Anda di halaman 1dari 31

ANTIDIARE DAN KONSTIPASI

FARMAKOLOGI I
Oleh
apt. Fitra Fauziah, M.Farm
STIFARM PADANG
Definisi
Diarrhola (bahasa Yunani) yang berarti mengalir terus.
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja
berbentuk cair atau setengah cair, kandungan tinja lebih
banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200 mL/ 24 jam.
Menurut WHO diare adalah buang air besar encer atau cair
lebih dari 3 kali sehari.
Etiologi
Pertumbuhan bakteri berlebih, dalam usus bakteri
memegang peran penting dalam proses pencernaan, apabila
jumlah bakteri diatas normal akan terjadi gangguan pada saluran
cerna dan bisa terjadi diare.

Infeksi internal: Infeksi oleh parasit:


Infeksi virus:
 Stigella Biasanya disebabkan
 Retavirus
 Salmonella oleh cacing (ascaris,
 Enterovirus
 Eschericia coli trichuris, oxyuris),
 Adenovirus
 Campylobacter protozoa (entamoeba,
 Norwalk
 Yersinia histolytica) dan jamur
enterocolitic (candida albicans)
Patofisiologi
Diare adalah ketidakseimbangan dalam penyerapan sekresi antara air dan
elektrolit. Ini mungkin terkait dengan penyakit saluran gastrointestinal (GI) atau
penyakit di luar saluran GI.

Empat mekanisme patofisiologis umum yang menyebabkan terganggunya


keseimbangan air dan elektrolit; (1) perubahan transpor ion aktif baik dengan
penurunan penyerapan natrium atau peningkatan sekresi klorida, (2) perubahan
motilitas usus, (3) peningkatan osmolaritas luminal, dan (4) peningkatan tekanan
hidrostatik jaringan. Mekanisme ini telah dikaitkan dengan empat kelompok diare
klinis yang luas: sekretori, osmotik, eksudatif, dan perubahan transit usus.

Diare sekretori terjadi ketika suatu zat perangsang (misalnya, peptida


intestinal vasoaktif [VIP], pencahar, atau racun bakteri) meningkatkan sekresi atau
mengurangi penyerapan sejumlah besar air dan elektrolit.
Proses Terjadinya Diare
Faktor Resiko
• Usia
• Status gizi
• Bayi yang tidak diberi ASI
• Hygiene dan sanitasi diri sendiri buruk
• Susunan makanan
Tanda dan Gejala
• Gelisah
• Suhu badan dapat meningkat
• Napsu makan berkurang
• Berat badan turun
• Feses cair dengan atau tanpa
darah
• Dehidrasi
Klasifikasi Diare
1. Diare akut
Diare akut adalah diare yang serangannya tiba-tiba dan
berlangsung kurang dari 14 hari. Sebagian besar kasus diare
akut disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau protozoa, dan
umumnya sembuh sendiri.

2. Diare kronis
Diare kronis adalah diare yang berlangsung selama lebih dari
14 hari.
Prinsip Penatalaksanaan
• Mencegah dehidrasi
• Mengobati dehidrasi
• Memberi makan
• Mengobati masalah
penyakit
Penata Laksanaan
1. Terapi nonfarmakologi
 Hindari makanan dan minuman yang tidak
bersih.
 Cuci tangan dengan sabun dan air bersih
sebelum makan dan sesudah BAB
 Rebus air minum terlebih dahulu
 Gunakan air bersih untuk memasak
• Terapi farmakologi
1. Bubuk penyerap
2. Obat-obat yang
menurunkan peristaltik usus
3. Bismut salisilat
4. Loperamid
1. Bubuk Penyerap
1. Kaolin + pektin
• Bentuk puyer
• Mengabsorpsi cairan dan toksin bakteri
• Interaksi: mempengaruhi absropsi obat lain
diberikan 2-3 jam pre atau post.

2. Arang aktif
• Paling efektif untuk absorpsi racun pada keracunan.
• Tidak lagi digunakan luas untuk terapi bakteri.
2. Obat-obat Yang Menurunkan Peristaltik
Usus
1. Opiat
• Sebagian besar opiat memiliki efek konstipasi (morfin,
meferidin, metadon).
• Menurunkan motilitas saluran cerna, meningkatkan
segmentasi dan menurunkan pergerakan isi usus.
• Efek samping: depresi nafas dan adiksi.
• Farmakokinetik: alkaloid opioid dapat diabsorpsi usus,
tetapi efek analgetik setelah pemberian oral sangat
jauh lebih rendah daripada efek analgetik yang timbul
setelah pemberian parenteral dengan dosis yang sama.
2. Difenoksilat
• Contoh obat: atrofin
• Derivat meferidin ini berefek konstipasi jelas pada manusia.
Obat ini dikenal sebagai antidiare.
• Efek sentral opiat jarang terjadi
• KI: anak < 2 tahun dan pasien ikterik obstrukstif.
• Sediaan: tersedia dalam bentuk tablet dan sirup yang
mengandung 2,5 mg difenoksilat dan 25 mg atropin sulfat
tiap tablet atau 5 mL sirup.
• Dosis: dosis yang dianjurkan untuk pengobatan diare pada
orang dewasa 20 mg per hari dalam dosis terbagi.
• Efek samping: anoreksia, mual, pruritus, pusing dan kebas
ekstremitas.
3. Bismut Salisilat
• Mengikat toksin usus dan melindungi mukosa usus.
• Efek samping: tinja berwarna abu-abu hitam dan lidah
coklat (sementara)
• Mempengaruhi pemeriksaan radiologi
• Substansi hidrofilik (polikarbofil, metilselulosa dan berbagai
derivat biji gandum).
• Mengikat air dan garam empedu.
4. Loperamid
• Bersifat antisekretorik
• Seperti difenoksilat obat ini memperlambat motilitas saluran cerna
dengan mempengaruhi otot sirkuler dan longitudinal usus. Obat ini
berikatan dengan reseptor opioid sehingga efek konstipasinya
diakibatkan dengan ikatan loperamid dengan reseptor tersebut.
• Efek samping: yang sering dijumpai adalah kolik abdomen,
sedangkan toleransi terhadap efek konstipasi jarang sekali terjadi.
• Farmakokinetik: loperamid tidak diserap dengan baik melalui
pemberian oral dan penetrasinya ke dalam otak tidak baik, sifat-
sifat ini menunjang selektivitas kerja loperamid.
• Sediaan: loperamid tersedia dalam bentuk tablet 2 mg dan sirup 1
mg/ 5 mL dan digunakan denga dosis 4-8 mg per hari.
KONSTIPASI
Definisi
Konstipasi adalah frekuensi buang air besar yang kurang
dari tiga kali per minggu untuk wanita dan lima kali untuk pria
atau periode lebih dari 3 hari tanpa buang air besar.
Patofisiologi
• Konstipasi dapat bersifat primer (terjadi tanpa penyebab yang dapat
diidentifikasi) atau sekunder (hasil dari sembelit, faktor gaya hidup,
atau gangguan medis) Ini bukan penyakit tetapi gejala dari penyakit
atau masalah yang mendasarinya.
• Sembelit umumnya dihasilkan dari makanan rendah serat, asupan
cairan yang tidak memadai, aktivitas fisik yang menurun, atau dari
penggunaan obat-obatan sembelit seperti opiat. Sembelit terkadang
berasal dari psikogenik.
• Penyakit atau kondisi yang dapat menyebabkan konstipasi meliputi: ✓
Gangguan gastrointestinal (GI): Irritable bowel syndrome (IBS),
divertikulitis, penyakit saluran pencernaan atas dan bawah, wasir,
fisura anal, proktitis ulseratif, tumor, hernia, volvulus dari usus, sifilis,
TBC, limfogranuloma venereum, dan penyakit Hirschsprung
✓ Gangguan metabolisme dan endokrin: Diabetes mellitus dengan
neuropati, hipotiroidisme, panipopituitarisme, pheochromocytoma,
hiperkalsemia, dan kelebihan glukagon enterik
✓ Kehamilan
✓ Gangguan jantung (mis. Gagal jantung)
✓ Sembelit neurogenik: Trauma kepala, tumor SSP, cedera saraf tulang
belakang, kecelakaan serebrospinal, dan penyakit Parkinson
✓ Penyebab psikogenik
• Semua turunan opiat dikaitkan dengan sembelit, tetapi tingkat efek
penghambatan usus tampaknya berbeda di antara agen. Opiat yang
diberikan secara oral tampaknya memiliki efek penghambatan lebih
besar daripada agen yang diberikan secara parenteral; kodein oral
dikenal sebagai agen antimotilitas yang kuat.
Tanda Dan Gejala
• Gerakan usus yang jarang (kurang dari 3 kali per minggu)
• Kotoran yang keras, kecil, atau kering
• Sulit atau sakit buang air besar
• Perasaan tidak nyaman perut atau kembung, evakuasi tidak
lengkap, dll.
Tujuan Pengobatan
Tujuan utama pengobatan adalah untuk:
(a) meredakan gejala
(b) membangun kembali kebiasaan buang air besar normal
(c) meningkatkan kualitas hidup dengan meminimalkan efek
samping pengobatan.
Penata Laksanaan
1. Terapi nonfarmakologi
• Pasien dianjurkan untuk meningkatkan konsumsi sayuran
dan buah yang mengandung banyak serat.
• Pasien disarankan mengkonsumsi probiotik.
• Aktivitas fisik yang regular, kurang lebih 3 kali seminggu.
• Pasien diedukasi agar tidak menahan buang air besar.
2. Terapi farmakologi
• Laksansia bulkforming
• Laksansia osmotik
• Laksansia saline
• Edema
• Pelembut tinja
• Obat yang bekerja pada mukosa
Laksansia Bulkforming
• Menarik air meningkatkan bulk tinja hidrogel.
• Meregangkan dinding usus peristaltik
• Efeknya lambat (2-3 hari)
• Contoh obat: metilselulosa dan karboksilmetilselulosa, agar
dan tragakan, biji psyllium dan kulit padi.
Laksansia Osmotik
• Tidak diabsorpsi di saluran cerna dimetabolisme bakteri
usus asam laktat dan sedikit asam format dan asetat
osmolalitas lumen usus meningkat dan pergerakan cairan
terjadi karena tekanan osmotik.
• KI: pasien dengan diet bebas galaktosa
• Efek samping: meningkatkan pembentukan gas intraluminal
dan distensi abdomen.
• Contoh obat: sirup laktosa.
Laksansia Saline
• Garam non organik yang mengandung kation.
• Bertahan disaluran cerna volume saluran cerna
ditingkatkankolon distensimerangsang peristaltik.
• KI: CHF karena ada ion Na, dan RF karena ion fosfat atau
Mg.
Edema
• Edema (pemasukan cairan ke dalam kolon melalui anus. Enema dapat
ditujukan untuk merangsang peristaltik kolon supaya dapat BAB.
• Efek samping: iritasi mukosa dan menghasilkan mukus berlebih pada
tinja.
• Pengunaan berlebihan menyebabkan intoksikasi cairan dan
hiponatremia.

Cairan bilas kolon elektrolit iso-osmotik


• Mengandung: polietilenglikol, Na sulfat, Na bikarbonat, NaCl dan KCl.
• KI: obstruksi usus atau kegagalan refleks muntah.
• I: prosedur radiologis atau endoskopis
Pelembut Tinja
• Meningkatkan ukuran tinja dan melembutkan tinja.

Parafin cair
• Melarutkan vitamin yang larut lemak
• Dapat menyebabkan radang seperti pneumonia lipoid inhalasi
• I: pasien yang harus mengejan saat berak (hemoroid dan lesi anus
lain).

Na dokusat (dulu disebut dioktil Na sulfosuksinat)


• Efek lambat
• Memungkinkan air memasuki dan melembutkan isi kolon merangsang
sekresi air dan elektrolit ke lumen usus.
Obat Yang Bekerja Pada Mukosa
• MK: diduga merangsang peristaltik baik karena iritasi maupun memicu fleksus
myenterikus.
• Antraquinon, minyak jarak, dan beberapa senyawa kimia termasuk fenolftalain dan
bisakodil.
• Tidak berefek jika diberikan parenteral.

Derivat antraquinon (fenolftalain)


• Dapat menghambat absorpsi aktif Na dan glukosa di usus.

Minyak jarak
• Dihidrolisis diusus menghasilkan asam risinolik zat aktif untuk mengeluarkan tinja.

Bisakodil
• Kontraksi kolon dan menghambat absorpsi air.
Dosis Lazim