Anda di halaman 1dari 11

MALPRAKTIK

Disusun oleh:

Sita Dwi Agustin (16.0559)


Noor Aully Y.C.S. (16.0593)
Kharisma Ardea (16.0595)
Gabriel Lauranita G.D. (16.0556)
Lutfia Rachmawati(16.0601)
Like Fajarnian (16.0607)
Kornelia Septianingsih (16.0612)
Latar Belakang

pembangunan Tenaga
Malpraktek
kesehatan kesehatan
Rumusan masalah

1. Apakah yang dimaksud dengan malpraktek ?


2. Apa saja unsur-unsur malpraktek?
3. Apa saja jenis-jenis malpraktek ?
4. Bagaimana upaya untuk menganggulangi
malpraktek ?
Tujuan
1. Untuk memahami definisi malpraktek.
2. Untuk mengetahui dan memahami unsur-unsur
malpraktek.
3. Untuk mengetahui dan memahami jenis-jenis
malpraktek.
4. Untuk mengetahui upaya penanggulangan
malpraktek.
Unsur-Unsur Malpraktek
Menurut M. Jusuf Hanafiah dan Amri Amir (1999),
unsur unsur malpraktik yaitu:

1. Adanya unsur kesalahan/kelalaian yang dilakukan oleh


tenaga kesehatan dalam menjalankan profesinya.
2. Adanya perbuatan yang tidak sesuai dengan standar
prosedur operasional.
3. Adanya luka berat atau mati, yang mengakibatkan
pasien cacat atau meninggal dunia.
4. Adanya hubungan kausal, dimana luka berat yang
dialami pasien merupakan akibat dari perbuatan dokter
yang tidak sesuai dengan standar pelayanan medis.
Jenis-Jenis Malpraktek

Malpraktik etika
(ethical malpractice)

Jenis-jenis
Malpraktek Perdata
Malpraktik
(Civil Malpractice)

Malpraktek Pidana
Malpraktek Yuridis (Criminal malpractice)
(juridical malpractice)
Malpraktek
Administratif
Upaya Penanggulangan
Malpraktek
1. Pre-Emtif
Upaya pre-emtif di sini adalah upaya awal yang dilakukan oleh
pihak kepolisian untuk mencegah terjadinya tindak pidana.

2. Preventif
Upaya preventif ini adalah tindak lanjut dari upaya pre-emtif
yang masih dalam tataran pencegahan sebelum terjadinya
kejahatan.

3. Represif
Upaya ini dilakukan pada saat telah terjadi tindak
pidana/kejahatan yang tindakannya berupa penegakan hukum
(law enforcemenet) dengan menjatuhkan hukuman.
Contoh kasus malpraktik
Contoh kasus malpraktek yang
dilakukan oleh apoteker pernah terjadi
di Oregon USA pada bulan Desember
2014. Pasien operasi otak bernama
Loretta Macpherson meninggal akibat
pemberian obat yang salah. dokter
Boileau yang menangani pasien merasa
benar meresepkan fenitoin untuk
mengurangi kejang, namun seorang
pekerja farmasi yaitu seorang apoteker
justru keliru memberi obat rocuronium,
yaitu obat yang berfungsi untuk
melumpuhkan (CBS News, 2014).
Kesimpulan
1. Malpraktek adalah tindakan tenaga kesehatan dibawah standar
pelayanan medis (standar profesi dan standar prosedur
operasional) untuk mempergunakan tingkat keterampilan dan ilmu
yang lazim dalam mengobati pasien.

2. Unsur-unsur malpraktek meliputi Adanya perbuatan yang tidak


sesuai dengan standar prosedur operasional, adanya luka berat
atau mati, adanya hubungan kausal

3. Jenis-jenis malpraktek meliputi Malpraktek Etika (ethical


malpractice) dan Malpraktek Yuridis (juridical malpractice)

4. Upaya penanggulangan malpraktik terdiri atas 3 bagian pokok,


yaitu: Pre-Emtif, Preventif, dan Represif
Saran
1. Pihak aparat penegak hukum dapat berperan aktif
dan melihat dengan jeli indikasi-indikasi kasus
malapraktek ini.

2. Diharapkan tenaga kesehatan lebih waspada dan


hati-hati dalam melaksanakan tugasnya, masyarakat
menjadi aman dan puas atas pelayanannya dan
penegak hukum dapat lancar dalam bertugas,
akhirnya penegakan hukum dapat berjalan
sebagaimana kita harapkan.
DAFTAR PUSTAKA
• Akhmaddhian, S., 2013. Analisis Pertanggung Jawaban Tenaga Kesehatan
yang melakukan Tindak Pidana Malpraktek menurut Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana dan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. Jurnal Unifikasi. Vol.1(1).
• A.S Alam. 1992. Pengantar Kriminologi. Pustaka Refleksi Books : Makasar
• Damopolli, S., Tanggung Jawab Pidana Para Medis Terhadap Tindakan
Malpraktek menurut Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan. Lex Crimem. Vol.6(6).
• https://www.cbsnews.com/news/oregon-hospital-medication-error-kills-
patient/
. diakses pada tanggal 26 Maret 2019.
• http://www.depkes.go.id/article/print/1519/dugaan-pelanggaran-disiplin
-terbanyak-akibat-kurangnya-komunikasi-dokter-dan-pasien.html
. Diakses pada tanggal 25 Maret 2019.
• M. Junus Hanafiah dan Amri Amir. 1999. Etika Kedokteran dan Hukum
Kesehatan. Buku Kedokteran EGC. Jakarta.