Anda di halaman 1dari 17

INFORMENT CONSENT

Jessica Margareta Jaya 16.0552


Cicilia Dian Kuriasari 16.0564
Wahyuni Choirul Nisa 16.0569
Elisabeth Elviana Saputri 16.0574
Maryana 16.0577
Veronica Aprilia Ariani 16.0590
Vavi Oktaviani Dinastyantika 16.0598
LATAR BELAKANG

Pelayanan Pekerjaan
Kesehatan kefarmasian

Tenaga Informent
kesehatan consent
RUMUSAN MASALAH
1. Apakah tujuan pelaksanaan Informed Consent ?
2. Bagaimana ruang lingkup Informed Consent ?
3. Apa hal – hal yang harus diinformasikan pada pasien ?
4. Bagaimana aspek hukum Informed Consent ?
5. Apa hal-hal yang mempengaruhi proses Informed Consent ?
MANFAAT PENULISAN

1. Bagi mahasiswa agar mampu memahami tentang bagaimana


pemberian informed consent pada pasien agar dapat meningkatkan
kesehatan di masyarakat.
2. Bagi Institusi agar dapat memberikan penjelasan yang lebih luas
tentang pemberian informed consent pada pasien dan dapat lebih
banyak menyediakan referensi-referensi buku tentang etika dan
hukum kesehatan.
3. Bagi masyarakat agar lebih mengerti dan memahami tentang
pemberian informed consent pada pasien untuk meningkatkan mutu
kesehatan masyarakat.
PENGERTIAN

Informed
consent

•merupakan persetujuan yang diberikan oleh pasien dan atau


keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medis yang
akan dilakukan terhadap dirinya serta resiko yang berkaitan
dengannya.
Komponen Informed consent

Threshold
elements Consent
Information elements
elements
Tujuan Pelaksanaan
Informed Consent

1. Melindungi pengguna jasa tindakan medis (pasien) secara


hukum dari segala tindakan medis yang dilakukan tanpa
sepengetahuannya

2. Memberikan perlindungan hukum terhadap pelaksana


tindakan medis dari tuntutan-tuntutan pihak pasien yang
tidak wajar
Fungsi Pemberian Informed Consent

1. Penghormatan terhadap harkat dan martabat pasien selaku


manusia
2. Penghormatan terhadap hak otonomi perorangan yaitu hak
untuk menentukan nasibnya sendiri
3. Proteksi terhadap pasien sebagai subjek penerima pelayanan
kesehatan (health care receiver = HCR)
4. Mendorong diambil keputusan yang lebih rasional
5. Sebagai suatu proses edukasi masyarakat dalam bidang
kedokteran dan kesehatan
 Ruang lingkup Informed consent :
1. Hak atas informasi
2. Hak atas persetujuan (Consent)
3. Hak atas rahasia medis
4. Hak atas pendapat kedua (Second opinion)
5. Hak untuk melihat rekam medik (Guwandi, 2004).

 Hal hal yang diinformasikan :


1. Prognosis
2. Rujukan atau konsultasi
3. Alternatif
4. Resiko
5. Hasil Pemeriksaan
Aspek Hukum Informed
Consent

1. Aspek Hukum Perdata


 Suatu tindakan medis yang dilakukan tanpa adanya persetujuan
dari pasien, maka dokter sebagai pelaksana tindakan medis
dapat dipersalahkan dan digugat berdasarkan Pasal 1365 Kitab
Undang-undang Hukum Perdata (KUHPer)
2. Aspek Hukum Pidana
 Suatu tindakan invasive yang dilakukan tanpa adanya izin dari
pihak pasien, maka pelaksana jasa tindakan medis dapat
dituntut telah melakukan tindak pidana penganiayaan yaitu
telah melakukan pelanggaran terhadap Pasal 351 KUHP.
Landasan Hukum
Informed Consent
1. Pasal 53 pada UU No. 23 Tahun 1992 Tentang
Kesehatan
2. Peraturan Pemerintah No. 8 Tahun 1981
3. Peraturan Menteri Kesehatan No. 585 Tahun 1989
Tentang Persetujuan Tindakan Medik
pembahasan
• Pada Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1)
dijelaskan dengan lugas dan tegas bahwa “Dalam keadaan
darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah
kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran”.

• Sebagai contoh adanya operasi pasien penderita hernia dimana


testikel kiri terinfeksi berat dan dilakukan operasi darurat
untuk kesehatan pasien dan kelangsungan hidup pasien. Hakim
membetulkan tindakan tenaga medis melakukan operasi
darurat pada testikel kiri demi kepentingan pasien.
Kasus

Hal ini terjadi pada kasus Nina Dwi Jayanti pasien di Rumah
Sakit X pada 15 februari 2009 tidak dapat buang air besar dan obat
tidak berfungsi. Oleh, dokter diperkirakan keluhan usus buntu dengan
melakukan tindakan medis yaitu operasi usus buntu.
Diagnosis dokter salah bahwa adanya sakit pada usus buntu
ternyata berdasarkan diagnosis dokter. Nina mengalami kebocoran
kandung kemih yang mengakibatkan dokter harus melakukan operasi
tanpa meminta persetujuan oleh pihak keluarga. Hal ini terlihat pada
perut pasien terdapat 10 jahitan. Keluarga pasien pasrah dan meminta
pertanggung jawaban pada pihak rumah sakit dan mengadukan kasus
tersebut ke mentri kesehatan meskipun ayah pasien merupakan
karyawan di rumah sakit tersebut dan tidak takut bila harus
kehilangan pekerjaannya.
• Pada Permenkes No 585/Men.Kes/Per/IX/1989 pasal 11 disebutkan bahwa yang
mendapat pengecualian hanya pada pasien pingsan atau tidak sadar.

• Tetapi beberapa pakar mengkritisi bagaimana jika pasien tersebut sadar namun dalam
keadaan gawat darurat. Pada Permenkes No. 290/Menkes/Per/III/2008 pasal 4 ayat (1)
dijelaskan dengan lugas dan tegas bahwa “Dalam keadaan darurat, untuk
menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan
tindakan kedokteran”.

• Selain ketentuan yang telah diatur pada UU No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik
Kedokteran dan Peraturan Menteri Kesehatan No.209/Menkes/Per/III/2008, apabila
pasien dalam keadaan gawat darurat sehingga dokter tidak mungkin mengajukan
informed consent, maka berdasarkan KUH Perdata pasal 1354 tindakan medis tanpa
izin pasien diperbolehkan
KESIMPULAN
1. Dalam UU No 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 dengan jelas
dikatakan bahwa hak pasien adalah hak atas informasi dan hak
memberikan persetujuan tindakan medik atas dasar informasi (informed
consent).
2. Informed consent merupakan suatu proses yang menunjukkan
komunikasi yang efektif antara dokter dengan pasien berkaitan dengan
tindakan medis yang akan atau tidak dilakukan dan secara aspek hukum
merujuk ke arah persetujuan sepihak atas layanan yang ditawarkan pihak
lain.
3. Informed consent dari segi operasionalnya adalah suatu pernyataan
sepihak dari orang yang berhak (yaitu pasien, keluarga atau walinya)
yang isinya berupa izin atau persetujuan kepada dokter untuk melakukan
tindakan medik sesudah orang yang berhak tersebut diberi informasi
secukupnya.
SARAN
1. Bagi Mahasiswa : Dapat memahami tentang bagaimana pemberian
informed consent pada pasien agar dapat meningkatkan kesehatan
di masyarakat.
2. Bagi Institusi : Dapat memberikan penjelasan yang lebih luas
tentang pemberian informed consent pada pasien dan dapat lebih
banyak menyediakan referensi-referensi buku tentang etika dan
hukum kesehatan.
3. Bagi Masyarakat : Dapatlebih mengerti dan memahami tentang
pemberian informed consent pada pasien untuk meningkatkan mutu
kesehatan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Ikatan Dokter Indonesia, 2004. Kode Etik Kedokteran dan Pedoman Pelaksanaan Kode
Etik Kedokteran Indonesia. MKEK : Jakarta.
J. Guwandi., 2004. Informed Consent. FKUI. Jakarta.
Menkes RI, 1989, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 585/MEN.KES/PER/IX/1989
tentang Persetujuan Tindakan Medik, Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
Menkes RI, 2008, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 290/MEN.KES/PER/III/2008
tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran, Jakarta: Menteri Kesehatan Republik
Indonesia.
M.jusuf H, Amri Amir, 1999. Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan. EGC. Jakarta.
Presiden RI, 2004, UU RI No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Jakarta:
Presiden Republik Indonesia.
Peraturan Pemerintah RI, 2009, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 51
Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian, Jakarta: Presiden Republik Indonesia.