Anda di halaman 1dari 25

ANATOMI

RADIOLOGI
FACE BONE DAN
SINUS
PARANASAL

LUTHFI RUSYADI, M.SC


ANATOMI FACE BONE

A. Neurocranium berjumlah 8
tulang
B. Viscerocranium
/Splancocranium berjumlah 14
tulang
Bisa terlihat pada proyeksi AP
dan lateral, kecuali Os palatina
dan Os vomer.
 14 tulang wajah :
 2 Os Maxilla
 2 Os Zygomatic

 2 Os Lacrimal

 2 Os Nasal

 2 Konkha nasalis Inferior


 2 Os Palatine

 1 Vomer
 1 Mandibula
LANDMARKS PADA FACE BONE
 Canthus luarmata : titik
lateral dimana kelopak mata
atas dan bawah bertemu
 Infraorbital margin /
point : titik terendah rim
inferior orbita
 Nasion: artikulasio antara os
nasal dan frontal
 Glabella: penonjolan tulang
pada os frontal, superior dari
nasion
 Vertex: titik tertinggi tulang
tengkorak pada median
sagittal plane
 External occipital
protuberance (inion):
penonjolan tulang pada os
occipital, sejajar dengan
median sagittal plane.
 Meatus audiotorius
LANDMARKS PADA FACE BONE
 Sulcus supraorbitalis
 Tuberculum mentale
(mentum)
 Glabella
 Acanthion
 Tuberculum mentale
(mentum)
 Acanthion
 Nasion
 Glabella
 Vertex
 Inion (Protuberantia
occipitalis externa)
 Inion
 Meatus acusticus externus (MAE)
 Linea interpupillaris
 Linea mediana
LINES
BASIC LINES

 Interpupillary (interorbital)
line: menghubungkan pusat
dua orbita atau pusat dua pupil
saat kedua mata melihat lurus
ke depan.
 Infraorbital line:
menghubungkan dua titik
infraorbital
 Anthropological baseline:
melewati titik infraorbital
sampai ke batas atas meatus
akustiskus eksternus
(Frankforter line)
 Orbito-meatal baseline
(radiographic baseline):
melewati dari canthus luar
mata ke pusat dari meatus
akustikus eksternus. Kurang
Anatomi Sinus Paranasal
 Sinus maxillaris
 Sinus frontalis
 Sinus sphenoidalis
 Sinus ethmoidalis
Indikasi X foto
konvensional pada
kecurigaan patologi
Cranium dan SPN :
 Sinusitis
 Mastoiditis
 Trauma maxillofacial
 Kelainan TMJ
 Tumor
PROYEKSI AP/PA

• Eminentia petrosa
superposisi dgn orbita shg
tidak terlihat
• Batas atas berada pada 1/3
atas orbita
CALDWELL (FACE BONE)

 Struktur yang tampak terbaik: sinus frontalis,


ethmoidalis anterior.
 Struktur yang tervisualisasi: rima orbita, os
maxilla, septum nasi, dan os zygomaticus.
 Pasien menghadap ke kaset, garis median sagittal
pasien sejajar dan tegak lurus dengan midline
kaset.
 Posisi kepala dengan garis orbito-meatal naik 15°
dari garis horizontal
PROYEKSI LATERAL

 Struktur yang tampak: sinus sphenoid,


sinus frontalis, etmoid dan maksila, sela
tursica dan supraorbita.
 Bila kelainan berada pada sisi kiri, maka
gambar yang diambil adalah lateral kiri,
dengan kaset berada pada sisi kiri,
begitu juga sebaliknya.
 Garis antara pupil (IOML / interpupillary)
tegak lurus terhadap film (true lateral).
Bidang mid sagital paralel terhadap film.
 Foto true lateral akan menyebabkan
superposisi dasar fossa cranial anterior
PROYEKSI WATERS
 Struktur yang tampak
paling baik: sinus
maksilaris dan fosa nasal.
 Leher dinaikkan,
tempelkan dagu dan
hidung pada head unit.
Atur kepala hingga MML
tegak lurus terhadap film,
OML akan membentuk
sudut 370 terhadap head
unit.
 Posisikan bidang
midsagital tegak lurus
terhadap garis tengah
film. Fokuskan kaset
terhadap achantion.
PROYEKSI WATERS (AXIAL TRANSORAL)

 Sinus sphenoidalis tampak


(tanpa superposisi dgn
mandibula)
 Dens VC-II tidak tampak
 
F = Sinus frontalis
E =Sinus ethmoidalis
M=Sinus maxillaris
S =Sinus sphenoidalis
 Processus mastoideus
PROYEKSI LATERAL (OS NASAL)

 Struktur yang tampak: os nasal, soft tissue hidung


 Posisi pasien: kepala berada pada posisi lateral, median
sagittal line sejajar dengan kaset, dan interpupillary line
tegak lurus dengan kaset
 Tulang hidung berada pada tengah kaset
PROYEKSI SUB MENTO VERTIKAL
(SPN)

A. Eminentia petrosa
B. Processus mastoideus

C. Condylus mandibula

D.Os vomer

E. Foramen ovale

F. Foramen spinosum

G.Dens VC-II

H.Foramen magnum
PROYEKSI OS PROCESSUS MASTOIDEUS

 Bagian dari os temporalis


 Bentuk pyramid bersisi 3
 Apex mengarah ke caudal
 Dinding anterior berbatasan
dgn aditus ad antrum dari
Auris media (Cavum
tympani)
 Atap : fossa cranii media
PROYEKSI PADA OS MASTOID
POSISI LAW
A. Condylus mandibula
B. Fossa
temporomandibularis
C. Eminentia petrosa
D. Processus mastoideus
E. MAE

POSISI STENVERS
PROYEKSI PADA OS MASTOID
PROYEKSI TOWNE A. Dorsum
sellae/Sella
turcica
B. Processus
clinoideus
posterior
C. Eminentia
petrosa
D. Os occipitalis
E. Os Frontal
F. Foramen
 Struktur paling terlihat baik : magnum
petrous pyramid, mastoid air
cell dan tulang labirin.
 AP dg kemiringan 30° caudal
ke OML.
 Tekan dagu, letakkan OML
tegak lurus terhadap film.
 Garis mid sagital tegak lurus
pada mid line head unit dan
usahakan kepala tidak rotasi.
Anatomi os mandibula
MANDIBULA PROYEKSI PA

 Posisi median sagittal pasien berada di tengah kaset,


sejajar dengan arah sinar dan garis interpupillary tegak
lurus.
 Leher sedikit ekstensi supaya tidak superposisi dengan
tulang leher
 Batas bawah kaset sekitar 2 cm dari tepi mandibula
 Seluruh corpus dan ramus mandibula tidak boleh
superposisi,
MANDIBULA PROYEKSI LATERAL
OBLIQUE

 Arah sinar menyudut 30° ke arah kranial pada


sudut 60°dari pasien
 Pusat sinar 5 cm inferior angulus mandibula
 Kolimasi seluruh mandibula, temporo-
mandibular joint (TMJ) dan termasuk meatus
akustikus eksternus pada tepi kolimasi
 Corpus dan ramus mandibula tidak boleh
POSISI SCHULLER (TMJ)

 Struktur paling terlihat : TMJ terdekat film.


 Sudut CR 25° hingga 30° kaudal.
 Linea interpupilaris tegak lurus dengan film.
 Linea infraorbitomeatal tegak lurus dengan tepi depan kaset.
 Pusat CR 1 inci (2.5 cm) anterior dan 2 inci (5 cm) superior ke sisi atas
EAM.
TEMPOROMANDIBULAR JOINT (TMJ)
ORTHOPANTOMOGRAM / OPG
(PANORAMIC VIEW)

 Kepala sedikit menunduk sampai Frankfort


plane (anthropological line) sejajar dengan
lantai
 Ketinggian mesin disesuaikan dengan
pasien
 Pasien mengigit bite block dengan gigi
incisivus atas dan bawah
 Dagu diletakkan pada penyangga dagu
 Minta pasien untuk meletakkan lidah di
atap mulut, untuk mengurangi bayangan
DAFTAR PUSTAKA

1. Bontrager, Textbook of Radiographic Positioning


and Related Anatomy, Mosby
2. KC cLark,Positioning in Radiography, Ilford Ltd,
William Heineman, Medical Book
3. Vinita Merril, Atlas Rontgenographic Positioning
and Standart Radiotion Procedure,
4. Meschan, Radiographic Positioning and Related
Anatomy, WB Sounders
5. Glenda J, Bryan, Diagnostik Radiography, A Consise
Practical Manual, Curchil Livingstone, London

Anda mungkin juga menyukai