Anda di halaman 1dari 27

ASPEK HUKUM BIOMEDIS:

TEKNIK REPRODUKSI BUATAN

Yasmine Savira Rahmadhani 16.0554


Laurencia Julia Bunga Eloystina 16.0555
Rina Ayu Krismonikawati 16.0570
Puspitasari 16.0633
Zandy Tiaravani 16.0635
Dhiny Deshinta 16.0649
LATAR BELAKANG
MORAL DAN
ETIKA
KEMAJUAN PRO
IPTEK MANUSIA
TEKNIK
REKAYASA
REPRODUKSI
GENETIKA
BUATAN
PENGARUH
DALAM KONTRA
BIDANG
KESEHATAN ASPEK
HUKUM
BIOMEDIS
RUMUSAN • Bagaimana aspek hukum biomedis
mengenai teknik reproduksi buatan
MASALAH di Indonesia ?
TUJUAN • Mengetahui aspek hukum biomedis
PENULISA mengenai teknik reproduksi buatan
di Indonesia.
N
MANFAAT • Menambah wawasan mengenai
PENULISA hukum biomedis teknik reproduksi
buatan.
N
TEKNOLOGI REPRODUKSI
BUATAN
Teknologi reproduksi buatan adalah upaya medis dengan
metode penanganan terhadap sel gamet (ovum, sperma)
serta hasil konsepsi (embrio) seperti metode fertilisasi in
vitro dan pemindahan embrio (FIV-PE) sebagai upaya untuk
mendapatkan keturunan di luar cara-cara alami (tidak
termasuk kloning atau duplikasi manusia) dengan
menggunakan peralatan dan cara-cara yang mutakhir
(Permenkes, 2010).
TEKNOLOG
I PENGOBATAN
REPRODUK INFERTILITAS
SI BUATAN

Infertilitas merupakan kelainan atau kondisi sakit dalam


masalah reproduksi.
Teknologi reproduksi
buatan mencakup TEKNIK
BAYI
setiap fertilisasi TABUNG
yang melibatkan
manipulasi gamet
TEKNIK
(ovum, sperma)
REPRODUKSI
atau embrio diluar
tubuh serta BUATAN
pemindahan gamet TEKNIK
atau embrio IBU
PENGGAN
kedalam tubuh TI
manusia
TEKNIK BAYI TABUNG

In Vitro Intra
Zygote Gamete
Fertilization Cytoplasmi
Intrafallopi Intrafallopi
dan Embryo c Sperm
Transfer
an Transfer an Transfer
Injection
(IVF dan ET) (ZIPT) (ICSI) (GIFT)
SURROGATE MOTHER
Surrogate Mother secara harafiah disamakan dengan
istilah “ibu pengganti”, yaitu seorang wanita yang
bersedia menggandung janin hingga lahir yang benihnya
(sperma dan ovum) berasal dari orang lain (suami-istri).
Kemudian setelah anak itu lahir akan diserahkan kepada
pasangan suami-istri tersebut (Ratman, 2013).
ETIKA DALAM TEKNIK
REPRODUKSI BUATAN
Komisi etik dari beberapa negara memberi pandangan
dan pegangan terhadap hak dan etika reproduksi
(teknologi reproduksi buatan) dengan memperhatikan
beberapa asas yang perlu dipahami, antara lain :
1. Niat untuk berbuat baik (beneficence)
2. Bukan untuk kejahatan (non-maleficence)
3. Menghargai kebebasan individu untuk mengatasi
takdir (autonomy)
4. Tidak bertentangan dengana kaidah hukum yang
berlaku (justis)
HUKUM TEKNIK
REPRODUKSI
BUATAN DI
INDONESIA
UNDANG – UNGANG NO. 36
TAHUN 2009
Di Indonesia masalah teknologi reproduksi buatan diatur
dalam Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan Pasal 127 yang berbunyi: Upaya kehamilan
diluar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh
pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan :
1.Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri
yang bersangkutan ditanamkana dalam rahim istri dari
mana ovum berasal.
2.Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenanagan untuk itu.
3.Pada pelayanan kesehatan tertentu.
KEPUTUSAN MENTERI
KESEHATAN NOMOR
72/MENKES/PER/II/1999
TENTANG PENYELENGGARAAN
TEKNOLOGI REPRODUKSI
BUATAN
yang berisikan: ketentuan umum,
perizinan, pembinaan, dan
pengawasan, Ketentuan Peralihan dan
Ketentuan Penutup
PEDOMAN PELAYANAN
BAYI TABUNG DI RUMAH
SAKIT
a. Pelayanan teknik reproduksi buatan hanya dapat dilakukan dengan sel
sperma dan sel telur pasangan suami-istri yang bersangkutan.
b. Pelayanan reproduksi buatan merupakan bagian dari pelayanan
infertilitas, sehingga sehinggan kerangka pelayannya merupakan
bagian dari pengelolaan pelayanan infertilitas secara keseluruhan.
c. Embrio yang dipindahkan ke rahim istri dalam satu waktu tidak lebih
dari 3, boleh dipindahkan 4 embrio dalam keadaan:
1. Rumah sakit memiliki 3 tingkat perawatan intensif bayi baru lahir.
2. Pasangan suami istri sebelumnya sudah mengalami sekurang-
kurangnya dua kali prosedur teknologi reproduksi yang gagal.
3. Istri berumur lebih dari 35 tahun.
d. Dilarang melakukan surogasi dalam bentuk apapun
e. Dilarang melakukan jual beli spermatozoa, ova atau
embrio
f. Dilarang menghasilkan embrio manusia semata-mata
untuk penelitian, Penelitian atau sejenisnya terhadap
embrio manusia hanya dapat dilakukan apabila
tujuannya telah dirumuskan dengan sangat jelas
g. Dilarang melakukan penelitian dengan atau pada
embrio manusia dengan usia lebih dari 14 hari
setelah fertilisasi
h. Sel telur yang telah dibuahi oleh spermatozoa
manusia tidak boleh dibiakkan in-vitro lebih dari 14
hari (tidak termasuk waktu impan beku)
i. Dilarang melakukan penelitian atau
eksperimen terhadap atau menggunakan sel
ova, spermatozoa atau embrio tanpa seijin
dari siapa sel ova atau spermatozoa itu
berasal.
j. Dilarang melakukan fertilisasi trans-spesies,
kecuali fertilisasi tran-spesies tersebut diakui
sebagai cara untuk mengatasi atau
mendiagnosis infertilitas pada manusia.
Setiap hybrid yang terjadi akibat fretilisasi
trans-spesies harus diakhiri
pertumbuhannya pada tahap 2 sel.
KODEKI HASIL MUKERNAS
ETIK KEDOKTERAN III, APRIL
2002
Pada Kloning dijelaskan bahwa pada
hakekatnya: menolak kloning pada manusia, karena menurunkan
harkat, derajat dan serta martabat manusia sampai setingkat
bakteri, menghimbau ilmuwan khususnya kedokteran, untuk
tidak mempromosikan kloning pada manusia, dan
mendorong agar ilmuwan tetap menggunakan teknologi kloning
pada :
a. Sel atau jaringan dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan misalnya untuk pembuatan zat antigen monoclonal.
b. Sel atau jaringan hewan untuk penelitian klonasi organ, ini
untuk melihat kemungkinan klonasi organ pada diri sendiri.
ASPEK HUKUM BAYI
TABUNG 
(INTeknologi
VITRO FERTILIZATION)
bayi tabung merupakan upaya kehamilan di luar
cara alamiah. Dalam hukum Indonesia, upaya kehamilan di
luar cara alamiah diatur dalam pasal 127 UU No. 36 Tahun
2009 tentang Kesehatan. Jadi, yang diperbolehkan oleh hukum
Indonesia adalah metode pembuahan sperma dan ovum dari
suami istri yang sah yang ditanamkan dalam rahim istri dari
mana ovum berasal. Metode ini dikenal dengan metode bayi
tabung. Adapun metode atau upaya kehamilan di luar cara
alamiah selain yang diatur dalam pasal 127 UU Kesehatan,
termasuk ibu pengganti atau sewa menyewa/penitipan rahim,
secara hukum tidak dapat dilakukan di Indonesia.
ASPEK HUKUM IBU PENGGANTI 
(SURROGATE MOTHER)
Yang diperbolehkan oleh hukum Indonesia adalah metode
pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang sah
yang ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. Metode
ini dikenal dengan metode bayi tabung. Adapun metode atau upaya
kehamilan di luar cara alamiah selain yang diatur dalam pasal 127 UU
Kesehatan, termasuk ibu pengganti atau sewa menyewa/penitipan
rahim, secara hukum tidak dapat dilakukan di Indonesia. Sebagai
informasi tambahan, praktek transfer embrio ke rahim titipan (bukan
rahim istri yang memiliki sel telur tersebut) telah difatwakan haram
oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 26 Mei 2006.
Praktek ibu pengganti atau sewa menyewa rahim belum diatur di
Indonesia. Oleh karena itu, tidak ada perlindungan hukum bagi para
pelaku perjanjian ibu pengganti ataupun sewa menyewa rahim.
Dalam pasal 1338 KUHPer memang diatur mengenai
kebebasan berkontrak, di mana para pihak dalam
berkontrak bebas untuk membuat perjanjian, apapun isi
dan bagaimanapun bentuknya:
“Semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku bagi
undang-undang bagi mereka yang membuatnya.”
Akan tetapi, asas kebebasan berkontrak tersebut tetap
tidak boleh melanggar syarat-syarat sahnya perjanjian
dalam pasal 1320 KUHPer yaitu:
1.    Kesepakatan para pihak;
2.    Kecakapan para pihak;
3.    Mengenai suatu hal tertentu; dan
4.    Sebab yang halal.
Jadi, salah satu syarat sahnya perjanjian adalah harus
memiliki sebab yang halal, yaitu tidak bertentangan dengan
undang-undang, kesusilaan, maupun dengan ketertiban
umum (Pasal 1320 jo Pasal 1337 KUHPer). Sedangkan praktek
ibu pengganti bukan merupakan upaya kehamilan yang
”dapat dilakukan” menurut UU Kesehatan. Dengan demikian
syarat sebab yang halal ini tidak terpenuhi.
Dalam konteks tidak dipenuhinya persyaratan yang
menyangkut syarat yang melekat pada objek perjanjian
(sebab yang halal) bisa berakibat antara lain:
a. Menjadi dasar atau alasan bagi salah satu pihak untuk
menuntut kebatalan demi hukum perjanjian tersebut
karena perjanjian tidak memenuhi syarat sebab atau kausa
yang halal, dan
b. Tidak ada landasan hukum bagi wanita pemilik sel telur
atau suaminya untuk menuntut si ibu pengganti dalam hal
ia tidak mau menyerahkan bayi yang dititipkan dalam
Hal lain yang penting diperhatikan dalam
ibu pengganti adalah hak-hak anak yang
terlahir dari ibu pengganti tidak boleh
terabaikan, khususnya hak identitas diri yang
dituangkan dalam akta kelahiran (lihat pasal
27 UU No. 23 Tahun 2002 tentang
Perlindungan Anak). Apabila terjadi
perselisihan antara Ibu dengan si ibu
pengganti, maka penyelesaiannya harus
mengedepankan prinsip kepentingan terbaik
bagi si anak.
CONTOH
KASUS
SURROGATE
MOTHER
KESIMPULAN
Hukum Indonesia mengatur mengenai teknologi
reproduksi manusia sebatas upaya kehamilan
diluar cara alamiah, dengan sperma dan sel telur
yang berasal pasangan suami isteri dan
ditanamkan dalam rahim isteri. Dengan demikian
teknologi bayi tabung yang sperma dan sel
telurnya  berasal dari suami isteri dan ditanamkan
dalam rahim isteri diperbolehkan di Indonesia,
sedangkan teknik ibu pengganti (surrogate
mother) tidak diizinkan dilakukan.
SARAN
Pemerintah dan organisasi profesi memperkuat
pengawasan dan meningkatkan kesadaran terhadap
pentingnya kontrol etika dan moral dalam penerapan
teknologi reproduksi buatan serta membuat dan
menerapkan peraturan yang jelas dalam rangka
memberikan rambu-rambu dalam pelaksanaan
teknologi tersebut sehingga mampu memberikan
perlindungan hukum bagi semua pihak yang terlibat
dalam penerapan teknologi reproduksi buatan.
DAFTAR PUSTAKA
Amin, Maswardi Muhammad. 2016. Membangun Pribadi Berbudi Pekerti. Yogyakarta:
Calpulis
Keputusan Menteri Kesehatan No. 72/Menkes/Per/II/1999 tentang Penyelenggaraan
Teknologi Reproduksi Buatan.
Keputusan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia No. 221/PB/A.4/2002 tentang
Penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Permenkes RI No. 73/Menkes/PER/II/1999
Susantha, R. 2008. Fertilisasi in Vitro. Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, Bali.
Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Undang-Undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan
Witarto, 2004, Memahami Sistem Informasi Pendekatan Praktis Rekayasa Sistem
Informasi Melalui Kasus-Kasus Sistem Informasi Disekitar kita, Bandung, Penerbit
Informatika
TERIMA
KASIH