disebabkan oleh pembesaran atau kanker prostat (pada
pria) & karena penyempitan uretra (pada anak-anak)
• Kelemahan otot kandung kemih
• Kelainan fungsi saraf
• Obat-obatan
– Inkontinensia fungsional
 tidak terkendalinya pengeluaran urin akibat faktor-faktor di luar saluran kemih(fungsi sal kemih bag
bawah normal).
Etiologi
• demensia berat
• masalah muskuloskeletal berat
• faktor lingkungan yang menyebabkan kesulitan untuk pergi ke kamar mandi
• faktor psikologis.
– Inkontinensia Campuran
 Gabungan dari berbagai keadaan diatas
Banyak wanita yg mengalami inkontinensia campuran antara stress & desakan
Etiologi
• Gabungan dari berbagai penyebab diatas
PATOFISIOLOGI
• Inkontinensia stress
Gerakan mendadak (batuk, bersin ,berolah raga,berdiri dari duduk)

 tekanan intraabdomen dan tekanan kandung kemih


Melemahnya mekanisme
menutup

Otot uretra tidak dapat melawan tekanan ini

Keluarnya urin
PATOFISIOLOGI
• Inkontinensia Urin Urgensi
Pengisian urin
spontan atau rangsangan
(batuk)
Otot destrusor berkontraksi (destrusor overactivity)

Kandung kemih tidak stabil

Rasa ingin miksi


PATOFISIOLOGI
• Inkontinensia Urin Overflow
Kandung kemih terisi terlalu penuh (distensi berlebihan pada kanund kemih)
kandung kemih lumpuh
akut atau kronis
Tekanan itravesika >> dr tekanan uretra
tidak ada aktivitas otot
destrusor
Urin menetes lewat uretra sec intermitten
( keluar tetes demi tetes )
PATOFISIOLOGI
• Inkontinensia urin fungsional
Distensi kandung kemih
demensia atau
imobilisasi
Tidak dapat mengidentifikasi keinginan miksi

Urinasi tanpa disadari ( ngompol )


Manifestasi klinis
• Pada Umumnya keluhan meliputi:
– Keluarnya kencing pada waktu batuk,tertawa, bersin, dan latihan
– Keluarnya kencing tidak dapat ditahan
– Kencing keluar menetes pada saat kandung kemih penuh

• Khas pada IU Stres


• Khas pada IU Urgensi
• Ditemukan sistokel • Desakan untuk
dan tampak sudut kencing • Khas pada IU Overflow
vesikouretra 180  • Frekuensi kencing • Distensi yg
atau lebih pada yang sering berlebihan pada
pemeriksaan foto • Nokturia (frekuensi kandung kemih
ronsen sistogram berkemih yg
yg normalnya 120 meningkat pada
malam hari) • Khas pada IU Fisiologis
• Pengeluaran urin yg tidak
terkendali karena tidak
dapat mengidentifikasi
rasa ingin miksi
Pemeriksaan Diagnostik
• Urinalisis
Dilakukan terhadap spesimen urin yang bersih untuk mendeteksi
adanya faktor yang berperan terhadap terjadinya inkontinensia urin
seperti hematuri, piouri, bakteriuri, glukosuria, dan proteinuria.

• Pemeriksaan penunjang
Uji urodinamik sederhana dapat dilakukan tanpa menggunakan alat-
alat mahal. Sisa-sisa urin pasca berkemih perlu diperkirakan pada
pemeriksaan fisis. Pengukuran yang spesifik dapat dilakukan dengan
ultrasound atau kateterisasi urin. Merembesnya urin pada saat
dilakukan penekanan dapat juga dilakukan. Evaluasi tersebut juga
harus dikerjakan ketika kandung kemih penuh dan ada desakan
keinginan untuk berkemih. Diminta untuk batuk ketika sedang
diperiksa dalam posisi litotomi atau berdiri. Merembesnya urin
seringkali dapat dilihat. Informasi yang dapat diperoleh antara lain
saat pertama ada keinginan berkemih, ada atau tidak adanya kontraksi
kandung kemih tak terkendali, dan kapasitas kandung kemih.
Pemeriksaan Diagnostik
• Laboratorium
Elektrolit, ureum, creatinin, glukosa, dan kalsium serum dikaji untuk
menentukan fungsi ginjal dan kondisi yang menyebabkan poliuria.

• Catatan berkemih (voiding record)


Catatan berkemih dilakukan untuk mengetahui pola berkemih.
Catatan ini digunakan untuk mencatat waktu dan jumlah urin saat
mengalami inkontinensia urin dan tidak inkontinensia urin, dan gejala
berkaitan dengan inkontinensia urin. Pencatatan pola berkemih
tersebut dilakukan selama 1-3 hari. Catatan tersebut dapat digunakan
untuk memantau respon terapi dan juga dapat dipakai sebagai
intervensi terapeutik karena dapat menyadarkan pasien faktor-faktor
yang memicu terjadinya inkontinensia urin pada dirinya.
PENATALAKSANAAN MEDIS
3.Terapi farmakologi
Obat-obat yang dapat diberikan pada
inkontinensia urgen adalah antikolinergik
seperti Oxybutinin, Propantteine,
1. Pemanfaatan kartu catatan berkemih Dicylomine, flavoxate, Imipramine.
Yang dicatat pada kartu tersebut
misalnya waktu berkemih dan jumlah Pada inkontinensia stress diberikan alfa
urin yang keluar, baik yang keluar secara adrenergic agonis, yaitu pseudoephedrine
normal, maupun yang keluar karena tak untuk meningkatkan retensi urethra.
tertahan, selain itu dicatat pula waktu,
jumlah dan jenis minuman yang Pada sfingter relax diberikan kolinergik
diminum. agonis seperti Bethanechol atau
alfakolinergik antagonis seperti prazosin
2.Terapi non farmakologi untuk stimulasi kontraksi, dan terapi
Melakukan latihan menahan kemih diberikan secara singkat.
(memperpanjang interval waktu berkemih)
dengan teknik relaksasi dan distraksi 4.Terapi pembedahan
sehingga frekwensi berkemih 6-7 x/hari. Terapi ini dapat dipertimbangkan pada
inkontinensia tipe stress dan urgensi, bila
Melakukan latihan otot dasar panggul dengan
terapi non farmakologis dan farmakologis
mengkontraksikan otot dasar panggul
tidak berhasil. Inkontinensia tipe overflow
secara berulang-ulang. Hal ini dilakukan
umumnya memerlukan tindakan
agar otot dasar panggul menjadi lebih kuat
pembedahan untuk menghilangkan retensi
dan urethra dapat tertutup dengan baik.
urin.
Infeksi dan Inflamasi
traktus urinarius
EPIDEMIOLOGI
Infeksi saluran kencing atau ISK ETIOLOGI
merupakan masalah
kesehatan yang cukup serius
di bagi jutaan orang tiap
tahun. ISK merupakan
penyakit infeksi nomor 2 yang
paling banyak menyerang
manusia di muka bumi.
Umumnya penyakit ini
menyerang kaum wanita tapi
sering juga ditemukan laki laki
yang menderita ISK.
• Refluks Vesikoureter
FAKTOR PREDISPOSISI
• Gangguan metabolik
– Hiperkalsemia
• Bendungan aliran urin – Hipokalemia
– Anomali kongenital – Agamaglobulinemia
– Batu saluran kemih • Instrumentasi
– Oklusi ureter (sebagian atau total) – Kateter
– Dilatasi uretra
• Urin sisa dalam kandung kemih,karena – Sistoskopi
– Neurogenik bladder
– Striktur uretra • Kehamilan
– Pembesaran prostat – Faktor statis dan bendungan
– PH urin yg tinggi shg mempermudah
pertumbuhan kuman
PATOFISIOLOGI
Secara normal, air kencing atau urine adalah steril alias bebas
kuman.
Kuman penyebab ISK pada umumnya adalah kuman yang berasal dari
flora normal usus. Dan hidup secara komensal di dalam introitus
vagina, prepusium penis, kulit perineum, dan di sekitar anus.
Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat
melalui :
– Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi
terdekat (ascending)
– Hematogen
– Limfogen
– Eksogen sebagai akibat pemakaian berupa kateter.
PATOFISIOLOGI
Bakteri masuk melaui uretra dan berkembang biak disana. Akibatnya, urethra
akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan nama urethritis.

Bakteri naik ke atas menuju saluran kemih dan berkembang biak disana maka
saluran kemih akan terinfeksi yang kemudian disebut dengan istilah
cystitis.

Bakteri akan naik lagi ke atas menuju ginjal dan menginfeksi ginjal yang
dikenal dengan istilah pyelonephritis.
Tidak semua penderita merasakan gejala
ISK tapi umumnya ada satu gejala yang
mereka rasakan walau tidak terlalu
MANIFESTASI
menganggu. KLINIS
• Sering kencing dan kesakitan saat kencing,
rasa sakit sampai terbakar pada kandung
kemih.
• Pada perempuan merasakan
ketidaknyamanan pada tulang kemaluan
• Selalu ingin kencing tetapi kencing yang
dikeluarkan sangatlah sedikit.
• Air kencingnya sendiri bisa berwarna putih,
cokelat, kemerahan.
• Tidak akan menyebabkan demam selama
masih menginfeksi urethra dan kandung
kemih, demam muncul bila ginjal sudah
kena.
Berikut obat yang tepat untuk ISK

Penatalaksanaan Sulfonamide :
•Dapat menghambat baik bakteri gram positif dan
gram negatif.
•Biasanya diberikan per oral, dapat dikombinasi
dengan Trimethoprim
Bermacam cara pengobatan •Efek samping yang ditimbulkan hipersensitivitas
yang dilakukan pada (demam, rash, fotosensitivitas), gangguan
pencernaan (nausea, vomiting, diare),
pasien ISK, antara lain : Hematotoxicity (granulositopenia,
(thrombositopenia, aplastik anemia) dan lain-lain.
– pengobatan dosis tunggal
– pengobatan jangka pendek Fluoroquinolones :
•Mekanisme kerjanya adalah memblok sintesis DNA
(10-14 hari) bakteri dengan menghambat topoisomerase II (DNA
gyrase) topoisomerase IV.
– pengobatan jangka panjang •Menghambat bakteri batang gram negatif termasuk
(4-6 minggu) enterobacteriaceae, Pseudomonas, Neisseria.
•Pemberian per oralEfek samping yang paling menonjol
– pengobatan profilaksis adalah mual, muntah dan diare
dosis rendah
Nitrofurantoin :
– pengobatan supresif •Bersifat bakteriostatik dan bakterisid untuk banyak
bakteri gram positif dan gram negatif.
•Efek samping : anoreksia, mual, muntah merupakan efek
samping utama.
PENCEGAHAN
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah ISK antara
lain :

• Minumlah banyak cairan setiap hari.


• Segeralah kencing bila ingin kencing, jangan hobi menahan
kencing.
• Untuk perempuan saat membersihkan setelah kencing,
basuhlah dari depan ke belakang bukan sebaliknya.
• Pilihlah shower saat mandi dibandingkan dengan bath tub.
• Bersihkan kelamin saat akan berhubungan intim.
• Hindari penggunaan cairan yang tidak jelas manfaatnya
pada alat kelamin. Cairan ini dapat mengiritasi urethra.
Infeksi dan Inflamasi
traktus urinarius
Sistisis ( Infeksi Sal
Kemih Bawah)
DEFINISI
Sistitis merupakan
penyakit radang EPIDEMIOLOGI
kandung kemih atau
Wanita sangat sering mengalami
saluran kencing, sistitis  karena uretra wanita lebih
mungkin kita lebih pendek dibanding pria. Selain itu
mengenalnya sebagai sekresi yang dihasilkan oleh
kelenjar prostat bersifat
anyang-anyangan. bakterisidal  sehingga pria relatif
tahan terhadap infeksi. Kurang
lebih sekitar 10 - 20% wanita
pernah mengalami sistitis selama
hidupnya dan kurang lebih 5%
 dalam satu tahun pernah
mengalami serangan ini.
ETIOLOGI
• Saluran kencing mengalami infeksi karena kuman yang masuk
melalui uretra atau karena daya tahan tubuh yang menurun.
• Radang perkontinuitatum menyebar. Penyebaran ini terjadi
karena organ tubuh yang sakit menempel pada organ yang
masih sehat, misalnya kista ovarium yang mengeluarkan
nanah menyebar ke organ genital yang lain.
• Ada kuman yang menyebar melalui darah. Kuman ini
biasanya berasal dari satu infeksi pada organ tubuh yang lain.
• Pemakaian kateter (alat bantu kencing) atau benda-benda
asing lainnya di dalam uretra.
• Keluarnya mani atau keputihan secara berlebihan karena
sanggama sehingga bisa memasuki uretra.
• Pemeriksaan daerah dalam organ genital sehingga
menyebabkan infeksi pada saluran kencing.
FAKTOR RESIKO
• Wanita usia reproduktif
Pada wanita, uretra atau saluran kencing
bagian bawah yang berfungsi untuk
menyalurkan air kencing, lebih pendek
dibandingkan pada pria. Hal ini
menyebabkan kuman dan bakteri lebih
mudah memasuki kandung kemih.
Wanita sering menderita infeksi kandung
kemih setelah melakukan hubungan
seksual, kemungkinan karena uretra
mengalami cedera pada saat melakukan
hubungan seksual.
• Kontrasepsi spermisid-diafragma
• Infeksi prostat, epididimis, batu
kandung kemih
SISTITIS

Kerusakan membran mukosa PATOFISIOLOGI


Cateter ( D/C ) Batu ginjal Pembesaran prostat Striktur uretra

Stagnasi urine
Mikroorganisme

Bakteri berproliferasi

Uretra Pintu masuk patogen

Erosi Infeksi

Integritas mukosa terganggu

Nyeri Disuria Hematuri Spasme uretra

Perubahan Pola
Eliminasi Urine
Manifestasi Klinis
• Rasa nyeri pada saluran kencing dan perut bagian
bawah. Jika dibawa buang air kecil terasa sakit dan
nyeri.
• Sering buang air kecil, tetapi air seni yang keluar
hanya sedikit dan disertai rasa nyeri.
• Jika sistitis disebabkan oleh kanker kandung kemih,
biasanya kencing disertai rasa nyeri dan darah yang
keluar bersama air seni.
• Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di
malam hari).
• Air kemih tampak berawan dan mengandung darah
(Piuria dan Hematuria)
PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
• Uninanalisis dan kultur urin
Air kemih aliran tengah (midstream), agar air kemih tidak tercemar oleh bakteri
dari vagina atau ujung penis, kemudian diperiksa dibawah mikroskop untuk
melihat adanya sel darah merah atau sel darah putih atau zat lainnya. Dilakukan
penghitungan bakteri dan dibuat biakan untuk menentukan jenis bakterinya
• Rontgen, untuk menggambarkan ginjal, ureter dan kandung kemih
• Sistouretrografi, untuk mengetahui adanya arus balik air kemih dari
kandung kemih dan penyempitan uretra
• Uretrogram retrograd, untuk mengetahui adanya penyempitan,
divertikula atau fistula
• Sistoskopi, untuk melihat kandung kemih secara langsung dengan
serat optik
PENATALAKSANAAN MEDIS
• Pada usia lanjut, infeksi tanpa gejala biasanya tidak memerlukan
pengobatan.
• Untuk sistitis ringan, langkah pertama yang bisa dilakukan adalah
minum banyak cairan. Aksi pembilasan ini akan membuang banyak
bakteri dari tubuh, bakteri yang tersisa akan dilenyapkan oleh
pertahanan alami tubuh.
• Pemberian antibiotik per-oral (tablet, kapsul, sirup) selama 3 hari
atau dosis tunggal biasanya efektif, selama belum timbul komplikasi.

Jika infeksinya kebal, biasanya antibiotik diberikan selama 7-10 hari.


• Untuk meringankan kejang otot bisa diberikan atropin.
• Untuk mengurangi nyeri bisa diberikan fenazopiridin.
• Pembedahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran
kemih (uropati obstruktif) atau untuk memperbaiki kelainan
struktur yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi
PENCEGAHAN
• Menjaga kebersihan daerah genital dengan air bersih. Jangan terlalu
sering menggunakan tisu basah atau sabun khusus organ kewanitaan
karena bisa mematikan bakteri baik dalam organ genital. Kalau kita
tetap ingin memakai sabun, gunakan sabun dengan pH 3,5.
• Jika mencuci alat kemaluan, arah mencuci daerah genital dari arah
depan dan tidak berulang (maju mundur). Jadi, daerah depan (uretra)
dibersihkan dahulu baru kemudian daerah vagina dan terakhir anus
untuk menghindari perpindahan kuman dari anus atau vagina ke uretra.
• Segera mengobati keputihan yang berlebih.
• Tidak menahan kencing.
• Banyak minum air putih.
• Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi suplemen
vitamin C atau buah-buahan sumber vitamin C.
Infeksi dan Inflamasi
traktus urinarius
Sistisis Intertisial
DEFINISI
EPIDEMIOLOGI
peradangan kandung
Gangguan terutama dialami
kemih yang
oleh wanita usia 40-50
menimbulkan rasa
tahun, namun dapat
nyeri ( inflamasi
menyerang segala usia,ras
kronik kandung
atau jenis kelamin
kemih )